Sexy Little Partner

Sexy Little Partner
OCD



"Putus?" Raka memekik dan semua orang terhenyak, akhirnya Kimmy berani melepas dan mengembalikan cincin kepemilikan Raja.


"Mammi tahu perasaan Kimmy, jadi biarkan dia sendiri dulu. Jodoh tidak tertukar, Queen dan Dhyrga contohnya. Mereka di persatu kan meski dalam keadaan tidak saling kenal." Mengusap punggung putranya, Krystal menimpali.


"Raja yang sabar, Kimmy pasti kembali, Tante yakin, Kimmy cuma terbawa emosi." Gea menyahut lembut seperti biasanya.


"Sebenarnya Om bisa saja memaksa Kimmy kembali, tapi Om takut dia lari ke luar negeri, mengingat Hema sangat mendukungnya." Imbuh Ameer.


Sejatinya para orang tua masih menginginkan perjodohan ini, Raja dan Kimmy saling mencintai, menyayangi, dan serasi dari segi apa pun. Sayang jika harus terputus sampai di sini.


"Raja mau istirahat." Tak mau semakin pusing. Pemuda itu melangkah lemah menaiki anak tangga. Meski kamarnya berada di lantai empat, Raja terbiasa dengan hal itu.


Raja tak memiliki ruang gerak bebas seperti pemuda lainnya. Ia memanfaatkan waktu tak berguna untuk memperkuat jantung, paru-paru, otot, tulang, dengan naik turun anak tangga.


Sampai di kamar, Raja meraih ponsel dari dalam saku celana, segera ia melayangkan panggilan telepon pada kontak bertuliskan Ali. Tak lama dari itu, panggilan terhubung.


📞 "Yup, apa kabar Pakpres."


"Tidak baik. Aku justru mau minta tolong padamu." Raja keluar balkon. Duduk pada sofa menatap kamar Kimmy dari kejauhan.


📞 "Ada apa memangnya Raj?"


"Bukannya setelah ini kamu ngajar di universitas Millers-Corpora?"


📞 "Iya, aku di panggil secara khusus. Jalur ekspres tanpa seleksi. Kemungkinan bulan depan aku sudah pulang ke Indonesia."


"Aku butuh bantuan mu." Raja berkata lirih.


📞 "Apa pun, pasti akan aku bantu, soal apa memangnya? Kenapa serius begini?"


"Ini soal kekasih ku yang masih kuliah di sana." Kata Raja.


...🎀🎀🎀...


^^^Tiga Minggu kemudian.^^^


Pagi ini Raja, Aldo dan Doni sudah berada di atas jok mobil berjenis SUV. Seperti biasa Raja duduk di sisi Aldo yang menyetir.


Di jok belakang Doni sibuk memeriksa beberapa agenda Raja sebagai wakil Raka.


Masih cukup santai skedul nya, tapi Raja butuh seorang Doni karena pikiran Raja sedang tidak mengarah ke tempat kerja.


Kimmy, Kimmy dan Kimmy saja yang selalu ada di pikiran pemuda tampan pewaris takhta Raka.


Mobil hitam itu melaju sedang mengikuti mobil merah mengkilap milik Ashley yang di dalamnya ada Kimmy Zoya tercinta Raja.


Hari ini Kimmy berangkat ke kampus bersama teman-temannya. Dan Raja tidak menyukai pemandangan itu.


Kaca transparan mobil di depan sana membuat Raja dapat secara jelas melihat aktivitas menyenangkan Kimmy.


Di saat Raja galau dan frustasi, teman-teman Kimmy seolah membantu Kimmy untuk cepat beralih dari dunia nya.


Akhir-akhir ini Kimmy terlihat lebih segar, sudah sekitar dua Minggu Kimmy melakukan kegiatan baru.


Seperti lari pagi sebelum berangkat kuliah, belajar bersama teman-teman di perpustakaan sampai malam, shopping ke pusat perbelanjaan tanpa berpamitan padanya.


