Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Karma



Terbaring di atas ranjang, Queen membuka mata dan pemandangan asing ia dapati. Jet pribadi, rupanya saat ini Queen berada di atas ranjang fasilitas gawai besar bersayap itu.


Di sisi ranjang, Dhyrga tersenyum menyambut terbukanya sang netra. "Baby sembab, pasti karena sering menangisi ucapan Mama. Maaf, maafkan Mama." Dhyrga kecup kening wanita itu lembut.


Queen mengangguk, bukan salah Dhyrga karena ucapan pedas Rania bukan atas keinginan suaminya. "Kita mau ke mana?"


"Jepang, seperti yang kamu inginkan, kita akan liburan ke Jepang." Sahut Dhyrga.


"Cheryl?" Queen beranjak dari selimutnya. Nanar, ia celingukan mencari sosok mungil putrinya. "Cheryl mana?"


"Sstt." Dhyrga tarik kepala Queen, lalu meletakkannya pada belahan dadanya.


"Cheryl aman di rumah Daddy. Sekarang, giliran kita bulan madu lagi." Ujarnya pelan.


Dhyrga paham sekali, jika tidak dipaksa begini, Queen takkan rela meninggalkan PH-nya. Queen terlalu cinta pada kegiatannya saat ini. Membuat sebuah karya, adalah hobinya.


"Gimana bisa begitu? Harusnya Cheryl juga ikut."


Dhyrga tersenyum. "Nikmati saja. Beberapa Minggu ke depan kita berlibur, menikmati suasana Jepang sama-sama, Cheryl sendiri yang mengizinkan Daddy nya membawa Mammi nya."


"Beneran?" Queen mengurai pelukan, ia tatap suaminya yang semakin hari kian bertambah ketampanannya. Hot Daddy, begitu lah sosok Dhyrga saat ini.


"Maaf, aku menikahi mu di usia muda, dan waktu kita hanya di habiskan dengan kesibukan masing-masing saja. Aku minta maaf jarang memberi waktu berkualitas. Aku terlalu sibuk selama ini."


Sesekali ada ketakutan, jika nantinya Dhyrga menjumpai cobaan, misalnya ada laki-laki lain yang menyukai istrinya.


Queen masih teramat muda lagi cantik dan tidak bergantung padanya. Ada ketakutan akan pengkhianatan tapi kemudian dia tepis oleh sikap transparan Queen padanya.


"Mungkin seiring menua nya kita, aku tidak lagi menarik. Aku keriput, timbul flek atau tidak lagi kuat membuat mu senang di atas ranjang. Aku hanya berharap, bertahan lah demi anak-anak kita."


"No," Mengecup bibir Dhyrga singkat, Queen menggeleng. "Jangan ada kata bertahan demi anak-anak, aku mencintaimu. Sekarang, esok dan seterusnya. Dhyrga tampan, bicara soal keriput, semua manusia termasuk Queen juga akan mengalaminya. S e x akan memudar seiring berjalannya waktu. Tapi kenyamanan dalam berbagi keluh kesah, itu yang akan menjadi alasan kita tetap bersama sampai maut memisahkan. Tua nya kita hanya perlu berbagi rasa, membicarakan kesuksesan anak-anak, bukan kepuasan seksual." Jelasnya.


Dhyrga tersenyum. Menjalani pernikahan memang tidak bisa semulus itu. Pasti ada suka dukanya. Bersyukur, cobaan mereka hanya sebatas ungkapan pedas Rania saja.


Queen setia, Dhyrga pun tak pernah tergoda untuk melirik rumput tetangga. Cheryl, menjadi bagian dari kebahagiaan mereka.


...🎀🎀🎀...


^^^Di lain tempat.^^^


"Young Jay!" Tersenyum gembira, Cheryl berlari memeluk bocah tampan berusia tujuh tahun itu.


"Nuna!" Young Jay, putra Joon dan Murni, cucu pertama Hyun Ki.


Kulit putih, bibir merona merah, alis tegas, mata sipit, hidung mancung dan mata iris coklat keemasan, Young Jay dilahirkan tampan dan mirip dengan Joon.


Kedua anak kecil itu saling memeluk, setelah sekian lama saling merindu. "Kenapa kamu tidak hadir di acara Auntie dan Uncle? Kamu melewatkan momen seru."


"I'm sorry Nuna. But, kata Mama Papa, mereka terlalu busy." Seperti halnya sapaan di negara tinggalnya, Ji Young Jay memanggil Cheryl dengan sebutan Noona.


