Second Chance

Second Chance
Tujuh Belas : Lembaran Baru



Yana sudah siuman meski belum bisa berkomunikasi dengan baik. Melegakan. Aku bergiliran dengan Mama dan tante\-tanteku menjaga kedua adikku. Hubunganku dengan Mama berkembang pesat, membuat Lisa dan Yana sampai menitikkan air mata saat melihat kami berinteraksi. Aku sudah kehabisan air mata dan hanya punya senyum untuk dibagi pada semua orang yang kutemui.



“Kamu membuatku takut,” sindir Maya kemarin saat berkunjung ke rumah sakit. “Kamu tidak pernah tersenyum selebar dan sesering ini sebelumnya. Yakin tidak perlu ke psikiater? Perubahan dratis tidak selalu berarti baik untuk seseorang.”



Aku tidak akan membalas perkataan Maya sepedas apa pun, karena aku tahu dia juga bahagia untukku. Aku malah memamerkan senyumku yang paling lebar. Membuat dia bergidik lalu meninggalkanku.



Aku baru saja menutup pintu kamar Lisa dari luar saat mendapati dokter Angga sudah berdiri di depanku. Matanya menyipit awas saat melihat senyumku. Astaga, mengapa semua orang bermasalah dengan wajah cerahku? 



“Kamu kelihatan….” dokter Angga menggantung kalimatnya. Dia menatapku lebih dalam.



“Aneh?” sambungku.



“Bukan. Kamu kelihatan lebih baik.”



“Terima kasih, Dok.” Aku terus tersenyum.



Dokter Angga ikut tersenyum. “Kalau tersenyum seperti itu, sulit percaya kalau kamu dulu judes padaku. Apa yang terjadi?”



Aku mengangkat bahu. Dokter Angga tidak perlu tahu hubunganku dengan Mama. “Berita gembira, Dok. Adikku juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan.”



“Itu melegakan. Mau kutraktir makan siang untuk berita gembiranya?” tawar dokter Angga.



Aku teringat jika beberapa hari lalu berutang makanan padanya. “Saya yang bayar ya, Dok?”



Laki\-laki itu kini tertawa kecil. “Itu melukai harga diriku sebagai laki\-laki, Ra.”



“Tapi aku juga tidak enak kalau terus dibayari, Dok,” balasku tidak mau kalah.



“Bagaimana jika soal bayar\-membayar ini kita bicarakan nanti di kantin sambil makan?” Dokter Angga melihat pergelangan tangan.  “Aku punya jadwal operasi sebentar lagi. Aku hanya mampir sebentar untuk mengajakmu makan.”



“Bagaimana kalau ditunda untuk makan malam saja, Dok?” Aku jadi tidak enak. 



“Makan siang di kantin, Ra. Makan malam baru kita keluar dari rumah sakit, oke?” Dokter Angga tidak menunggu sampai aku menjawab. Dia menggiring langkahku menjauhi kamar Lisa.



“Maksud Dokter, kita makan siang dan makan malam bersama?” Aku mengerutkan kening. Berada di Makassar membuat Dokter Angga terlihat lain di mataku. Dia lebih banyak bicara.



“Kenapa? Apa aku harus menambahkan sarapan dalam daftarnya supaya lengkap?”



Nah, itu, kan? Dia tidak terlihat seperti orang yang kukenal saat berada di Buton.



Kami kemudian duduk berhadapan di kantin. Menghadapi kepulan uap dari mangkuk konro yang kami pesan. Aku meniup\-niup isi sendokku. Panasnya menghangatkan perut, mengingatkan jika aku tadi melewatkan sarapan.



“Pendaftaran untuk pendidikan spesialis akan segera dibuka,” kata dokter Angga di sela\-sela suapannya. “Kamu tidak mendaftar?”



Aku sudah memutuskan, juga sudah membicarakannya dengan Mama. “Saya mendaftar kok, Dok.”



“Ambil apa?”



“Saya masih bingung antara interna dan obgin, Dok,” jawabku terus\-terang. 



“Mengapa bukan bedah? Ada beberapa subspesialisasi kalau kamu tidak tertarik mengambil bedah umum.”




“Berhentilah memanggilku dengan sebutan Dak Dok Dak Dok, Ra. Kita tidak sedang  kerja sekarang. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan nama.”



