
Saat itu Cassandra tengah berada di Singapura dan melakukan syuting film di salah satu hotel miliknya.
Mendengar hotelnya disewa produser Indonesia, Benjamin pun tergelitik rasa penasaran ingin melihat proses pembuatannya.
Dirinya yang kala itu baru menyandang status duda dari Ibunya Daniel, langsung jatuh cinta melihat kecantikan Cassandra.
Ketika proses syuting berakhir — Benjamin yang masih ingin melihat Cassandra, memutuskan untuk menggelontorkan dana ke sebuah production house ternama di Singapura dan menjamin akan membiayai seluruh kegiatan produksi asalkan Cassandra menjadi aktris utamanya.
Mendapat tawaran menggiurkan, CEO production house itu pun bergerak cepat mengontak Cassandra karena kebetulan ada project drama yang ingin digarapnya.
Berkesempatan bermain film di negara tetangga, tentu tak disia-siakan Cassandra. Wanita itu langsung setuju dan terbang lagi ke Singapura dengan membawa serta Ganeeta kecil.
Saat proses syuting dimulai — Benjamin yang memanfaatkan posisi investor, mulai terang-terangan mendekati Cassandra.
Awalnya Cassandra tak keberatan karena saat itu Ben kelihatan normal. Terlebih Ben bisa mengambil hati putrinya.
Tak hanya Ben, sang anak – Daniel, yang sering mengikuti Ayahnya ketika mengunjungi Cassandra terlihat sangat menyayangi Ganeeta kecil.
"Aunty, aku boleh jadi Kakaknya Ganeeta? Aku pengen punya adik. Tapi Daddy dan Mommy udah pisah. Kata Nanny, kalau orang dewasa udah pisah, aku nggak akan bisa punya adik…." pinta Daniel saat kali kedua bertemu di lokasi syuting.
Cassandra tersenyum sambil mengusap lembut pucuk kepala Daniel.
"Boleh kok. Neta pasti senang, kalau punya Kakak sebaik kamu…."
Sayangnya, sifat asli Ben perlahan-lahan muncul. Merasa di atas angin, Ben mulai bertindak seenaknya. Dia mengatur semua jadwal syuting Cassandra dan membuat wanita itu tak nyaman.
Benjamin mulai posesif dengan lawan main Cassandra. Tak jarang ia seenaknya memaksa sutradara untuk mengganti jalan cerita di saat proses syuting hendak dimulai.
Lambat laun Cassandra jadi ketakutan. Pasalnya Benjamin ketahuan mengutus beberapa orang untuk memata-matainya.
"Aku cuma ingin jagain kamu, San. Aku takut kamu kenapa-napa. Apa itu salah? Niat aku baik, lho. Apalagi kamu sekarang ada di negaraku," jelas Ben ketika Cassandra memintanya berhenti mematai-matainya.
"Iya, dan aku berterimakasih untuk itu, Ben. Tapi ini berlebihan. Lagian aku cuma sebentar disini. Sebentar lagi syutingnya juga selesai."
Kalimat Cassandra seolah bumerang. Benjamin semakin menggila. Dia gencar mendatangi perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan dunia entertainment dan berjanji akan menginvestasi dana besar asalkan mereka memakai Cassandra sebagai model / aktrisnya.
Awalnya Cassandra kesenangan saat banyak tawaran yang mendadak menghampirinya. Namun ketika ia tahu bahwa itu ulah Benjamin, wanita itu cepat menolaknya.
Beruntungnya Cassandra, agency tempatnya bernaung juga menolaknya dan langsung membawa Cassandra pulang ke Indonesia setelah semua kontrak awal iklan dan drama selesai dikerjakan.
Benjamin hanya bisa pasrah melihat Cassandra meninggalkan Singapura. Lelaki itu tak bisa menyusulnya karena ia masih masuk dalam daftar hitam badan Imigrasi Indonesia.
Imbas permusuhan antara dirinya dengan Brama, membuat Benjamin kehilangan seluruh kolega bisnisnya dari Indonesia. Bahkan dengan pejabat pemerintahan Indonesia yang dikenalnya.
Mereka tak ingin mengambil resiko jika ketahuan masih berhubungan dengan Benjamin.
"Ck! Pengecut!!" maki Benjamin saat dubes Singapura di sana menolak membantunya.
Benjamin hanya mampu memantau kabar Cassandra melalui media online.
Hingga suatu ketika, ia mendengar berita pernikahan Cassandra dengan Brama. Pernikahan tersebut memantik dendam lama yang sempat ia kubur.
Rasa sakit hatinya kian menjadi ketika Brama memberikan undangan ke semua teman-teman sekolah mereka kecuali Benjamin.
Semenjak itu, Benjamin semakin terobsesi menghancurkan Brama dengan cara apa pun.
Termasuk membuat Brama mengalami insiden kecelakaan.
************
Seusai menemui Benjamin yang bersembunyi di Puncak, Marco mengemudikan mobilnya kembali ke Jakarta.
