
Awalnya Raja memang tak menyukai perjodohan kolot. Ia merasa Kimmy tak lebih dari gadis pilihan Raka yang manja, super rewel, berisik, Kimmy Zoya jauh dari kata ideal untuk dijadikan soulmate.
Perlahan, rasa sayang itu menjadi semakin pakem, mencengkeram kuat, bahkan tak mau lepas darinya. Kasih sayang yang berangkat dari terbiasa berangsur candu, menggebu relung kalbu.
Tanpa sadar, manja Kimmy, rengekan Kimmy, bahkan cengengnya Kimmy yang dahulu tidak Raja sukai perlahan berubah menjadi kecenderungan yang hakiki.
Di atas jok penumpang bagian depan mobil sport putih tanpa atap yang melaju sedang, Raja bergeming. Udara Bogor melingkupi, cuaca sedu sedan mengiringi.
Doni dan Aldo saling memberi lirikan lewat kaca spion. Sepertinya Raja sedang benar-benar patah hati.
Status barunya yang terasa aneh itu mengacaukan pikiran Raja. Jomblo, seumur hidupnya mungkin Raja baru pernah menyandang status itu.
"Nona Kimmy butuh waktu. Biarkan dia menjalani hidupnya sendiri dulu, Bos baru menduduki singgasana perusahaan, jangan karena masalah ini lalu kacau semuanya."
Dari jok belakang Doni memecah keheningan. Wajahnya meringis sesekali menahan sedikit lebam di area pundaknya.
Sambil mengusap-usap bagian yang nyeri, Doni berbicara sementara Aldo sibuk memutar setir.
"Apa aku bisa melakukan sesuatu tanpa semangat dari Kimmy? Selama ini ada rewelnya Kimmy di balik pencapaian luar biasa ku. Sekarang anak manja itu sudah memutuskan ku, aku kurang yakin bisa sukses tanpa semangat darinya." Raja menyeletuk.
"Jangan putus asa begitu dong." Aldo berdecak. Tapi memang benar kata wak haji Rhoma irama, kalau sudah tiada baru terasa.
Secara bergantian, Raja menoleh pada kedua asistennya. "Dengar, di usia remaja ku yang masih terbilang labil. Aku pernah mengagumi gadis selain Kimmy ku, apa menurut kalian kesalahan ku tidak bisa dimaafkan?"
Doni menggeleng. "Sebenernya sih laki-laki-wi, Gue bisa ngerti posisi Bos saat itu. Kalau saja Nona Kimmy kita yang gemoy itu memakai sedikit logikanya. Dia akan berpikir semua itu masa lalu, sejak kecil Bos cuma mengenal Nona Kimmy yang rewel, lalu bertemu Rinda yang mandiri dan Bos simpatik. Tapi kembali lagi, suka sebatas kagum tidak akan lama, jadi setelah menganggap Rinda bukan tipe ideal Bos, akhirnya Kimmy kesayangan Bos bersinar lebih terang dari sebelumnya." Cetusnya.
Raja dan Aldo setuju dengan pemikiran pria tampan berkaos putih bertuliskan Adidas itu.
"Tapi positifnya adalah, Bos menjadi bisa menimbang nimbang, bahwasanya rasa yang Bos punya untuk Nona Kimmy benar-benar ketulusan cinta, bukan keterpaksaan dari perjodohan yang mau tidak mau menjadi partnership, serius sih, sebenernya kalian relationship sejati bukan partnership. Itu menurut Doni." Tambahnya.
"Tapinya lagi adalah, karena makhluk seksi yang kita anggap racun itu sangat spesial, bahkan lebih memakai perasaan daripada logika, maka kesalahan masa lalu pun akan mereka rekam dan terus berputar di otaknya. Kaum hawa butuh waktu ekstra untuk menyembuhkan lukanya dan itu bagian paling menyebalkan." Imbuh Doni lagi.
"Aku stress." Raja mendengus. Baru membayangkan hari-harinya tanpa Kimmy saja sudah cukup menguras tenaga, tak terkira jika sampai Kimmy dimiliki orang lain.
"Kita lihat saja, palingan nggak ada satu bulan Nona Kimmy sudah minta balikan, dia terlalu bergantung. Apa lagi sebentar lagi Nona Kimmy harus menyusun skripsi. Gue yakin Nona Kimmy kita kembali." Sambung Aldo.
"Semoga saja begitu." Kata Doni.
