
Dalam kamar yang di dominasi warna hitam, Hyun Ki menapak mondar-mandir mengulas kelut-melut di wajah tampannya.
Setelah mengetahui kenyataan pahit, segera Hyun Ki mengabari sahabatnya di Indonesia. Melalui telepon mereka berbicara keras.
"Kemana saja kamu Raka? Joon sampai menghamili anak gadis orang, dan kau tidak tahu! Aku sudah menitipkan putra ku baik-baik padamu bukan?" Hyun Ki merasa Raka patut di salahkan.
📞 "Sorry Hyun, akhir akhir ini aku benar-benar sibuk, kamu tahu sendiri bagaimana aku!"
Yah, berada di puncak seorang diri membuat Raka tak memiliki banyak waktu untuk menjaga putra yang tenang seperti Joon.
Sejauh ini, Joon tak bertindak macam-macam, tidak seperti Queen yang arogan, Joon penurut dan tidak pernah membangkang aturan Raka. Maka tak ada yang perlu Raka khawatirkan.
"Sekarang bagaimana? Jadi Joon harus menikahi gadis lain? Lalu bagaimana dengan Hye?" Kata Hyun Ki gusar.
📞 "Batalkan saja perjodohannya, Murni dan Joon kita nikahkan saja setelah ini, mungkin insiden kemarin hanya sebuah kesalahan fatal dan mereka menganggap mereka belum saling menyukai, tapi perlahan, mereka akan terbiasa."
📞 "Karena selain menikah lalu harus apa lagi? Apa kamu tega melihat Murni mengasuh bayinya sendiri tanpa seorang ayah?"
"Tentu saja tidak, tapi Joon menolak menikah, Joon tidak mau menikahi Murni!" Sela Hyun Ki.
📞 "Bawa dia kemari, kita bicarakan di sini, kau juga harus meminta maaf pada ibu dari calon mantu mu bukan?"
"Ya Tuhan, aku frustasi." Hyun Ki terduduk di atas ranjang miliknya. Masa depan Joon, jatuh pada gadis yang bukan siapa-siapa.
...🎀🎀🎀...
Hari berganti, dan telah banyak detik penuh warna yang terlewati. Dua hari lalu Queen tiba di Indonesia kembali.
Sempat Raka bingung dengan pernyataan Queen pada sejumlah media yang ramai di bicarakan akhir-akhir ini.
Queen mengakui memiliki kekasih, dan Raka sama sekali tidak tahu, jika bukan Jee Yeon lalu siapa kekasih Queen.
Tepat pada pukul dua belas siang ini, tanggal dua belas, dan bulan dua belas tahun ini, jawaban pun Raka dapatkan.
Barusan saja Dhyrga datang mengulang kembali lamarannya, dan Queen bersama pria tampan itu meminta doa restu.
Ini benar-benar membuatnya lelah pada permasalahan yang tiada kunjung pergi dari hidupnya.
Raka pikir Arnold lah kekasih Queen, tapi rupanya bukan. Sekali lagi Raka di hadapkan pada kebingungan.
Satu sisi ia telah mengizinkan Arnold melamar Queen, di sisi lainnya lagi, Dhyrga kembali hadir sebagai pelamar ke dua.
Dua kandidat yang sukar di tolak salah satunya, Arnold dan Dhyrga sama-sama memiliki masa depan cerah.
Arnold putra dari pemilik perusahaan makanan dan minuman terbesar di Indonesia, sedang perusahaan keluarga Dhyrga juga tak kalah mencengangkan.
Millers-Corpora Group pengembang real estate. Bahkan pengembangan terpadu skala besar dari pusat perbelanjaan ritel, perkantoran, kondominium dan hotel.
Kendati gaya hidup Dhyrga tidak terlalu mencolok dan tersorot, Dhyrga kaya raya.
Siang ini Queen dan Dhyrga masih duduk bersisian di atas sofa yang sama, sedang Raka dan Krystal duduk berdampingan di sofa lainnya.
Sebelum membawa orang tua, Dhyrga memastikan lamarannya di terima oleh calon mertua.
"Bukannya kalian menyudahi hubungan? Dua tahun lalu Dhyrga membatalkan lamaran dan Queen menginginkan hal yang sama. Lalu tiba-tiba saja, kalian pacaran?" Raka menggeleng ringan menatap keduanya secara bergantian.
"Kami saling cinta Daddy." Sahut Queen.
Raka beralih pada Dhyrga. "Aku butuh penjelasan Dhyrga!" Ujarnya menuntut.
"Ini mendadak Om, seperti yang Om tahu, kami pernah tinggal bersama, dulu kami sudah saling menyukai, hanya saja, kami tidak menyadari seberapa dalamnya." Jelas Dhyrga.
