Second Chance

Second Chance
S.C Pacar?



Bianca bangun pagi-pagi sekali. Ralat, lebih tepatnya tidak bisa tidur. 


Mana mungkin ia bisa tidur nyenyak setelah mendengarkan penjelasan Mahesa? Benar dugaannya, Mahesa memang anggota mafia. Ah, koreksi – Mahesa bilang, mereka hanya sekumpulan orang-orang yang kebetulan saling mengenal lalu memutuskan tuk membentuk organisasi.


"Yah, anggap aja ini kayak organisasi Karang Taruna. Hanya lebih rumit dan lumayan kompleks."


Bianca mencibir. 


Bagaimana bisa Mahesa membandingkan organisasi miliknya seperti Karang Taruna? Sejak kapan pula, ada anggota Karang Taruna yang memakai pakaian formal dan berbadan besar-besar seperti bodyguard?


Mendesah berat, Bianca beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar, berniat tuk melaksanakan ibadah Subuh. 


Selepas beribadah, Bianca duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Dia enggan keluar kamar dan memilih menunggu Mahesa bangun. 


Semalam, Mahesa pindah tidur ke kamar sebelah. Takut khilaf, katanya. Bianca jadi senyum-senyum sendiri mendapati tingkah Mahesa yang mendadak alim. Bagus lah, setidaknya pria itu akan berpikir ribuan kali jika ingin menciumnya.


Tok. Tok.


Pintu kamar Bianca diketuk jam 6 pagi. Begitu dia menyahut, Mahesa muncul dari balik pintu. Lelaki itu membawa paper bag yang kemudian diberikan pada Bianca.


"Itu baju ganti," jelas Mahesa menangkap kerutan di dahi Bianca. "Perlengkapan mandinya udah lengkap, kan?" Bianca mengangguk mengiyakan pertanyaan Mahesa.


"Kalau udah selesai, kita sarapan di bawah ya, Baby."


Bianca hanya mengacungkan jempol sebagai jawabannya lalu bergegas ke kamar mandi begitu Mahesa menutup pintu dan keluar dari kamar.


*******************


Mahesa berdecak sebal, melihat seseorang yang sudah menunggunya di ruang tamu. Semakin bertambah kesal karena tamu tersebut justru tersenyum lebar mendapati kedatangan Mahesa.


"Bisa-bisanya kalian ijinin dia masuk?!"  Mahesa mendelik tajam ke arah anak buahnya yang tertunduk pasrah. 


"Maaf, Bos." Cicit mereka takut.


Hah, tampaknya Mahesa harus memindahkan tempat perkumpulan ini ke daerah yang jauh. Pegunungan – mungkin. Atau hutan, sekalian?


"Santai, Sa. Gue kesini cuman pengen bilang terimakasih sekalian minta ijin buat nemuin Ganeeta bareng Farrel."


Mahesa mengedikkan bahu tak peduli, "Jangan tanya ke gue. Itu urusan Neta. Kalau Neta oke, gue juga oke. Udah kan? Pulang gih!" Mahesa mengarahkan dagu ke arah pintu. 


Daniel mendengkus. "Kopi gue masih ngebul, Sa." Sahut Daniel memelas.


"Bawa cangkirnya sekalian. Gue masih punya banyak stok di dapur."


"Sinting. Lo nyuruh gue ngopi di mobil pakai cangkir?"


"Bungkus plastik, kalau gitu," balas Mahesa enteng.


Daniel mendengkus sebal. "Ngomong-ngomong, bokap gue masih belum ketemu, Sa. Lo beneran nggak tahu dia dimana?" tanya Daniel curiga. 


Pertanyaan Daniel dibalas kilatan tajam Mahesa. Daniel yang paham arti tatapan itu, mengernyit bingung.


"Om Ben — ah bukan, bokap kesayangan lo itu hampir bikin gue sama Bianca kecelakaan!!" geram Mahesa kesal.


Bola mata sipit Daniel membola, "maksudnya? Bokap gue celakain kalian berdua?"


Mahesa menyugar kasar rambutnya. Lalu mengalirlah cerita dari mulutnya tentang kejadian yang hampir membuat dia dan Bianca celaka. 


Setali dengan Mahesa, Daniel pun ikutan marah. Rahangnya mengeras sementara tangannya mengepal kencang, pertanda jika lelaki itu tengah menahan emosinya.


"Lo tahu plat mobilnya?" 


Mahesa mengangguk lalu mengetik sesuatu di ponselnya. "Udah gue kirim ke ponsel lo. Anak buah gue sempat ngejar Om Ben, tapi dia keburu kabur. Barusan gue dikabarin keberadaan mobilnya. Pas dicek, dalamnya udah kosong. Ternyata itu cuma mobil sewaan."


"Milik Pak Harris?" tebak Daniel yang diangguki Mahesa. "****."


