
Menghindari percakapan tentang Dio dengan Maya tidak lantas mencerahkan sisa hariku. Karena saat aku membuka pintu kamar Lisa setelah kembali dari rumah untuk mandi dan berganti pakaian, aku menemukan si pelempar porselen itu sedang duduk di sofa. Aku harus menelan kembali keyakinanku tadi siang. Aku merasa seseorang menarik kakiku dari kedalaman laut, membuatku gelagapan, dan kehabisan napas. Puing\-puing yang berhasil kukumpulkan itu seperti jatuh kembali dari lantai yang lebih tinggi.
“Hai, Ra.” Dio berdiri dan melangkah canggung ke arahku.
“Hai,” balasku. Aku tidak mungkin mengusir Dio. Dia datang untuk menengok Lisa. Semua anggota keluargaku hanya tahu aku putus dengan Dio, tetapi tak pernah tahu alasannya. Maya satu\-satunya yang tahu persis, dan aku tahu dia tidak akan memberi tahu siapa pun.
“Kak Dio sudah datang dari tadi,” kata Lisa.
Aku hanya menarik sudut bibir. Menuju ke arahnya tanpa menghiraukan Dio yang akhirnya kembali duduk di sofa. “Kamu sudah makan?”
“Sudah, Kak. Tadi disuapi Mama.”
“Ra, bisa bicara sebentar?” Dio membuatku menoleh ke arahnya, meskipun enggan.
Aku menarik napas. Aku tidak punya hal yang ingin kubicarakan lagi. Namun, bersitegang di depan Lisa bukan pilihan baik. Aku kemudian mengusap kaki adikku. “Kakak keluar sebentar, ya.”
Lisa tersenyum menggoda. “Lama juga tidak apa\-apa kok, Kak. Aku tidak perlu ditunggui lagi.”
Aku hanya tersenyum tipis, mengikuti Dio yang sudah lebih dulu keluar.
Dio bersandar di tembok, berhadapan dengan kamar Lisa. Aku mengambil tempat di depannya. Ikut bersandar di sisi pintu kamar Lisa. Bukan aku yang ingin bicara jadi aku hanya diam menekuri lantai, tidak memandang ke arah Dio. Aku melihatnya sekilas saat di dalam tadi. Dia masih terlihat persis seperti yang terakhir kuingat. Masih setampan, setegap, dan semenarik dulu. Yang berubah mungkin hanya air mukanya. Dio hampir tak pernah menampilkan raut serius kepadaku. Kami selalu tertawa bersama. Hanya dengan saling menatap, maka hari seburuk apa pun akan menjadi lebih mudah. Dulu.
“Tiga tahun, Ra.” Dia tidak menyebutkan secara rinci, tetapi aku tahu yang dimaksudnya adalah waktu perpisahan kami.
Apa gunanya berhitung? Tidak ada. Aku telah memutuskan untuk berhenti menghitung hari ketika jumlahnya masih di kisaran lima ratusan, saat menyadari bahwa jumlah yang semakin besar tidak menjamin ingatan itu semakin mengecil.
Aku memutuskan tidak meresponsnya.
“Ra, aku merindukanmu. Merindukan kita,” kata Dio lagi.
Kamu seharusnya memikirkan aku. Memikirkan kita, sebelum membawa wanita lain di antara kita. Namun, aku tidak ingin mengucapkannya.
“Apa kita harus membicarakan ini lagi, Yo?” Ini akan berujung pada permintaan maaf dan aku sudah tidak ingin mendengarnya lagi. Tidak, karena maaf tidak akan mengubah apa pun. Maaf tidak akan menyebabkan aku amnesia dan melupakan apa yang telah terjadi. Maaf tidak akan mengembalikan hubungan kami. Tidak akan pernah sama.
Terima kasih, Maya. “Lalu apa gunanya dibicarakan sekarang, Yo?” Aku membuat keenggananku terlihat jelas.
“Ra,” Dio menyeberang dan berdiri di sisiku. Membuatku dapat menghidu aroma parfum yang dulu sangat akrab dengan hidungku. Itu parfum pilihanku untuknya saat aku merasa dia sudah cukup umur untuk menguarkan aroma selain bau alami tubuhnya. “Aku akan melakukan apa pun untuk memperbaiki semuanya. Apa pun.”
