
“Kopimu, Ra.” Hadi mengulurkan cangkir untukku.
“Aku menyesap perlahan. “Enak, Di, seperti biasa.”
Hadi barista amatir yang lumayan. Meskipun aku menggunakan formula sama dengan yang dipakai Hadi saat membuat kopi, hasil seduhan kami berbeda rasanya. Jadi, aku tidak akan menyentuh stoples kopi saat ada Hadi. Dia juga suka bereskperimen dengan biji kopi lokal yang tumbuh di sini. Ada beberapa desa yang membudidayakan kopi secara tradisional dalam skala kecil, di dekat rumah sakit.
Hadi anak bungsu dari empat bersaudara. Ketiga kakaknya perempuan, jadi cukup menjelaskan mengapa dia akrab dengan dapur. Dia tipe anak mama. Ibunya memang sangat menyayangi bocah jumbo ini. Tiga bulan sekali, ibunya akan datang menjenguknya dari Makassar. Kedatangannya berarti setiap hari makan enak. Jadi, bukan hanya Hadi yang senang dengan kedatangan ibunya. Aku dan Rei juga gembira meskipun untuk alasan yang berbeda.
Hubungan Hadi dan ibunya adalah kebalikan dari hubunganku dengan Mama. Aku tidak ingat Mama pernah memelukku sebagaimana ibu Hadi memeluk Hadi. Aku tidak pernah meletakkan kepala di pangkuan Mama sambil nonton televisi seperti yang dilakukan Hadi. Aku bahkan bisa menghitung berapa kali dalam setahun menyentuh telapak tangan Mama yang halus. Keistimewaan seperti itu hanya bisa terjadi saat lebaran atau ketika Mama berulang tahun. Waktu kecil, peristiwa itu bisa ditambahkan dengan ulang tahunku. Namun, setelah kuliah, aku cukup puas dengan kado yang dititipkan Mama melalui adik\-adikku yang selalu datang ke asrama untuk merayakannya.
Wajahku mirip dengan Mama. Di antara ketiga anak Mama, aku yang mewarisi semua garis wajahnya. Aku terlihat persis seperti foto Mama waktu muda. Jadi terasa mengada\-ada saat berpikir tentang kemungkinan aku adalah anak pungut.
Aku adalah anak Mama. Darah dan dagingku disusun oleh sumbangan kromosom miliknya. Aku menghuni rahimnya selama 40 minggu. Mama bersimbah keringat, darah, dan mungkin air mata saat melahirkanku. Yang masih menjadi misteri adalah mengapa Mama tidak menyukaiku. Dan itu akan selamanya menjadi misteri, karena aku tahu tidak akan pernah menanyakan alasannya. Aku tidak punya cukup nyali untuk itu. Hubungan kami sudah cukup canggung. Aku tidak mungkin membuatnya lebih buruk dengan berbagai pertanyaan tentang sikap Mama padaku.
“Rei dan dokter Angga tidak ikut sarapan?” aku menepis lamunan. Kembali menyesap kopi buatan Hadi.
“Rei jaga malam.” Hadi menyusulku ke meja makan dengan cangkir kopinya. “Rumah dokter Angga masih tertutup saat aku lewat. Mungkin masih tidur, Kudengar, tengah malam tadi dia ada cito\[JE1\] .”
“Oh….” Operasi mendadak tengah malam pasti membuat dokter Angga mengantuk di waktu seperti ini.
“Aku jaga pagi di poliklinik.” Hadi buru\-buru menghabiskan kopinya. Dia meraup dua tangkup kopi sebelum berdiri lagi. “Titip gelas kotor ya, Ra.”
Aku baru hendak membersihkan meja meja makan dari cangkir dan piring roti bekas sarapan saat mendengar ketukan diikuti suara salam dokter Angga. Aku membalas salam dan mempersilakan dia masuk. Seharusnya Hadi tidak pergi secepat tadi, karena aku enggan berbasa\-basi dengan dokter Angga.
“Kopi, Dok?” tawarku. Semakin cepat aku membuatkan sarapan untuknya, semakin cepat juga aku bisa menyingkir dari hadapannya.
“Ehm,” laki\-laki itu terlihat canggung. Dia memang patut bersikap seperti itu karena selama beberapa hari dia ikut makan di sini, kami belum pernah terlibat percakapan berdua. Biasanya ada Hadi dan Rei yang mencairkan suasana. Sering kali, aku makan lebih dulu sebelum mereka datang. “Biar saya bikin sendiri.”
