Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Pertama bab dua



Raja memupuskan CD milik Kimmy, dress pendek putih berbahan licin itu tak mampu lagi menutupi isi berharganya.


Sapuan jemari Raja mulai men-gge-rilya. Dari perut turun ke bawah, hingga mencapai tujuan utamanya.


Raja tersenyum tipis, merasai kemulusan buah tembam yang masih sangat ranum. Tentu saja karena Kimmy merawatnya, Kimmy menjaganya, dan itu semua teruntuk dirinya.


"Aku mencintaimu."


"Ahh!" Kimmy membalasnya dengan De-sah, bagaimana tidak, Raja berucap cinta sementara tangan nakalnya mengutak-atik bagian paling sensitif.


Menahan napas Kimmy meremas sprei lembut itu kuat-kuat. Hal yang tidak pernah dia dapati kini tengah di reguknya.


Lutut terasa lemah, namun bergetar, ada sengatan yang menyentak sirkulasi darahnya. Kaki-kaki mungil itu bergerak tegang.


Dada membusung indah, dan itu sesuatu yang paling Raja sukai. Selain leher dan bibir, Raja sering mampir ke sana sekedar mengurangi dahaga.


Beberapa menit ini Raja hanya fokus menyisir seluruh lekukan sintal gadis itu. Dan mungkin sebentar lagi, sebutan gadis Kimmy lenyap.


"Enak kan?" Raja bertanya pelan, Kimmy mengangguk meski dengan wajah yang kian memerah.


Malu, Raja berhasil membuat Kimmy menikmati setiap detik kebersamaan yang berbalut lennguh.


Terbuka bibir Kimmy hingga kering sebagiannya. Raja menunduk, membasahi setangkup bibir itu dengan saliva yang dibawa indera perasannya.


"OMG Rajahh!" Kimmy geram menggigit bibir bawah suaminya kuat. "Ahh!" Sakit sih, tapi ini bagian dari permainan panas ini.


"Ciye basah." Kata-kata Raja yang membuat Kimmy semakin merona. "Apa itu berarti Kimmy orgas?" Tanyanya.


"Belum, ini hanya sebagian kecil dari itu. Wanita memiliki kesulitan mencapai puncak. Apa lagi untuk yang sering melakukannya secara mandiri, wanita akan lebih sulit menggapainya. Jadi, Raja mau Kimmy bisa merasakan manisnya orgas."


Kimmy paham, Raja pintar ilmu ini karena pemuda itu mempelajari apa pun bidangnya. Raja perfect husband.


Demi bisa melihat buah tembam kesayangannya, Raja menyalakan seluruh lampu terang. Kaki Kimmy ia rentangkan. Sedikit merekah kuncup nya yang dipaksa terbuka. Ini definisi gadis perawan. Merah muda isi dalamnya.


Raja mengamati bagian itu, dahulu, ia sempat mempelajari tentang struktur dan fungsi dari jaringan benda khusus tersebut.


Raja paling tahu, sesuatu yang akan membuat gadis itu tidak akan pernah menolaknya. Raja menunduk, dan mulai menyapukan indera perasannya pada dinding-dinding gua.


"......."


Deru napas Kimmy lebih tak beraturan dari sebelumnya. Terlebih saat Raja menenggelamkan sedikit ujung dari benda tak bertulang. Peluh mulai menyisih dari pori-pori mulusnya.


Wangi ayu, aroma damai, Raja suka dengan semua yang Kimmy miliki. Perawatan tubuh sehari-hari Kimmy membuat gadis itu tidak dapat dipungkiri rasa candunya.


Tak kuasa menahan diri, Kimmy bangkit dan kecup panas terjadi diantara mereka. Rupanya jika sudah begini, Kimmy bisa lebih agresif.


Raja tersenyum menang, saat Kimmy dengan buas meremas rambut miliknya sementara benda kenyal tak bertulang gadis itu menyisir ruang basah senikmat eskrim di bibirnya.


Belum ada kegiatan yang dilakukan oleh sang rudal, tapi Kimmy telah melayang bagaikan menelan ek-stasi.


Tok tok tok....


Suara menyebalkan yang membuat sepasang suami istri itu menoleh pada pintu. "Siapa dia?"


Raja melirik kearah jam dinding klasiknya dan masih pukul 04.30. Kantuk, makanya ingin cepat berhasil lalu tidur. Namun, sebuah ketukan mengganggu kegiatan romansanya.


"Buka gih, mungkin darurat, nggak mungkin kan ada yang berani ke sini kalo nggak darurat."


Kimmy menyahut, bibirnya cemberut seraya menjatuhkan punggung pada permukaan kasur.


"Maaf."


Raja tarik selimut tebal demi menutupi sebagian raga istrinya. Melepas satu tali kelambu agar sosok Kimmy tak terlihat dari pintu.


Raja membetulkan kimono tidurnya lalu mengusap sisa saliva istrinya sebelum ia benar-benar membuka pintu.


"Bos!" Doni dan Aldo berwajah cemas.


"Apa lagi?"


