Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
Resepsi Q & D



Malam ini Joon duduk pada bangku taman halaman depan, satu hari sebelum resepsi pernikahan Queen dan Dhyrga, keluarga Hyun datang.


Larut begini, Joon menunggu Murni yang belum juga pulang dari magang, padahal usia janin mereka sudah empat bulan, bahkan besok acara syukuran empat bulanannya.


Sebuah mobil melintas dan berhenti tepat di depan paviliun Murni. Satu pria bertubuh tinggi bidang keluar bersamaan dengan Murni yang menyembulkan diri dari mobil sport tersebut.


Joon berdiri menatap keduanya, jadi ini alasan Murni pulang terlambat. Ada laki-laki yang membawanya.


"Terima kasih." Terlihat sangat manis senyum tulus Murni pada pria tampan yang mengantarnya.


"Sama-sama." Suara berat yang membuat Joon berdesir aneh. Entah kenapa, tapi ini tidak benar-benar Joon ingin lihat.


"Aku langsung pulang." Murni mengulum senyum saat tepukan di pucuk kepalanya ia dapati.


"Iya, silahkan, sekali lagi terima kasih." Tersenyum ramah, Murni melambaikan tangan pada mobil yang bergerak pergi.


Murni membalikkan tubuh, melenggangkan langkah menuju pintu masuk paviliunnya dengan tangan yang menepuk-nepuk tengkuk leher miliknya demi mengurangi lelah.


Saking capeknya ia, Murni bahkan tak menyadari ada pemuda tampan yang mengamati gerak-gerik bahkan senyuman manis yang terus menerus tersungging.


"Mur."


Suara yang membuat Murni menoleh. Jantung berdetak lebih cepat, tak menyangka Joon menemuinya. "Iya." Hilang rasa suka maka hilang pula canggungnya.


Sejak kejadian kelam itu, rasa tulus yang sempat terpupuk di hati Murni perlahan memudar.


"Jam segini kamu baru pulang?" Joon bertanya dengan nada jengkel tapi sengaja dia pelan kan.


"Ada pekerjaan tambahan, CEO dari perusahaan tempat ku bekerja ganti, jadi, ..."


Satu alis naik Joon memotong kata-kata Murni yang belum benar-benar selesai. "Oh, jadi incaran mu CEO?"


"Maksud mu?" Murni tak habis pikir, akan ada pernyataan seperti itu dari mulut Joon yang pendiam.


"Pengen banget jadi Cinderella?" Joon melangkah mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga Murni yang hanya diam menahan napasnya.


"Dari pada harus membahayakan calon anakku, lebih baik kita menikah." Setelah itu Joon kembali berdiri normal. "Gimana?" Tawar nya.


Murni mengunggut sudut bibirnya dengan sedikit kekehan kecil. "Apa pernikahan semudah itu bagimu Tuan muda?" Tatapan menghardik Joon dapati.


"Kalo anak dari perempuan yang tidak kamu inginkan ini menjadi kekhawatiran mu, baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha lebih berhati-hati. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali menelan pil peledak supaya hancur benih tidak di inginkan ini." Kata Murni lagi.


"Jangan bilang tidak di inginkan, kau tahu aku mengakuinya!" Joon melotot.


"Terima kasih kalau Tuan muda mengakuinya, semoga dia di berikan umur yang panjang dan tidak meniru apa yang ayah biologisnya perbuat pada ibunya." Ucap Murni.


Joon mengernyit. "Kamu mau cari ayah sambung?"


"Masalah jodoh, aku tidak tahu, biar Tuhan yang mencarinya untuk ku, karena dengan memiliki jodoh, setidaknya aku tidak akan memanfaatkan darah bangsawan yang mengalir ke tubuh anakku, menjadi parasit seperti ketakutan Tuan muda selama ini."


Joon hanya terdiam, mendapatkan tohokan yang terus menghujam keras harga dirinya. Murni yang penakut telah menjadi kuat seiring banyaknya pil pahit yang ia telan.


Tak mau lagi berhadapan dengan pemuda dingin ini, Murni pamit. "Permisi, sudah malam." Katanya.


Baru saja membalikkan badannya Joon kembali bersuara. "Kamu tahu Murni. Aku ke sini bukan untuk mencari ribut, aku ke sini mau menyampaikan sesuatu padamu,"


Joon berjalan menuju mobilnya, meraih paper bag besar yang dia letakkan di dalam sana lalu kembali menyatroni Murni. "Eomma ku yang menitipkannya untuk mu, dia tidak ikut ke sini, jadi hanya bisa mengucapkan salam." Ujarnya dingin.


