Second Chance

Second Chance
Lima : Maya



Kadar serotonin yang rendah membuat suasana hatiku memburuk beberapa hari terakhir. Aku biasanya langsung mengurung diri di dalam kamar sepulang jaga. Dari kamar aku bisa mendengar suara Hadi dan Rei saat mereka datang makan. Namun, aku malas bergabung. Aku cenderung ketus kalau suasana hatiku sedang buruk, dan memperlakukan teman\-temanku dengan kasar padahal mereka bermaksud menghibur bukan keputusan bijak. Percakapan tentang Mama selalu membuat hariku suram selama beberapa waktu.



Hari ini suasana hatiku perlahan membaik. Sepulang jaga aku berniat memasak. Tugas itu diambil alih Hadi beberapa hari ini. Aku sedang menyiangi sayur ketika Hadi muncul di dapur.



“Badai PMS\-mu sudah selesai?” Hadi menarik kursi dan duduk di sampingku, membantu memotong sayuran. “Kamu kelihatan lebih baik.”



Aku meringis sambil mengangkat bahu. “Maaf, ya. Kamu pasti capek jadi asisten rumah tangga  saat aku masuk mode menyebalkan.”



“Tidak apa\-apa. Rei dan dokter Angga tidak rewel kok soal makanan. Disuguhi indomi telur juga mereka tidak protes. Menghadapi perempuan yang berkelahi dengan hormon sudah biasa untukku, Ra. Aku punya tiga kakak perempuan yang kelakuannya nyaris sama denganmu.”



Aku berdiri dan membawa sayur yang sudah kami siangi dan potong ke wastafel untuk dicuci. Hadi menyusul dan menyalakan kompor. Dia memasukkan sedikit minyak dalam wajan untuk menumis. Kami tim yang kompak di dapur.



Rei dan dokter Angga masuk saat aku dan Hadi masih memasak sambil mengobrol. Aku spontan melihat jam dinding. Mereka datang terlalu cepat untuk makan siang. Pulang dari poliklinik mereka pasti langsung ke sini.



“Makanannya belum siap,” kataku pada Rei.



“Iya, tahu. Kami datang lebih cepat untuk membantu Hadi memasak. Kukira kamu masih semedi. Ternyata kamu sudah turun gunung, ya?”



Aku tidak menghiraukan sindiran Rei. “Kamu tidak pernah membantu, seringnya kamu malah merepotkan Hadi.”



“Ada yang bisa dibantu?” dokter Angga sudah berdiri di dekatku. Aku harus menatapnya sejenak untuk meyakinkan kalau dia memang bicara kepadaku, bukan Hadi.



“Tidak usah dibantu, Dok,” Rei menjawab. “Hadi dan Rara memasak untuk bersenang\-senang. Jangan merusak kebahagiaan mereka.”



Aku terpaksa mengulas senyum tipis kepada dokter Angga. “Tidak perlu, Dok. Sudah hampir siap, kok. Dokter duduk dengan Rei saja.”



 “Baiklah.”  Laki\-laki itu bergerak canggung menuju meja makan, bergabung dengan Rei.



Aku mengatur lauk di atas meja, menyusul Hadi yang sudah membawa piring. Kami mengelilingi meja dan mulai makan.



“Kita gantian jaga besok ya, Di,” kataku di sela\-sela suapan. “Aku harus ke Baubau subuh\-subuh untuk jemput Maya dari Makassar.” Maya adalah sahabatku. Kedatangannya sudah kusampaikan kepada teman\-temanku sejak beberapa minggu lalu, saat Maya memutuskan mengunjungiku untuk menghabiskan cuti tahunannya. Kami belum pernah bertemu sejak aku meninggalkan Makassar.



“Tidak masalah,” jawab Hadi. Aku tahu bisa mengandalkannya. Dia hampir tidak pernah menolak saat dimintai bantuan.



“Cantik, Ra?” timpal Rei cepat. “Kalau cantik, aku ikut jemput juga.”



Aku berdecak. Sangat khas Rei. “Bukan tipemu Rei.”



“Semua perempuan cantik itu tipeku, Ra. Persyaratan lain menyusul, yang penting cantik dulu.”



