Second Chance

Second Chance
Chapter 38. Pengawal pribadi



Warga Kota Qiong kembali ke rumah-rumah mereka setelah para pemberontak itu dilumpuhkan. Pasukan pemberontak yang selamat, di tahan oleh Lu Qin Chen dan meminta pemimpin kota untuk memenjarakannya. Selanjutnya mereka akan dimintai informasi tentang agenda pemberontak yang melibatkan mereka.


Mereka sangat sulit untuk diajak untuk bekerja sama. Otak mereka telah dicuci oleh pemimpin mereka sehingga lebih memilih mati daripada membocorkan informasi yang mereka ketahui.


Lu Qin Chen membawa Xiao Jin kembali ke istana Bulan Perak. Sebelum mereka pergi, dia mengatakan pada pasukannya bahwa mulai hari ini Xiao Jin adalah pengawal pribadinya.


Mereka sampai di istana Bulan Perak saat hari sudah gelap. Xiao Jin tidak kembali ke istana Perdana Menteri melainkan tinggal di tempat tinggal khusus sebagai pengawal pribadi Pangeran Lu Qin Chen.


Tempat tinggal Xiao Jin bersebelahan dengan tempat tinggal para pengawal yang lain. Dia tidak keberatan meskipun tempat itu sangat sederhana, tidak semewah kamarnya di istana Perdana Menteri.


Pangeran Lu Qin Chen menemaninya hingga sampai di depan kamar Xiao Jin.


"Jin'er. Selamat beristirahat." Lu Qin Chen menatap Xiao Jin dengan sejuta perasaan.


"Selamat beristirahat untukmu juga, Pangeran."


Tidak ada hal lebih yang mereka lakukan karena ada pengawal pribadi lainnya yang berdiri di sekitar mereka. Lu Qin Chen pergi meninggalkan Xiao Jin dengan perasaan gembira. Akhirnya dia bisa berdekatan dengan orang yang dia sayangi meskipun belum memiliki status hubungan yang jelas.


Xiao Jin segera masuk ke dalam kamarnya. Dia juga merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Lu Qin Chen.


'Aku merasa jika Lu Qin Chen adalah Reon Chow. Keduanya sangat mirip dan sama-sama populer meskipun keduanya memiliki latar belakang yanga berbeda. Andai Reon Chow memiliki sikap yang manis seperti Lu Qin Chen. Hmm ... Tapi rasanya itu tidak mungkin. Aku yakin jika aku bukan tipe wanita idamannya.'


Xiao Jin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil terus menghayal. Kehidupan di dunia novelnya yang penuh tantangan membuatnya sedikit terhibur. Awalnya dia memang merasa terpaksa, tetapi lambat laun dia menikmatinya.


Kehidupan yang dia rasakan saat ini seperti terbalik. Kehidupan di dalam novel seperti nyata dan kehidupan nyatanya seperti sebuah mimpi. Apa yang dia alami di sini saat ini adalah kenyataan yang harus dia lakoni.


Cerita ini memang dia yang membuatnya, akan tetapi seiring dengan perubahan yang dia lakukan, tokoh-tokoh karakter yang dia buat juga ikut berkembang. Semuanya terjadi di luar kendalinya dan sulit untuk diprediksi. Plot inti secara garis besar memang tidak berubah, tetapi apa yang terjadi secara mendetail banyak mengalami pergeseran.


'Kepalaku merasa pusing jika aku memikirkan semua yang akan terjadi setelah ini. Di sini aku bukan Amelia Tan yang dikejar-kejar deadline untuk update novel. Lebih baik aku rehat sejenak dan menikmati peranku sebagai seorang pendekar wanita.' Xiao Jin menguap dan memejamkan matanya. Rasa lelah membuatnya enggan mandi dan melakukan aktifitas lain.


Di kamar Lu Qin Chen,


Pangeran Lu Qin Chen terlihat heran ketika melihat pintu kamarnya terbuka ketika dia datang. Sebenarnya dia bisa bertanya pada pengawal yang berjaga, tetapi dia urungkan. Dia berpikir jika itu adalah ayahnya.


Xiao Yue datang ke kamar Lu Qin Chen ketika mendengar kepulangannya dari medan perang. Dia ingin memberinya perhatian lebih padanya. Sejak menikah dia tidak pernah mengunjunginya sehingga Xiao Yue mengambil inisiatif untuk datang padanya.


