
Malam ini Rania pulang dengan hati teriris, sampai acara syukuran selesai Queen tak mau dia dekati.
Bukannya ikut membantunya membujuk, Dhyrga dan Harlan justru menertawakan ngidamnya Queen yang tak menyukai aroma parfum Rania.
"Sudahlah, jangan terus ngambek gitu kak Rania, nanti tumbuh keriput." Sashi menegur.
"Iya, sekarang kak Rania sudah banyak keriputnya, jangan sampai kalah sama Krystal yang masih awet muda."
"Memang Kak Rania dan dia beda usia! Kak Rania itu tujuh tahun lebih tua dari Krystal! Paham kalian!" Sergah Rania.
Indah dan Sashi saling mengedipkan mata. Ucapan Rania ini memang selalu ngegas, mereka sering dibuat geram tapi lucu juga menyimak sikap kekanakannya.
"Kayaknya Queen hamil anak cowok deh, dilihat dari bawaannya yang strong, biasanya cowok." Sashi memulai obrolan santai.
Rania suka dengan pembicaraan itu, tapi bagaimana kalau ternyata Queen tak mau memperkenalkan bocah itu padanya.
Terlebih, jika Queen membicarakan keburukannya pada cucu keduanya yang ternyata laki-laki. Memiliki cucu idaman apakah akan pupus kembali?
Tiba di halaman rumah keluarga Miller Rania, Sashi, dan Indah turun. Begitu pula dengan Harlan, Alfaro dan Austin.
Satu mobil panjang yang cukup mahal dari mobil pada umumnya, sebab mobil hitam itu dibuat khusus agar seluruh anggota keluarga Miller bisa menikmati perjalanan bersama dengan fasilitas nyaman di dalamnya.
"Rinda." Sashi tersenyum seketika melihat gadis itu keluar dari rumah besar suaminya.
"Tante." Rinda membalas senyum. "Ansel sudah tidur di kamar sama Papa nya."
"Kamu mau pulang malam-malam begini?" Alfaro menegur.
Hari sudah malam, bahkan hampir pagi, bukannya menginap dan tidur bersama Ansel, Rinda malah keluar dari rumah itu.
"Iya Om. Nggak apa-apa kok, Rinda bisa jaga diri." Seperti perangainya, Rinda selalu sopan pada orang tua.
"Akhir akhir ini banyak percobaan pembegalan, mending kamu tidur di sini. Menginap, satu hari, lalu pagi nanti langsung pulang." Harlan menimpali.
"Iya Rin." Sahut Sashi.
Rania telah ngeluyur masuk ke dalam rumah. Hatinya tengah bercelaru. Rania tak mau ikut pusing dengan pembicaraan mereka. Di kepala Rania hanya ada cucu keduanya yang belum sempat ia sapa.
"Tidur di kamar Rara sama Freya juga boleh." Gadis cantik itu menawarkan.
"Iya, Rin, kamu boleh tidur di kamar Rara sama Freya kalo nggak mau di kamar Ansel." Imbuh Indah.
"Terima kasih, tapi Rinda ke sini besok pagi saja. Lagian, Ibu di rumah sendiri." Rinda sekali lagi menolak halus.
"Hati-hati kalo gitu." Sashi mengusap pelan lengan ibu asuh cucunya. Lalu Rinda berlalu setelah berpamitan dengan semua orang.
"Cerdas, sopan, cantik. Kenapa tidak kamu jodohkan saja dengan Radit?" Harlan memberikan usul.
"Aku sudah melamar Killa untuk Raditya. Lalu apa bisa semudah itu membatalkan dan beralih ke Rinda?" Sanggah Alfaro.
"Iya juga, ... Ya sudah, lebih baik sekarang kita masuk." Harlan menggiring semua anggota keluarganya masuk ke dalam rumah.
...🎀🎀🎀...
Di kamar Kimmy dan Raja, tepatnya di atas ranjang bundar berdiameter besar itu, sepasang suami istri penghuni ruangan tengah dalam mode saling berdiam diri.
Kimmy bersandar pada kepala ranjang, ia sibuk dengan gawai tipisnya, mencoba mencari tahu, kiat-kiat hamil melalui Mbah Goooogle.
"Sayang." Raja tak kuasa menahan diri untuk tak merengek lebih dari sepuluh menit. Raja rindu sikap manja Kimmy. "Kamu marah?"
"Enggak." Kimmy menepis raba tangan suaminya yang nakal di area paha.