Mahesa mendecih. "Gue nggak ngerti jalan pikiran bokap lo. Ada urusan apa dia sampai ganggu Bianca? Masalah keluarga kita seharusnya nggak melebar kemana-mana. Sori Nil, tapi untuk kali ini bokap lo udah kelewatan. Gue nggak bisa kasih toleransi lagi. Jadi gue harap, lo bisa menemukan bokap lo sebelum gue!"


Menyadari waktu semakin menipis, Daniel pun beranjak pamit. Jangan sampai anak buah Mahesa duluan yang menemukan Ayahnya.


"Sa. Gue boleh bawa masuk 3 bawahan gue lagi?" tanya Daniel. Selama ini hanya Maxim seorang yang diberi ijin Mahesa tuk menemaninya selama berada di Indonesia.


"Buat apa?"


"Please lah Sa. Masa lo masih nanya," gerutu Daniel kesal. Mana bisa hanya dia dan Maxim saja yang mencari Ayahnya? Minimal Daniel membutuhkan beberapa orang bawahannya untuk membantunya. Apalagi Mahesa juga melarangnya menggunakan bantuan diplomat atau kepolisian Indonesia.


Mahesa menggeleng keras. "Sori. Gue nggak mau ambil resiko. Pakai aja anak buah gue."


Daniel mendecih, namun menghormati keputusan Mahesa. Daniel paham alasan penolakan Mahesa tidak bukan karena kesalahan fatal Ayahnya dulu yang menyalahgunakan kepercayaan Om Brama. 


"Okelah. Tapi tolong kirimin anak buah lo yang kompeten ya, Sa." Putus Daniel pasrah.


Mahesa berengut, agak tersinggung dengan ucapan Daniel, "bawahan gue nggak ada yang nggak becus ya!!" tandasnya.


Daniel tertawa sambil mengangkat kedua tangannya, "Canda Sa. Serius banget sih!" elaknya keki. Lalu setelahnya lelaki itu pamit pulang karena Mahesa seperti tengah menunggu sesuatu dengan terus-menerus menatap ke arah tangga. Entah siapa yang sedang ditunggunya.


Apa mungkin Bianca ada disini juga?


Meski penasaran, Daniel memutuskan tuk tetap melangkah pergi. Fokusnya saat ini adalah mencari keberadaan Benjamin terlebih dahulu.


*******************


"Mba Bian!!" Sika berseru girang melihat kedatangan Bianca. Semakin heboh kala menyadari keberadaan Mahesa di belakang Bianca. 


"Gimana toko, Ka? Aman?" 


"Aman dong Mba. Mba tenang aja, no worries pokoknya deh." Celetuk Sika dengan alis naik turun.


Bianca tak mengindahkan godaan jahil Sika. Wanita itu berlalu pergi menuju dapur sementara Mahesa memesan beberapa donat dan kopi sebelum pergi ke kantor.


Setibanya di dapur, Meta pun nampak kesenangan menyambut Bianca. Wanita itu sampai heran mendapati reaksi tak wajar dari karyawannya.


"Kalian kenapa sih? Perasaan Mba cuma pergi seharian kemarin. Apa segitunya kalian kangenin Mba?" tanya Bianca sambil menakar tepung terigu.


Meta sontak tertawa geli. "Iya, Mba tahu aja kalau kita kangen banget sama calon Nyonya Mahesa," godanya dengan cengiran lebar.


"Siapa yang nyonya?" sahut seseorang di belakang Bianca.


Bianca sontak berbalik badan ketika mendengar suara familiar di telinganya. 


"Atilla? Kok kamu disini?" Jantung Bianca berdebar kencang melihat adiknya menenteng sesuatu sambil berdiri di pintu penghubung antara dapur dan area depan toko kuenya.


Bianca menegang cemas. 


Atilla belum bertemu Mahesa, kan?


"Disuruh Ibu bawain ini." Atilla melenggang masuk lalu menaruh bingkisan ke atas meja. "Ibu buatin sup ayam. Kata Mba Meta, Kakak sakit. Tapi kayaknya Kakak baik-baik aja," Atilla memicing curiga memperhatikan Kakaknya yang nampak segar bugar.


Bianca gugup. Namun hanya selang sedetik, dia menormalkan lagi raut wajahnya. "Kan semalam udah minum obat. Kamu aneh, Kakaknya sembuh kok malah heran? Pengen liat Kakak sakit sampai besok, gitu?" 


Atilla meringis. "Atilla kan cuma nanya, Kak. Sensi banget. Syukur kalau udah sembuh." 


Bianca menghela napas pendek. "Kamu kesini naik motor?" 


Belum sempat Atilla menjawab, Latan muncul dari arah depan dan sukses membuat Bianca membeku.


"Mba Bian, dicari Pak Mahesa di depan. Katanya mau pamitan," lapor Latan.


Kening Atilla berkerut mendengar nama asing di telinganya. "Pak Mahesa siapa? Kayaknya tadi aku denger Mba Meta nyebut-nyebut nama itu juga." Atilla menatap kakaknya heran. "Ngapain pamitan segala?"


"Pacar Kakak?" tebak Atilla sambil bersidekap seraya menatap lurus Bianca.


Mampus gue!!