"Rinda perlu bicara!" Doni menyodorkan ponsel padanya.


"Lo gila!" Raja melotot penuh. Sesekali melirik Kimmy, ia takut istrinya mendengar nama Rinda.


"Bukan, bukan apa-apa, ini darurat, anaknya Rinda butuh banyak darah! Sekarang dia di rumah sakit!" Sahut Doni.


Terlebih, status Raja sudah menikah, salah paham bisa saja terjadi di awal-awal pernikahan.


"Dia mau Bos yang ngomong!" Aldo menimpali.


Raja rebut ponsel milik Doni lalu berjalan menuju tempat yang sepi. Dingin mencekam raut wajahnya, rupanya benar kata Krystal ibunya, gadis yang selama ini ia kasihani menjadi cikal hama.


"Yah! Katakan!"


📞 "Tolong aku Raja, Ansel butuh bantuan mu, Radit, aku perlu Radit. Ternyata ayah dari Ansel Raditya Miller. Ansel perlu donor darinya. Sudah ke sana kemari aku mencarinya, tidak ada di manapun. Tolong aku." Terdengar isak tangisnya.


"Dengar Rinda, apa pun masalah mu tolong jangan lupa aku sudah menikah, Kimmy sering salah paham padamu, jadi stop membuat Kimmy semakin salah paham!"


📞 "Maaf." Rinda terisak.


"Aldo dan Doni yang akan membantu mu."


Raja mematikan panggilan sebelum bergantian menatap Doni dan Aldo. "Kalian bantu dia, dan tolong, aku sudah mengalihkan nomornya ke kalian, jadi jangan coba-coba menyampaikan keluhan dia padaku! Baru saja Kimmy memaafkan ku, jangan sampai dia salah paham lagi!"


"Sorry, dari tadi juga kita coba kasih tahu, tapi cewek nggak tahu diri ini susah banget di urus!" Aldo ketus. Ikut emosi. "Lo masih suka sama cewek kayak gini?" Tambahnya pada Doni.


"Enggak! Doni ganteng, kayak nggak laku lagi ajah!" Sanggah Doni ketus pada akhirnya.


Tak tak tak...


Suara langkah lari terdengar menjauh, Raja, Aldo dan Doni menoleh pada Kimmy yang masuk ke dalam kamar.


"Lihat, Kimmy pasti salah paham lagi!" Raja melangkah cepat menuju kamarnya setelah berucap ketus pada sahabatnya.


Sampai kamar Kimmy berdiri di depan meja rias. Raja melangkah mendekat, lantas memeluknya erat dari belakang.


Dari cermin, Raja menatap wajah datar Kimmy. Ada kekhawatiran akan kesalahpahaman Kimmy lagi. Raja trauma.


"Maaf." Lirihnya.


"Kenapa musti minta maaf?" Kimmy membalikkan tubuhnya. Dalam sekali ia menyelami suaminya.


"Barusan Raja, ..."


"Kimmy justru terima kasih, Raja sudah membuktikan kesungguhan Raja."


"Hmm?"


"Ansel anak Radit? Gimana jadinya kalo Kimmy sama dia? Raja bener, sama Raja aja Kimmy sering nangis, apa lagi sama anak motor yang bebas kayak dia."


"Sssuuttt." Desis Raja terhenti ketika bibir Kimmy memagutnya. Terpejam Kimmy menikmati gelenyar yang sempat terjeda.


Melihat sendiri bagaimana cinta Raja, cinta Kimmy kian berkecambah. Ingin rasanya Kimmy menyerahkan diri detik ini juga.


Tanpa melerai kecup, Raja menggiring Kimmy berbaring pada ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


Pertama Raja memupuskan CD miliknya, kemudian membuang kimono serampangan. Polos sudah ia, Kimmy mendelik terkejut.


Sedikit Raja raba bagian bawah Kimmy, bibirnya tersenyum iblis tampan. "Basah."


"T-tapi, ..." Kimmy sedikit mundur melihat roket kepunyaan Raja mencuat di hadapannya. "Itu, ..."


"Ahh!" Tak mau menerima penolakan lagi, Raja menyatukan kedua inti mereka. "Jangan terus menolak, ku mohon, Raja sudah mengantuk."


"Rajahh!" Kimmy membelalak nanar, ia sedang berusaha menerima pemasukan asing dari suaminya.


Perlahan Raja tembus, merobek, dari yang kesulitan sampai amblas sempurna.


Berpegangan pada dua buah kenyal milik Kimmy, Raja mulai memacu raga montok wanita itu.


Mulut Raja terbuka, ada De-sah kecil yang terlepas secara runtut. Jangan ditanya bagaimana kondisi Kimmy yang terus menjerit parau nan serak.


"Sakit?" Kimmy menggeleng kilah, ia tahu Raja akan berhenti jika dia mengatakan kebenaran.


Pedih, perih, tapi tak dipungkiri, adanya rasa melayang yang mendominasi permainan ini.


"Oh Kimmy, sempit!" Rutuk Raja.


...🙈...