
Bianca melongo sesaat ketika pintu lift yang dinaikinya terbuka di lantai 45. Dia tampak gugup ketika seorang pelayan restoran menyambutnya.
Begitu menyebut namanya, si pelayan dengan sigap mengantarkannya ke sebuah ruangan. Sambil berjalan mengekorinya, Bianca tak henti bergumam kagum melihat keindahan restoran yang berada di salah satu gedung pencakar langit tertinggi di Jakarta.
Dari pintu utama restorannya saja, Bianca sudah dibuat terpukau dengan nuansa Ocean dan elemen biru laut yang cerah.
"Wow…" tanpa sadar Bianca bergumam takjub.
(source. IG @ani***erestaurant)
Mengusung konsep al fresco dining, atau membangun kesan makan bersama di udara terbuka. Area dining yang ada di LApizz terlihat memukau dengan desain kontemporer yang modern dan elegan. Perpaduan antara alam dan modern kental terasa di setiap sudut ruangan restoran itu. Bianca yakin, ia akan betah duduk disana meski hanya sekedar menikmati pemandangannya saja.
"Silakan masuk, Bu."
Suara pelayan menarik kesadaran Bianca dan membuat wanita itu terkesiap.
"Disini Mba?" tanya Bianca ketika si pelayan membuka lebar pintu di hadapannya.
"Betul Bu. Silakan duduk." Si pelayan menarik kursi untuk diduduki Bianca. Setelah itu barulah dia mengambilkan buku menu.
"Mohon maaf Bu, tadi Pak Mahesa baru memesan minuman saja. Kalau Ibu ingin memesan menu lainnya, Ibu bisa menggunakan layanan telepon yang di ada di meja," ujar si pelayan seraya menunjuk meja di sudut kiri Bianca.
"Saya tinggal dulu Bu. Minumannya akan saya antar sebentar lagi."
Bianca lekas mengangguk.
Selepas pelayan itu pergi, Bianca langsung menelpon Mahesa. Bermaksud meminta penjelasan kenapa pria itu memesan tempat di restoran sebagus ini.
Pasti mahal banget ini. Duh, kira-kira habis berapa ya?
Sambil menunggu Mahesa, Bianca bergumam sendirian. Dia menggerutu saat Mahesa tak kunjung menjawab teleponnya.
Bianca menghela napas gusar. Matanya melirik buku menu di hadapannya.
Dengan perasaan berdebar, tangan Bianca sedikit gemetar ketika membuka halamannya.
"Astaga… Mahesa!" tanpa sadar Bianca menjerit dan membekap mulutnya begitu melihat harga menunya.
Matanya semakin melotot ketika membaca semua harga menu yang tertera disana.
"Gila… ini beneran segini doang 5 juta?" serunya heran saat membaca seporsi irisan steak kecil di hargai sedemikian mahalnya.
Bianca paham kalau steak itu terbuat dari daging sapi berkualitas, hanya saja dia tak menyangka untuk ukuran sekecil itu, harganya bisa hampir setara gaji Meta sebulan.
"Air putihnya aja ratusan ribu. Tsk. Besok-besok kalau kesini lagi bawa air mineral aja lah dari rumah!" ujarnya berdecak heran. Namun ia segera meralatnya, "eh….enggak ding. Jangan lagi makan disini. Bisa bangkrut. Mending uangnya disimpan buat modal toko," cibirnya seraya menggelengkan kepala.
Tetapi semenit kemudian, dia mengambil ponselnya dan memotret halamannya. Entahlah, tiba-tiba saja dia ingin membawa Ibunya dan Atilla menikmati sajian di restoran mewah ini.
Tujuannya memotret hanya sekedar penasaran berapa sekiranya biaya yang harus ia siapkan untuk mengajak keluarganya.
"Kalau bukan untuk mereka, untuk siapa lagi kerja kerasku?" gumamnya.
Tok. Tok.
Bunyi ketukan di pintu membuat Bianca buru-buru menutup buku menu dan menaruhnya di sisi kanan.