Lagi pula siapa Raja? Sekarang Kimmy sudah bukan kekasihnya, Kimmy yang dahulu seperti alarm berjalan, menjadi senyap tak memberinya secuil pun kabar.


"Apa menurut kalian, Kimmy lebih bahagia tanpa ku?" Raja bertanya lirih, Doni dan Aldo mendengus.


Mereka bosan pada pertanyaan yang pagi, siang, sore, malam selalu di celetukan oleh sang Tuan.


Bahkan, tak jarang Raja sengaja menelepon malam-malam buta hanya untuk menanyakan hal itu.


"Bukannya bagus kalau Nona Kimmy bahagia? Harusnya Bos ikut bahagia."


Raja menoleh sinis pada Aldo. "Dia bahagia bukan karena Gue, gimana caranya Gue ikut bahagia? Gila Lo!"


"Cari yang lain, Nona Kimmy lebih bahagia tanpa Bos kayaknya." Doni menyambar.


Raja berdecak. Seandainya saja bisa, tapi sulit melakukannya, karena Kimmy terlalu spesial dalam kehidupannya.


Kiick...


Rem berdencit, secara mendadak Aldo menginjak pedal saat mobil di depannya dihadang polisi lalu lintas.


"Ada apa?" Raja menatap seksama satuan polantas mendekati mobil Ashley.


"Operasi." Aldo menyahut.


Tak lama Kimmy dan teman-temannya keluar dari mobil, sepertinya mereka melanggar peraturan lalu lintas.


"SIM mungkin." Doni berasumsi. Ketiganya menyimak baik-baik kegiatan penilangan di depan sana.


"Kita tunggu di sini, palingan sebentar lagi Nona Kimmy minta di antar." Raja tersenyum tipis mendengar Aldo mengatakan itu.


...🎀🎀🎀...


Pada lain sisi, yang tak jauh dari tempat Raja dan Kimmy. Motor gede milik Radit pun di-stop satuan polantas.


"Apa lagi ini?" Radit membuka helm, polisi di depan sana menyeletuk.


"Kalo mau operasi jangan di sini Pak! Kasian pasiennya, kalo ketabrak gimana? Bukannya sembuh itu orang malah gagal napas."


Plak...


Dari belakang Karan melempar tepukan kecil di kepala pemuda itu. "Bisa diem nggak Lo, bacot!"


Anton menyengir. lalu mengeluarkan kartu-kartu yang petugas pertanyakan, begitu juga dengan Radit yang melakukan hal sama.


"Eh, Ayang Ashley Gue sama Kimmy kenapa tuh Dit? Di tilang yak?"


Sembari menunggu polisi mengecek kelengkapan surat-surat miliknya, tak sengaja mata Anton menangkap sosok gemoy Kimmy dan kekasihnya.


"Mungkin." Radit mengikuti arah pandang Anton. Terlihat di depan sana, Raja juga turun dari mobilnya menyatroni Kimmy.


"Ashley belum punya SIM. Dia nggak pernah lolos kalo bikin SIM!" Anton bergumam. Karan menyahut dengan oh nya.


"Karan, Lo bawa motor Gue, Gue mau ikuti Kimmy dulu."


Setelah melihat Kimmy naik transportasi umum Radit turun dari tunggangannya kemudian berlari menuju gadis itu.


...🎀🎀🎀...


Di tempatnya, Ashley, Ariani dan Kimmy sama-sama menutupi sebagian wajahnya dari terik sinar mentari.


Silau, karena cuaca cukup hangat pagi ini. Hiruk pikuk perkotaan lumayan membuat anak-anak kalangan elit itu mengeluh.


Raja keluar dari mobil, meraih lengan mantan kekasihnya, menunduk demi menatap wajah cantik gadis itu.


Hanya dalam waktu tiga Minggu saja. Ada perubahan yang cukup besar dari Kimmy. Di perhitungan Raja, berat badan Kimmy turun sekitar tiga kilogram.


"Kamu kurusan hmm?"


