
Mahesa mengucap syukur saat dokter mengatakan Brama sudah baik-baik saja. Jika keadaannya tetap stabil, dokter memperbolehkan Brama untuk pulang besok atau lusa.
"Inget kata dokter ya Pi, jangan mikirin apa-apa dulu. Fokus sama kesehatan Papi supaya cepet pulang."
Mahesa sibuk menasehati Ayahnya karena lelaki paruh baya itu, kedapatan mencuri dengar rapat bulanan dari aplikasi zoom.
Brama mendelik tidak suka. "Papi cuma dengerin. Nggak sampe ikutan ngobrol, masih dilarang juga? Papi bosen banget Sa.... Lagian Papi udah sehat gini, ngapain mesti nunggu besok buat pulang, sih?"
Brama menoleh ke arah istrinya, "Ma, siapa kepala rumah sakit disini? Papi mau komplain. Padahal Papi juga punya kamar rawat di rumah, nggak kalah lengkap dari ini. Apa bedanya?"
Mahesa merotasikan bola matanya. Baru beberapa jam membuka mata, Ayahnya sudah mirip cacing kepanasan — bawel.
Sejak dulu Brama memang anti pergi ke rumah sakit. Untuk check-up rutin bulanan, Lelaki paruh baya itu selalu mendatangkan dokter khusus ke rumahnya. Bahkan dia membangun pondok kecil di belakang rumah menyerupai klinik pribadi, yang khusus hanya untuknya.
Jadi bisa dibayangkan sekesal apa Brama ketika harus dirawat lebih lama di rumah sakit yang notabene rumah sakit milik keluarga besarnya sendiri.
"Tapi dokter disana masih kalah cakap dari dokter disini, Pi. Belum lagi harus nyiapin semua infusan sama obat Papi dari awal. Ribet. Kemarin aja betah sampai 5 hari, masa nambah sehari lagi udah nyerah?"
Brama melotot kesal. "Itu karena Papi koma, ya!"
Bibir Mahesa berkedut. Pria itu berusaha menahan tawanya. Ayahnya akan semakin kesal jika Mahesa menertawainya.
Cassandra geleng-geleng kepala melihat kelakuan suami dan anak sambungnya. Hanya di depan keluarganya, Brama menampakkan sosok aslinya. Mungkin tak ada yang menduga jika pemegang tahta tertinggi di Singaraja Group ini, memiliki sisi cerewet dan manja.
"Udah..udah…" Cassandra melerai perdebatan mereka karena melihat Brama bersiap membuka mulutnya kembali. "Kamu nggak balik ke kantor, Sa?"
Mahesa melirik jam tangan Hublot di pergelangan tangannya. Salah satu hadiah pemberian dari mendiang sang Kakek yang masih ia kenakan.
"Enggak, Ma. Mahes cuma perlu ke pabrik bentar, terus selesai deh jadwal hari ini. Tadi Mahes keburu cancel semua pertemuan. Kirain Mahes, Papi udah bisa dibawa pulang."
Brama memukul pegangan besi yang ada di sisi ranjang. Wajahnya berkilat menahan kesal, "nah kan, kamu juga mikir gitu. Berarti emang dokternya yang error. Orang udah sehat kok ditahan-tahan buat pulang. Nanti bakalan Papi SP tuh dokter. Siapa tadi namanya, Ma? Sebastian atau Hendry?" ocehnya.
Cassandra menghela napas panjang. Sementara Mahesa langsung menyahut.
"Dokter pasti lebih tahu kondisi Papi. Nurut aja apa susahnya, sih? Kalau Papi masih rewel, Mahes bakalan bawa Mama pulang. Biar Papi dijaga suster sekalian," ancam Mahesa.
"Kok kamu gitu, Sa?" Brama hendak protes namun langsung menutup mulutnya ketika Cassandra memelototinya.
Mahesa mengurut pelipisnya seraya memandang takjub. Kata dokter, beberapa pasien yang bangun dari koma dapat berubah sifat dan perangainya. Nampaknya ini berlaku juga pada Brama.
Sejak dulu Brama dikenal sebagai pria arogan dan tak segan menggunakan kekuasaan untuk mendapatkan apa yang ia mau. Namun sifat itu perlahan menghilang setelah dia mengenal Cassandra.
Dan sepertinya sifat arogan Brama kembali muncul setelah bangun dari komanya.
Diam-diam Mahesa melempar pandangan sendu ke arah Cassandra. Matanya menyorotkan permintaan maaf yang langsung ditanggapi Cassandra dengan senyuman maklum.
"Ngomong-ngomong, sebelum pingsan, Papi ada di ruang kerja kan, ya? Papi abis ngapain ya, Ma?" Brama mengusap dagunya. Mencoba menggali ingatan terakhirnya sebelum berakhir koma selama 5 hari.
