
Melepas Maya sedikit emosional. Aku menghabiskan beberapa lembar tisu menghalau air mata. Setelah kehilangan Dio, Maya menjadi satu\-satunya sahabat yang mengenalkku dengan baik. Tempatku menumpahkan uneg\-uneg yang tidak bisa kuhambur kepada adik\-adikku.
Kembali dari bandara, aku mengurung diri di kamar. Melewatkan makan siang. Tidak merespons teriakan Rei dan Hadi yang memanggilku bergabung. Aku baru menemui mereka saat makan malam. Memindahkan isi piringku ke dalam perut secepat mungkin sebelum pergi jaga. Aku tidak lapar, tetapi jaga dengan perut kosong adalah tindakan konyol. Jenis pasien yang datang di IGD tidak terduga. Kalau aku harus berdiri menjahit luka selama berjam\-jam tanpa isi perut, ujung\-ujungnya malah aku yang harus dirawat. Sedih tidak membuatku harus kehilangan rasionalitas.
“Kamu mau aku gantikan jaga, Ra?” tawar Hadi. Dia pasti bisa membaca suasana hatiku yang muram.
Aku menggeleng. “Tidak usah.” Lebih baik membenamkan diri dalam pekerjaan daripada membiarkan pikiranku mengembara tidak jelas kalau tinggal di dalam kamar.
Malamku di IGD diawali dengan pasien diare yang sudah dehidrasi. Anak berusia dua tahun. Butuh waktu menemukan pembuluh darahnya yang mulai tenggelam untuk memasang abocath. Memang masih ada orangtua yang masih belum tahu bahaya penyakit diare, dan masih memandang remeh penyakit ini. Padahal, dehidrasi karena diare bisa merenggut nyawa.
Aku hanya sempat menyelesaikan beberapa lembar novel di ruang jaga saat pasien berikutnya datang. Korban penganiayaan yang diantar polisi. Biasanya, jika aparat kepolisian sudah terlibat, tuntutan hukum akan menyusul, dan pasien ini akan memerlukan visum et repertum. Aku perlu mencatat tempat dan besar luka untuk pembuatan visum kalau benar kasus ini akan dibawa ke ranah hukum.
Luka sabetan benda tajam di kepalanya lumayan parah. Darahnya masih terus mengalir setelah dia dibaringkan. Di kepala memang banyak pembuluh darah, sehingga luka terbuka di situ akan mengeluarkan banyak darah daripada di bagian lain dari tubuh.
“Biar saya yang jahit.” Dokter Angga tiba\-tiba sudah berada di dekatku. Melihat baju yang melekat di tubuhnya, dia sepertinya baru keluar dari ruang operasi. Masker dan penutup kepalanya bahkan masih terpasang. Saat makan malam tadi, Rei memang mengatakan jika dokter Angga punya jadwal operasi malam.
“Tapi, Dok….” Aku sudah siap dengan jarum di tangan. Tinggal menunggu perawat mencukur rambut pasien dan membersihkan daerah di sekeliling luka sebelum menyatukan kulit yang koyak.
“Tidak apa\-apa, sekalian saja.” Dokter Angga menempatkan tubuh di antara aku dan perawat itu, sehingga aku mengalah dan memberinya ruang. “Kelihatannya banyak pembuluh darah yang terkena. Parangnya pasti tajam. Orang ini pasti membuat marah orang yang salah. Jarumnya….” Dia menadahkan tangan yang sudah dibungkus.
Aku menyerahkan jarum yang kupegang pada Dokter Angga. Melihat kulit kepala yang menganga lebar, memang lebih baik dikerjakan dokter Angga. Aku kemudian menyingkir ke sisi lain dan mengecek jumlah tetesan infus yang sudah dipasang perawat.
Dokter Angga terlihat lelah setelah selesai menangani pasien tersebut. Dia melepas masker dan penutup kepala setelah membuang sarung tangannya di tempat sampah medis yang ada di sudut ruangan. Aku sedikit merasa bersalah. Itu pasienku. Dia tidak harus membantuku karena aku masih bisa mengerjakannya sendiri.
“Mau kopi, Dok?” tawarku ragu setelah melihat Dokter Angga duduk di kursi panjang depan IGD. Dia tampaknya belum akan pulang.