Ternyata yang datang Farrel bersama susternya – Sulis. Mereka diantar oleh si pelayan yang kembali sambil membawakan minuman pesanan Mahesa.
"Bian, kamu nggak salah, pesan tempat disini? Kokoh tahu kamu sukses, tapi mubazir banget habisin uang cuma buat ngopi cantik disini," kata Farrel sesaat setelah pelayan itu pergi.
Bianca mendesah lesu, "bukan aku, Koh. Ini kerjaannya Mahesa. Dia nggak mau aku bawa Kokoh ke Ocean. Duh, tahu gini mending aku sendiri yang cari tempatnya.." keluhnya.
Farrel terkekeh kecil, "Ya udahlah. Mungkin dia mau cari tempat yang nyaman. Biar gimana pun ini kan menyangkut adiknya juga. Kita makan dulu yuk, mumpung Neta belum datang. Kamu mau makan apa? Hari ini biar Kokoh traktir kamu."
"Weits, Kokoh banyak uit ya?" goda Bianca dengan suara yang sengaja dimaniskan.
"Oh, jelas dong. Kokoh kan chindo tajir melintir se kecamatan Pantai Indah…" sahutnya pongah seraya mengambil dompet dan mengeluarkan black card dengan dada membusung. Tak hanya itu, ia juga mengeluarkan semua kartu ATM, SIM dan KTP lalu menjejerkannya di hadapan Bianca.
Hening.
Kedua manusia itu lantas bertatapan sejenak dan berikutnya saling tertawa kencang.
"Ih, apaan deh Kokoh!! Maksa banget sombongnya…" ujar Bianca di sela-sela tawanya. Dia sampai mengusap sudut matanya yang berair. "Ngapain segala KTP dikeluarin?"
"Biar keliatan banyak kartunya," jawab Farrel geli. Melalui pandangan mata, ia meminta Sulis untuk merapikan dompetnya.
"Jadi kamu mau makan apa, Bian?" tanya Farrel sambil membalik buku menu, "Sulis?" kepala Farrel menoleh ke samping, menatap susternya.
Bianca menggeleng, "sebentar lagi Kak Neta datang."
"Terus? Apa masalahnya?"
"Yakin? Mumpung Kokoh lagi baik nih."
"Yakin, seribu persen. Ngopi cantik aja udah cukup, ya nggak Lis?" Bianca menolehkan netranya, memandang Sulis yang sibuk dengan ponselnya.
Sulis yang sejak tadi tak memperhatikan mereka, langsung gelagapan.
"Emm…. gimana Mbak?" tanyanya kikuk.
"Kamu sibuk chattingan sama siapa sih? Kayaknya seru banget sampai nggak merhatiin kita ngobrol?" tanya Bianca penasaran.
Sulis memasukkan ponselnya ke dalam tas, "nggak kok Mbak. Cuma lagi lihat feed instastory temen," jawabnya seraya tersenyum lebar, memamerkan gigi gingsulnya. "Memangnya tadi Mbak Bian ngomong apa ya?"
"Lupain deh." Sahut Bianca sambil fokus ke layar ponselnya. "Kak Neta udah datang, Koh. Dia lagi ada di lift," lapornya. Bianca mendongak, menatap Farrel.
Seketika muka Farrel berubah pucat. Tanpa sadar ia menekan jantungnya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Kokoh kenapa?" tanya Bianca panik.
Melihat majikannya pucat, Sulis bergegas mengecek jam di pergelangan tangan Farrel.
"Tarik napas pelan-pelan Koh. Hembuskan perlahan… ya…seperti itu," Sulis mengusap-usap punggung tangan Farrel. Sementara Farrel nampak mengikuti instruksi Sulis dengan sedikit kepayahan.
Tak sampai semenit, pernapasan Farrel kembali normal. Wajahnya tak lagi pucat, hanya saja keringat sebesar biji jagung, membasahi dahinya.
"Kokoh takut. Jantung Kokoh deg-deg'an.." ujar Farrel meringis.