Cassandra langsung mengalihkan perhatian Brama dengan meraih tangan suaminya, "Mama udah bilang belum, kalau sekolah Brandon mau ngadain pentas seni? Nih, Neta kirim video ini ke Mama," ujarnya seraya menunjukkan video Brandon yang sedang berlatih menyanyi.
Brama langsung antusias menonton video tersebut dan melupakan pertanyaannya.
Untuk sementara, Mahesa dan Cassandra sepakat untuk tidak membahas mengenai masalah Ganeeta di depan Brama. Mereka menduga, sakitnya Brama ini disebabkan karena memikirkan persoalan Ganeeta. Terbukti dari file-file yang berserakan di meja kerja Brama ketika Mahesa menengok ruang kerja Ayahnya.
Efek dari koma ternyata cukup mengejutkan. Selain kembalinya sifat arogan Brama, dia juga tak ingat apa yang ia kerjakan sebelum ditemukan tergeletak di ruang kerja.
Saat Brama sedang melakukan sesi check-up tadi, diam-diam Cassandra memberitahu Mahesa bahwa ia sudah mengetahui siapa ayah biologis Brandon. Hanya saja Cassandra masih belum mengetahui siapa nama lelaki itu.
"Mama tenang ya, masalah Neta biar Mahes yang urus. Doain aja semoga semuanya selesai dengan baik," pinta Mahesa ketika sedang berdua dengan Cassandra.
Cassandra mengangguk, kemudian mengusap lembut punggung Mahesa, "makasih banyak ya, Sa."
"Makasih untuk apa, Ma?" kening lelaki itu mengernyit.
"Untuk perhatian kamu ke Neta. Terimakasih udah mau nerima Neta seperti a —"
"Ma!" potong Mahesa gusar.
"Udah berapa tahun sih, Mama nikah sama Papi? Nggak mungkin banget aku nggak nganggep Neta sebagai adikku. Please Ma, jangan sungkan gitu ke aku. Mahes mesti gimana supaya Mama ngerti kalau Mahes udah bisa nerima kalian?" mata Mahesa mulai memanas. Agak tersinggung mendengar ucapan Ibu sambungnya.
Dulu sekali, ia memang sangat membenci Cassandra. Saking bencinya, ia memilih menghabiskan masa sekolahnya di Singapura dan tinggal bersama keluarga dari pihak Ibunya ketimbang menetap di Jakarta.
Tapi itu dulu.... Seiring berjalannya waktu, ia pun bisa menerima Ibu dan adik tirinya.
"Enggak.. Nggak gitu maksud Mama, Sa."
Cassandra buru-buru menyahut. Dia tak pernah berpikiran buruk kepada Mahesa. Tapi memang Cassandra sempat merasa tak enak merepotkan Mahesa dengan masalah ini.
Dia tak ingin hubungannya dengan Mahesa memburuk karena butuh waktu cukup lama baginya untuk diterima di keluarga Sanjaya terutama saat Mahesa masih remaja.
Mahesa menarik napas panjang. Dia kemudian merangkul Ibu sambungnya yang terlihat gemetar menahan isak tangis. Perlakuan nenek, kakek dan om beserta tantenya dari pihak Brama, rupanya masih menyisakan ketakutan di diri wanita itu.
"Mama lupa ya, kalau Papi itu udah sah jadi pewaris utama Singaraja Group? Papi udah kasih wewenang penuh ke Mahes, yang artinya posisi Mahes nggak bisa diutak-atik lagi. Baik Papi maupun Mahes, kita berdua punya power lebih besar di Singaraja. Tante sama Om lainnya cuma peserta tambahan."
"Tapi tetap aja, kalau mereka tahu soal ini —"
"Kalau mereka sampai gugat posisi Papi cuma gara-gara ini, Mahes akan tarik semua fasilitas dan hak mereka di perusahaan."
Cassandra mendongak. Menatap Mahesa dengan pandangan yang sulit diartikan. Tapi kemudian wanita itu memukul pelan bahu Mahesa.
"Jangan kebawa sifat Papimu, deh."
Mahesa terkekeh. "Sekali-kali Ma. Ngerasain jadi orang yang punya power, ternyata enak juga. Pantesan Papi betah ada di atas ."
Cassandra hanya bisa menggelengkan kepala mendengarnya, "Ngomong-ngomong, kamu tahu siapa ayah biologisnya Brandon?"
Senyum Mahesa seketika menghilang. Wajahnya berubah muram.
