
Sebuah mobil sport melaju kencang. Dari jam empat dini hari Raja melakukan perjalanan ini.
Bersama Aldo dan Doni Raja berniat menyusul calon istri.
Ameer bilang Kimmy pergi ke Bogor. Semarah itu Kimmy sampai harus pergi dari rumah yang selama ini menaunginya.
Ratusan pesan, puluhan telepon, tak ada yang dijawab oleh Kimmy. Menyebalkan nya lagi adalah, Kimmy hanya membaca pesannya tapi tidak membalas.
Serangkaian cerita telah Raja tulis, dan mungkin sekarang Kimmy tahu bahwa Raja dan Rinda tidak ada hubungan sama sekali.
Hanya satu jam saja, Raja telah sampai pada hunian minimalis milik Hema Alona sang artis kawakan.
Tante Kimmy yang berasal dari Gea memang artis terkenal. Saat bosan di rumah, Kimmy pasti ke Bogor mencari suasana baru.
Dahulu, Raja juga sering menjemput Kimmy ke sini saat gadis itu merengek minta di jemput.
Raja turun dari mobil, berjalan cepat menuju teras rumah. Udara basa tersiar mengudara. Penjaga yang barusan membukakan pintu gerbang berlari menemuinya.
"Tuan muda."
"Kimmy ada kan Pak?" Raja bertanya sangat gusar. Kantung mata menghitam tanda ia tak tidur semalaman.
Pria paruh baya itu mengangguk. "Ada."
"Buka pintunya, aku harus bicara."
"Tapi, ..."
"Di mana kamarnya?" Raja memaksa.
"Emmh." Terlihat pria itu sangat bingung, sebelumnya Kimmy mewanti-wanti agar Raja tak di izinkan masuk. Namun, pada akhirnya ia tak kuasa.
"Tolong bantu aku, ada yang perlu aku bicarakan, penting, ini menyangkut hidup dan bahagia kami." Raja meraih dompet, mengeluarkan seluruh uang miliknya lalu menyodorkan pada pria itu, "Di mana kamarnya?"
Hal yang cukup mampu menggoyahkan pertahanan sang penjaga. "Ku mohon Pak." Paksa nya.
"Di sebelah kanan, lantai dua." Terpaksa sekali pria itu menunjukkan letak kamar yang Kimmy tempati.
Raja bergegas menujunya. Doni dan Aldo segera mengikuti setelah turun dari mobil.
Secara spontan pandangan Raja mengarah ke atas. Jika dipikir lagi tak terlalu tinggi, hanya lantai dua, jaraknya sekitar delapan meter dari tempatnya berdiri.
Terlebih, banyak balok yang akan mempermudah jalannya ke atas.
Doni dan Aldo berdiri di belakang, mengikuti arah pandangan sang teman sekaligus bos-nya.
"Gue mau naik. Kimmy pasti nangis di pojokan, kebiasaan dia cuma begitu doang dari dulu!"
Doni mengernyit. "Lo serius Raj?"
"Serius lah! Lo pikir perasaan Gue main-main! Bantu Gue naik!" Raja ketus.
"Makanya jagalah sebelum pergi, giliran lari ajah kelimpungan. Bagian ngeselin nya tuh nyiksa orang lain begini. Mana dari semalem Gue belum tidur lagi!" Aldo menggerutu.
"Pikiran Lo tidur mulu, gimana mau sukses!" Raja sedikit mundur ke belakang. "Jongkok!"
"Hah?" Doni yang di tatap mengerut kening samar. "Jongkok?" Tanyanya.
"Iya, Jongkok." Raja mengangguk. Dan dengan polosnya Doni berjongkok.
Brekkk....
"Ahh" Berteriak Doni keras-keras saat Raja memakai pundaknya untuk melompat ke atas. "Bos nggak ada akhlak emang Lo Raj! Sialan Lo! Sakit." Pekiknya.
Aldo tertawa terpingkal-pingkal. "Sorry Don, Gue ketawa di atas penderitaan Lo."
"Emang temen durjana Lo pada!"
Raja menyengir, kedua tangan bergelantung pada pagar balkon. Rupanya ancang-ancang nya akurat, tidak sia-sia dia tahu konsep biomekanika, ilmu yang mempelajari dasar mekanik dari struktur dan fungsi gerak gaya yang bekerja pada benda dan tubuh manusia.
Brakkk...
Kaki Raja terhentak pada lantai balkon kamar Kimmy setelah merambat dengan lincahnya pada sejumlah balok dari struktur bangunan rumah minimalis itu.
"Sayang." Dari luar Kimmy bisa langsung terlihat secara gamblang.
Gadis itu beranjak dari selimutnya, berjalan arogan keluar dari kamar ke balkon. "Ngapain Raja ke sini?"
"Kita perlu bicara." Raja meraih lengan Kimmy yang selalu menepis.
"Apa lagi?"
Gadis itu berpakaian minim bahan, hanya dress tipis bertali kecil di pundak. Bogor dingin, Raja membuka jaket jeans miliknya kemudian memakaikan pada Kimmy.
"Kita masih perlu meluruskan masalah."
"Bukannya semua sudah selesai? Kimmy mau kita putus." Lirihnya. Rasa sayang tentu masih tumpah ruah, tapi Kimmy lelah berfikir negatif setiap hari. Itu hal yang menguras energi.
