Second Chance

Second Chance
S.C Bertemu Daniel



Ada menu baru di Ocean Corner Cake's. Mengikuti trend yang sedang viral, Bianca mencoba peruntungan dengan menyajikan kue berlapis atau biasa disebut mille crepes.


Sejatinya, kue itu bukanlah sesuatu yang baru. Hanya saja belakangan ini, mille crepes mendadak jadi primadona di sejumlah toko kue. 


Varian rasanya pun semakin beragam. Ada red velvet, taro, coklat, milo hingga matcha.


"Oke …. Let's try!!" Bianca menyemangati dirinya sendiri ketika mulai mencoba membuatnya.


Bahan pembuatan mille crepes tidak rumit, hanya saja butuh kesabaran untuk membuatnya karena layernya harus dibuat tipis dan banyak. 1 cake mille crepes minimal harus terdiri dari 18-30 lapisan crepe tipis.


"Done!!" Bianca tersenyum puas ketika percobaan pertamanya selesai. Dia memotong 1 slice mille crepes strawberry buatannya dan meminta Meta mencicipinya.


"Gimana, Met?"



 source. Pinterest


Meta menyuap potongan pertama. Mata wanita itu seketika membulat lebar. Dia bertepuk tangan seraya memekik girang. 


"Enak banget, Mbak!!" serunya heboh. 


"Bunda, aku juga mau!" Sean tiba-tiba muncul ke dapur. Bocah itu naik ke stool bar lalu menunjuk-nunjuk mille crepes yang sudah tak utuh lagi. "Itu Bunda…itu."


"Iya…iya….sabar ya, sayang. Bunda potongin dulu," Bianca memotong 2 slice lagi untuk Sean dan dirinya.


"Fix ya Mbak, kita buat menu ini besok." Meta menjilat sendoknya, hingga tak ada sisa sedikit pun yang tertinggal. 


Wanita itu memandangi Bianca takjub. Entah terbuat dari apa tangan bos-nya itu, sehingga bisa begitu handal menghasilkan kue yang enak hanya dalam sekali percobaan.


Bianca mengangguk. "Sementara kita coba dulu yang strawberry, choco sama red velvet. Setuju nggak?" Meta lekas mengangguk. "Eh iya. Udah kamu catat resepnya, tadi?"


Meta mengacungkan buku notes berukuran sedang. "Beres, Mbak. Yakin deh Mbak, kue ini bakalan laku keras!"


*****


Dan begitulah menu baru Ocean Corner Cake's tercipta. Sesuai prediksi Meta, tak butuh waktu lama, mille crepes langsung terjual habis.


Entah sekedar mengikuti trend atau memang pembeli benar-benar menyukainya, banyak dari mereka yang meminta Bianca menambah lagi stock loyang mille crepes buatannya.


"Maaf. Sementara ini, kami memang baru mencoba dulu. Mungkin nanti akan kami tambah lagi persediaannya." 


Entah sudah keberapa kalinya Sika dan Latan mengucapkan kalimat itu. 


"Haah…." Sika menjatuhkan kepalanya di meja kasir. Kemudian mendongak, menatap Latan.


"Kira-kira hype ini bertahan berapa lama ya, Tan?"


Latan mengusap dagunya, "kayaknya lama, Mbak. Mungkin sebulan?"


Sika melotot, "sebulan mah sebentar dong!"


Latan nyengir, "tapi bagi Mbak Meta sama Mbak Bian mah lama. Tadi Latan lihat proses pembuatannya, sampai ikutan pegel."


Sika mengiyakan. "Iya, gue juga lihat tadi. Butuh kesabaran banget."


"Enggak cocok ya, buat Mbak Sika?" Latan mengerling jahil.


Lelaki muda itu lantas bersiap mengambil ancang-ancang, "kesabaran Mbak Sika kan tiiii….piiiisss banget! Setipis jembatan shirotol mustaqim."


Latan mengeja panjang kalimatnya dan langsung melesat keluar. 


"Kam — !!" Sika sontak berdiri dan langsung membekap mulutnya ketika menyadari ada pembeli yang sedang memilih kue di depan matanya.