Aku melepas sendokku. Nah, dia benar\-benar aneh, kan? Aku tidak mau terdengar kasar dengan memanggilnya dengan nama saja. “Tapi saya….”



“Panggil Kak Angga saja bisa, kan?”



“Kak Angga?” Aku mengulang kaku.



“Aku lebih tua darimu, kan?”



Di Makassar, kami memang terbiasa menggunakan sebutankakak untuk memanggil orang yang lebih tua. Namun, memanggil dokter Angga dengan sebutan Kak Angga sepertinya kok….



“Hei, aku mencarimu dari tadi!” Suara itu mengalihkan perhatianku. Maya sudah berdiri di dekat mejaku. “Kamu sudah makan? Lho, bukannya kita tadi janjian mau makan di luar? Sekalian beli ponsel, kan? Aku tidak tahu bagaimana kamu melewati beberapa hari ini tanpa ponsel di tangan.”



Astaga, aku lupa! Tadi pagi aku berjanji keluar bersama Maya pada jam makan siang. Aku meringis menatapnya. “Aku kelaparan, May. Aku belum makan dari pagi. Kebetulan ketemu dokter Angga dan dia mengajak ke sini.”



“Kak Angga,” Dokter Angga meralat.



Aku pura\-pura tidak mendengar. “Aku akan menghabiskan makanan ini dulu sebelum kita pergi.” Aku melanjutkan suapanku.



Maya menarik kursi dan menggabungkan diri dengan kami. “Lupakan,” katanya. “Aku ikut makan di sini saja. Setelah itu baru kita langsung ke toko ponsel. Aku adameetingdengan klien jam tiga. Makan sekarang akan menghemat waktu.”



“Eh,  kita bisa membeli ponselnya nanti malam saja, Ra,” sela dokter Angga. “Jam makan siang begini lumayan macet. Bisa\-bisa Maya terlambat meeting.”



“Apa?” Aku menatap bingung. Aku lebih suka berkeliling toko ponsel dengan Maya.



“Kamu tidak lupa janjimu mentraktirku nanti malam, kan?”



“Tapi….” Ya ampun, aku lupa tadi mengusulkan makan malam untuk menggantikan makan siang ini, karena takut dokter Angga terlambat untuk persiapan operasinya. Kupikir karena kami sudah makan sekarang, kami tidak perlu pergi makan malam bersama.



“Kalau begitu aku duluan.” Dokter Angga mendorong kursi dan berdiri. “Harus bersiap untuk operasi. Yang ini aku yang bayar, ya.” Dia mengulas senyum sebelum melambai dan menjauh.



“Sekarang dia jadi Kak Angga, ya?” sindir Maya. “Mencurigakan.”



Aku berdecak mencemooh. “Curiga itu nama tengahmu, kan?”



“Dia suka kamu.” Mata Maya masih di pintu masuk tempat Dokter Angga tadi menghilang. “Kelihatan sekali.”



“Kamu terlalu banyak nonton film romcom. Kami hanya makan bersama. Mengajak makan tidak berarti dia suka kepadaku, kan?”



Maya menatapku malas. “Tidak semua orang yang makan bersamamu menatapmu seperti itu.”



”Seperti apa?” 



“Jangan pura\-pura bodoh.”



Aku tahu ke mana ujung percakapan ini. Aku tidak ingin mendengar Maya kembali berceramah dengan tema lagu dangdut lawas.Tidak semua laki\-laki sama.Aku tidak mau mendengar nama Dio sekarang. Akhir\-akhir ini aku tidak lagi memikirkannya sesering dulu. Bukan berarti aku sudah melupakannya sama sekali. Aku hanya merasa sudah berada di permukaan air, tidak tenggelam lagi. Aku sudah menemukan oksigenku dan tidak sesak napas lagi.



Entah itu waktu, kepasrahan, penerimaan, atau apa pun sebutannya, tetapi intinya aku mulai berhasil mengumpulkan remahan\-remahan diriku yang berceceran. Aku tidak ingin membicarakan orang yang menyebabkan diriku pecah seperti porselen yang dilempar dari lantai dua puluh sebuah gedung dan menghantam aspal di jalan raya. Tidak sekarang.