
Usai sudah drama kejar-kejaran dengan mobil patroli polisi, Motor gede milik Radit terpaksa harus berhenti di lampu merah.
Hujan turun dengan deras. Mereka memilih pulang dalam keadaan seperti ini, awalnya Radit menawarkan mampir ke cafe tapi Kimmy menolaknya, ia sengaja ingin menikmati momen langka dalam hidupnya.
Sekujur tubuh Kimmy basah, kaos merah mudanya mencetak bulatan besar di dada yang tiada mungkin Kimmy hindari.
Sedari tadi Kimmy ripuh membetulkan posisi pakaiannya, banyak dari orang-orang menatap ke arahnya.
Kulit putih mulus, tubuh seksi, celana pendek dan kaos yang basah milik Kimmy menarik perhatian banyak mata nakal laki-laki.
Radit menendang kecil standar motor miliknya, ia turun tanpa menyuruh Kimmy turun, hal yang dia lakukan adalah membuka jaket lalu memakaikannya pada Kimmy.
Bibirnya tersenyum kecil. "Lo terlalu menarik perhatian, besok-besok, jangan pake pakaian kayak gini lagi, karena hidup, bukan hanya di dalam mobil mewah Lo ajah!"
Kimmy menyengir tanpa bersuara.
"Adem bet liatnya." Kata Radit.
"Apaan?"
"Senyum Lo!" Menyengir Radit kembali menaiki motornya, langsung tancap gas setelah lampu merah berubah hijau.
Kimmy hanya menggeleng ringan. Ini memang menyenangkan, tapi Raja takkan pernah bisa tergantikan.
Mengusir nama Raja dari hati Kimmy, laksana kemarau rindukan petir. Mungkin sulit tapi bisa saja terjadi.
Tibalah mereka di pekarangan rumah Kimmy, dengan menggigil Kimmy turun dari motor gede milik Radit begitupun sang empu.
Radit membantu Kimmy membuka helm. Jujur, Kimmy tak paham bagaimana cara memakai apa lagi membukanya.
"Ma ka sih Dit!" Bergetar suara Kimmy memandang Radit, bibirnya lucu membiru, jika saja Kimmy kekasihnya mungkin Radit sudah memakan mungilnya bibir itu.
"Lo kedinginan."
"Iya!" Kimmy geram meremas tangan Radit sambil menyengir. Mentransfer kedinginan miliknya pada Radit.
"Lo langsung mandi air anget."
"Lo juga, masuk ayok! Ganti baju punya bokap Gue juga ada!" Ajak Kimmy. Rasanya tidak nyaman membiarkan pemuda yang memberinya tumpangan kedinginan.
Radit mau, tapi ada pihak lain yang pasti akan lebih keberatan. "Emang boleh, ..."
"Kimmy!" Belum apa-apa, ada yang memberikan suara berat dan tatapan menusuk. Ameer ayah Kimmy berdiri mencekal tangan ke belakang.
Radit menoleh. "Eh, Om, Sore." Sapa nya menunduk.
"Kalian ngapain pulang bareng?" Ameer menatap tidak suka pada Radit. Memang Radit anak milyuner, tapi pergaulan sehari-hari Radit jauh dari menantu ideal.
"Maaf Om, tadi, ..."
"Masuk!" Ameer mendelik pada Kimmy yang menatap tak nyaman ke arah Radit.
Kimmy mengalihkan pandangan pada ayahnya. "Tapi Radit mau, ..."
"Mau apa? Sudah mau malam, pasti orang tua Radit juga nyariin!" Ameer menyela ucapan putrinya. Lalu beralih pada Radit. "Iya kan Dit?"
"Iya, Om bener." Radit menyengir, bukan Radit jika peduli pada perilaku menghardik seseorang. Tapi, pulang lebih baik dari pada membuat Kimmy semakin di marahi.
"Lo pulang?" Kimmy bertanya lirih. Tak nyaman juga pada akhirnya. Radit memang badung tapi sejauh ini pemuda itu sopan saat bicara pada orang tua.
"Iya, bokap nyokap Gue pasti nyariin."
"Makasih." Kimmy menatap gerak tubuh Radit, menaiki motornya. "Sama-sama."
Brumm.....
Gegas pemuda itu menyalakan mesin untuk kemudian dibawa ngebut.
Ameer menggeleng, bahkan suara motor Radit menjadi polusi di telinganya. Tak ada sepucuk kuku pun jika dibandingkan dengan Raja, calon mantunya.
"Ambil handuk!" Ameer memerintahkan kata itu pada pelayan yang lalu dilaksanakan.
Kimmy merengut, berjalan dengan pelan memasuki rumah besar ayahnya. Tatapan dingin Ameer jarang sekali ia jumpai. Kimmy merasa aneh mendapatinya.
"Ya Tuhan Kimmy, kamu hujan-hujanan Sayang?" Tiba di ruang tengah Gea menyambut putrinya dengan gurat kecemasan.
Pelayan berlari memberikan handuk pada Kimmy. Kemudian Gea membantu anak gadisnya melucuti satu persatu pakaian basahnya. Tas, jaket, sepatu dan lainnya.
"Raja sudah pulang, bukannya minta di jemput Raja, kamu malah motor-motoran sama anak berandalan! Gimana kalo Om Raka mu tahu?"