"Aamiin." Raja menimpali dengan harapan tinggi. Entah apa yang akan dia alami, jika Kimmy berhasil move on darinya.
...🎀🎀🎀...
Pada lain tempat. Tepatnya di meja makan bundar berdiameter sedang. Kimmy dan Hema Alona melakukan ritual sarapan pagi bersama.
Dari hati ke hati Kimmy curhat. Hema seorang aktris kawakan, seniman, ia lebih friendabel daripada ibu dan ayah Kimmy yang hanya pebisnis.
Kimmy mengangguk lemah. "Pengennya gitu, di sini pasti Raja ngawasin Kimmy, Kimmy nggak suka di awasi Raja terus, Kimmy mau hidup yang jauh, tidak terlihat dari orang-orang Raja ataupun keluarganya. Kimmy mau sukses dan menghilang dari pandangan Raja. Kimmy mau move on." Ujarnya.
Hema berdecak kecil. "Salah, Kimmy salah!"
"Why Tante?" Kimmy menyahut dengan kening yang mengerut.
Hema meletakkan rotinya. Menatap Kimmy dengan serius. "Come on Baby. Kenapa jadi Kimmy yang harus lari? Yang salah Raja, bukan Kimmy. Kalo Kimmy lari. Itu pengecut namanya!" Tuturnya.
"Orang yang menyakiti kita harus melihat bagaimana progres seorang Kimmy menjadi dewasa, menjadi lebih baik, menjadi kuat, menjadi tegar, bisa hidup dalam keadaan baik-baik saja bahkan setelah di khianati." tambahnya.
"Maksudnya." Kimmy terlalu polos untuk menerima kata-kata seorang Hema.
"Ayolah Sayang. Orang tua Kimmy cuma punya Kimmy apa jadinya kalau sampai Kimmy pergi jauh dari pandangan mereka?" Jelas Hema. Kimmy memikirkan hal itu juga pada akhirnya.
"Raja yang menyakiti Kimmy, bukan Mama Papa Kimmy, jangan sampai mereka terkena imbasnya cuma gara-gara Raja." Timpal Hema bertutur lembut.
"Daripada pergi. Lebih baik Kimmy hidup seperti biasanya, pagi masuk kuliah, sore pergi main, weekend joging, bersepeda, menuju ujian Kimmy belajar sama temen-temen, sekali seumur hidup, tunjukkan sama Raja Kimmy bisa lulus tanpa bantuan darinya." Kata Hema lagi.
"Begitu kah?" Kimmy seperti mendapat pencerahan.
"Yang perlu move on itu hati Kimmy, bukan raga Kimmy, karena ketika Kimmy lari jauh dan menjadi kuat di luar sana, belum tentu Kimmy juga kuat saat Raja tampak kembali." Hema terkekeh kecil.
"Jika terus seperti itu. Sampai kapan pun. Raja justru akan menjadi kelemahan Kimmy. Serius, percaya deh, Tante sudah pernah mengalaminya."
Hema tersenyum pilu kala mengingat kembali kepedihan yang pernah ia cecap dari mantan suaminya.
"Hadapi, berubah, dewasa, belajar, tunjukkan pada Dunia terutama orang tua Kimmy, kalo Kimmy bisa tanpa partner pilihan mereka!" Hema mengelus lembut lengan keponakan manjanya. "Kimmy paham kan?"
Kimmy mengangguk. "Thanks Tante." Dia masuk kedalam pelukan hangat tantenya.
"Kimmy pasti bisa, Kimmy kuat, selama ini Kimmy cuma terbiasa saja dengan Raja, pelan-pelan Kimmy pasti bisa tanpa Raja. Tante yakin, Kimmy tangguh seperti Tante."
"Apa itu juga yang membuat Tante nggak mau menikah lagi?" Kimmy bertanya penasaran.
Hema mengangguk. "Maybe! Tante nyaman dengan kesendirian Tante. Orang bilang jahatnya perempuan itu, akan merasa mampu tanpa laki-laki jika dalam keadaan sukses, maybe, itu yang membuat Tante memilih sendiri. Terlebih, sudah ada anak-anak yang mengisi kekosongan rumah ini, Tante sudah merasa cukup dengan itu semua." Lirihnya.
"Semoga Tante dan adik-adik Kimmy bahagia selalu meski tanpa Om Raffa." Doa Kimmy tulus.
"Aamiin."
...Hay.... Masih setia kan menemani Kimmy? Minta dukungan vote nya, boleh deh.... 🥳...