"Daddy nggak mau kasih restu? Queen bisa ajah loh kabur demi Dhyrga!" Timpal Queen.
Dhyrga meraih tangan mulus kekasihnya, mereka saling menggenggam erat satu sama lain, bahkan posisi duduknya pun tanpa sedikitpun celah.
"Kalian berjauhan dulu! Kalian belum layak berdekatan begini!" Larang Raka.
"Apa Mammi Daddy juga begitu dulu?" Protes Queen.
Raka mengangguk pasti. "Yah, of course, kami menikah dulu baru bersentuhan!" Lugasnya.
Krystal tersenyum samar. "Oya? Gimana sama yang lain?" Tuduhnya.
Tatapan kecemburuan menusuk tulang belulang Raka Rain, jangan lupa, ada Viona yang Raka cumbu sebelum menikah, bahkan ada Agnie yang pernah Raka sentuh pula. Mengingat kembali itu Krystal mencemooh suaminya.
"Yang lain?" Raka mati kutu. Bibirnya melebar senyum nyengir. "Ayolah Sayang, kenapa membahas ini juga?"
Dhyrga menahan tawa. Jika bukan mau melamar putri Raka Rain, mungkin Dhyrga melepas tawa jahatnya saat ini juga.
Raka menoleh sinis. "Ini tidak lucu Ga, sekarang kamu pindah ke sofa sana." Dengan pantatnya Raka mengusir calon mantunya.
Dhyrga menggeleng. "Why Om? Dhyrga suka di sini." Tak bisa duduk berdampingan tak apa, setidaknya dari belakang punggung Raka keduanya bisa bergandengan.
"Kalian mau nyebrang ke mana memangnya? Lepas!" Kasar sekali Raka melerai tangan Dhyrga dari Queen yang terkikik. "Kalian berani melawan Raka Rain?"
"Tidak, bukan begitu, tapi kebebasan memilih tempat duduk apakah harus serumit itu?" Dhyrga tertawa tertahan, takut dosa kalau sampai terlepas.
"Ini aturan Tuan rumah Dhyrga! Sekarang pindah ke sana!" Dhyrga mengalah bangkit lalu duduk pada sofa yang Raka tunjukkan.
"Ok, Dhyrga menurut, asal Om segera merestui hubungan kami."
Mereka terbiasa membicarakan bisnis, maka ketika berbicara mengenai jodoh lumayan aneh juga.
Raka menepuk paha Queen. "Baby duduk di sana, sudah cukup, kalian tidak boleh saling memandang dari kedekatan seperti ini, apa lagi saling menyentuh!"
Tak cukup puas dengan memindahkan Dhyrga, Raka bahkan menyuruh Queen pindah juga.
"Harus di kasih apa mertua rewel begini?"
"Daddy serius mempersulit hubungan kami? Daddy mau Queen lari ke rumah Dhyrga lagi?" Queen merengut mengancam.
"Jangan bercanda Sayang!" Sergah Raka.
"Kamu tahu kan Murni sedang dalam musibah, malam ini juga Joon dan Hyun Ki datang ke rumah, gimanapun Daddy perlu memikirkan masa depan mereka juga kan?"
Queen dan Dhyrga tahu akan hal itu, tapi ini masalah hubungan pacaran sepasang anak bucin yang tidak boleh berlama-lama tanpa ikatan sakral.
Baru Queen membuka mulut protesnya Raka menimpali kembali. "Itu yang pertama, Lalu kedua, ..."
"Apa lagi?" Krystal dan Dhyrga hanya menyimak perdebatan Queen dan ayahnya.
"Ada Arnold yang meminta mu juga. Kemarin Hendra bilang Arnold menyukaimu. Dia bilang dia mau melamar mu, and then, kemarin Daddy bilang yah silahkan." Jelas Raka.
"Sudah kadung begini. Daddy nggak enak dong kalo tiba-tiba membatalkan? Keluarga mereka sudah sangat dekat." Tambahnya.
"Di Amerika sana Arnold selalu menemani mu, selama ini Daddy pikir kalian pacaran, Daddy mana tahu kalau ternyata kamu justru menyukai Dhyrga yang dua tahun lalu kamu tolak mentah-mentah!" Imbuhnya.
"Jadi bukan salah Daddy dong, Daddy bukan dukun yang serba tahu tanpa kamu beritahu Baby!" Pungkasnya.
"Kami paham Om, tapi Om kan bisa saja membalasnya dengan undangan." Dhyrga menyahut dan Raka beralih padanya.
"Astaga, kenapa jadi mirip lagu jaman dulu?"
"Intinya lamaran Dhyrga di terima apa nggak? Jangan muter-muter deh Daddy." Krystal ikut berbicara kali ini.
...Maap keun, gantung, sumpahin ajah author nya sukses, biar up lagi... hehe, tunggu yak, dalam proses lanjutnya......