Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Kolam



Perjalanan dari pantai ke apartemen lumayan jauh. Cukup lah untuk Queen tidur ayam di mobil suaminya.


Keduanya sempat berhenti di restoran untuk makan sekalian memakai toilet. Tak terasa sudah hampir pukul sembilan pagi.


Sampai di parkiran basemen, Dhyrga dan Queen turun secara bersamaan. Begitulah Queen, tak pernah mau menunggu Dhyrga membukakan pintu untuknya.


Queen suka melakukan hal itu. Tidak terlalu menuntut Dhyrga memperlakukannya seperti tuan putri, seperti dibukakan pintu, disanjung dan lain sebagainya tak perlu, mungkin karena hal itu sudah biasa ia dapati sedari masih bayi.


Dua tahun jauh dari orang tua membuat Queen lebih dewasa, dan lagi Ryan yang menemaninya adalah pria sopan, dewasa.


Sedikit banyak Queen juga belajar dari cara Ryan mengarungi kehidupan sederhana nya.


Menenteng satu gulung selimut Queen berjalan di rangkul suaminya. Lift menuju Penthouse mereka masuki bersama.


Lelah dengan kegiatan semalam. Queen berdiri bersandar pada dinding kaca lift transparan.


Meski tak bicara Dhyrga tahu Queen lelah, persiapan pernikahan mendadak tentu saja menguras tenaga.


"Mau pijit?" Queen melirik pada tangan nakal suaminya, rupanya jari-jari itu telah bermain pada area paha mulusnya. Bukan memijit, ini lebih seperti menggelitik.


"Jangan macam-macam di sini Hubby." Merdu saat Queen memanggilnya seperti itu hingga tanpa sadar lengkungan bibir Dhyrga terangkat manis.


"Ini candu." Sebelah tangan Dhyrga menyelonong masuk ke dalam rok pendek istrinya.


"Barusan sakit pipisnya loh." Queen menggeleng memelas. Di toilet restoran Queen sempat menangis saat buang air kecil. Rasanya seperti lebam yang di tampar, sangat nyeri.


"Makanya sering-sering biar nggak sakit lagi." Bisik Dhyrga. Suara berat itu terdengar sangat seksi, Queen tak mampu menolak secuil pun sentuhannya.


"Ada kamera." Queen memperingati sementara laki-laki itu hanya tersenyum.


"Ada spot yang tidak terlihat kamera, dan di sini tepatnya." Katanya.


"Hubby tahu?"


"Emmh." Angguk pria itu. Kembali Dhyrga memutarkan jemarinya pada bagian paling sensitif wanita. "Ahh." Queen melenguh.


"Seksi." Hanya menikmati raut wajah cantik Queen saat tak berdaya seperti ini saja Dhyrga menyukainya.


"Sekarang Queen tanya, apa yang Hubby rasakan saat melakukan ini?"


"Puas."


"Hubby hanya membuat ku melayang, bukan Queen yang buat Hubby melayang." Sanggah Queen, sesekali menggeliat tak tertahan saat jemari Dhyrga mengutak-atik bagian paling sensitif miliknya.


"Melihat mu seperti ini, ada kebahagiaan tersendiri bagiku." Dhyrga mempercepat tempo tarian jarinya.


"Hubby!" Queen terengah-engah.


"Aku menyukainya."


"Apa?"


"Sebutan itu." Yah, sebutan Hubby yang Queen serukan seolah Queen sangat menyayangi dirinya.


Ting...


"Hubby!" Queen di buat sport jantung mendengar pintu lift terbuka.


Cepat-cepat Dhyrga melepas tangannya lalu mengecup lembut kening wanita itu sebelum ia menoleh ke belakang.


Kosong sepi, tak ada manusia, hanya ada lorong yang gelap tak berpenghuni. "Siapa?" Queen curiga, ini seperti yang ada di film-film horor. Di mana pintu lift terbuka tapi kosong.


"Tidak ada orang." Dhyrga pencet kembali tombol tutup pintu, dan lift kembali naik. "Mungkin sudah naik lift sebelah." Ujarnya.


"Nggak angker kan di sini?" Pikiran Queen lebih ke merinding takut.


"Katanya sih di lantai tadi ada yang bunuh diri, mungkin dia tahu ada penghuni baru yang sangat cantik di sini, jadi mau menyapa."


"Dhyrga!" Queen tepuk dada suaminya keras. "Ini nggak lucu!"


"Bercanda Sayang." Dhyrga terkikik geli, ia peluk istrinya hangat, bagaimana pun wanita cantik ini selalu menjadi seseorang yang ingin ia lindungi.


Ting....


Pintu lift terbuka setelah sampai di lantai paling atas, Queen mengurai pelukan, ia melangkah masuk ke dalam hunian mewah suaminya yang sudah banyak perubahan.


Sepertinya ada renovasi yang cukup besar. Pandangan terus menyisir pada seluruh penjuru tempat.


"Uaaahhh, ini berbeda dari dua tahun lalu Hubby." Queen menatap Dhyrga sambil tersenyum.


Queen mengangguk. "Sangat suka, setidaknya lebih cerah dari kemarin."


Langkahnya sama-sama terayun menuju kolam renang yang juga telah banyak perubahan. Queen cantolkan selimut miliknya pada hook yang tersedia di antara dinding marmer.