“Saya boleh ikut?” dokter Angga menggabungkan diri dalam percakapan. “Ada yang ingin saya beli di Baubau.”



Aku melepas sendok dan menatap dokter Angga. Aku tidak suka ide itu. Terjebak satu mobil bersamanya selama satu setengah jam perjalanan Pasarwajo\-Baubau tidak akan menyenangkan. Selama ini kami hanya bertukar satu atau dua kalimat, belum pernah terlibat percakapan sebenarnya.



“Barang apa, Dok?” Aku mencari alasan untuk membuatnya mengurungkan niat ikut. “Biar saya yang bantu carikan. Dokter tidak perlu ikut ke Baubau.”



“Tidak usah, biar saya ikut saja. Besok minggu, kan? Saya tidak punya jadwal operasi.”



Aku memaksakan senyum. “Kita harus berangkat jam setengah lima subuh, Dok.” Aku mencoba cara lain. Mungkin saja dokter Angga membatalkan niat ikut karena terlalu pagi.



“Pesawat dari Makassar kan tiba jam tujuh, Ra,” kata Rei. “Biar berangkat jam lima atau setengah enam. Kayak Baubau macet saja.”



“Tidak masalah,” sambut dokter Angga. “Kita bisa berangkat setengah lima, kok.”



Aku mengembuskan napas panjang. Aku memang tidak bisa memaksakan keberuntunganku.



Keesokan subuh, aku menjumpai Dokter Angga sudah duduk di terasku saat aku membuka pintu. Jeansdan kaus yang dikenakannya dilengkapi dengan jaket. Ada topi dengan warna senada yang bertengger di kepalanya. Dia terlihat siap menghalau dingin yang masih terasa menggigit.



“Pakai mobil dinas saya saja.” Dia menunjuk mobil yang sudah terparkir di depan rumahku. “Saya yang bawa, kamu hanya perlu menunjukkan jalan.”



“Rei tidak jadi ikut?” Akan lebih baik kalau ada orang ketiga dalam perjalanan ini. Aku tidak yakin bisa menjadi teman mengobrol yang menyenangkan untuk dokter Angga. “Dia jaga siang, kan? Kita pasti sudah pulang sebelum jam jaganya mulai.”



Dokter Angga menggeleng. “Sepertinya tidak. Kalau mau ikut, dia pasti sudah bangun. Ayo!” Dia menggiring langkahku menuju mobilnya.




“Ya?” Dokter Angga berbalik menatapku.



Aku tersenyum canggung. “Bagaimana kalau saya saja yang bawa mobil?” Jalan yang akan kami lalui ini bukan medan yang mudah. Penuh kelokan dengan jurang dalam di sisi jalan. Subuh begini kabut masih sangat tebal. Akan menyulitkan bagi yang belum terbiasa melaluinya. Aku tahu dokter Angga pasti sudah terbiasa mengemudi, tapi ini bukan Makassar. “Lebih aman, karena saya sudah terbiasa.”



“Saya tidak akan terbiasa kalau tidak memulainya dari sekarang.” Dokter Angga sudah masuk mobil dan duduk di kursi sopir. “Masuklah. Saya juga mau tiba dengan selamat, kok. Jangan takut, saya akan hati\-hati.”



Aku terpaksa ikut masuk. Dokter Angga mengarahkan mobil meninggalkan kompleks rumah sakit. Aku memberikan petunjuk arah di setiap persimpangan yang kami lalui. Selebihnya suara di dalam mobil didominasi  oleh suara musik yang dipasang dengan volume kecil.



“Kata Rei kalian sudah tiga tahun di sini, ya?” Dokter Angga memulai percakapan setelah kami cukup lama diam. Aku dari tadi juga diam saja karena jalan yang melalui hutan dan perkebunan penduduk lurus\-lurus saja. Tidak ada persimpangan yang membuatku harus menunjukkan arah.



“Iya, Dok.” Aku menjawab pertanyaan basa\-basi itu setengah hati. Kalau dia sudah mengetahuinya dari Rei, dia tidak perlu menanyakannya lagi.



