
Queen menyeruput coklat panas yang mulai dingin, getir rasanya sebab di sisinya ada yang terkasih tengah cinta-cintaan bersama orang lain.
Sedari tadi Queen mendengar semua ocehan Dhyrga dan gadis yang Dhyrga bawa ke kafe ini.
Well, setidaknya Queen paham sekarang, bahwa gadis arogan sepertinya takkan pernah ada yang sudi mengejar.
Jee Yeon merengek cintanya hanya karena belum bisa move on, coba saja kalo sudah bisa mendapatkan yang baru, mungkin Queen transparan dan tak terlihat lagi.
"Gimana kalo setelah ini kita ke toko buku saja, kamu kan suka baca buku, tempatnya asyik loh, Gaga."
Bahkan gadis itu memanggilnya Gaga. Itu berarti mereka cukup dekat. Queen tersenyum getir, tak mau menoleh pada mereka.
"Aku tidak, kau saja." Dhyrga menolak.
"Kenapa?"
"Aku tidak suka." Lupakan saja tentang toko buku itu, karena di sana banyak sekali kenangan terindah bersama Queen.
"Tidak suka atau ada kenangan di sana?" Gadis itu seolah tahu hal-hal yang terjadi pada Dhyrga.
"Stop bertanya tentang itu Cinta!"
Queen menitihkan air mata kembali, sejauh ini Dhyrga selalu menyebut gadis itu Cinta.
"Gemes aku sama kamu, coba lebih manis sedikit Gaga." Di tempatnya, Dhyrga menepis tangan gadis yang mencubit pipinya. "Cukup Cinta, ini tempat umum."
"Iya-iya." Angguk gadis itu menyengir.
Pendekatan, itulah yang tengah Dhyrga Miller lakukan dengan Cinta. Yah, gadis cantik di sebelah Dhyrga saat ini adalah Cinta.
Cinta gadis berusia dua puluh tahun, Cinta masih kerabat dekat Harlan, dan Cinta di berikan waktu satu bulan untuk melakukan pendekatan. Lalu jika tidak cocok, Cinta harus menyerah untuk mengejar cinta Dhyrga.
"Thank you, Don't forget to come back." Terimakasih jangan lupa untuk datang kembali.
"You're welcome." Sama-sama.
Salam perpisahan pelayan kafe dan suara yang cukup familiar di telinga membuat Dhyrga Miller beralih fokus.
Dhyrga melenggangkan pandangan pada gadis cantik berambut pendek yang berhasil menyentak jantung hatinya.
Degup....
"Queen." Celetukan Dhyrga yang keluar dari mulut begitu saja, Dhyrga berdiri seketika menatap geming kekasih khayalannya.
Pandangan keduanya sempat bertemu sejenak, bukan, bahkan lebih lama dari sekejap. "Queen."
"Selamat yah, sudah menemukan Cinta mu." Queen tersenyum berusaha terlihat manis tapi getir yang tersuguh.
"Ini, ..." Belum sampai Dhyrga menjelaskan siapa gadis di sisinya salju turun tipis-tipis.
Dhyrga dan Queen mengalihkan pandangan ke atas, ya Tuhan, ini sudah seperti film India.
Di saat genting begini malah turun hujan, untung tidak tiba-tiba ada musik dan suara Queen berubah merdu.
"Selamat Dhyrga." Queen berlari menuju mobilnya, membuka pintu lalu masuk dengan wajah sendu yang membuat Dhyrga gagal fokus.
Dhyrga menatap ke arah Ryan kemudian beralih pada Queen. Datang bersama seorang pria tapi kenapa duduk di belakang?
Tidak salah lagi, pria itu hanya seorang asisten personal. Dhyrga yakin ini tidak kebetulan, setelah sekian lama mereka kembali dipertemukan di kota yang sama.
Laki-laki itu melangkahkan kakinya membegal gerakan Ryan yang sudah hampir memasuki pintu bagian kemudi. "Biar aku saja." Pintanya.
"Ok." Ryan mengangguk saat memberikan kunci mobilnya.
Mungkin, ini adalah akhir dari kisah pelik mereka. Cukup sudah Queen tercekik kenangan indah yang menyakitkan. Biarkan mereka menuntaskan masalah di sini sekarang juga.
"Ini kunci ku. Mobil ku sebelah sana." Dhyrga tersenyum menepuk punggung Ryan lalu memasuki pintu bagian kemudi setelah menukarkan kunci mobilnya.
Ryan menjauh dari mobil lalu menghalau langkah Cinta yang mengejar Dhyrga. "Kita pulang sama-sama Nona." Ajaknya.
"Gila kamu hah? Kita nggak cukup kenal untuk pulang sama-sama!" Berang Cinta.
"Tapi aku sangat mengenal Tuan muda Dhyrga, dia memberikan mobilnya untuk aku bawa." Kata Ryan.
Cinta tersenyum kesal, sungguh tak percaya dengan perlakuan aneh Dhyrga. "Kamu bilang mau melupakan Queen, sekarang kamu kejar lagi dia." Lirihnya
Queen mempertaut alis menatap protes pria itu kesal, ingin lari saja, namun, Dhyrga sudah lebih dulu mengunci seluruh pintu.
