Second Chance

Second Chance
Sepuluh : Tes Ombak



Rei, Hadi, dan dokter Angga datang tepat waktu saat makan siang. Aku baru selesai memasak dan sedang membereskan peralatan yang kupakai. Tidur beberapa jam setelah jaga malam membuatku merasa segar. Apalagi aku sudah mandi sebelum memasak.  



“Aku mendengar desas\-desus,” bisik Hadi menyikutku. Kami berdiri berdampingan di depan bak cuci piring.



“Sejak kapan kamu peduli gosip?” tanyaku seraya menjauhkan telinga.



“Sejak namamu ada dalam bursa gosip. Jarang\-jarang, kan?” Hadi menyeringai gembira. Seolah mendengar orang menggosipkanku bisa memberinya penghasilan tambahan.



Aku menghentikan gerakanku mengeringkan tangan. “Dan sejak kapan aku menarik untuk dijadikan bahan gosip?”



Hadi kembali mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Sejak ada yang menemanimu jaga malam. Menurut rumor, itu bukan yang pertama.”



Aku melirik dokter Angga dan Rei yang asyik ngobrol di meja makan. “Itu kebetulan.” Aku balas menggeram di telinga Hadi.



“Seorang residen kebetulan menemanimu jaga beberapa kali? Itu kebetulan pertama selama kita tugas di sini, kan?”



“Dia tidak menemaniku.” Aku menjaga suaraku tetap pelan. Jika dokter Angga mendengar kami sedang membicarakan dirinya tidak akan menyenangkan. “Dia kebetulan lewat di IGD saat aku sedang melayani pasien. Wajar kan dia membantu?”



“Kenapa kalian bisik\-bisik?” Rei berteriak. “Cepat sedikit, Di. Aku sudah lapar.”



“Jangan mengganggu, Rei. Aku sedang merayu Hadi.” Aku menahan lengan Hadi yang hendak bergerak menjauh. “Jangan menyebar berita yang aneh\-aneh,” geramku.



“Aku memberitahumu berita aneh yang beredar, Ra. Bukan aku yang memicu beritanya. Beritanya pasti berasal dari IGD tempatmu jaga. Kalau bukan dari perawat yang jaga denganmu, dari mana berita dokter Angga membuatkanmu kopi bisa menyebar?”  



“Apa sih yang kalian bicarakan?” teriakan Rei terdengar lagi. “Jangan bilang kamu benar\-benar suka sama Hadi, Ra. Aku tidak mungkin kalah sama dia!”



“Kalau pilihannya antara Hadi dan kamu, aku tentu saja akan pilih Hadi, Rei. Tidak  pakai acara berpikir!” Aku balas berteriak.



Hadi melepaskan cekalan tanganku. “Pengalihan yang bagus, Ra. Kita lihat saja usahamu membendung gosip bisa bertahan berapa lama.” Dia mengambil makanan di atas meja dapur yang sudah kurapikan di piring, dan membawanya ke meja makan. “Aku yakin tidak lama.”



“Apanya yang tidak lama?” tanya Rei. Hadi memang mengucapkan kalimat tadi dengan suara keras.



Aku menyusul Hadi membawa lauk yang lain. “Hadi menyuruhku bersabar. Tidak lama lagi dia akan bersedia menerimaku sebagai calon istri. Iya kan, Di?”



Hadi mencibir pada kerlinganku, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menggeleng\-geleng sehingga lemak di bawah dagunya ikut bergoyang.



“Kalian mencurigakan.” Rei melihat aku dan Hadi bergantian. “Ada apa sih?”



Aku buru\-buru meletakkan piring yang kupegang di depan Rei. “Kakap asam manis kesukaanmu, Rei.” Membungkam Rei dengan makanan akan menutup percakapan tentang gosip yang beredar di rumah sakit. Kalau Hadi sudah mendengar desas\-desus seperti itu, aku yakin hanya masalah waktu maka berita itu akan sampai juga ke telinga Rei. 



Rei bukan tipe sensitif seperti Hadi, yang tahu persis kapan harus membuka dan menutup mulut saat membicarakan sesuatu. Rei pasti tidak ragu menggunakan gosip seperti ini untuk menggodaku. Dia sekarang belum menanyakannya padaku karena belum mendengarnya saja. Aku tidak mau digosipkan punya hubungan dengan pria beristri. Hanya melukai ego dan merusak imej.



  Aku menarik napas lega saat melihat perhatian Rei benar\-benar tertuju pada makanan di depannya. Dia kemudian sibuk membahas pasien dengan dokter Angga. Hadi ikut menimpali sesekali. Aku mengunyah dalam diam, enggan terlibat.



Setelah makan, Rei seperti biasa langsung menghilang dengan kecepatan cahaya. Meninggalkan kekacauan di meja makan tanpa berniat membantu membereskan.



“Simpan di bak cuci piring saja, Ra,” ujar Hadi sambil memegang perut. “Sebentar baru kucuci. Aku kekenyangan.” Dia mengambil piring berisi jeruk manis dan membawanya ke depan televisi. Kenyang apanya? Aku rasa dia bahkan tidak tahu apa itu definisi kenyang.



Aku memutuskan membersihkan dapur sendiri. Sesekali aku harus membebaskan Hadi dari kewajiban membantuku. Kalau aku sedang malas, dia juga melakukan semuanya sendiri tanpa protes. 