" – pret…" umpatnya lirih, nyaris tanpa suara sementara matanya menatap tajam ke arah Latan yang cengengesan sambil membereskan meja bekas pengunjung.


"Awas aja, gue karungin tuh bocah lama-lama," gumam Sika kesal.


Pukul 12 siang, ketika toko sudah tak begitu ramai, Sika beranjak ke dapur. Di atas meja bernuansa kayu yang berukuran oval, sudah tersaji 4 bungkus nasi padang beserta kerupuk kulit.


Sika menyantap makan siangnya duluan, baru setelah itu giliran Latan yang akan beristirahat.


"Mbak Bian mau pergi keluar, ya?" tanya Sika di sela-sela makannya. Gadis itu memperhatikan penampilan Bianca yang nampak cantik dan modis. 


"Iya. Mau makan siang bareng Kinara." Bianca menyampir tas kecilnya di bahu. "Mbak pergi dulu. Titip toko, ya. Assalamualaikum…"


"Waalaikumsalam," balas Sika dan Meta berbarengan. 


Di parkiran, mobil Kinara sudah menunggu. Bianca segera menghampirinya lalu membuka pintu penumpang.


"Gue kira bercanda doang, mau ngerental mobil. Padahal mobil gue nganggur lho, bisa lo bawa dulu," ujar Bianca setelah seat-belt terpasang.


"Tapi ribet jadinya, Bi. Gue mesti ngambil ke Ocean. Belum lagi, balikin kesininya."


Bianca menepuk jidat kemudian tertawa geli, "iya juga ya. Kerjaan banget, bolak balik kesana kemari."


Bianca mengangguk. "Iya. Kita lunch di tempat biasa aja ya, biar pulangnya gue bisa nengokin Pak Brama. Nanti lo drop gue di rumah sakit.....Atau lo mau ikutan jenguk? Biar sekalian kenalan sama miliarder Jakarta," tawar Bianca sambil tersenyum jahil.


Kinara meringis, "nggak dulu deh. Entar aja, kenalannya pas acara tunangan lo atau pas elo di pelaminan, mungkin?" godanya dengan alis naik turun.


"Aminin dulu, boleh nggak?"


Mendengar jawaban sahabatnya ditambah rona malu Bianca, membuat Kinara bersorak heboh. Wanita itu semakin bersemangat menggoda Bianca hingga tak terasa sampailah mereka di Grand Indonesia.


Setelah menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet, Bianca dan Kinara langsung menuju restoran dan memesan menu masing-masing.


Aglio Olio Mushroom Beef, Genovese Pasta Salmon, Bolognese Potato Fratin, Dorry Creamy Lemon Butter, Truffle fries dan Crispy Chicken fries, menjadi pilihan santap siang keduanya. 


Kinara mendadak kebingungan melihat meja mereka terisi penuh oleh makanan.


"Ini beneran pesenan kita semua? Salah meja, kali." Kinara menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, matanya lalu celingukan memandang sekelilingnya. Seketika wajahnya merona malu sebab tak ada pengunjung yang makan sebanyak mereka.


"Kelar makan, mesti diet beneran ini sih," sambungnya lesu.


Bianca tertawa, "nikmatin aja lha. Selesai makan, tinggal puasa sampai besok."


Kinara ikut tertawa mengiyakan. Beberapa detik kemudian, kedua wanita itu mulai menikmati santap siang mereka. Sambil makan, Bianca bercerita tentang perkataan Mahesa yang menurutnya janggal. 


"Berarti bener feeling gue, ada yang aneh sama keluarganya Farrel. Gue sempet lihat Kakaknya, beuh.. asli…auranya nyeremin. Untung ketolong ganteng, jadi nggak horror banget…." cerocos Kinara sembari membayangkan wajah Daniel di kepalanya.


"Seganteng apa?" tanya Bianca penasaran.


"Mmm….," Kinara berpikir sejenak. Otaknya mencari gambaran aktor yang sesuai dengan siluet Daniel di kepalanya.


"Seganteng Chris Hemsworth, mungkin? Tinggi, manly, agak brewokan gitu..." 