Lu Qin Chen berjalan cepat dengan penuh semangat menuju ke kamarnya. Dia ingin menceritakan semua yang dia alami kepada ayahnya. Namun, wajahnya terlihat kecewa setelah tahu jika bukan ayahnya yang berada di sana.


"Pangeran!" panggil Xiao Yue segera berdiri dan memberi hormat.


Lu Qin Chen tidak bergeming. Ekspresi wajahnya terlihat kurang begitu senang. Dia berjalan lalu duduk di depan mejanya.


Xiao Yue menyusulnya. Dia tidak mundur meskipun Lu Qin Chen mengacuhkannya. Mereka memang menikah bukan karena saling mencintai dan dia memaklumi itu.


"Aku dengar Yang Mulia berhasil mengalahkan para pemberontak itu." Xiao Yue mencoba memecah keheningan.


"Hmm."


Seorang dayang datang membawakan anggur dan makanan ringan untuk Lu Qin Chen atas perintah Xiao Yue.


Xiao Yue menuangkan anggur untuk Lu Qin Chen ke dalam cangkirnya lalu juga menuangnya untuk dirinya sendiri.


"Minumlah, Yang Mulia. Mari kita rayakan kemenangan ini." Xiao Yue menyodorkan cangkir milik Lu Qin Chen ke hadapannya.


"Aku sedang tidak ingin minum." Lu Qin Chen memilih air madu yang selalu tersedia di kamarnya.


Xiao Jin mengulurkan tangannya ke depan mengajak Lu Qin Chen untuk bersulang.


'Aku harus menakhlukkan Pangeran Lu Qin Chen malam ini juga.' Xiao Yue tersenyum licik.


Tubuh Lu Qin Chen terlihat sangat lelah. Beberapa kali dia terlihat menguap. Dia menunggu Xiao Yue pergi dari kamarnya.


Anggur yang disajikan untuk mereka habis di minum oleh Xiao Yue sendiri. Kadar alkoholnya yang tinggi membuatnya mabuk berat. Dia berbicara tidak jelas dan mengatakan semua yang terlintas di pikirannya.


"Dasar pemabuk!" Lu Qin Chen terlihat kesal.


Dia memanggil pelayan pribadi Xiao Yue dengan isyarat dan meminta mereka untuk membawa Xiao Yue ke kamarnya.


Setelah kepergian Xiao Yue, Lu Qin Chen segera mengunci pintu kamarnya. Dia berpesan kepada pengawalnya agar tidak mengijinkan siapapun untuk mengganggunya.


Pagi hari,


Lu Qin Chen bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke tempat tinggal pengawal pribadinya. Alasannya sudah jelas, dia ingin bertemu dengan Xiao Jin.


Di dalam perjalanannya, Lu Qin Chen bertemu dengan ibunya. Dia baru kembali dari Sekte Tiga Dewa beberapa hari yang lalu. Mereka baru bertemu sekali saja dalam perjamuan istana.


"Chen'er! Kamu mau kemana pagi-pagi sudah keluar istana. Lihat, ibu membawakanmu makanan sehat. Kamu terlihat sangat kurus dan tidak terurus. Hmm, aku heran apa yang dikerjakan oleh para selir." Permaisuri Lu mengomel.


Lu Qin Chen meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Keinginannya untuk menemui Xiao Jin harus gagal hari ini. Untuk menghindari kecurigaan ibunya, dia menggerakkan tangan dan kakinya seperti sedang berolah raga.


"Aku tidak akan kemana-mana, Ibu. Tubuhku terasa pegal, jadi aku melemaskan ototku dengan berolah raga."


'Untung aku belum keluar dari halaman, jika tidak ibu pasti tidak akan percaya,' gumamnya dalam hati.


"Sudah, cukup. Jangan banyak alasan lagi, ikut ibu sarapan." Permaisuri Lu menarik tangan Lu Qin Chen dan membawanya masuk ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar dia merasa heran ketika melihat meja di ruangan itu tampak berantakan. Hari masih sangat pagi, tidak mungkin ada yang datang ke sana sepagi ini. Permaisuri Lu berjalan masuk. Kakinya menginjak sesuatu lalu dia bergegas mengambilnya.


"Jepit rambut," ucapnya sambil menatap Lu Qin Chen.


****


Bersambung ....