Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Skandal



"My Baby, Honey, Sweet, Daddy loves you all."


Raka merangkul, mengecup dalam-dalam pipi putranya lalu beralih pada pipi putrinya. Rindu membuatnya lebih gemas saat menghujani putra-putrinya gestur kasih sayang.


Queen dan Raja tiba di kediaman Raka tepat pada pukul tujuh malam. Berangkat dari negara yang berbeda tapi syukurlah, mereka datang bersamaan, maka Raka tak perlu menanyakan hal yang selama dua hari terakhir Queen lakukan di Paris.


"Kalian kurusan, Daddy sudah bilang kan, makan yang teratur!" Rutuk Raka.


Raja hanya melebar senyum dan Queen memeluk ayahnya sekali lagi. "Bukan kurusan, tapi Daddy yang terlalu over protective."


"Iya. Udah kayak pembalut wanita ajah." Raja melangkah acuh menaiki anak tangga. Kimi yang baru tiba segera mengejar tunangannya.


"Raja!"


"Kim, Lo nggak kangen Nuna?" Queen protes menatap gadis itu.


Kimi menyengir. "Kangen, tapi setelah Raja."


Raka dan Queen menggeleng lalu melangkah menuju meja makan membiarkan Kimi menyatroni tunangannya.


Ada Krystal, Murni, Ray juga Elevy di meja makan. Queen hangat, maka hal yang pertama kali di lakukan saat tiba di rumah, adalah menyapa semua orang.


Tidak seperti Raja yang lebih memilih ke kamar dahulu sebelum menemui keluarganya.


Ceklek...


Raja masuk kamar, baru saja akan menutup pintu Kimi menyengir di balik sana. "Boleh Kimi ikut masuk?"


Raja mengangguk. Lalu membuka pintu lebar-lebar. "Kamu gemukan." Raja mencubit sebelah pipi tunangannya gemas.


"Nanti aku diet." Merengut Kimi. Tak suka jika Raja membicarakan postur tubuhnya.


"Nggak perlu, ngapain?" Raja paling benci mendengar Kimi merencanakan diet.


"Oleh-olehnya bawa kan?" Kimi menggelayuti lengan Raja, rupanya Raja sudah jauh lebih tinggi darinya.


"Di tas." Raja meletakkan tas miliknya di atas permukaan ranjang king size, lalu melangkah menuju kamar mandi. "Gue mandi dulu, lengket." Pamitnya.


"Nanti setelah Raja mandi, Kimi tunggu di luar yah, Kimi mau cerita sesuatu." Pandangan Kimi mengikuti arah gerakan tunangannya.


"Iya." Jawab Raja.


Kimi menyengir lalu membuka tas selempang milik Raja setelah Raja menghilang tenggelam di balik pintu kamar mandi.


Setiap datang, Raja tak pernah membeli apa pun untuk siapa pun, terkecuali Kimi. Selalu saja ada yang Raja bawa teruntuk gadis manja dan rewel ini. Kimi spesial, dan akan terus seperti itu.


...🎀🎀🎀...


Malam kian melarung, gerimis tipis mengiringi setiap titik kata rindu yang menggebu relung kalbu.


Queen berdiri bergelayut pada pagar pembatas balkon, menatap halaman sekitar rumah yang sangat luas.


Ada banyak paviliun unik di sekitaran sana termasuk tempat tinggal Murni dan Yuni.


📞 "Sudah mau bobok kah?"


Sudah dua jam lebih Queen mengobrol melalui telepon seluler, Dhyrga Miller masih candu mendengar suaranya begitu pula sebaliknya.


Rencananya Dhyrga akan langsung membawa orang tuanya untuk menemui baik-baik keluarga Raka, sekarang Queen sudah setuju di nikahi maka tak perlu lagi berlelah-lelah melakukan pendekatan.


"Belum, Queen masih belum kantuk."


📞 "Mau di belai, di remas, di, ...?" Queen terkikik mendengar penawaran kekasihnya. "Jangan ngeres sebelum waktunya deh!"


📞 "But, gimana caranya? Baru denger suara Baby saja sudah kemana mana pikiran ku."


"Mesum."


📞 "My Sexy Little Partner. Candu ku." Queen tersenyum simpul, ucapan Dhyrga semanis gulali yang bisa bikin sakit gigi tapi nagih.


"Kapan ketemu Daddy?" Queen bertanya, tapi tak sengaja arah pandangan menuju wanita berpayung yang memasuki paviliun Murni.


Krystal, yah, tak ayal Krystal ibunya yang Queen lihat barusan.


📞 "Besok Baby." Dhyrga menjawabnya. Tapi perhatian Queen sudah terbagi pada paviliun Murni.


📞 "Beib."


Berkerut kening Queen mengamati gerakan Krystal yang tiba-tiba mendatangi paviliun di tengah malam dan gerimis begini.


📞 "It's okay."


Queen menutup panggilan telepon kemudian berlari keluar dari kamar, menaiki lift hingga berlanjut keluar dari hunian megah ayahnya.