Bianca menatap Farrel cemas. Namun pria itu segera menenangkan Bianca dengan mengatakan jika dirinya sudah baik-baik saja.
Tok. Tok.
Bianca dan Farrel sama-sama menoleh ketika mendengar ketukan di pintu.
Secepat kilat Farrel memalingkan wajahnya ketika pintu terbuka. Sementara Bianca gegas berdiri menyambut Ganeeta.
"Hai Bi. Maaf Kakak telat datangnya. Tadi macet di –" Ganeeta tak melanjutkan kalimatnya karena baru menyadari ada orang lain selain Bianca di ruangan private itu.
"Kak.." Bianca mengikuti arah pandang Ganeeta. Lalu berpaling menatap Ganeeta. "Duduk dulu yuk."
"Mereka siapa Bi?" bisik Ganeeta. Dia balas tersenyum ketika Sulis menyapanya dengan senyuman tipis.
Ganeeta masih enggan beranjak dari pintu karena curiga melihat pria yang dari tadi duduk membelakanginya. Dia seperti mengenal pundak lebar itu tapi…..
Masa iya?
Dengan sedikit tarikan lembut, Bianca membawa Ganeeta menuju kursi yang tadi ditempatinya.
Sambil membetulkan letak duduknya, Ganeeta mengernyit heran melihat pria dihadapannya terus menundukkan kepalanya.
"Sebelumnya Bian minta maaf ya Kak. Tapi Bian harap Kakak mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu."
"Maksudnya?" tanya Ganeeta bingung.
Detik berikutnya mata Ganeeta membeliak lebar ketika pria di hadapannya mengangkat kepalanya. Ganeeta nampak shock. Pias wajahnya pucat seolah melihat hantu. Kepalanya menggeleng berkali-kali seraya menatap Bianca dan Farrel bergantian.
"Bi, dia –" lidah Ganeeta terasa kelu. "Kamu — masih hidup?" tanyanya dengan mata membulat lebar.
Farrel mengangguk pelan. Matanya perlahan berembun.
"Maafkan aku Net…" desis Farrel.
Tiga kata itu meluncur pelan setelah pria itu menguatkan dirinya untuk menatap Ganeeta. Kesalahannya teramat fatal hingga membuatnya kehilangan muka di hadapan teman-teman dan kekasihnya.
Ganeeta tak bersuara dan hanya memandang nanar. Ingatannya kembali terlempar ke belakang. Kenangan buruk yang sudah ia kubur rapat-rapat, menyeruak kembali.
Ketika Farrel menghilang setelah menanam benih di rahimnya, hidup Ganeeta seolah gelap. Takut dan cemas akan masa depannya mulai menghantuinya, terlebih janin di perutnya tak juga pergi meski sudah didorong jamu dan obat pengugur. Keputusasaan membuatnya nekat mengambil jalan pintas.
Kalau aku mati, maka janin ini juga akan mati kan?
Entah Tuhan masih mengasihinya atau membencinya, percobaan bunuh diri itu tidak berhasil. Dewa menyelamatkannya dan mengetahui kehamilannya.
Berkat nasihat dan bantuan dari Dewa, Ganeeta akhirnya bangkit dan menerima nasib beserta bayi dalam kandungannya.
Seperti buah simalakama, bantuan Dewa berakhir kesialan bagi keduanya. Mereka terpaksa menikah dengan mengorbankan rumah tangga Dewa dan Bianca.
Walau teramat benci, tapi Ganeeta masih tetap menanti kedatangan Farrel. Berharap pria itu muncul dan memenuhi janji menikahinya lalu melepaskannya dari pernikahannya bersama Dewa.
Lima tahun berlalu, harapan itu perlahan pudar dan Ganeeta pun menyerah. Dia meyakinkan diri jika Farrel telah meninggal seperti penuturan Daniel – kakak kandung Farrel.
Tapi apa ini? Kenapa tiba-tiba pria ini baru muncul setelah Ganeeta mulai melupakan semuanya dan ikhlas menjalani kehidupannya.
Ya Tuhan, lelucon macam apa ini?