
“Kita masih punya misi menyelamatkan putrimu. Kita harus bergerak cepat,” sang Penjemput mengingatkannya lagi.
Ernest berjalan menyusuri lorong gang yang panjang di antara bangunan-bangunan. Dia ingin berlari namun tubuh itu terlalu lelah.
“Apa karena pemilik tubuh ini telah mati ya? Aku merasa sangat lelah sekali,”
“Tidak Ernest, pemiliknya hanya meninggalkan tubuh ini dan tidak ingin berada di dalamnya lagi,”
“Aku harus bertemu dengan Hanna, nyawanya saat ini terancam oleh Gerald. Bisakah kamu membantuku agar aku bisa bergerak lebih cepat?”
“Aku bukan perimu, Ernest. Aku ini sang Penjemput. Gunakan kekuatanmu sendiri!”
“Bagaimana caranya?” tanya Ernest.
“Bukankah sebelumnya kamu bisa menggunakannya saat bertarung denganku? Ayolah, kamu harus ingat-ingat saat …”
ZLAAAP!
Tiba-tiba Ernest hilang dari hadapan sang Penjemput.
Sang penjemput tersenyum dengan ekspresi wajah lucu. Dia menduga kalau Ernest pasti secara tidak sengaja menggunakan kekuatannya lagi. Sang Penjemput mengetahui tujuan Ernest, kemudian dia menyusulnya.
Setibanya di rumah Hanna. Ernest terkejut karena tidak menemukan siapapun di dalam rumah itu. Ernest merasa panik, berkali-kali dia memeriksa setiap kamar berharap ada keajaiban dia melihat putrinya dan Mr. Jack, namun dia tetap tidak menemukannya.
“Jack! Hanna! April!”
“Hanna! Ini Ayah!”
Ernest mulai merasa frustasi.
“Jack! Di mana kalian?”
Ernest terus berteriak- teriak memanggil-manggil nama mereka. Tiba-tiba rasa takut menyergap dihatinya. Rasa takut itu adalah takut kehilangan orang-orang yang dia cintai.
Tidak berapa lama kemudian, Thomas dan beberapa anak buahnya pun tiba.
“Hei, siapa kamu? Sedang apa kamu disini?” tegur Thomas waspada saat melihat Ernest dengan tubuh yang baru.
Thomas dan anak buahnya menodongkan senjata ke arah Ernest. Ernest gugup karena merasa terpojok.
“Tunggu … tunggu … ini aku,” sahut Ernest memohon dengan panik.
“Tangkap dia, kita bawa dia ke kantor Pasukan Khusus,” perintah Thomas. Beberapa anak buahnya langsung menangkap Ernest, namun Ernest tidak melawannya. Dia tidak ingin celaka saat melawan anak buah Thomas.
“Cari Hanna dan Jack,” perintah Thomas lagi kepada anak buahnya yang lain.
“Thomas … Thomas … Ini aku … Ernest,” sahut Ernest sambil menunjuk dadanya sendiri.
Thomas yang semula mengabaikannya langsung menoleh pada Ernest. Thomas mengerutkan dahinya.
“Ernest?” tanya Thomas.
Ernest merasa senang karena dia menduga bahwa Thomas telah mengingatnya. Dia tersenyum pada thomas dan mengangguk.
“Ernest siapa? Aku tidak mengenalmu,”
Sesaat Ernest merasa putus asa.
“Ini aku Ernest, petugas Pasukan Khusus yang pernah ada di tubuh … oh maksudku rumahmu,” Ernest segera mengoreksi ucapannya agar mereka berdua tidak tampak aneh di hadapan anak buah Thomas. Ernest bersusah payah mengatakan petunjuknya yang dia pikir hanya dia dan Thomas yang mengetahuinya.
Namun harapannya jadi pupus, melihat reaksi Thomas tatapan datar dan wajah tanpa ekspresi sama sekali.
“Aku ayahnya Hanna,” Ernest terus mencoba meyakinkan Thomas.
Air muka Thomas mulai berubah, tapi Thomas terlihat sedang mempertahankan ekspresi wajah kerasnya.
Awalnya para pengawalnya merasa ragu, namun segera mereka melepaskan genggaman mereka dari Ernest sebelum Thomas memerintahkannya lagi.
“Kami tidak menemukan siapapun, Tuan,” lapor Andre setelah menerima laporan dari salah seorang anak buah Thomas lainnya.
“Di mana mereka, Ernest?” tanya Thomas.
“Aku tidak tahu. Aku tiba disini, dan mereka sudah tidak ada. Bisakah kamu menemukannya untukku?” ujar Ernest.