“Tidak apa\-apa, Dok.” Aku beranjak ke dapur untuk menjerang sedikit air, hanya untuk satu cangkir kopi. Hadi membeli kopi yang baru digiling beberapa hari lalu, dan menyeduh kopi asli dengan air dispenser tidak bisa menghasilkan rasa dan aroma kopi yang maksimal.
Rasanya sedikit kekanakan menyadari kepuasan yang kurasakan saat melihat dokter Angga terlihat salah tingkah. Dia pasti merasa tidak nyaman melihat aku sibuk menyiapkan sarapan untuknya, setelah beberapa hari ini dia menganggapku tak kasatmata.
“Terima kasih,” ujarnya pelan saat aku meletakkan cangkir dan roti yang baru kupanggang di dekatnya.
Selamat datang di dunia nyata, Dok, di mana setiap orang membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Kalimat yang tentu saja hanya kuucapkan dalam hati. Aku bergegas meninggalkannya, dan masuk ke kamar.
\*\*\*
Ini menyebalkan. Gosip panas beberapa hari ini belum berubah. Konsistensinya mencengangkan. IGD, ruang jaga perawat, laboratorium, dan ke mana pun aku pergi, topiknya tetap sama. Dokter Angga. Residen bedah yang tampannya setara aktor layar lebar yang sedang naik daun. Mendengar percakapan senada dari orang berbeda dari pagi sampai malam tidak terlalu menyenangkan. Bikin mual. Kurasa aku akan muntah\-muntah kalau harus jaga malam dan terus disuapi cerita tentang laki\-laki itu. Kedudukan Rei sebagai lelaki paling tampan di rumah sakit resmi berakhir. Mahkotanya sudah diserahkan kepada dokter Angga.
“Tapi kayaknya agak sombong, ya?” salah seorang suster kepala ruangan berkata. “Tadi saya tegur, tapi dia hanya mengangguk saja.”
Bukan kayaknya, dia memang sombong. Lidahku sudah gatal hendak menyambung, tetapi aku berhasil menahan diri.
“Dokter Rara yang sudah kenal baik. Iya, kan, Dok?” seorang perawat yang lain menyambung.
Aku menatap kasihan para Angga lovers yang memandangku penuh harap demi sepotong informasi tentang idola baru mereka. Aku menggeleng. “Saya juga belum sempat ngobrol.”
“Tapi tadi saya lihat dokter Angga dan dokter Rei keluar dari rumah dokter Rara,” sambung yang lain.
Ya ampun, mereka benar\-benar pengintai yang lihai. “Mereka hanya datang sarapan.”
“Dokter Rara makan bersama mereka?” Tatapan iri segera menyerangku. “Wah, beruntung, ya.”
Aku hampir tertawa miris. Coba definisikan kata beruntung untukku. Karena beruntung yang kutahu jelas melibatkan perasaan senang di dalamnya. Perasaan bahagia sampai membuatku meneteskan air mata. Beruntung adalah bila Mama tiba\-tiba berdiri di depan pintu, berlari menyongsong memelukku sambil mengatakan betapa dia menyayangiku. Ya, seperti adegan yang kerap ada dalam sinetron Indonesia yang ceritanya mengabaikan logika. Aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan adegan itu dalam dunia nyataku. Beruntung juga bisa diartikan Mama menemaniku makan nasi goreng yang dibuatnya khusus untukku. Tangannya tidak berhenti mengusap kepalaku. Aku tahu adegan itu terlalu kekanakan untuk umurku, tetapi setiap orang punya fantasi berbeda untuk menyenangkan diri. Jadi beruntung bagiku sama sekali tidak ada hubungannya dengan dokter Angga.
“Tapi sepertinya sudah menikah. Dia memakai cincin di jari manis.”
“Yaaa….” Dengungan kecewa segera terdengar.
Aku menggeleng\-geleng melihat antusiasme mereka yang cepat mereda. Terima kasih pada sebentuk cincin yang bisa menjelaskan banyak hal tanpa kata\-kata. Yang membuat percakapan tentang pasien kembali menarik untuk dibicarakan.
