Second Chance

Second Chance
Dua Belas : Perpisahan



Aku melihat dokter Angga masih di teras. Aku kemudian menyusulnya dengan membawa dua cangkir cokelat. Kopi akan membuatnya terjaga, padahal dia harus berangkat subuh ke Baubau. Dia mengambil penerbangan pagi.



“Minum, Dok,” tawarku. Cangkirnya kuletakkan di meja kecil.



“Terima kasih.” dokter Angga meraih cangkir itu dan menyesapnya. “Besok ikut ke Baubau, kan?”



Aku buru\-buru menggeleng. “Mau tidur, Dok. Saya seharian belum tidur.” Dari awal aku memang tidak merencanakan ikut mengantar dokter Angga. Aku sudah menyampaikan itu kepada Hadi dan Rei yang beberapa kali menanyakannya.



“Bisa tidur sepulang dari Baubau, kan?”



“Saya sudah setuju menggantikan dokter Niar jaga siang besok, Dok.” Aku tidak bohong. Anak dokter Niar yang seharusnya jaga siang besok sedang sakit, dan dia memintaku menggantikannya jaga.



“Jadi setelah  malam ini kita baru akan bertemu kembali bulan depan?” tanyanya lagi.



Aku tidak tahu. Beberapa hari lalu pemerintah daerah membuka pendaftaran untuk penerimaan CPNS tenaga dokter. Kalau aku memutuskan tidak pulang bersama Hadi dan Rei, aku akan mengambil kesempatan itu. Menjadi pegawai negeri dulu sebelum melanjutkan pendidikan spesialis.



“Sepertinya begitu, Dok.” Aku tidak ingin membicarakan rencana\-rencanaku dengan dokter Angga. Dia bukan siapa\-siapa. Hanya seseorang yang mampir mengisi hari dalam perjalanan hidupku selama dua bulan. Tidak lebih.



“Semua orang punya masa lalu,” ujar dokter Angga setelah membiarkan keheningan mengisi jeda percakapan kami. “Maya benar. Masa lalu, masalah, dan ketakutan itu dihadapi, bukan dilarikan.”



Aku menatapnya sengit. Aku sama sekali tidak menduga dia akan mengangkat percakapan itu. Dia tidak berhak. Dia tidak tahu apa yang kulalui. Dia hanya mengira\-ngira dari potongan percakapan yang ditangkapnya saat bertengkar dengan Maya beberapa waktu lalu. Dia hanya orang sok pintar yang merasa tahu semua, dan sekarang akan bersikap sok bijak dengan memberi nasihat. Tidak, aku tidak butuh nasihat dari siapa pun untuk menghadapi masa laluku, terutama dari orang yang memakai cincin palsu untuk menghindari gangguan gadis\-gadis.



“Saya mengantuk, Dok.”Aku bangkit dari duduk. “Dokter juga harus tidur cepat supaya tidak terlambat ke Baubau besok, kan? Sekarang sudah hampir jam sebelas.” Bersikap defensif  biasanya berhasil untuk menghindari gangguan yang tidak diinginkan dari orang sok bijak seperti ini.



Dokter Angga bergeming. “Aku hanya berusaha membantu, Ra. Syarat utama untuk move onitu adalah menerima apa yang sudah terjadi di masa lalu.”



Dia akan sangat membantu kalau tidak membicarakannya, karena aku sekarang tidak yakin kami akan  berpisah baik\-baik sebagai teman setelah percakapan ini.



“Masa lalu saya bukan urusan Dokter,” jawabku tegas. 



“Aku sudah menduga reaksimu akan seperti ini.” Dokter Angga ikut berdiri di depanku, sehingga aku harus melewatinya kalau hendak masuk rumah. “Karena itu aku memilih sekarang untuk mengatakannya. Kamu tidak akan bisa lama\-lama marah kepadaku sebab aku tidak akan berada di sini lagi. Kamu akan punya waktu memikirkannya sebelum kita bertemu kembali di Makassar bulan depan.”



“Saya benar\-benar mengantuk, Dok.” Aku melengos, menolak bertatapan dengannya.



“Kamu tidak boleh menutup hati hanya karena seseorang pernah melukaimu. Itu membuktikan bahwa dia tidak pantas untukmu. Dia tidak ditakdirkan sebagai pendampingmu. Dia….”