"Terima kasih." Murni menerima bingkisan besar dari tangan Joon kemudian masuk ke dalam paviliun.


...🎀🎀🎀...



Namun, semuanya tergantikan dengan acara yang luar biasa mewahnya, lancarnya, juga tanpa kendalanya.


Di tengah-tengah halaman belakang rumah Raka Rain. Pesta out door sedang berlangsung, para awak media menyimak sambil mengabadikan momen bahagia ini.


Dhyrga dan Queen seperti raja dan ratu sejagad malam ini. Keduanya sangat rupawan. Gaun dan tuxedo dari desainer kondang melekat sempurna pada tubuh mereka.


Semuanya berkumpul tanpa terkecuali. Dari selebriti sampai yang pejabat negara hadir dan ikut serta memberikan selamat.


Ada dua acara yang di gelar, pertama pernikahan Queen & Dhyrga kedua acara syukuran empat bulanannya Murni yang pada akhirnya di media kan.



Seperti biasa, jika sudah larut, akan ada ritual makan malam bersama bagi keluarga besar Raka Rain terkecuali kedua mempelai yang akan makan di kamar pengantin mereka.


Raka gagah dengan senyuman wibawanya, Krystal cantik dengan keramahannya, Hyun mempesona dengan ketampanan ala oriental nya, Andre, Darren, Ray, Elevy dan lainnnya tersenyum dengan kebahagiaan masing- masing.


Ae Rin, Joon, Murni, Garaga, Raja, Kimi duduk berdampingan pada kursi meja makan panjang, bahkan ada anak-anak dari Darren dan Darius di sana.


"Raja mau lanjut sampai kuliah di Amerika?" Ameer ayah Kimi bertanya pada pemuda tiga belas tahun berpakaian serba hitam.


Raja mengangguk. "Sepertinya begitu Om."


"Sekalian ajah nggak usah pulang!" Celetukan cemberut Kimi membuat semua orang tertawa.


Raja hanya menoleh dan memberi senyum lebar pada gadis itu. "Lo masih marah sama Gue soal yang kemarin?" Tanyanya pelan.


Terlihat, Kimi tak makan apa pun, gadis itu memang sudah benar-benar mantap untuk menunjukkan pada Raja bahwa ia juga bisa kurus seperti Rinda.


"Pasti sampe seminggu Lo marahnya. Padahal cuma karena hal kecil doang." Raja menggerutu.


"Hal kecil? Chatting sama cewek lain hal kecil? Perlu di mutilasi ni cowok." Jiwa psikopat Kimi meronta.


"Kalo lompat kelas lagi, itu berarti, Raja sudah bisa jadi CEO di usia dua puluh satu tahun dong?" Gea ibu Kimi menyeletuk saat Raka membicarakan tentang prestasi Raja.


Kimi dan Raja beralih fokus pada percakapan orang tuanya.


"Maybe, jadi nanti Kimi masih kuliah, Raja sudah duduk di kursi CEO, itu bagus kan?" Raka tertawa bangga begitu pula dengan yang lainnya.


"Kimi beruntung punya calon suami yang sudah jelas masa depannya, semoga kalian langgeng." Darren adik sepupu Raka menimpali dengan senyum.


"Aamiin." Semua orang berkata demikian, tapi Kimi tak mendengar suara Raja. Jelas saja, Raja menyukai perempuan lain bagaimana bisa mengamininya?


"Mau aku suapi hmm? Dari sore Lo cuma minum-minum doang, nanti di kira gelonggongan." Raja menawarkan suapan pada tunangannya.


"Lo kan bilang sendiri tadi, Gue kalo ngambek seminggu, baru juga dua hari, jadi biarin Gue ngabisin kuota ngambeknya."


Kimi mengerucut bibir. Hal yang tak pernah Raja pungkiri adalah bertambahnya rasa sayang jika sudah seperti ini.


"Jangan mentang-mentang kalo ngambek cakep, terus sering-sering ngambek, Lo lebih cantik kalo senyum."


Kimi memutar bola matanya. "Pengen muntah di kresek jadinya."


"Ck! Lama-lama Gue cium juga Lo!" Tepukan kecil di paha Kimi dapati.


Mendengar ancaman tunangannya, Kimi hanya melirik kikuk. Bertahun-tahun lamanya berhubungan, respon jantung Kimi masih sama. Berdebar tak keruan saat Raja mengatakan hal itu.