
Setelah makan, aku mengantar Maya sampai ke gerbang rumah sakit sebelum kembali ke kamar Lisa. Aku baru saja hendak mendorong pintu saat mendengar suara Mama dan Tante Ratna sedang bercakap dengan nada rendah. Mungkin takut membangunkan Lisa yang memang sedang tidur saat kutinggal tadi.
“… Kamu tetap harus bicara dengan Rara,” kudengar suara Tante Ratna menyebut namaku. Mereka bicara tentang aku. Meski tahu tidak sopan, aku memutuskan menguping. Ini untuk kali pertama aku mendengar anggota keluargaku membicarakan diriku.
“Entahlah, Rat, aku tidak berani,” Mama menjawab lemah. Suaranya tidak bersemangat.
Mama takut kepadaku? Tidak masuk akal. Ada apa sebenarnya?
“Tapi kamu harus tetap melakukannya.” Tante Ratna terdengar mendesak. “Mau sampai kapan kamu akan membiarkan kesalahpahaman ini berlangsung? Rara sudah dewasa. Tidak adil membuatnya merasa tidak diinginkan. Dia memang tidak pernah mengeluh atau membicarakannya dengan semua orang di keluarga kita, tapi aku yakin itu yang dia rasakan. Kesalahanmu yang paling besar adalah saat mengizinkan dia meninggalkan rumah waktu kuliah.”
“Dia yang memintanya” Mama membela diri, tetapi terdengar tidak yakin.
“Demi Tuhan, Dian, dia itu anakmu!” Suara Tante Ratna kini meninggi. “Kamu berhak melarangnya pergi.”
“Aku tidak bisa, Ratna. Dia ingin pergi karena membenciku. Dia sudah membenciku dari kecil karena aku tidak pernah bersikap baik kepadanya. Bukannya aku ingin berbuat begitu, hanya saja….”
Aku tidak pernah membenci Mama. Aku ingin mendorong pintu dan mengatakannya, tetapi aku butuh mendengar lebih banyak. Aku hanya bisa menahan mulut dengan telapak tangan agar tangisku tidak pecah dan membuat mereka menyadari kehadiranku.
“Entahlah….” Mama kembali bersuara dalam tangis. “Waktu itu, setiap melihat dia, aku lantas teringat peristiwa itu. Dan saat aku sudah berhasil mengatasinya, aku sudah kehilangan kesempatan mendekatinya. Rara sudah memutuskan menjauh dan membenciku. Aku tidak bisa meraihnya kembali.”
“Bagaimanapun juga, Rara itu anakmu. Keluar dari rahimmu sendiri seperti Yana dan Lisa. Kamu tidak mungkin kehilangan kesempatan untuk meraihnya kembali. Itu omong kosong. Yang perlu kamu lakukan hanyalah bicara dari hati ke hati dengannya.”
Tangis Mama yang tadi tertahan pecah. “Dia pasti makin membenciku.”
“Bagimana kamu tahu kalau belum mencobanya? Apa kamu tidak ingin memeluknya sebagaimana kamu memeluk Yana dan Lisa? Tidak ingin mengatakan bahwa kamu menyayanginya? Jangan bilang kalau kamu tidak menyayanginya!”
Tangis Mama terdengar kian keras. “Tentu saja aku menyayanginya, Ratna. Aku juga ingin memeluknya, tapi aku sudah kehilangan keberanian melakukannya. Di matanya, aku adalah Mama yang luar biasa jahat. Kalau aku bisa memutar waktu, aku akan kembali di masa saat dia belum mengerti apa\-apa, dan melakukan semuanya dengan cara berbeda. Dulu kupikir kehadirannyalah yang menghancurkan hidupku, tapi sebenarnya dia yang terbaik, yang pernah hadir dalam hidupku. Dia membawa Kak Danang kepadaku. Membawa Yana dan Lisa bersamanya. Hidupku tidak mungkin seperti sekarang kalau bukan karena dia. Aku….”
Seorang perawat datang dan aku terpaksa harus menyingkir sebelum Mama dan Tante Ratna melihatku. Aku berjalan dengan linglung. Apa yang sebenarnya terjadi? Mama tidak membenciku seperti yang kukira. Dia mengira akulah yang membencinya. Ada sesuatu yang terasa salah. Ada rahasia menyangkut diriku di masa lalu yang ditutupi oleh semua anggota keluargaku. Apa itu? Akan sulit meminta penjelasan dari Mama dengan hubungan kami yang seperti sekarang, tetapi aku pasti bisa mendapatkannya dari Tante Ratna. Ya, aku akan memaksa Tante Ratna bicara.
Aku terus berjalan tanpa tahu dan peduli ke mana kakiku melangkah. Aku baru terhenti ketika lenganku tiba\-tiba ditarik dari samping. Oh, aku hampir terjatuh dari koridor dan seseorang menyelamatkanku. Aku tersadar dan mengangkat kepala untuk mengucapkan terima kasih. Kalimatku menggantung di tenggorokan saat menyadari jika aku mengenal wajah penolongku. Dokter Angga. Bagaimana dia… Ah ya, tentu saja. Dia mengenakan jas dokternya, berarti dia sedang bekerja sekarang.
“Oh….” Otakku belum bisa kupakai berpikir. Isi percakapan Mama dan Tante Ratna masih menempel di sana, tak menyisakan ruang untuk memahami hal lain.
“Kamu kenapa?” Dokter Angga menuntunku berjalan mendekati kursi panjang di dekat apotek. “Kamu kelihatannya tidak sehat.” Dia mendudukkan aku di kursi kayu itu.
“Saya baik\-baik saja, Dok.” Tidak, aku tidak baik. Aku masih kebingungan.
“Kamu tidak terlihat baik. Kamu berjalan sambil melamun dan hampir jatuh ke selokan.”
“Oh… itu. Terima kasih, Dok.”
“Tunggu di sini sebentar. Jangan ke mana\-mana.” Dokter Angga bangkit dari duduknya. “Aku akan segera kembali.”
Aku mengawasi dia membawa tungkai panjangnya pergi, setengah berlari. Dia kembali tidak lama kemudian dengan kecepatan yang sama. Dia mengulurkan botol air mineral setelah membuka tutupnya. Aku menerimanya dan minum dalam tegukan besar. “Terima kasih.”
Dokter Angga meraih botol di tanganku, menutupnya kembali dan meletakkannya di kursi, di antara kami. “Lebih enak?”
“Jauh lebih baik.” Aku mengangguk. “Terima kasih.”
Dia itu tersenyum. “Kamu belum baik. Dalam waktu kurang dari lima menit, kamu sudah mengucapkan terima kasih sebanyak tiga kali. Tidak terdengar seperti kamu yang normal.”
Aku ikut tersenyum kecil, atau mungkin menyeringai. “Saya baru sadar kalau saya lelah dan mengantuk. Saya belum tidur sejak kemarin.” Ya, tiba\-tiba aku merasa lelah luar biasa. Aku bahkan merasa tidak cukup kuat untuk bangkit dari dudukku. Lelah fisik dan batin. Aku menutup mata. “Saya akan tidur sebentar.”
“Di sini?” Dokter Angga terdengar kebingungan.
Aku menutup mata. Bersandar pada kursi. “Sebentar saja.” Aku tidak mau kembali ke kamar Lisa sekarang.
Dokter Angga menarik tanganku, mengajak berdiri. “Kita ke ruang jaga saja. Kamu bisa tidur di sana.”
Aku benar\-benar terlalu lelah untuk menolak.