
Pagi itu juga, aku menemui Direktur Rumah Sakit, meminta kebijakan untuk pulang lebih dulu ke Makassar sebelum waktu yang ditentukan. Setelah itu aku ke Baubau, diantar Hadi dan Rei. Mencari tiket ke Makassar untuk penerbangan siang.
Makassar\-Baubau hanya memerlukan waktu tempuh satu jam. Satu jam terlama dalam hidupku. Mataku terus melirik jam mungil di pergelangan tangan yang seperti enggan bergerak. Aneh, aku hampir tak memejamkan mata semalaman karena jaga, tetapi sama sekali tak diserang kantuk. Jam biologisku benar\-benar kacau oleh adrenalin yang meningkat drastis.
Maya yang menghubungiku mengatakan jika kedua adikku sudah keluar dari ruang operasi. Lisa dibawa ke ruang perawatan dan kesadarannya sudah kembali. Yana dibawa ke ICU karena masih butuh perawatan intensif. Berita yang melegakan, tetapi tak membuat kekhawatiranku lantas menguap.
Dari Bandara Hasanuddin, aku menuju Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo tempat kedua adikku dirawat. Aku menyeret koperku setengah berlari seperti turis kesasar. Aku tidak peduli pada pandangan beberapa orang yang mengamati. Aku baru menghentikan langkah di depan kamar yang disebutkan dalam pesan yang dikirim Maya. Setelah mengatur napas sejenak, aku mendorong pintu.
“Kak Rara!” Seruan itu terdengar begitu pintu terkuak.
Aku segera menghambur menghampiri Lisa yang terbaring di ranjang. Menahan diri untuk tidak memeluknya karena pelukanku bisa menyakitinya. “Sakit?” tanyaku bodoh sambil terus menyusut mata. Tentu saja sakit.
Senyum Lisa tetap terlihat manis di mataku meskipun wajahnya tampak tidak keruan oleh luka lecet. “Aku tidak apa\-apa, Kak,” katanya.
Aku menarik kursi dan duduk di dekat ranjang. “Lenganmu digips begini, kamu bilang tidak apa\-apa?” Aku mengamati ruangan VIP yang ditempatinya. Tidak ada siapa pun selain Lisa. “Mama mana?”
“Di ICU, menjaga Kak Yana. Kakak belum ke sana?”
Aku menggeleng. “Belum. Bagaimana keadaannya?” Aku balik bertanya.
“Katanya masa kritisnya sudah lewat. Kakak ke sana saja dulu.”
Aku ragu\-ragu. “Meninggalkanmu sendiri di sini?”
“Aku belum lama sendiri, Kak. Kakek dan nenek baru saja pulang. Ada Tante Ratna dan Tante Mawar juga. Mereka sedang makan di kantin. Kelaparan. Mereka belum makan dari kemarin.” Dua nama yang disebut terakhir adalah saudara Mama dan Papa.
Aku mengusap pipi Lisa. “Kalau begitu, Kakak keluar dulu, ya. Kakak akan kembali lagi.”
Aku melihat mata Lisa ikut berkaca. “Senang melihat Kakak lagi. Aku rindu. Kami semua rindu sama Kak Rara.”
Aku tak bisa berkata\-kata. Keharuan menyeruak dari dalam hati. Aku mengusap kepala Lisa dan buru\-buru berbalik menuju pintu. Menghabiskan sisa tangisku di luar kamar sebelum tertatih menuju ICU.
Aku terpaku di depan pintu kaca ICU. Aku sudah mengenakan baju steril rumah sakit, tetapi tidak lantas menyerbu masuk. Di dalam, aku melihat Mama menggenggam tangan Yana sambil sesekali mengusap mata. Itu pemandangan yang mengharukan. Ya Tuhan, aku bersedia menggantikan tempat Yana di dalam sana hanya untuk merasakan hangatnya genggaman tangan Mama. Untuk mengetahui jika Mama juga punya persediaan air mata menangisiku.
Aku menarik napas dan menggelengkan kepala. Merasa bodoh dan bersalah karena masih memikirkan hal\-hal seperti itu di saat seperti ini. Aku lalu mendorong pintu dan masuk. Tersenyum kikuk saat mata Mama yang basah menoleh.
“Kamu sudah datang?” Suasana canggung seketika.
“Belum lama. Baru dari kamar Lisa, Ma.” Aku berdiri di sisi Mama. Memperbaiki letak selimut Yana yang terbaring dengan mata terpejam. Kesadarannya belum kembali. “Mama istirahat saja dulu biar aku yang menjaga Yana. Lisa bilang Tante Mawar dan Tante Ratna sedang makan di kantin. Mama bisa menyusul mereka.”
“Mama tidak lapar.” Mama mengulas senyum tipis.
“Mama tetap harus makan supaya bisa kuat.” Aku tahu Mama mungkin tidak butuh nasihatku, tetapi aku mengatakannya juga. “Kita harus menjaga Yana dan Lisa. Jangan sampai malah ikut sakit.”
Aku kemudian duduk di kursi yang ditinggalkan Mama. Menggantikan Mama menggenggam tangan Yana yang halus. “Kamu akan baik\-baik saja,” kataku dengan suara rendah. “Adik Kakak pasti kuat.” Aku tahu Yana tidak bisa mendengarku, tetapi aku terus bicara. “Kamu jahat sekali memaksa Kakak pulang dengan cara seperti ini. Kakak juga merindukan kalian. Kalau kamu bangun, Kakak janji akan mengabulkan semua permintaanmu. Kita akan melakukan semua hal yang ingin kamu lakukan bersama\-sama. Cepat bangun, ya.” Mungkin menggelikan, tetapi kita selalu suka menjanjikan sesuatu untuk mendapatkan keinginan kita. Namun, aku sungguh\-sungguh, aku akan melakukan apa pun yang Yana inginkan seandainya dia sadar.
