
"Aku sangat membutuhkan mu, sekarang, esok dan seterusnya. Bukan atas nama perjodohan, Kimmy bukan pilihan Mammi, Daddy atau Nuna, Raja ke sini sendiri ingin melamar mu untuk menjadi pendamping hidup ku. Will you marry me?"
Melihat dan mendengar sendiri bagaimana bergidik nya tubuh dingin Raja, Kimmy mendekat, ia menjatuhkan dirinya kedalam pelukan pemuda tampan itu.
Matanya terpejam, menikmati sesak dari haru biru yang menguasai relung kalbu. "Will you marry me? Hmm?" Ulang Raja lagi.
Sembari meletakan kotak bonekanya di atas meja bundar berdiameter kecil, Raja menundukkan wajahnya, kedua tangan merangkum rahang lembut gadis itu, menempelkan bibir terbukanya pada bibir milik Kimmy.
"Rajahh."
"Hmm?"
Sahutan napas hangat itu menjadi sangat berarti di tengah dinginnya udara malam yang terguyur hujan begini.
Perlahan, pelan, teratur, kedua bibir terbuka itu bertautan mencari kehangatan. Tubuh Kimmy terdorong masuk saat Raja tanpa sadar mendominasi gerakannya. Sebelah kaki Raja menyenggol daun pintu hingga tertutup.
"Raja." Kimmy melepas pertautan mereka, menatap dalam wajah tampan calon CEO X-meria.
"Hmm?" Raja tak betah berlama-lama memakai kaos basah, ia buka t-shirt miliknya hingga menampilkan kotak-kotak yang sedari tadi Kimmy lihat dari luar.
"Raja mau apa?" Kimmy mundur memindai mata Raja menyisir lekukan tubuhnya dari atas hingga bawah.
Tipis dress tidur berwarna putih Kimmy saat ini. Ada bulatan kecil yang menyembul di ujung dadanya seakan menambah kadar seksi gadis itu.
Senyum menakutkan Raja membuat Kimmy membalikkan tubuh dan berlari.
"Eitz!" Singkat, Raja peluk Kimmy dari belakang. Ia bahkan sengaja duduk pada sofa malas bundar agar lebih intens pelukannya.
Kaki Kimmy mengayun meronta. "Lepas Raja! Raja mau perkoskos Kimmy hah?" Tukasnya.
"Kalo Kimmy menolak lamaran ku, kenapa tidak!" Raja menyeringai.
"Gila kamu! Lepasin, melamar bukan begini caranya!" Kimmy menunduk, berusaha menggigit tangan Raja tapi hanya sia-sia.
"Melamar baik-baik Kimmy menolak, mending one night stand dulu, baru setelah itu menikah." Raja terkikik setan.
"Dasar otak me-sum!" Kaki Kimmy terus mengayun ke depan, yang mana gerakan itu semakin memperkeras tongkat eksklusif milik kekasihnya.
"Jangan bergerak Yank!" Tak mau peduli penolakan Kimmy, Raja justru asyik menciumi ceruk leher mulusnya seperti psikopat gila.
"Hiks hiks, geli!" Kimmy terkekeh manja, meronta, menggeleng. "Ok Kimmy terima, tapi jangan perkoskos Kimmy!"
Raja tergelak. Sepolos itu gadis cengeng ini, entah akan seperti apa malam pengantinnya nanti, Raja bahkan tak tega menyakitinya.
Raja tarik Kimmy ke belakang, mengungkung tubuh gadis itu di atas sofa biru tosca tersebut.
Menempel pada Raja membuat baju tidur Kimmy ikut basah, bulatan besar milik Kimmy terlihat dari luar. Mata Raja termanjakan oleh itu.
"Jadi ini alasan Kimmy nggak mau lepas dari selimut, kalo di video call malem malem hmm?" Raja berujar mesra.
"A-apaan!"
"Nggak pake bra!" Berbisik, Raja mengatakan itu.
Mendelik, Kimmy menyilang kedua tangan ke depan dada. "Jangan macem-macem!"