Tak menjawab, Kimmy menepis pelan tangan Raja, mengalihkan pandangan ke arah lain, menunggu transportasi umum.


Angin kencang dari kendaraan yang berlalu lalang, melayangkan surai panjang Kimmy yang bergelombang.


"Biar aku antar." Raja menawarkan.


Selama ini Raja sengaja diam tak mendekati, tapi jika sudah begini, tak kuasa pula Raja untuk tidak menawarkan bantuan.


Kimmy menggeleng. "Nggak usah Raja, Kimmy bisa berangkat sendiri, Raja pasti sudah kesiangan kan?"


"Persetan dengan pekerjaan ku. Di sini jarang ada taksi. Biar aku antar."


Kimmy terkikik. "Iya, nggak ada taksi. Tapi kan ada Kopaja Raja!" Ucapnya.


"Hh, Kopaja?" Raja terkekeh kesal, kemana Kimmy yang dahulu dia kenal, kenapa seolah tak nampak Kimmy yang cengeng dan ketergantungan padanya.


"Kamu inget, terakhir kamu ikut-ikutan naik transportasi umum sama orang-orang, kamu OCD." Raja memperingati.


"Dulu kan Kimmy masih kecil! Sekarang Kimmy udah dua puluh tahun, yang begitu udah nggak ada lagi, Kimmy udah enggak punya OCD."


Kimmy melambaikan tangan, lantas transportasi umum berwarna oranye itu berhenti di depannya.


"Kim!" Nanar, Raja mendengus, tapi memaksa pun tak mungkin, sepertinya mantap sekali usaha Kimmy untuk lepas darinya.


"Raja sorry, kita tinggal." Ashley menyengir tak nyaman. Ariani pun sama, keduanya menyusul Kimmy menaiki Kopaja.


Tiba di dalam, Kimmy melongo, ada perasaan lain saat menghadapi tempat yang digunakan oleh banyaknya jenis manusia.


"Lo kenapa?" Ashley dan Ariani mendapat tempat duduk setelah tiga orang turun.


Harusnya Kimmy duduk di sisi Ashley, tapi karena OCD nya Kimmy hanya terdiam, gadis itu bernapas kasar, matanya kian memerah, untuk berpegang pada besi Kopaja saja Kimmy gemetar.


"Lo kenapa Kim?" Ariani menimpali. Lalu seorang pemuda berlari masuk, segera membuka jaket jeans miliknya.


Radit sengaja meninggalkan motornya untuk dibawa oleh Karan, karena ia tahu Kimmy memiliki OCD.


Dahulu Radit dan Raja pernah mendapati Kimmy sesak napas hanya karena ikut-ikutan teman-temannya naik kereta.


"Lo duduk di situ." Jaket jeans Radit telah tergelar di jok penumpang yang bersisian dengan Ashley.


Kimmy tersenyum kecil. "Makasih Dit." Ujarnya. Raditya tersenyum mengangguk.


Pelan-pelan, Kimmy duduk di atas jaket jeans milik Radit. Netra hazel miliknya mengerling ke kiri, di mana Radit berjongkok menatap wajah cantiknya.


"Lo tahu, terkadang berkecimpung secara langsung ke tempat yang menjadi kelemahan kita itu, perlu." Kata Radit.


"Iya." Kimmy mengangguk, bibirnya tersenyum, mencoba nyaman dengan kondisi yang selama ini tak pernah bisa dia geluti.


Selama ini cara Raja menunjukkan kasih sayangnya dengan melarang, tapi rupanya cara Radit berlainan.


"Ini bagian dari proses Kimmy."


Gadis itu mencoba kuat meski ada banyak kecemasan saat melihat karat karat besi di sekitarnya, juga kala mengendus aroma tak sedap dari udara lingkungannya.


...Eh Gaiss, aku udah nulis terus kehapus lagi, makanya lama up, wkwk, jadi maaf kalo enggak nyambung kata-katanya, aku buru-buru dan lupa sama kata-kata sebelumnya🤧...