Hari ini aku bertugas di poliklinik umum. Jam kerjanya tidak panjang dan merepotkan seperti jaga di IGD. Aku hanya perlu mendengarkan berbagai keluhan, memeriksa, mendiagnosis, atau merujuk pasien ke dokter spesialis jika mereka memerlukan penanganan lebih lanjut, dan menulis resep. Poliklinik umum hanya buka sampai tengah hari.
Selepas jaga, aku langsung pulang ke rumah dinasku. Pintu terbuka lebar. Aku menemukan Hadi sedang mematung di depan lemari es. Aku memutuskan mengganti pakaian sebelum bergabung dengannya.
Hadi menggembungkan pipi tembamnya. “Kita hampir kehabisan bahan makanan, Ra. Kayaknya kita harus ke Baubau untuk belanja.”
Baubau adalah kota terdekat dari Pasarwajo. Kota kecil yang memiliki hampir semua fasilitas yang tidak ada di Pasarwajo. Pusat perbelanjaan, bioskop, restoran, dan salon.
Aku mendorong tubuh tambun Hadi dari pintu lemari es. Memang hampir tidak ada bahan makanan yang tersisa yang bisa diolah. Kami biasanya ke Baubau dua minggu sekali untuk berbelanja, sekaligus mengobati kerinduan lidah kami pada berbagai fast food yang tidak sehat tetapi menggoda.
“Sepertinya kita masih bisa bikin capcay.” Aku mengeluarkan sisa\-sisa udang, cumi, dan bakso dari freezer dan menyerahkannya pada Hadi. “Rendam air dulu.” Aku menarik wortel, kentang, dan caysim dari tempat sayur. Tidak sesegar yang kuinginkan, tetapi hanya ini yang tersisa.
“Bagaimana kalau kita ke Baubau setelah makan siang, Ra?” Hadi mengulurkan talenan saat aku sudah selesai mencuci sayuran. “Aku bebas jaga. Bosan juga tinggal di rumah.”
Ide bagus. “Oke, setelah makan siang. Aku juga butuh refreshing. Mungkin ada film bagus yang bisa kita tonton.”
Setelah makan, aku berganti pakaian dan membuat daftar barang yang akan kami beli. Aku harus membuat daftar seperti itu karena aku tipe orang yang pergi ke supermarket untuk membeli suatu barang, tetapi akan kembali ke rumah membawa barang lain. Jadi, catatan adalah panduan yang wajib kubawa saat belanja. Aku yang pelupa dan Hadi yang kalap membuat Rei selalu mengomel dengan pengeluaran yang membengkak. Omelan yang membuat aku dan Hadi saling memandang lalu menyembunyikan kekehan.
Suara klakson menarikku keluar kamar. Kakiku terpaku di teras. Ya ampun, ini tidak akan menyenangkan. Rei dan Hadi tidak berdua di dalam mobil. Ada dokter Angga yang duduk di samping Rei yang mengemudi. Hadi melambai dari dari kursi belakang. Aku mengembuskan napas sebelum menyusul naik. Rei lalu membawa mobil meninggalkan kawasan rumah sakit.
“Mengapa perempuan terus berteriak\-teriak pada kenangan mereka, sih?” Rei memutar tombol volume musik dalam mobil. Adele sedang mempertanyakan banyak hal kepada mantan kekasihnya dalam lagu tersebut. “Bukankah kalian sudah harus melepaskan semua kenangan setelah putus?”
“Kamu bertanya kepadaku, Rei?” sambutku malas. “Memangnya komunitas gagal move onitu monopoli perempuan, ya? Kamu mau perang statistik tentang jumlah lagu patah hati yang dinyanyikan laki\-laki dan perempuan?”
“Move on itu bukan isu gender,” sambung Hadi. “Itu kan tergantung seberapa dalam perasaan seseorang pada pasangannya, maksudku mantannya, sebelum mereka berpisah.”
Aku menyodorkan telapak tangan yang lantas dijabat Hadi. “Memang tidak ada hubungannya dengan gender. Semua tergantung kemampuan menerima dan melepas. Kita kan cenderung mengingat hal\-hal yang seharusnya kita lupakan. Itu manusiawi.” Sesuatu melintas dalam benakku saat mengucapkannya. Bicara seperti ini seperti menipu diri sendiri.
“Wow, itu dalam, Ra.”
Aku mengangkat bahu, tak peduli pada cemoohan Rei. “Aku tidak tahu mengapa harus melayanimu bicara soal cinta. Aku bahkan tidak yakin kamu mengerti apa itu komitmen.”Rei bukan orang yang tepat diajak bicara tentang komitmen.