"Ok." Raja manggut-manggut santai. "Jadi lamaran Raja di terima kan?" Sekali lagi pemuda itu memastikan.
"Iya." Melihat anggukan kepala gadis itu Raja kembali mendekati telinga. "Aku mencintaimu Kimmy."
Kimmy bergidik geli mendapati gigitan kecil di telinganya. Tangan mungilnya mengusap cuping telinganya secara cepat.
"Pulang gih! Nggak boleh cowok main cewek malam-malam gini!" Kimmy mengusir ketus.
"Ayolah Sayang, Kimmy sudah dua puluh satu tahun kan? Jadi bersikap seperti wanita dewasa. Harusnya Kimmy kasih ciuman hangat biar Raja nggak kedinginan."
"Kita belum nikah." Sesekali lutut Kimmy mendorong paha Raja. Namun, tak berpengaruh apa pun.
"Jadi mau dinikahi?" Netra sayu Raja menatap rindu setiap inci kecil lekukan wajah Kimmy.
"Pulang sana!" Kimmy masih tak menyerah untuk melepaskan diri dari kungkungan pemuda itu. "Kan Kimmy udah terima!"
Cukup puas dengan jawaban Kimmy, Raja mengangguk. "Ok, Raja pulang, tapi satu kali saja, ..."
"Apa lagi?"
"Kiss. Sekali lagi saja, untuk penutupan. Boleh?" Raja merengek.
"Emmh." Berat hati Kimmy mengangguk.
Ingin lebih lama lagi, bahkan sampai pagi bersama, tapi mereka bukan suami istri. Kimmy juga masih merasa canggung setiap kali bertatapan seperti sekarang ini.
Gadis polos ini hidup di Indonesia, Kimmy terbiasa menjadi anak Mammi yang tidak ingin melanggar norma, terlebih gen Kimmy lain dengan Raja dan Queen yang keturunan Raka Rain.
Raja mengikis kembali jarak, sebelah tangan meraih pinggang Kimmy yang sedikit ramping.
Baru akan menempelkan bibirnya, kembali ia mengangkat wajah menatap protes gadis itu.
"Kamu kurusan?"
Bibir Kimmy berdecak. "Bukan kurusan, tapi Kimmy berhasil diet!"
Cup....
Tak mau lelah berantem, Raja mematuk bibir kekasihnya sembarangan. Terpejam matanya kini, menikmati setiap pagutan bibirnya yang berangsur memanas.
Satu kali, dua kali, ia menggigit Kimmy dan menimbulkan lenguhan serak gadis itu.
Napas bergemuruh, candu, tak mau lepas, Raja minta satu kali lagi, tapi lama sekali, Kimmy sampai hilang akses pernapasannya.
Sesekali Raja longgarkan hidung Kimmy agar mampu gadis itu bernapas sambil menyelami bibirnya. Indera perasa telah menyentuh langit-langit Kimmy yang manis.
Empuk, ada ujung kecil yang membuat rasa penasaran Raja semakin liar. "Ah!" Desah Kimmy terdengar setelah remasan berhasil Raja berikan.
Bugh!
"Ah!" Raja meringis menahan nyeri di bagian intinya. Wajahnya tenggelam pada leher gadis itu. "Apa harus di tendang hmm? Sakit!"
"Raja bilang sekali, sekarang pulang!" Kimmy dorong Raja lalu bangkit dari duduk. "Pulang!"
"Raja masih kangen."
"Sama, tapi kita nggak boleh kayak gini!"
Apa pun itu, Raja tersenyum mengusap lembut jejak basah yang masih berserakan di bibir mungil Kimmy.
"Makasih ya, Kimmy sudah menjaga hati, cinta, terutama bibir manis ini."
Kimmy menepis. "Raja kok bilang gitu?"
"Hmm?"
"Raja ngawasin Kimmy?" Tuding Kimmy lagi.
"Jadi ini alasan Raja malam-malam begini ke sini, Raja tahu sore tadi Kimmy menolak Radit!"