"Mau apa kamu di sini hah?" Dari jok belakang Queen menarik kuat-kuat lengan jaket tebal yang Dhyrga kenakan. "Keluar kamu!"
Dhyrga tak mengindahkannya, Dhyrga menyalakan mesin mobil kemudian membawanya ke arah yang dia suka.
"Jangan bercanda Dhyrga!" Queen memukuli lengan pria itu, gadis itu menangis dan memperdengarkan suara seraknya.
"Kita tetanggaan bukan? Kita pulang sama-sama." Enteng Dhyrga.
"Kamu meninggalkan asisten ku!"
"Dia bisa pulang sama Cinta."
"Ch." Queen tersenyum getir. Bahkan masih saja menyerukan Cinta pada gadis lain di dalam mobilnya. "Turun!"
Tak ada jawaban dari Dhyrga, pria itu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, menembus tirai salju yang turun tipis-tipis.
"Tolong arahkan mobil kita ke rumah saja, aku mau pulang Dhyrga!" Queen meracau dah Dhyrga hanya fokus pada setirnya. Setelah lama dia menahan rindu. Takkan pernah ia lepas walau hanya sejurus.
"Kamu dengar aku Dhyrga Miller!" Queen lelah protes, ia duduk menyandar kembali pada joknya.
Terkadang hujan salju terkadang terang, cuaca lembab ini tidak begitu terkondisi tapi masih bisa di lewati para penunggang kuda besi.
Sudah satu jam lebih Dhyrga mengemudikan mobilnya. Hingga jalan yang di tuju telah Queen kenali.
Eiffel tower triangle, tampak dari tempat yang Queen duduki. Dhyrga memarkir mobil lalu turun dan berjalan cepat menuju pintu Queen.
"Apa maksudnya ini?" Queen memukul dada bidang pria itu ketika Dhyrga membukakan pintunya.
"Dulu kamu bilang mau ke sini bersama ku." Dhyrga menyingsing senyum kecut. Belum ada kebahagiaan, mereka masih sama-sama saling mendendam.
"Omong kosong!" Queen ketus.
"Ikut aku." Dhyrga menarik paksa Queen, menyeretnya sampai masuk ke lobby sebuah hotel terkenal yang terdekat dengan menara Eiffel. "Kita bermalam di sini."
"Gila kamu hah!" Queen mendelik memukuli lengan Dhyrga.
"Kamu yang membuat ku tidak waras!"
"Lepasin!" Queen meronta namun tak seberapa kuat untuk bisa terlepas dari genggaman seorang Dhyrga.
Tak mau terus membuat Queen meracau. Dhyrga berhenti langkah, ia menoleh pada Queen lalu meraih pinggang mungil gadis itu untuk di satukan dengan tubuhnya. "Teriak yang keras Queen dan aku akan di sangka penculik." Bisiknya di telinga.
Queen mengedarkan pandangan ke sekeliling. Semua orang menatap ke arahnya, yang mana membuat Queen menciut, jangan sampai Dhyrga di pukuli karena itu, lagi-lagi Queen masih peduli.
Kembali Dhyrga menarik Queen hingga ke meja resepsionis. "Presidential suite room." Dhyrga memesan kamar termahal di hotel ini.
Queen menggeleng. "Jangan gila kamu Dhyrga! Kita punya rumah di sini, ngapain kita menginap?"
"How many rooms will you reserve, sir?"
Berapa kamar yang Anda pesan Tuan?" Perempuan berseragam merah maron itu bertanya dengan ramah.
"One room." Satu. Cetus Dhyrga.
"What?" Queen melotot kaget. "Satu kamar kamu bilang? Jangan gila kamu Dhyrga!" Queen kembali memukul keras lengan Dhyrga hingga sedikit meringis pria itu di buatnya.
"Are you married?" Kalian sudah menikah? Resepsionis bertanya, memastikan hubungan mereka bukan penculik dan korbannya.
"Well, tonight is our honeymoon." Yah, malam ini bulan madu kami. Jawab Dhyrga santai.
Queen mendelik penuh. "Astaga Dhyrga! Dasar psikopat gila yang tidak waras kamu! Lepasin, biar aku pulang!" Bentaknya.
"What about your wife, sir?" Kenapa dengan istri Anda Tuan? Sekali lagi resepsionis bertanya penasaran. Jujur saja, dia tak tahu bahasa yang Queen gunakan untuk mengumpat Dhyrga Miller barusan.
Dhyrga menyengir. "My wife said she loves me very much." Istri ku bilang dia sangat mencintai ku.
Sang resepsionis tergelak renyah. "Of course, you are very handsome." Tentu saja begitu, Anda sangat tampan.
Dhyrga melebar senyuman. Sementara di sisinya Queen menganga tak percaya. Pandai sekali Dhyrga Miller berkilah.
But, jangan lupa, Dhyrga Miller sekelas ayahnya yang penguasa. Apa saja harus terjadi sesuai kemauannya.