Bianca mengernyit, "Chris mah ramah tamah ya. Enggak ada sangar-sangarnya!" sergahnya tak setuju. 


"Iya sih, tapi kan —" kalimat Kinara terputus ketika tanpa sengaja netranya melihat Daniel di kejauhan. "Itu orangnya, Bi!!" desis Kinara sambil melotot lebar.


Bianca mengikuti arah pandang Kinara. Jantung Bianca seketika berdebar ketika mata mereka saling berpandangan.


Sedetik kemudian Bianca membeliak kaget sambil mencolek-colek tangan Kinara. 


"Kin…. Mata gue yang salah lihat atau dia emang lagi jalan kesini?"


"Lo nggak salah lihat. Gue juga lihat, Bi!!" sahut Kinara panik. Dia jadi gelagapan dan buru-buru menenggak minumannya. Piasnya pucat seperti melihat hantu.


"Cabut yuk, Bi. Dia pasti mau nyemprot gue gara-gara udah bantuin adiknya," mata Kinara bergerak cepat mencari sesuatu. Dia lalu melihat celah pintu yang langsung menuju parkiran valet di luar. 


"Atau gue keluar duluan ya. Elo aja yang ngobrol sama dia. Dia 'kan nggak ada alasan buat marahin elo."


Bianca mendelik, "enak aja. Kita hadapin bareng-bareng, ya! Lagipula dia nggak mungkin berani macam-macam. Banyak orang disini. Cari mati namanya, kalau dia sampai nekat celakain kita."


Kinara ingin membantah tetapi lelaki yang mereka perdebatkan berjalan semakin dekat.


"Kebetulan sekali kita ketemu disini. Anda masih ingat dengan saya, Bu Kinara?"  


Lelaki itu akhirnya sampai di meja mereka. Mendengar namanya disebutkan, mau tidak mau Kinara menolehkan kepalanya, memasang ekspresi pura-pura terkejut, kemudian mengulas senyum. 


Hanya senyuman, karena otak Kinara mendadak buntu.


"Lalu Anda?" atensi Daniel kemudian beralih ke Bianca. "Bianca? Benar?"


Seharusnya Bianca ketakutan ketika ada pria asing yang mengetahui namanya. Namun berhubung orang tersebut adalah Kakak kandungnya Farrel, Bianca mencoba berpikir positif. 


"Benar. Lalu Anda sendiri, Kakaknya Kokoh Farrel, bukan?" tanya Bianca basa-basi.


Daniel mengangguk dan tanpa permisi, dia menarik salah satu kursi kosong kemudian mendudukinya.


"Saya tidak akan berbasa-basi," ucapnya dengan nada datar.


Daniel mengaitkan kesepuluh jarinya dan menaruhnya di atas meja. Senyumnya menghilang, ekspresinya berubah dingin. Dia memandangi Bianca dan Kinara secara bergantian. 


Diam-diam Bianca memasang sikap waspada. Benar kata Kinara, lelaki berdarah Tionghoa ini, memiliki kharisma yang menakutkan. 


"Jangan pernah dekati Farrel lagi, apalagi sampai mencoba membantunya mendapatkan Ganeeta." Lelaki itu menjeda kalimatnya kemudian mengarahkan manik hitamnya ke arah Bianca.


Bianca mencoba tak gentar. Dia menatap balik Daniel sehingga membuat lelaki itu terkejut. Hanya sedetik. 


Karena setelahnya, lelaki itu langsung menormalkan ekspresinya. Bibir lelaki itu melengkung kecil. Tak menyangka kalau Bianca memiliki keberanian untuk membalasnya.


Pantas saja Mahesa tergila-gila dengannya.


"Saya tak ingin melukai kamu, Bianca. Maka dari itu tolong pergilah dari kehidupan Farrel. Seandainya Farrel mendatangi kamu..... abaikan dia. Sampaikan juga ucapan saya ini kepada Dewa. Jauhi Farrel. Tidak akan ada hal baik bagi kalian untuk tetap berteman dengan adik saya. Ini masih jadi permintaan. Saya harap, ini tidak akan berubah jadi ancaman."