"Bodohnya iya, sudah tahu Raja di tolak, tapi masih ngawasin Kimmy kayak orang kurang waras!" Sahut Raja.
"Bagus lah, Kimmy puas jadinya. Cowok beku kayak Raja emang perlu di lelehkan sama yang panas-panas!" Kimmy berpaling dengan wajah sebal.
"Katanya udah terima. Kok masih ketus?"
"Raja masih ngeselin mukanya! Untung ganteng, kalo nggak udah Kimmy ganti sama muka Salman Khan!"
Raja terkikik. Gadis ini menggemaskan, lucu, manja, tiada pernah membuatnya bosan. Meski hubungan mereka di mulai sejak masih kanak-kanak, "I love you."
Tok tok tok...
Kimmy dan Raja saling menatap, mereka mendelik bersamaan, datangnya suara ketukan itu pasti dari Gea dan Ameer yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun.
"Itu pasti Mama Papa."
"Jadi di kawinin kita kalo sampe ke ciduk!" Kata Raja.
"Pulang sekarang!" Kimmy mendorong tubuh Raja yang menggeleng tak setuju.
"Kok pulang, justru harusnya Raja pura-pura keringetan biar dikira, ..."
Plakk...
Ucapan Raja terputus oleh pukulan kekasihnya. "Apa lagi Sayang?"
"Jangan sembarangan kalo ngomong, emang Kimmy apaan di nikahkan karena ke gap, enggak enggak! Keluar sekarang!"
"Satu kali lagi!"
"Raja!" Kimmy geram hingga menggertak giginya. Jika film animasi mungkin sudah muncul dua tanduk di kepalanya.
"Iya." Terpaksa, Raja meraih t-shirt miliknya, berlari keluar sembari memakai kaos basahnya kembali.
Segera Kimmy menutup pintu, bahkan menutup gorden hingga cengiran gigi menyebalkan kekasihnya tiada lagi nampak.
Gegas Kimmy berlari ke arah meja riasnya, memeriksa kondisi pakaian dan dandanan yang compang camping.
Ia ambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Lalu mendatangi pintu dan membukanya.
"Happy birthday Sayang." Gea dan Ameer bersamaan memeluk putri semata wayangnya.
"Terima kasih Ma, Pa! Kimmy kira kalian lupa ulang tahun Kimmy."
"Enggak dong." Sambil meletakkan kado di atas ranjang, Gea mengendus-endus aroma maskulin yang menguar dari tubuh putrinya.
"Kim."
"I-iya." Kimmy tahu Gea pasti curiga. Ia sendiri mencium parfum seksi Raja yang berpindah padanya.
"Kamu pake parfum Raja?"
Awalnya Kimmy menggeleng. "Bukan, emmh, iya." Jika dipikir lagi apa salahnya mengiyakan. Kimmy mengangguk pada akhirnya.
Gea sendu beralih pada Ameer. "Lihat Pa, Kimmy pasti kangen Raja, sampe-sampe dia pake parfum Raja."
"Kamu nggak mau balikan lagi aja?" Ameer menimpali.
"Doain aja yang terbaik buat Kimmy, Pa, Ma." Sahut Kimmy.
Kimmy tak mungkin mengatakan Raja sudah melamarnya dengan cara hujan-hujanan seperti tokoh Sunil di film India.
"Pasti." Gea tersenyum, lalu senyum Gea meredup mendapati keanehan di bibir putrinya. "Bibir kamu kenapa? Kok jontor gitu?"
Kimmy mendelik menyentuh bibirnya.
"Kamu kenapa Kimmy?" Ulang Ameer.
"Itu, itu. Semut rangrang." Kimmy menyengir.
"Di kamar kamu ada semut rangrang?" Ameer mengedar pandangan. Mungkin masih ada sarangnya.
Kimmy menyengir. "Iya. Cuma satu, tapi udah keluar kok." Katanya.
Di luar Raja terkekeh. "Malam ini semut rangrang, besok-besok Ular kobra Kimmy Zoya." Gumamnya.