Dia mengelus perut. “Kalian punya pop mi? Saya lapar.”
Dia tentu saja lapar karena melewatkan makan malam. Energinya terkuras di ruang operasi. Apalagi sekarang sudah hampir tengah malam.
“Di rumah ada makanan, Dok,” ujarku mengingatkan. Makan di rumah jelas lebih mengenyangkan daripada hanya mengudap mi instan. “Kuncinya ada di bawah pot bunga.”
“Kalau ada, biar pop mi saja. Malam begini, enak makan yang panas\-panas,” dokter Angga berkeras.
Aku menyeduh sebuah mi cup dengan air di dispenser sebelum kembali ke luar IGD dan menyerahkan mi itu pada dokter Angga.
“Terima kasih.” Dia menerima plastik kemasan mi dan mulai makan menggunakan garpu plastik. Dia terlihat lahap.
“Tidak mau pulang ke rumah makan nasi, Dok?” tawarku sekali lagi. Mengisi lambung dengan mi instan tidak cukup untuk mengganti kalori setelah aktivitas yang melelahkan.
Dokter Angga menggeleng. “Sekalian sarapan besok saja. Hadi pasti tidak keberatan bikin nasi goreng.”
Hadi tentu saja tidak keberatan. Dia terkadang menanyakan kami mau sarapan apa kalau dia tidak jaga malam. Dia terobsesi dengan makanan. Untuk dimakan dan diolah.
“Kok operasi malam, Dok?” tanyaku basa\-basi. Setidaknya aku harus sopan karena dokter Angga sudah berbaik hati membantuku. Dan ini bukan yang pertama. “Cito, ya?” Cito adalah jenis operasi mendadak yang dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien. Mungkin saja pasien itu kiriman dari IGD saat aku belum masuk jaga. Aku memang belum sempat melihat daftar pasien tadi.
“Operasi terjadwal, kok. Hanya mundur karena pesawat dokter Mansyur yang harusnya tiba siang delaybeberapa jam. Tunggu dia istirahat sebentar dulu sebelum mulai operasi.” Dokter Mansyur adalah dokter anastesi yang baru pulang dari Surabaya untuk mengikuti seminar. “Kamu tidak ikut makan?” dokter Angga menunjuk kemasan mi di tangannya. Tadi siang kamu tidak ikut makan, kan?”
Dia rupanya menyadari ketidakhadiranku di meja makan. “Tadi sudah makan malam, Dok,” jawabku kikuk. Aku belum terbiasa dengan versi ramah dari laki\-laki ini.
“Jangan melewatkan waktu makan, kalau gantian jadi pasien pasti repot, kan?”
“Iya, Dok.” Percakapan macam apa ini? Aku tidak terbiasa menerima perhatian seperti itu selain dari Dio. Rei dan Hadi menyuruhku makan dengan teriakan, sehingga tidak terdengar tulus. Untuk menghilangkan kecanggungan, aku menyerahkan botol air mineral setelah dokter Angga membuang kemasan mi yang sudah kosong ke tempat sampah.
Dia meminumnya dalam tegukan besar. “Terima kasih, ya.” dokter Angga berdiri. “Saya bisa tidur nyenyak sekarang. Tadi sudah kepikiran tidak akan makan sebelum tidur.”
Aku ikut berdiri. “Saya yang terima kasih sudah dibantu, Dok.”
“Kalau ada pasien gawat dan kamu butuh bantuan, suruh perawat mengetuk jendela saya saja. Saya tidur di kamar depan, jadi gampang terbangun kalau ada yang panggil.”
Dalam hati aku berdoa supaya tidak perlu melakukannya. “Baik, Dok. Terima kasih.”
“Saya pulang duluan, ya.” dokter Angga melangkah pergi. Aku mengikuti gerakannya dengan mata. Baru beberapa langkah, dia berbalik. “Kalau tidak ada pasien, tidur saja. Jangan begadang.”
Aku tidak sempat menjawab karena laki\-laki itu sudah menjauh. Dia tidak terlihat butuh jawabanku. Aku masih termangu, terus melihat ke arahnya sampai tubuhnya kemudian hilang ditelan tembok. Orang aneh!