“Apa yang kudengar cukup untuk aku tahu, Ra.” Dokter Angga merentangkan tangan saat aku memaksa lewat. “Dan aku sudah cukup mengenalmu. Kita menghabiskan banyak waktu bersama selama dua bulan terakhir.”



Aku tertawa sinis. “Saya menghabiskan waktu tiga tahun bersama Hadi dan Rei. Mereka  konyol, tapi menghargai privasi saya, Dok. Mereka tidak akan mengajak saya bicara tentang hal yang tidak ingin saya bagi dengan mereka. Itu teman yang baik.”



“Aku mengatakan ini karena….”



“Saya tidak ingin mendengar apa pun yang ingin Dokter katakan.” Aku mendorongnya keras, sehingga bisa melewatinya. Pintu rumah kubanting  di depan wajahnya, yang berusaha menyusulku.


Sialan! Dia pikir dia siapa? Seenaknya mencampuri urusan pribadi orang lain. Kalau dia tertarik pada proses penyembuhan jiwa atau luka hati seseorang, seharusnya dia menyasar orang lain. Aku tidak butuh bantuannya untuk mengatasi sakit hatiku. Untung saja, aku tidak perlu bertemu dengannya lagi!


**


 Aku sedang memandangi formulir persyaratan pendaftaran CPNS daerah saat ponselku berdering. Aku perlu mengucek mata beberapa kali untuk meyakinkan jika aku tidak salah melihat nama yang muncul di layar. Jantungku seketika berdebar kencang. Namun tidak, aku tidak salah. Itu benar-benar Mama. Mama meneleponku! Peristiwa Mama menyempatkan diri menghubungiku bisa dihitung dengan jumlah kedua jari tanganku. Jadi, ini pasti berita penting. Entah mengapa mataku tiba-tiba memanas. Kurasa aku adalah satu-satunya anak di dunia ini yang mendadak emosional hanya karena sebuah deringan telepon.


“Halo?” aku menjawab setelah menekan tombol hijau di layar ponselku.



“Ini Mama, Ra,” suara itu terdengar canggung, seperti biasa.



“Aku tahu, Ma.” Aku tidak kalah canggung. Bahkan telepon dari pramuniaga yang menawarkan paket promo sebuah produk terdengar lebih hangat daripada interaksi kami.



“Kamu harus pulang ke Makassar, Ra. Sekarang.” Nada tangis di suara itu membuat kewaspadaanku seketika meningkat. Mama tidak pernah meminta apa pun dariku.



“Ada apa, Ma?” Kecanggunganku berubah menjadi ketakutan. Ini pasti bukan berita bagus. Biasanya Yana atau Lisa yang menelepon untuk mengabarkan sesuatu.



“Yana dan Lisa kecelakaan, Ra.” Suara Mama pelan saja, tapi efeknya membuat ponsel di tanganku hampir terlepas. Sebelah tanganku mencengkeram tepi meja kuat\-kuat. Mencoba mencari kekuatan di sana. 



“Bagaimana… bagaimana keadaannya?” Aku harus bertanya meski tidak siap untuk menerima jawaban. Mama tidak mungkin menghubungiku jika kedua adikku hanya menderita luka lecet.



Tangis mama makin kuat. “Entahlah. Mereka masih di ruang operasi. Dokter bilang keadaan Lisa lebih stabil karena hanya patah tangan walaupun luka lecetnya banyak, tapi Yana, dia…dia….”



“Yana kenapa, Ma?” Aku harus menegaskan meskipun suara Mama cukup untuk menggambarkan kondisi adikku tidak mungkin bagus.



“Ada perdarahan dalam tubuhnya. Entahlah, Mama tidak terlalu mengerti. Dokter bilang rusuknya patah dan mengenai jantung. Kamu harus pulang sekarang, Ra.”



Rasanya aneh mendengar Mama memohon kepadaku. Namun, bukan itu yang harus kupikirkan sekarang. Keadaan adik\-adikku jauh lebih penting. Aku lalu meremas formulir yang tadi kupertimbangkan dan melemparnya ke tempat sampah. Dengan mata yang masih basah, aku lantas menarik koper besarku dan menjejalkan apa saja yang bisa kumasukkan di situ. Masa tugasku sebenarnya masih tersisa dua minggu lagi, tetapi sepertinya aku harus mendahului Rei dan Hadi pulang ke Makassar. Aku tidak punya waktu untuk mengurus \*\*\*\*\* bengek administrasi. Mereka yang akan melakukannya untukku.