"Kok diem gitu?" Raja cemberut. Kimmy sempat mengamati raut sendu suaminya yang tak pernah terlihat jelek.
"Kimmy lagi cari selingkuhan!" Kimmy ketus.
"Kimmy mau hamil! Kalo gitu bolehin dong!"
Raja terkekeh samar. "Apa menurut Kimmy, minta hamil kayak minta permen?" Ujarnya.
Kimmy mengangguk pasti. "Karena akan semanis itu kalo Raja menurutinya."
"Please, minta yang lain, jangan hamil, kita bisa menundanya bukan?" Lagi-lagi Raja menaikan nada suaranya.
Membayangkan Kimmy hamil begitu menyeramkan baginya. Pasti Kimmy akan lebih galak, manja, juga aneh-aneh ngidamnya.
Entah bagaimana caranya supaya Kimmy paham akan ketakutannya. Melihat Kimmy sengsara bukan hal yang Raja inginkan.
"Kimmy pengen punya adik kecil, tapi karena Mama nggak nurutin jadi mending bikin anak sendiri aja! Kan sekarang Kimmy udah nikah juga!"
"Bisa kita tunda nanti Sayang." Raja geregetan, ia sampai menggertakkan giginya geram.
"Kalo gitu kita nggak usah begituan aja, buat apa juga begituan terus kalo Raja nggak mau Kimmy hamil! Raja udah kayak suami yang cuma mau enaknya doang!"
"Dosa loh nolak suami!" Sanggah Raja, masih sanggup sanggupnya ia menyengir.
"Giliran gitu aja di hapalin dosanya!" Gerutu Kimmy.
"Hamil bisa nanti-nanti Sayang ku, istri ku, pujaan hati ku, jangan sampai Kimmy hamil sebelum ke Jepang. Kan kurang seru kalo bulan madu udah dalam keadaan hamil." Raja sebisa mungkin memanipulasi istrinya.
"Seru aja kalo Raja nggak egois mah!" Kimmy terus menyanggah enteng.
"Hamil itu capek, cepat lelah, kaki Kimmy bengkak, ..." Belum lagi selesai ucapan Raja Kimmy berseru lantang.
"Kimmy nggak takut!"
Raja berdecak. "Percaya deh, Kimmy pasti nggak bisa tidur nyenyak, miring ke kiri salah, ke kanan salah, belum lagi ada hal yang buat Kimmy ngidam, nggak doyan makan dan lain-lain." Provokasi nya.
"Kimmy tahu itu dari Nuna. Kemarin Nuna udah cerita kok! Kimmy nggak takut, Kimmy bisa hamil dengan elegan. Kimmy bisa nggak cengeng lagi." Kekeuh Kimmy.
Raja menghela napas berat. "Ayolah Sayang, mengerti posisi ku. Lihat aku. Raja mu ini peduli sama Kimmy."
"Berhenti menganggap ku anak kecil Raja! Kimmy udah dua puluh satu tahun." Sergah Kimmy.
"Terserah." Pada akhirnya Raja lelah membuat Kimmy paham "Tapi kita akan tetap tunda kehamilan sampai Kimmy lulus. Titik." Ujarnya.
"Pergi sana!" Kimmy mendorong suaminya hingga menjauh darinya. Mereka bahkan masih terlihat seperti anak-anak.
"Ini kamar kita berdua." Kata Raja kembali.
"Tapi Kimmy nggak suka dekat-dekat Raja! Kimmy mau tidur sendiri sampai Raja mau setuju kita punya baby."
"Ok, kalo gitu terserah!" Pungkas Raja.
Kimmy berkaca-kaca. "Raja udah bilang terserah kan? Kalo gitu jangan nyesel!"
Degup....
Raja seperti mendengar ancaman yang tidak pernah main-main dari wanita super cengeng itu.
Demokrasi apa lagi setelah ini? Yang pasti Raja akan terus dibuat tak betah dengan kediaman wanita tercintanya.
"Sayang." Baru melihat Kimmy menarik selimut dan membelakanginya saja sudah bergetar hatinya. "Maaf. Kata terserah ku bukan karena tidak peduli. Tapi, ..."
"Bodo."
"Ya Tuhan, kenapa aku harus selemah ini sama cewek lemah kayak gini." Raja memelas.
...Jangan bosen yah, sama notifikasi nya, akooh mau up terus, jadi jangan berharap aku bls komen kalian... Tapi tetap isi komentar yah, saling like komennya, biar tanggal satu novel ini bisa naik level lagi... Aamiin... ...