Aku menggeleng muram. “Aku tidak ingin kamu melakukan apa\-apa, Yo. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.” Bahkan, benda rusak pun akan terlihat tambalannya setelah diperbaiki. Apalagi hati.
“Pasti ada sesuatu, Ra,” Dio mendesak.
Aku mengeluarkan apa yang ada dalam kepalaku tadi. “Dengar, Yo. Hubungan kita seperti porselen yang dijatuhkan dari atap gedung paling tinggi di dunia. Kamu tahu seperti apa bentuknya setelah mengempas jalan? Kepingannya terlalu kecil untuk bisa dipunguti dan direkatkan kembali. Tidak bisa diperbaiki lagi, seahli apa pun orang yang mencoba menyatukannya. Yang bisa dilakukan hanya menyapu dan memasukkan puing\-puing itu ke tempat sampah. Berakhir di situ.”
“Jangan lakukan ini kepadaku, Ra. Kamu tahu aku tidak bisa kehilangan kamu,” Dio memohon.
Kami sudah pernah membicarakan ini dulu. “Kamu yang memilih kehilangan aku, Yo. Jangan membuatku terdengar seperti penjahatnya.”
“Aku tahu, Ra. Aku penjahatnya. Aku tahu aku \*\*\*\*\*\*\*\*. Aku menyesali apa yang sudah kulakukan setiap hari. Aku rela kamu memukulku, memakiku, atau berbalik menyakitiku asal kamu kembali kepadaku. Aku benar\-benar rindu kamu. Aku rindu kita. Rindu yang menyakitkan.” Dio terduduk. Jongkok di samping kakiku. Sebelah tangannya mengusap wajah dan sebelah lagi memegang celana panjang di bagian betisku. “Aku mohon, Ra. Semua hal kecil remeh yang kita lakukan dulu terasa sangat berharga saat aku mengenangnya. Aku rindu bicara denganmu, aku rindu bertengkar, aku bahkan rindu berada di ruang yang sama denganmu tanpa bicara apa\-apa. Hanya dengan menyadari kamu ada di dekatku. Aku tidak mau kehilangan itu, Ra. Aku tidak bisa.”
Aku merasa mataku ikut basah. Aku belum lupa semua itu. Bagaimana aku lupa, Dio berada di sisiku seumur hidup kecuali tiga tahun terakhir. Dio yang mengusap punggungku saat Mama membuatku merasa tidak diinginkan. Menghapus air mataku saat menangis. Memasakkan mi rebus saat kami akan menonton pertandingan bola liga Eropa di akhir pekan. Dio memaksa menyuapi saat aku sedang kehilangan nafsu makan atau sedang sibuk dengan textbook\-ku. Dio bahkan juga akan membuka berbagai situs untuk mencarikan berbagai jurnal kedokteran yang menjadi tugas kuliahku meskipun dia juga punya tugas lain. Dan dia bahkan tidak kuliah kedokteran. Dia lebih dulu hafal semua nama latin yang digunakan untuk anatomi tubuh manusia karena harus membantuku menghafalnya.
Namun, apa yang telah dilakukannya bukan hal yang bisa kumaafkan atau kulupakan dengan mudah. Ini menyangkut kepercayaan. Dan seperti kata Hadi, kepercayaan bukan barang yang bisa diisi ulang. Kepercayaan berhubungan dengan ingatan. Aku tidak akan bisa percaya lagi kepada Dio karena jelas tidak akan melupakan perbuatannya. Dan hubungan macam apa yang bisa dijalin tanpa kepercayaan?
“Aku tidak bisa, Yo.” Aku akhirnya menjawab juga. Dio tidak akan memutus percakapan ini kalau bukan aku yang menghentikannya.
“Kamu tidak mencintaiku lagi, Ra? Kita sudah bersama seumur hidup.”
Aku menyusut mata. “Kita hanya akan saling menyakiti kalau memaksakannya, Yo. Aku akan menghabiskan waktu mencurigaimu, dan kamu akan kelelahan membuatku percaya. Apa yang bisa diharapkan dari hubungan seperti itu?”
“Aku tidak peduli, Ra. Aku hanya mau kamu. Itu cukup.” Dio menggeleng, menolak mendengarkanku.
“Tapi aku peduli, Yo.” Aku menariknya berdiri. Aku tiba\-tiba merasa kasihan pada Dio. Dia tidak terlihat seperti Dio\-ku. Namun, dia memang bukan Dio\-ku lagi.