Dia harus tiba di tempat itu sebelum jam 9 malam atau si pemilik rental akan membebankan biaya keterlambatan yang jumlahnya tak masuk di akal.
Marco tak mengindahkan lelaki tua itu dan hanya mengulurkan kunci mobil beserta surat mobil.
"Saya mau ini," Marco menunjuk mobil SUV putih yang terparkir di sudut garasi. "Berapa?"
"Tinggal nambah 500 ribu."
"Oke. Mana kuncinya?"
Si lelaki tua masuk ke dalam rumah dan tak berselang lama ia keluar sambil mengenggam sebuah kunci di tangannya.
"Kali ini mobilnya kenapa, Om?" tanya seorang bocah SMP yang memperhatikan Marco sejak pertama kali Marco mendatangi rental mobil Ayahnya. Bocah itu adalah anak dari lelaki tua tadi. Si pemilik rental.
Jelas bocah itu heran. Sudah seminggu ini Marco berganti mobil rentalan. Mobil sedan itu adalah mobil yang ke lima. Entah apa yang salah dengan mobil mereka sampai membuat Marco berganti-ganti mobil rentalan.
"Udah pasaran," jawab Marco sekenanya.
"Ha?"
"Hush! Masuk ke dalam sana! Jangan ikut campur urusan orang dewasa!" si pria tua lekas mengusir anaknya yang hendak membuka mulutnya lagi.
"Ish!" meski menggerutu, bocah SMP itu tetap menuruti perintah ayahnya.
Marco menahan senyum melihat kelakuan anak tersebut. Atensinya lalu teralihkan oleh deheman si lelaki tua.
"Hati-hati. Mereka sudah mulai mengendus semua tempat usahaku. Sementara waktu, hindari wilayah Barat."
Marco hanya mengangguk dari balik kemudi dan melanjutkan perjalanan menuju unit apartemen sewaannya.
Sesampainya di apartemen, hal pertama yang ia lakukan adalah mandi. Lalu memesan makanan dari aplikasi online. Sambil menunggu pesanannya tiba, Marco membuka laptop dan memeriksa hasil kerjanya.
Tak banyak yang bisa dilihatnya.
Marco mendengkus kesal. Lagi-lagi pengintaiannya sia-sia. Kehidupan Mahesa Sanjaya sungguh monoton. Begitu pula Bianca.
Mereka hanya berada di kantor atau tempat usahanya dan pulang ke rumah masing-masing. Padahal Marco kira, Bianca dan Mahesa akan seperti pasangan bucin lainnya, yang bertemu setelah bekerja. Minimal untuk sekedar makan malam bersama.
Marco cukup terkejut menyadari Mahesa dan Bianca jarang menghabiskan waktu berdua.
Apa mereka bukan pasangan kekasih ya?
Kening Marco berkerut. Tetapi melihat gelagat Mahesa dan sikap waspada yang ditujukannya bahkan sampai mendatangi Bianca di saat Marco mengintainya di sebuah mall seketika menepiskan kecurigaannya.
Tok. Tok.
Ketukan di pintu diiringi seruan kurir di pintu luar membuat Marco bergegas berdiri. Sebelum membuka pintu ia mengintip dari lubang untuk memastikan jika itu benar kurir makanannya. Setelah yakin, barulah ia membukakan pintu.
"Atas nama Wahyu?" kurir berjaket oranye itu memastikan identitas Marco sebelum menyerahkan bungkusannya.
Marco mengangguk. Itu nama palsunya selama di Indonesia.
Marco menata makanannya di atas meja lipat. Harum kuah rawon menggoda indera penciumannya. Marco meneguk salivanya. Bertahun-tahun tinggal di Singapura, nyatanya masakan Indonesia tetaplah yang terbaik menurut lidahnya. Tak butuh waktu lama, rawon itu pun habis tak bersisa.
"Hoaam…."
Marco menguap berkali-kali. Rasa kenyang dan ngantuk menderanya bersamaan. Mungkin karena efek seharian mengintai Bianca di Jakarta lalu menemui Benjamin di Puncak dan kembali ke Jakarta, Marco merasakan matanya teramat berat.
Tanpa sempat berpindah ke kamar, lelaki itu terlelap di sofa ruang TV. Saking lelapnya, ia tak menyadari bahwa seseorang di luar sana sedang mencoba membuka pintu apartemennya.
Setelah berhasil dibuka, empat orang pria berpakaian hitam-hitam merangsek masuk. Mereka tetap melangkah hati-hati meski sudah tahu jika Marco tak akan mungkin terbangun. Tanpa bersusah payah, dua orang dari mereka memapah keluar tubuh Marco yang sudah sepenuhnya tertidur pulas.
Lalu sisanya menggeledah isi apartemen. Mereka mengambil laptop serta benda-benda lainnya dari kamar Marco lalu bergegas keluar setelah menghapus semua jejak keberadaan mereka.