"Mereka berantem lagi?" Cheryl duduk di sisi Jay. Wajah muram anak kecil itu membuat Cheryl si peka penasaran. Biasanya, Jay curhat colongan pada kakak sepupunya ini.


"Iya." Young Jay mengangguk pelan. Young Jay berada di sini pun, ikut bersama Hyun Ki yang baru sempat berkunjung ke Indonesia.


"Sabar ya. Nuna ada untuk Jay." Cheryl satu tahun lebih muda dari Jay tapi Cheryl bisa menjadi gadis penasehat. Sama seperti Queen dahulu, Cheryl gadis yang cerdas.


...🎀🎀🎀...


"Joon gimana kabar?" Raka memulai obrolan rindu ditemani teh hijau, biskuit, angin tenang menjelang hilangnya semburat jingga sang senja.


"Istrinya minta cerai." Jawab Hyun Ki pelan.


"Bercerai?" Raka melotot terperanjat mendengar jawaban Hyun Ki.


Baru tiga tahun pernikahan Joon dan Murni berlangsung lalu kemudian Hyun Ki bilang mereka mau bercerai.


Hyun mengangguk. "Yah, Murni minta bercerai dari Joon." Ujarnya.


"Joon sendiri bagaimana? Bukankah menuju ke tahap pernikahan saja mereka cukup sulit, lalu apa lagi ini? Bercerai?" Raka bertanya penasaran.


Lelaki awet muda itu mendengus. "Aku pusing. Aku yakin mereka saling mencintai, tapi sulit bersatu. Ada saja hal yang membuat mereka berseteru."


"Bukankah kemarin Queen bilang Murni tengah hamil lagi?" Sela Raka.


"Benar, makanya Joon melarangnya kemana-mana. Termasuk pulang ke Indonesia." Angguk Hyun Ki.


Raka mendekat intens. "Jangan perlakukan wanita seperti tawanan! Wanita makhluk yang bengkok. Akan patah jika dipaksakan lurus." Tukasnya.


"Sudah sering aku mengatakannya! Tapi Joon sangat keras kepala! Aku tak paham siapa yang menuruni watak itu!" Ketus Hyun Ki.


Raka terkekeh kesal. "Jadi kau mau bilang, Joon meniru watak ibu susunya, begitu?"


"Setahu ku, Hwa Young tidak sekeras kepala Joon! Lalu siapa lagi jika bukan Krystal?" Sanggah Hyun Ki.


"Kau sendiri bagaimana? Berkaca lah Rahwana!" Raka terkekeh mencemooh mantan rivalnya.


"Sial!" Umpat Hyun, Rahwana masih saja menjadi bahan olokan Raka padanya.


Keduanya sempat terdiam, lalu Hyun menyadari ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. "Queen mana? Dia tidak terlihat di mana pun. Aku merindukannya." Ia celingukan.


Raka baru saja menyesap teh nya, ia meletakkan kembali cangkir mahalnya ke meja dengan decak nikmat yang mengudara.


"Queen di bawa terbang suaminya, Dhyrga sengaja menitipkan Cheryl di sini, mereka lagi melakukan second honeymoon." Ujar Raka.


"Rencana Baby baru kah?"


Raka mengangguk. "Begitulah. Kasihan my little girl, seakan ini sebuah karma, Queen memiliki mertua yang tidak pernah puas dengan kondisinya." Jelasnya pelan.


Hyun Ki melihat kepiluan di balik nanar nya mata biru Raka. "Kau mengingat Viona?" Tanyanya setelah itu.


Raka tersenyum mengangguk. "Yah, mungkin itu yang Vio rasakan dulu, Vio tak pernah bisa berdamai dengan almarhum Daddy Ray dan sekarang Queen merasakannya." Katanya.


"Karma baik Krystal juga akan menyertai langkah Queen. Jadi jangan khawatir. Queen pasti menemukan jalan keluar dari setiap masalah." Sambung Hyun Ki.


"Hmm." Raka menyahut pelan. Sesak jika mengingat kembali bagaimana hidupnya berlalu penuh ekspresi.


"Jadi gimana Joon? Apa tidak bisa di cegah perceraiannya?"


"Joon sendiri tidak menginginkan hal itu. Pasti tidak akan pernah terjadi perceraian seperti yang Murni inginkan. Joon ambisius."