"Tahu." Pandangan Mahesa mengarah ke pepohonan di kejauhan. Dia menarik napas panjang. "Ayahnya pernah bertengkar sama Papi karena rebutan Mama. Kakaknya juga pernah jadi teman main Mahesa. Mama udah bisa nebak siapa orangnya, bukan?"
Cassandra membeliak. Ingatannya kemudian tertuju pada sosok pengusaha dari Singapura yang dulu membuatnya ketakutan. Karena begitu gigih mengejar cintanya.
"Ben – jamin?" Cassandra menelan salivanya dengan susah payah. "Berarti Daniel, maksudmu?"
Mahesa menggeleng. "Adiknya, Ma."
Kening Cassandra berkerut. Dia tak pernah tahu kalau Benjamin memiliki 2 putra. Yang ia tahu, pria yang sangat terobsesi dengannya itu, hanya memiliki 1 putra, yang berteman dengan Mahesa.
Seolah tahu pemikiran Ibunya, Mahesa cepat menjelaskan.
"Adiknya ini anak dari istri simpanan Om Benjamin. Makanya kita nggak pernah tahu. Enggak pernah dikenalin ke publik juga. Namanya Farrel — kalau Mama mau tahu."
Cassandra menengadahkan kepalanya. Menatap langit-langit plafon koridor rumah sakit.
Apa yang salah? Kenapa jalan hidup keluarganya begitu rumit?
"Kenapa semua jadi begini ya, Sa? Apa karena Mama nolak Benjamin, makanya dia dendam sama Mama terus nyuruh anaknya buat melampiaskan ke Neta?"
Mahesa mengedikkan bahu. "Mahes nggak paham soal itu."
Bahu Cassandra seketika lunglai. Pupus sudah niatnya untuk menuntut lelaki yang sudah menghamili Ganeeta. Masih terbayang di benaknya, bagaimana menakutkannya Benjamin saat mengejarnya di kala dirinya masih bekerja sebagai aktris terkenal.
"Ma, seandainya Neta tetap sama Dewa. Mama masih mau nerima Dewa sebagai menantu Mama, kan?"
Cassandra mengangguk cepat. "Pasti. Seandainya Mama nggak kenal ayah biologis Brandon pun, buat Mama, Dewa tetap menantu Mama."
"Berarti, nggak masalah kalau mereka bertiga tetap jadi keluarga? Soalnya jujur, Mahes ogah berhadapan sama mereka. Biar gimana pun Om Benjamin pernah baik sama Mahes. Mahes sungkan kalau mau ngotak-atik bisnis mereka. Yah…. Walaupun sebenarnya bisa juga, sih."
Mahesa menyeringai di akhir kalimatnya membuat Cassandra bergidik.
"Tapi Mahes nggak tahu gimana Dewa. Kayaknya dia ada rencana mau nuntut Farrel. Makanya Mahes lagi jaga-jaga seandainya ada konfrontasi besar antara keluarga kita dengan Om Benjamin," urainya panjang lebar.
Bicara soal Dewa, Cassandra jadi teringat foto yang membuatnya kepikiran.
"Ada yang mau Mama tanyain lagi?" tanya Mahesa karena mendapati Cassandra tiba-tiba jadi terdiam.
Cassandra terkesiap. Dia nampak ragu-ragu mengatakannya, "emm…itu, soal Dewa dan juga —" kalimatnya terjeda.
"Bianca, maksud Mama?" tebak Mahesa.
Cassandra mengangguk pelan.
"Yah… mereka dulunya suami istri…" mata Mahesa menerawang jauh. Dari mulutnya, mengalirlah cerita bagaimana Dewa, Bianca, Ganeeta beserta Farrel bisa saling berhubungan satu sama lain.
Lagi-lagi mata Cassandra melebar. Entah sudah berapa kabar yang mengejutkannya hari ini. Kepalanya semakin berdenyut. Hatinya mencelos perih membayangkan perasaan Bianca.
Bagaimana bisa putrinya melakukan perbuatan serendah itu? Tapi tunggu….bukankah Jendra, juga tahu soal ini? Kalau dia tidak salah dengar, ide gila itu berasal dari Jendra.
"Ma.." panggil Mahesa.
Cassandra menoleh dan melihat Mahesa tengah menatapnya lekat.
"Begitu masalah ini selesai, aku mau nikahin Bianca. Mahes harap, Mama bisa nerima Bianca apa adanya, seperti Mama nerima Dewa."
Cassandra mengangguk, "enggak ada alasan untuk Mama menolak Bianca. Tapi Mama minta, sebelum kalian melangkah lebih jauh, pastikan dulu Bianca udah bisa berdamai dengan masa lalunya. Menikah sama kamu berarti kalian berempat akan jadi keluarga ipar. Jangan sampai, pernikahan kalian jadi perpecahan di antara anak-anak Mama…."