**
Aku baru menyadari kehilangan ponselku saat Maya muncul di waktu makan siang. Dia mengomel karena tidak bisa menghubungiku. Aku tidak ingat di mana benda itu tercecer. Aku hanya ingat mengaktifkannya setelah turun dari pesawat untuk bicara dengan Maya. Bukan ponsel itu yang kusesali karena hilang, tetapi kontak yang ada di dalamnya.
“Mungkin tercecer di bandara atau taksi,” kataku ketika Maya menanyakan tempat di mana kira\-kira aku kehilangan benda itu.
Kami duduk berhadap\-hadapan di kantin rumah sakit dengan dua mangkuk coto yang masih mengepul. Maya menyeretku ke tempat ini ketika Tante Ratna yang sudah selesai mandi datang menggantikanku menjaga Lisa. Yana kembali ditemani Mama.
Wangi khas yang menguar dari kuah coto itu mengingatkan jika aku belum makan apa pun dari kemarin siang. Kepanikan membuat aku melupakan rasa lapar. Aku mulai menyuap pelan\-pelan setelah memotong ketupat kecil\-kecil dan menenggelamkannya dalam kuah coto.
Maya menyelipkan poniku yang jatuh ke samping telinga. “Kamu pasti belum mandi.”
Aku meringis. Jangankan mandi, makan saja tidak ingat. “Kenapa? Bauku mengganggu hidung dan merusak nafsu makanmu?”
Maya menggeleng. “Kamu terlihat berantakan. Sebaiknya kamu pulang ke rumah dulu setelah makan. Mandi dan istirahat.”
“Aku bisa melakukannya di sini, di kamar Lisa. Koperku juga masih di sini. Aku tidak mau jauh dari adik\-adikku.”
Maya tersenyum tipis sambil mengaduk isi mangkoknya. “Terus berada di sini juga tidak akan membuat mereka lantas sembuh secara ajaib, kan?”
Bukan karena mereka aku ingin tinggal. Ini untuk diriku sendiri. Aku merasa lebih tenang kalau berada di dekat mereka. “Iya, nanti pulang.” Aku tidak mau mendebat Maya. Aku tahu dia mengatakannya karena peduli kepadaku.
Maya mendesah. Dia melepas sendoknya, tidak jadi menyuap. “Kamu membuatku iri, Ra. Bukan salah orangtuaku karena aku terlahir sebagai anak tunggal, sih, tapi aku sungguh ingin merasakan punya saudara juga.”
“Kamu punya Mama yang menyayangimu.” Aku tidak bermaksud membandingkan, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.
Maya menatapku penuh perhitungan. “Kamu sudah bicara dengan mamamu?” dia akhirnya mengeluarkan apa yang dipikirkannya.
Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat tidak peduli. “Sudah tadi. Saat aku datang. Kami bertemu di kamar Yana.” Aku ikut meletakkan sendok. Mendadak kehilangan nafsu makanku. “Saat aku tadi melihat Mama bersama Yana, pikiranku jahat sekali.”
“Sejahat apa?”
Aku tersenyum miris. “Aku berpikir apakah Mama juga akan menangisiku seperti itu seandainya yang terbaring di ranjang itu aku, bukan Yana?” Aku menyusut mata. “Aku kakak yang jahat, ya? Bisa\-bisanya aku memikirkan hal seperti itu sekarang. Mungkin Mama membenciku karena dia bisa melihat isi kepalaku. Mama tahu pikiran\-pikiran jahat yang berseliweran di dalamnya.”
“Omong kosong!” Maya mendorong piringnya kasar ke tengah meja. Dia juga tampak sudah kehilangan selera makan. “Kita berteman sudah lama, Ra, dan aku tahu kamu tidak mampu menyakiti orang lain.”
“Tapi kamu bukan mamaku!” bantahku sedih. Mama pasti punya alasan untuk tidak menyukaiku.
Maya meraih tanganku di atas meja. Menggenggamnya erat. “Mungkin ini saat yang tepat untuk membicarakannya, Ra. Aku juga kenal mamamu dengan baik. Jujur saja, dulu aku tidak menyukai mamamu karena melihat jeleknya hubungan kalian. Namun, setelah bekerja di kantornya, aku melihat kalau dia tidak seperti yang kupikir. Dia baik dan tulus. Pasti ada alasan yang membuatnya bersikap seperti itu kepadamu.” Maya menguncang tanganku saat melihat aku hendak membantah. “Tidak, Ra, aku tidak mengatakan ini untuk membelanya. Aku hanya berpikir alangkah baiknya jika kalian bisa membicarakan apa yang mengganjal di antara kalian.”
Aku tidak ingin mendebat Maya. Aku juga tahu Mama orang baik. Dia menyayangi adik\-adikku sepenuh hati, memberiku banyak uang tanpa perlu memintanya untuk memastikan aku bisa membeli apa pun yang kuinginkan. Aku juga tidak pernah melihat Mama marah berlebihan kepada asisten rumah tangga kami, seberapa parah pun kesalahan mereka.