"Sudah, Kimmy perlu mandi, perlu istirahat, nanti saja ngobrolnya." Gea menepuk pundak putrinya pelan. "Masuk gih, nanti masuk angin." Kimmy mengangguk lalu menaiki anak tangga.
...🎀🎀🎀...
Dalam kamar milik Raja, pemuda itu duduk menyangga dagu dengan kepalan kedua tangan yang disatukan.
Tatapan terarah pada layar lebar di kamarnya, CCTV yang terpasang di depan rumah miliknya, tengah Raja pandangi.
Ia menyimak bagaimana Kimmy Zoya pulang sore ini. Sepertinya Kimmy bahagia saat turun dari motor yang selama ini tak pernah Raja berikan.
Raja menolak, bahkan ketus saat Kimmy meminta di bonceng motornya. Raja selalu mengenakan mobil saat berjalan bersama Kimmy.
Pukul delapan malam, Raja keluar dari kamar miliknya, hujan telah reda, Raja memang sengaja menunggu itu untuk bisa datang ke rumah kekasihnya.
Raja berjalan gontai seorang diri, sapaan khidmat ia terima dari beberapa penjaga rumah megah Raka Rain. Sebelum ia masuk ke dalam rumah besar tunangannya.
Gea berkutat dengan sejumlah masakan di dapur klasik. "Loh, Raja." Sambutnya.
"Kimmy ada Tante?" Tanpa mau basa-basi, orang yang Raja cari ya Kimmy.
"Di kamar, ..." Belum selesai ucapan Gea, Raja sudah lebih dulu berlari kecil menaiki anak tangga.
Gea menggeleng ringan. "Kalian ini, ribut terus, tapi nanti baik lagi." Gumamnya.
Tiba di lantai atas Raja menghentikan larinya, memperlambat laju langkahnya. Pintu kamar yang tidak terkunci membuat Raja masuk tanpa halangan.
Rupanya Kimmy sudah tenggelam di balik selimut tebal. Ada minuman hangat di atas nakas.
"Achim!" Raja mengerut kening samar, ini yang membuat Raja over perlindungan pada Kimmy. Gadis itu cengeng dan mudah sakit.
"Lo sakit?" Kimmy berjingkrak, ia menoleh pada Raja yang duduk di sisi ranjang.
"Ngapain ke sini?" Satu boneka kecil Kimmy lempar dan lekas di tangkap oleh Raja.
"Ngapel."
"Kita mau putus, jadi ngapain ngapel." Kimmy mendorong Raja dengan lututnya. "Gih pergi!"
Raja menepis, bahkan berhasil mengungkung tubuh Kimmy. "Mau sampai kapan selingkuh nya?" Pelan-pelan ia rasakan suhu Kimmy yang luar biasa panas.
"Hah?" Menatap dalam iris biru Raja, Kimmy mengulas kerutan di kening. Jadi Raja menganggap ucapannya pagi tadi serius?
"Selingkuh?"
Raja memangkas jarak, diam-diam merasakan desiran napas hangat Kimmy yang menerpa bibirnya. "Lo nyaman sama orang lain?"
Kimmy mengangguk, ia tahu Raja pasti sudah melihat Radit sore tadi. "Mungkin iya! Gue nyaman sama Radit, mungkin iya! Dia asyik, nggak kayak Lo yang kaku!"
"Berapa lama?"
Kimmy dibuat mengernyit. "Maksud Lo?"
"Gue tunggu sampai Lo bosen selingkuh sama anak motor itu, lalu balik lagi ke Gue!"
"Lo nggak cemburu?" Kimmy mendelik terkesiap. "Oh. Ya iyalah, Raja kan nggak suka sama Kimmy! Mana bisa cemburu!" Ketus nya.
"Menurut Lo, apa yang membuat Gue nggak menolak perjodohan kita? Apa menurut Lo, Gue selemah itu?"
Kimmy terkekeh. "Ya jelas lah, Lo kan nggak mau di coret dari kartu keluarga Om Raka!"
Mendengar itu, Raja beranjak, ia berdiri sembari menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya.
Menatap Kimmy yang masih terbaring di balik selimut tebal. "Gue dilahirkan genius Kimmy, Gue yakin, Gue bisa hidup tanpa warisan, dan Lo menganggap Gue selemah itu. Sekarang bilang, mau berapa lama Lo selingkuh dari Gue?"
"Selamanya Raja, selamanya! Gue nggak mau nikah sama Lo! Pergi!" Kimmy bangkit dari gulungan selimutnya. Mendorong Raja hingga ke pintu. "Jangan ke sini, ..."
Cup....
Ucapan Kimmy terbungkam. Saat Raja meraih tengkuk dan mendaratkan kecupan memabukkan dengan mata terpejam.
Meronta Kimmy kuat-kuat, tapi hanyut saat Raja mulai memanas, sebelah tangan Raja mengondisikan kelojotan gadis itu, bahkan Raja menyudutkan punggung Kimmy pada permukaan pintu.
Ini bukan ciuman pertama mereka tapi respon tubuh Kimmy tetap sama. Tak beraturan debaran jantungnya.
Sepersekian menit, Raja melerainya, matanya menatap dengan dalam netra hazel milik Kimmy. "Besok pasti flu Lo sembuh, Lo bisa hujan-hujanan lagi sama Radit!" Lirihnya terdengar kecewa.