“Mau langsung ikut ujian spesialis seperti Rei dan Hadi juga? Mau ambil apa?”



 “Belum tahu, Dok.” Aku memilih jawaban\-jawaban pendek, berharap dokter Angga tidak akan melanjutkan percakapan.



“Belum tahu mau ikut ujian atau belum memutuskan spesialisasi yang akan kamu ambil?”



Kenapa dia mendadak cerewet? Biasanya kan, dia seperti berhitung dengan jumlah kata yang keluar dari bibirnya, seolah\-olah akan didenda kalau bicara terlalu banyak.



“Belum tahu mau ikut ujian atau tidak,” jawabku akhirnya.



“Kenapa? Program PTT sudah tidak ada lagi, kan? Periode kalian yang terakhir. Tidak akan ada perpanjangan.”



“Daerah membuka penerimaan pegawai, Dok.” Kenapa juga aku harus membahas ini dengannya? “Saya belum yakin, sih. Masih ada waktu berpikir sebelum memutuskan.”



“Kamu mau menjadi pegawai negeri di sini?” Dokter Angga menatapku sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan lengang di depan. “Tidak mau pulang ke Makassar?”



“Entahlah. Lihat nanti saja.” Aku sungguh tidak nyaman membicarakan hal ini dengan orang yang belum terlalu kukenal.



“Oohh….”



 Lalu sunyi. Dokter Angga mungkin menyadari keenggananku terlibat percakapan. Kami tetap diam selama dalam perjalanan. Hanya sesekali aku membuka suara untuk menunjukkan arah.



Masih terlalu pagi saat kami tiba di bandara. Udara hangat yang dikirimkan angin laut yang berada persis bandara membuat dingin tak lagi meraja. Namun, aku tetap membeli dua cangkir kopi dari satu\-satunya toko yang ada di Bandara Betoambari, Baubau.



“Terima kasih,” ucap Dokter Angga. Dia menerima cangkir yang kuulurkan.



Aku mengulas senyum tipis. Memilih tempat duduk yang tidak terlalu dekat dengannya. Ada beberapa orang yang kebetulan juga sudah duduk di depan toko itu sehingga aku tidak terkesan menghindarinya. 



Kami masih harus menunggu cukup lama sebelum pesawat Maya akhirnya tiba. Sahabatku itu akhirnya muncul di pintu kedatangan saat aku mulai bosan membaca berita daring di gawaiku. Senyumnya lebar saat melihatku melambai.



Maya terlihat sama seperti kali terakhir kulihat. Waktu tiga tahun tidak mengubahnya sama sekali. Dia bahkan masih mempertahankan ikal di ujung rambut sepunggungnya. 



“Ya ampun, kamu hitam sekali!” serunya sambil memelukku.



“Eksotis,” koreksiku. Tinggal tidak jauh dari garis pantai adalah proses tanningyang murah meriah. “Kulitmu juga akan sedikit lebih gelap saat nanti pulang ke Makassar.” Aku balas mengusap punggung Maya. Kami akhirnya bertemu setelah tiga tahun hanya puas saling menelepon, atau sesekali melakukanvideo call.



Dokter Angga mengambil alih koper di tangan Maya. Sikap yang sedikit mengejutkanku. Kupikir dia tidak memiliki kesopanan seperti itu menilik sikapnya selama ini.



“Wow, siapa?” bisik Maya sambil mengerling pada dokter Angga yang sedang memasukkan koper dalam bagasi.



“Residen bedah,” jawabku pendek.



“Prospeknya bagaimana?” kejar Maya. Dia terlihat antusias.



Aku berdecak sambil menggeleng. “Jangan berlebihan. Aku hanya tahu namanya. Dia ikut menjemputmu karena mau membeli sesuatu yang tidak ada di Pasarwajo.”



Maya mengerutkan bibir. “Kelihatannya potensial.” Dia terus mengikuti gerakan dokter Angga dengan mata.



Aku kembali menggeleng. “Tidak berminat.” Aku memutus obrolan itu saat dokter Angga kemudian  kembali ke pintu sopir setelah menutup pintu belakang.