Aku menghentikan gerakan mengelap meja. Beberapa hari ini dia rajin sekali menawarkan bantuan. “Tidak ada, Dok. Dokter bisa pulang sekarang. Rei sudah pulang.”



“Piringnya belum dicuci.” Dia menunjuk tumpukan piring  kotor.



Aku menatap dokter Angga dengan kening berkerut. Aku dengan senang hati akan membiarkan dia membantuku menyambungkan pembuluh darah yang putus, tetapi tidak akan membuatnya mencuci piring bekas kami. Bukan masalah gender, hanya rasanya tidak pantas saja. Dia senior.



“Piringnya tidak banyak, Dok. Biar saya yang cuci. Dokter bisa pulang sekarang.”



“Kamu menyuruh saya pulang dua kali dalam waktu kurang dari tiga menit. Rasanya seperti diusir.”



“Bukan mengusir, Dok.” Aku mengulas senyum, berusaha terdengar ramah. “Dokter pasti perlu istirahat. Semalam kurang tidur juga, kan?”



“Sudah biasa. Kalau nanti sudah sekolah lagi, kamu juga akan terbiasa dengan jam tidur yang lebih sedikit daripada biasa.”



Aku melihat Hadi mengamati kami sambil memakan jeruknya. Aku tidak mau dia menangkap pesan yang salah, jadi aku meninggalkan dokter Angga di meja makan dan beralih pada tumpukan piring di dapur.



Dokter Angga belum pulang juga saat aku sudah selesai membereskan dapur. Dia mengobrol dengan Hadi di ruang tengah. Hadi sudah menganggap rumahku seperti tempat bermainnya, jadi aku sudah terbiasa meninggalkannya sendiri di ruang tengah saat dia sedang menyelesaikan tontonannya. Namun, meninggalkannya berdua dengan dokter Angga tampaknya kurang sopan, jadi aku bergabung dengan mereka.



Belum sampai lima menit aku duduk, Hadi sudah berdiri. Dia menutup mulut menyembunyikan kuap dengan sebelah telapak tangan. “Saya duluan, Dok,” katanya pada dokter Angga. “Ngantuk.”



Aku tahu dia sengaja melakukannya. Aku memberinya tatapan penuh permohonan, supaya dia tinggal. Namun, Hadi hanya menyeringai dan menggeleng. Sial.



“Tidak ikut pulang, Dok?” pancingku setelah punggung Hadi hilang ditelan pintu.



“Kamu sudah tiga kali menyuruhku pulang.” Bukannya berdiri, dokter Angga malah meraih remote yang tadi dikuasai Hadi. “Seingatku, dari awal kedatanganku, kamu sudah tidak suka. Kenapa?” Dia mengubah cara menyebut dirinya dari saya yang formal menjadi aku yang lebih akrab. 



“Itu hanya perasaan dokter saja.” Aku tetap bersikap formal.



“Kamu pikir aku tidak memperhatikannya, ya?”



Kalau dia benar\-benar memperhatikan sikapku yang memang tidak ramah kepadanya sejak awal pertemuan kami, dia juga seharusnya tahu mengapa aku bersikap seperti itu. Dia sendiri yang memasang jarak, dan aku yakin sikapnya tidak akan berubah seandainya dia tidak harus menggantungkan hidup pada dapurku.



Aku memaksakan senyum. “Saya harus menyelesaikan bacaan saya, Dok.” Terjebak di ruangan yang sama dengan suami atau tunangan orang lain bukan adegan yang ingin kulakoni. 



“Nah, kamu benar\-benar mengusirku, kan?”



Bola mataku terarah ke atas. Aku bukan orang bodoh. Tanpa gosip yang beredar di rumah sakit, aku juga dapat merasakan perubahan sikap dokter Angga kepadaku. Hadi benar, tidak ada dokter spesialis atau residen yang berkeliaran di IGD untuk menawarkan bantuan saat tengah malam. Mereka biasanya on call, bukannya mencari\-cari pekerjaan. Aku menduga dokter Angga melakukannya untuk mengikis kecanggungan di antara kami. Pertemuan di meja makan beberapa kali sehari tidak terlalu berhasil mendekatkan kami. Aku mengerti ketidaknyamanannya karena aku memang tidak berniat bermanis\-manis kepadanya. Dia tahu persis kalau dia lebih butuh aku, maksudku dapurku, daripada aku membutuhkan dia. 



“Saya tidak mengusir, Dok.” Aku menyerah, tidak ingin terlibat debat kusir dengannya. Dia bukan Rei atau Hadi yang kebal dengan kegalakkanku. “Dokter bisa duduk nonton di sini. Saya akan melanjutkan bacaan di kamar.”



Dokter Angga berdiri. “Baiklah, aku pulang. Sebelum diusir lima kali. Ngomong\-ngomong, ini pertama kalinya aku diusir orang, lho,” katanya, seolah aku membutuhkan informasi seperti itu.



“Saya tidak mengusir Dokter.” Dan aku juga mulai terdengar burung beo yang mengulang\-ulang kalimat sama yang baru dipelajarinya. 



“Hanya menyuruh pulang? Memangnya beda, ya?” Dokter Angga mengulas senyum dan berbalik menuju pintu keluar. Meninggalkan aku yang masih mematung di tempatku berdiri. Hanya perasaanku atau dia memang suka tersenyum akhir\-akhir ini?