Thomas tidak menjawabnya, dia malah memanggil Andre dan mereka saling berbisik mengatur rencana pencarian Hanna dan Jack. Setelah Thomas membicarakan dengan Andre, dia kembali kepada Ernest dan mengajaknya keluar rumah. Dia tidak ingin yang dibicarakannya terdengar oleh anak buahnya.
“Apa rencanamu sekarang? Apakah kamu punya petunjuk atas hilangnya mereka?” tanya Thomas sambil berjalan-jalan di halaman rumah Ernest.
“Aku akan lapor Petugas Kesatuan. Aku juga akan membantu mereka dalam pencarian. Namun aku tidak bisa melapor dengan tubuh baruku. Bisakah kamu membantuku?” ujar Ernest.
“Apa yang membuatmu berpikir kalau aku bisa membantumu?” tanya Thomas.
“Mereka tahu siapa kamu, mereka tidak akan meragukanmu. Bantulah aku lagi, Tuan Thomas,” Ernest memohon pada Thomas dengan sopan.
Saat ini bantuan satu-satunya yang bisa diharapkan adalah dari Thomas.
“Baiklah, aku akan membantumu,” ujar Thomas.
“Terima kasih Tuan Thomas atas niatmu untuk membantuku,” sahut Ernest bernafas lega.
"Kita harus mempunyai rencana untuk menemukan Hanna. Kita tidak bisa mengandalkan para Pasukan Khusus saja, namun kita harus mempunyai rencana sendiri. Para Pasukan Khusus hanya akan mempersempit ruang gerak Gerald saja. Aku akan memerintahkan anak buahku, untuk mencari di mana persembunyian Gerald,"
Ernest mengangguk setuju.
“Sebaiknya kita bergerak cepat, aku mencemaskan Hanna. Aku takut Gerald akan melukai Hanna,” kata Ernest.
“Hanna hilang bersama Jack dan April, kemungkinan mereka pergi bersama. Mereka berdua pasti akan menjaga Hanna dengan baik,” kata Thomas mencoba menenangkan Ernest.
“Tuan Thomas!” panggil Andre.
Andre tidak berani mendekati Thomas saat tuannya itu sedang berbicara serius dengan Ernest.
Thomas menoleh ke arahnya dan memberikan tanda melalui tangannya agar Andre mau mendekat ke arahnya. Andre mengerti tanda yang diberikan oleh Thomas, kemudian Andre berlari kecil untuk menghampiri tuannya.
“Tuan …” kata Andre. Dia berdiri tegak disisi Thomas, namun sepasang bola matanya berkali-kali melirik ke arah rumah Ernest. Thomas segera mengetahui bahwa ada hal serius yang akan dibicarakan oleh Andre.
Thomas meminta Andre untuk berbisik kepadanya. Andre menuruti perintah tuannya. Dia membisikkan sesuatu membuat ekspresi wajah Thomas semakin serius dibuatnya.
Ernest merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Andre kepada Thomas.
“Ada apa, Tuan?” tanya Ernest.
“Ada apa, Andre? Ada apa…” desak Ernest. Andre yang namanya disebut oleh Ernest merasa terkejut, karena dia tidak pernah mengenal Ernest sebelumnya.
“Sebaiknya kamu tunggu disini,” sahut Thomas yang kemudian melangkah ke arah rumah Thomas dan diikuti oleh Andre. Dari dalam rumah muncul Donny yang menyambut Thomas.
Firasat Ernest memburuk, dia segera berlari untuk menyusul Thomas ke dalam rumah, namun ditahan oleh anak buah Thomas.
“Kamu tunggu saja di situ, Ernest! Aku akan segera mengabari kamu. Jaga dia jangan sampai masuk. Kalian tunggu di luar, karena sebentar lagi para Pasukan Khusus akan tiba disini,” perintah Thomas.
Thomas mengikuti Donny ke dalam rumah. Ternyata Donny ingin menunjukkan bahwa ada bercak darah di kamar Hanna dan April, membuat Thomas merasa sangat khawatir akan nasib Hanna dan April. Dia memerintahkan Donny dan anak buahnya untuk segera mencari keberadaan Hanna.
“Bagaimana dengan para Pasukan Khusus?” tanya Donny.
“Buat dua kelompok saja. Satu kelompok bergerak bersama para Pasukan Khusus, sementara kelompok lainnya bergerak diam-diam di luar pantauan mereka,” sahut Donny.
Ternyata Ernest berhasil mendengarkan rencana mereka.
‘Baiklah, aku juga akan bergerak diam-diam,’ batin Ernest.