Rasa penasaran membuat Queen tak memikirkan apapun selain menyusul. Queen meraih payung dari salah satu guci, sebelum membuntuti ibunya ke paviliun Murni.


Pasti ada yang tidak beres dari hal ini, sebab tidak mungkin Krystal yang memiliki sifat acuh mendatangi seseorang di tengah malam begini.


Percikan dari genangan kecil lamat-lamat membasahi kaki-kaki mungil Queen, tak lantas membuat gadis itu mengurungkan niatnya.


Queen menutup payung setelah sampai, gadis itu mengintip tubuh Krystal dari celah pintu yang masih sedikit terbuka.


Ini tengah malam, dan lagi di lingkungan istana, mungkin itu yang membuat Krystal dan Murni tidak takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. Atau memang, mereka lupa menguncinya.


"Apa ini Murni? Mau sampai kapan kamu pendam semuanya sendiri? Kamu tahu, lambat laun kehamilan mu akan membesar!"


Degup....


Queen meraba letak jantung milikinya berdetak. "Kehamilan?" Krystal begitu emosi sampai berkata penuh tekanan.


"Apa Murni masih menganggap Mammi orang lain?" Krystal menimpali, sedang Yuni dan Murni hanya menangis. Entah bagaimana cara Krystal tahu, Queen masih belum paham.


"Maaf Mamm. Tapi Murni bingung harus berbuat apa, Murni bingung." Gadis tak perawan itu terisak meratapi kebodohannya.


"Siapa yang melakukannya? Selama ini kamu jarang bergaul dengan laki-laki, lalu dengan siapa kamu hamil?"


"Murni nggak bisa kasih tahu, Murni akan rawat anak Murni sendiri."


"Kamu pikir Mammi setuju dengan pemikiran mu?" Sela Krystal.


"Tapi dia tidak menyukai Murni Mamm, jadi untuk apa Murni meminta pertanggung- jawaban? Murni tidak mau memaksanya."


"Setidaknya, dia harus tahu kehamilan mu!" Tukas Krystal.


"Siapa Murni." Yuni menggoyang tubuh lemas putrinya. "Siapa, biar Tuan besar dan Nyonya besar yang menghukum dia! Sakit hati Ibu Murni, sakit." Sesenggukan Yuni menghiba.


"Murni nggak bisa." Lagi, Murni kekeuh untuk tidak menyebutkan nama siapa pun.


"Mammi bisa saja mengetahuinya, Mammi bisa meretas semua CCTV di kota ini demi melihat siapa pria yang bersama mu. Tapi Mammi mau mendengar langsung darimu Murni!" Krystal mengancam.


"Hiks." Masih saja hanya isakan yang sanggup Murni keluarkan.


"Bilang Murni." Paksa Yuni.


Murni meredakan isak tangisnya dengan sesekali menghela napas dalam. Krystal menunggu kejujuran putri angkatnya.


Murni memang sudah berhasil membuang tespack bergaris dua dari tong sampah kamar mandi rumah utama, tapi Murni lupa membuang bungkusnya.


Beberapa waktu lalu, salah satu pelayan tak sengaja menemukannya, lalu menanyakan pada Krystal dan ini membuat asumsinya menguat.


Tidak mungkin punya Queen, karena dari kamera CCTV, Murni lah yang bolak-balik memasuki kamar mandi tersebut.


"Tuan, ..." Murni mulai berani menyebutkan dalangnya. Dengan cara meretas, toh Krystal akan tahu siapa pelakunya. 'Tuan, ..."


"Tuan?" Krystal merinding, kata Tuan membuatnya berpikir buruk pada suaminya.


"Hiks, ... Tuan muda Joon yang melakukannya Mamm. Maafkan Murni." Wanita mungil itu terisak kembali.


"Apa?" Krystal dan Yuni terkesiap. Shock mendadak hingga terpaku tak berkutik.


Mendengar itu Queen menerobos masuk, lalu meraih kerah baju piyama Murni. "Joon? Joon adikku katamu? Kamu gila Murni? Kamu mau menghancurkan masa depannya?" Berang nya.


"Hiks." Sesal pasti merasuki, tapi Murni korbannya, Joon bisa saja lari dari tanggung jawab, tapi Murni yang paling menerima dampaknya.


"Queen." Krystal menegur. Dia pun terkejut dan tidak terima, tapi Murni bukan seseorang yang perlu di salahkan.


"Kalian gila!"


"Dia mabuk, dia tidak sadar saat melakukan itu, Murni ikhlas merawat bayi Murni sendiri tanpa di nikahi."


"Kamu pikir aku setuju?" Sergah Queen.


"Aku, aku yang akan susul Joon, dia harus bertanggung jawab, apa pun kondisinya dia harus bertanggung jawab!" Gadis itu keluar dengan wajah marah, menembus rinai hujan yang mengguyur deras.


"Queen." Krystal sesak, wanita itu hanya mampu mengusap dadanya. Joon pewaris tahta Hyun Ki, apa jadinya jika skandal ini mencuat ke permukaan media? Hwa Young bahkan masih menjadi aktris kawakan di negaranya.