“Siapa bilang aku tidak tahu?” Rei mengelak. “Komitmen adalah memasung dirimu pada satu perempuan yang kamu anggap tepat, kan? Yang orang\-orang sebut sebagai the oneitu?”
Aku mendengkus. “Dan kamu bisa pacaran dengan dua orang sekaligus? The oneitu seharusnya satu orang. Cek kamus kalau kamu tidak tahu.” Rei pernah membuat heboh karena pacaran dengan dua orang perawat sekaligus.
“Mereka bukan orang yang tepat,” Rei kembali membela diri. “Dan aku tidak pernah menjanjikan apa pun kepada mereka. Aku bahkan tidak pernah mengucapkan kata cinta.”
“Tapi kamu tidak keberatan memeluk mereka.”
“Aku hanya memberikan apa yang mereka mau, Ra. Mereka yang melemparkan diri kepadaku.”
Bicara soal komitmen dengan Rei seperti menyelam ke palung laut terdalam tanpa tabung oksigen. Tenggelam dan tidak akan kembali ke permukaan. “Tentu saja, Rei. Kamu sangat dermawan untuk urusan skinship, tapi kesulitan membuka dompet.”
Hadi tergelak. “Rei bukan orang yang percaya kalau cinta, komitmen, dan kepercayaan itu satu paket, Ra. Satu kesatuan utuh, bulat, dan tidak bisa dipisahkan. Kalau satu di antaranya hilang, yang lain akan menyusul pergi.”
Aku ikut tersenyum. Kembali menepuk telapak tangan Hadi keras. “Pelajaran untukmu, Rei, kepercayaan itu tidak bisa diisi ulang. Sulit mendapatkan kesempatan kedua kalau kamu telanjur merusaknya. Kalaupun ada, hubungan yang kamu jalani tidak akan pernah sama. Seperti carut bekas luka akan tetap tinggal meskipun lukanya sudah benar\-benar sembuh. Mengingatkanmu sakitnya setiap kali melihatnya.”
Rei menggeleng\-geleng. “Kenapa kalian suka sekali berseberangan denganku?”
Aku mengulas senyum kepada Hadi. “Tentu saja aku harus di pihak Hadi, Rei. Aku sedang berusahamelamar Hadi.Menjadi istrinya pasti menyenangkan. Aku mendapatkan suami sekaligus asisten rumah tangga.”
Hadi membelalak, menatapku gusar, dan mulai menunjuk\-nunjuk dengan jarinya. “Jangan pernah mengucapkan kalimat itu di depan mamaku meskipun hanya bergurau, Ra. Aku yakin Mama tidak akan segan\-segan meletakkan pisau di leherku untuk menerimamu sebagai istriku. Kamu mungkin menantu yang sempurna, tapi jelas bencana untukku.”
Aku meninju lengan Hadi. “Ayolah, Di, aku tidak mungkin seburuk itu.”
Hadi langsung sewot. “Kamu lebih buruk dari itu, Ra. Kalau kita sampai menikah, kamu akan mendedikasikan hidupmu untuk membuatku menderita. Aku tahu obsesimu mengempiskan perutku untuk dijadikan papan penggilasan cucian. Kamu akan menggantikan camilanku dengan dengan smoothies sayuran yang menjijikkan. Terima kasih sudah menawarkan diri menjadi istriku, Ra. Tapi tidak perlu. Aku masih waras.”
Aku selalu menikmati membuat Hadi kesal, karena tampangnya akan terlihat lucu. Dagunya yang bersusun terlihat semakin gemuksaat cemberut.
“Aku tidak masalah menerima muntahan dari Hadi kok, Ra,” Rei menatapku jail dari spion.
Aku memutuskan menutup mata dan memutus percakapan. “Jangan memaksakan keberuntunganmu, Rei. Aku tidak melamar laki\-laki secara acak. Hadi orang terpilih.”Aku pura\-pura menguap. “Aku mau tidur, bangunkan kalau sudah sampai, ya.”
Aku sedang mencoba tidur saat mendengar dokter Angga kemudian membuka suara dan mulai ngobrol dengan Rei dan Hadi. Aku hampir melupakan kehadirannya karena dia sama sekali tidak bergabung dalam percakapan ngalor ngidul kami. Dasar orang sombong!