"Kita saling sayang, Kimmy tahu itu. Sumpah, aku sangat mencintaimu. Sumpah ku bukan kata-kata gombal, itu tulus dari dasar hati ku." Raja meyakinkan.
Anggap ini usaha serius yang ingin Raja tunjukkan. Bahwasanya ia benar-benar tak mau kehilangan tunangannya.
Kimmy mendongak menatap seksama wajah sesal kekasihnya, melihat kegigihan Raja ia tersentuh.
"Sekarang jujur, kenapa Raja nggak pernah mau terbuka sama Kimmy? Cerita sekarang juga. Kimmy mau denger langsung dari Raja, Raja mau kan jawab jujur?"
"Hmm." Raja mengangguk.
Kedua tangan Kimmy meraih jemari-jemari dingin pemuda itu. "Raja tahu, kenapa Kimmy menjauhi Radit? Bukan karena dia tidak menarik, tapi karena Kimmy yakin, nggak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan, Kimmy jaga hati Kimmy baik-baik karena Kimmy cukup hanya dengan memiliki Raja saja." Jelasnya.
Raja mengangguk. "Yah, I know."
"Hal yang sering Kimmy pikir sedari umur Kimmy 13 tahun adalah, apa Raja pernah tertarik sama Rinda?" Kimmy yakin kali ini Raja tidak akan menutupinya lagi.
Benar saja, anggukan kepala pemuda tampan itu menyentak relung hatinya. "Yah, tapi itu dulu Kimmy, dulu saat masa-masa pubertas." Ujarnya mengaku.
"Kenapa? Apa yang Raja sukai dari dia?" Kimmy penasaran.
"Dia tumbuh menjadi gadis yang mandiri, dewasa dan memiliki kegemaran sama dengan ku. Saat itu aku tertarik, yah aku akui."
Kimmy meneteskan air mata murahnya, sudah menjadi hal biasa jika buliran bening luruh dari netra seorang Kimmy. Tapi kali ini, lebih dalam rasa sakit yang Kimmy cecap.
"Kami sering bertemu karena memang kami dekat, apa lagi dia satu-satunya wanita yang menjadi bagian dari komunitas belajar kami." Terang Raja lagi.
"Sejauh itu Raja menutupi ini dari Kimmy."
"Maaf." Lirih Raja. "Tapi itu masa kanak-anak ku Kimmy. Dan seberapa pun jauhnya aku mencoba, ternyata kami tidak pernah bisa seirama."
"Raja berharap bisa cocok?" Kimmy tersenyum getir. Dugaan ini rupanya benar adanya, Raja pernah tertarik pada Rinda.
Raja menggeleng. "Semua mengalir begitu saja. Aku diam tak mengatakan apa pun padanya. Lambat laun aku sadar, perasaan itu tidak lebih dari sekedar mengagumi saja, dia mirip dengan Mammi yang tangguh dan cerdas, dia gambaran wanita yang di sukai lawan jenisnya, tapi, ..."
"Apa?" Kimmy masih ingin mendengar meskipun sakit rasanya.
"Ternyata aku mencintaimu tanpa syarat apapun. Tak peduli Kimmy Zoya ku cengeng, cerewet, oon, manja, berisik, suka mengganggu waktu tidurku, merepotkan, banyak permintaan, harus di dengar, tanpa sadar dan tanpa aku kehendaki rasa cinta dan sayang ini terpupuk sebegitu suburnya seiring bertambahnya usia ku." Sambungnya.
"Kimmy sakit dengernya." Kimmy menunduk. Tak kuasa menahan sesaknya. Walau pada akhirnya mencintai, Raja tetap mengkhianati.
Mencoba cocok dengan gadis lain, bertemu Rinda bahkan mengarungi hari-hari bersama, mengagumi, membandingkan kekurangan dan kelebihan kedua gadis itu, Kimmy sakit.
"Lalu?"
"Kimmy mau kita jadi teman saja, kita lebih cocok jadi teman kan. Kimmy mau lulus kuliah secara mandiri. Kimmy mau berhenti bergantung sama Raja."
"Gimana kalo aku menolak?" Nanar, Raja menggeleng.
"Kimmy mau sendiri. Kimmy capek. Negative thinking juga bikin capek. Sebelum otak Kimmy meledak, Kimmy mau istirahat dari pikiran yang bikin Kimmy capek."
"Sumpah Kimmy capek jalani hubungan yang udah di bina dari kecil. Kimmy mau hidup kayak temen-temen Kimmy yang lain, tidak bergantung sama siapa pun."
Mantap, Kimmy melepas cincin miliknya, meraih sebelah tangan Raja dan meletakkan cincin berliannya kedalam genggaman pemuda itu.
Ada bekas merah yang terlingkar di jari manis Kimmy, umur sepuluh tahun Kimmy memakainya, sesak sudah cincin itu.
"Semoga Raja paham, perjodohan ini sudah berakhir."
Raja tertegun, menatap nanar tenggelamnya Kimmy yang menghilang di balik juntaian gorden putih pada pintu kaca transparan.
Menyerah? Bukan putra Raka Rain jika itu terjadi. Jangan lupakan darah ambisius Raka Rain yang mengaliri rongga penghidupannya.