"Ini lebih cantik Hubby." Sejenak Queen mengedarkan pandangannya. Kolam renang ini sudah lebih estetika dari sebelumnya.


Ada dua buah kursi malas di sisi kiri kolam, ada shower pemandian yang tak kalah estetikanya di sisi kanan kolam. Queen melangkah menuju tempat pemandian itu. Ia juga belum mandi.


Dhyrga peluk Queen dari belakang. Menenggelamkan bibirnya pada salah satu pundak mulus istrinya.


"Ini baru Hubby?"


"Baru satu tahun lalu aku merubahnya, ini salah satu bentuk usaha ku melupakanmu, dan sekarang, Baby yang kembali menghiasinya. Lalu, bagaimana caraku melupakan mu? Dengan usaha apa pun aku tidak mampu."


Wanita itu sendu saat berputar arah dan kembali menatap suaminya. "Queen lebih tersiksa dengan perasaan sesal Queen, tapi itu bagian dari masa lalu, karena tidak ada hari ini tanpa masa lalu." Katanya berangsur senyum.


Dhyrga belai rambut pendek Queen, lalu menautkannya di balik telinga. Wajah ayu menawan ini telah resmi ia miliki dan bukan ilusi.


"Kamu akan mewarnai hari-hari ku di sini." Dhyrga usap lembut pipi mulus istrinya sambil tersenyum. "Desah mu, wangi napas mu, kemolekan mu, semuanya, akan mengisi kekosongan rumah ini."


Queen berpegangan pada tengkuk leher Dhyrga, menatapnya salut. Pria tampan di hadapannya presiden direktur tapi seperti bukan siapa-siapa selain budak cintanya.


Tanpa izin Dhyrga pagut semungil kelembutan yang terkatup di hadapannya.


Menggigit sedikit hingga terbuka, mengulur indera perasa menyentuh bagian terdalamnya.


Tiada bosan, tak rela melepas, bukan lelah, tapi ini justru membuat keduanya bersemangat.


Belaian itu merambat pada leher, lalu ke bagian dada bulat nan besar. Queen terpejam menikmatinya. Napas selalu ngos-ngosan padahal hanya sentuhan sederhana.


Sebelah tangan Dhyrga memutar keran, memulai ciuman panas di bawah rintik-rintik air shower yang perlahan membasahi tubuh keduanya.


Indera perasa saling membelit, menelan air kucuran yang tak sengaja masuk kerongkongan.


Sesekali Dhyrga melepas bibir hanya untuk menghirup aroma napas Queen yang mirip seperti napas bayi. Dhyrga candu.


Satu persatu kain yang melekat padanya mereka buang serampangan hingga polos tak bersisa.


Indah tubuh Queen, Dhyrga sampai meneguk saliva kala memandangnya seksama. Tubuh basah Queen membuatnya lebih terlihat segar. Sudah ia nikmati semalam tapi masih sanggup membuatnya berdesir.


Queen tatap dada bidang pria itu "Seksi." Lalu ke bagian Dhyrga yang paling bisa membuatnya melayang. Ia genggam, terasa kokoh, tapi masih terlihat menggemaskan baginya.


Kalau bisa, saat Queen ke Amerika dan harus LDR, pusaka Dhyrga akan Queen copot lalu membawanya. Tapi apakah mungkin? Ini hal gila!


Seperti menawarkan gaya lain, Queen membelakangi suaminya menempatkan telapak tangan pada dinding marmer.


Dhyrga tersenyum, Queen bukan wanita murahan, tapi bersamanya Queen tak pernah canggung memulai kreasi.


Untuk urusan seperti ini Queen bukan wanita bodoh, ia tinggal di Amerika dan semua temannya hampir setiap hari melakukan itu di luar pernikahan.


"Pelan-pelan Hubby." Queen meringis kecil menahan diri untuk tidak berteriak.


Lewat belakang Dhyrga tengah berusaha memberikan pemasukan besar padanya.


"Slowly?" Dhyrga menawarkan.


Queen menggeleng. "No, ..."


"Lalu?"


"Yang cepat lebih baik." Dhyrga tersenyum menang, hal yang ingin ia lakukan telah Queen titah kan.


Sejauh ini ia masih Dhyrga yang lembut, tapi jika Queen meminta lebih ekstrim, why not?


Gegas Dhyrga percepat ritme permainannya, menghujamkan pusaka itu, membuat bebunyian dari kulit-kulit yang beradu cepat.


Tetesan air tipis itu masih menjadi pereda kobaran api cinta mereka, berharap sirep juga padam namun tidak, di sana mereka justru menggelora sebegitu panasnya.


"Begini? Apa lebih baik?"


"Emmh." Queen mengangguk. Napas tersengal-sengal, tergema desah bercampur gemercik air yang mengaliri keduanya.


Brakkk... Pintu yang sempat terbuka kini kembali di banting tertutup. Dhyrga dan Queen menoleh. Lalu teriakan menyusul.


"Ya Tuhan, pasangan Bucin ini, benar-benar tidak tahu tempat memang. Astaga. Mataku ternodai seharian penuh!"


Dhyrga terkikik. Ia tarik selimut yang Queen bawa, kemudian memeluk Queen agar keduanya sama-sama terlilit kain putih tebal itu. "Kita pindah, sepertinya ada pasangan jomblo akut yang iri."