Second Chance

Second Chance
Dua : Orang Baru



Rei benar\-benar menyebalkan. Dia menagih utang jagaku minggu lalu dengan membersihkan luka gangren seorang pasien diabetes melitus.



“Baunya melekat, Ra,” katanya dengan tampang sok memelas. “Aku akan kesulitan makan siang kalau tetap mengerjakannya. Ada banyak belatung yang harus dikeluarkan dari situ. Makan waktu lama mengerjakannya. Perempuan lebih telaten untuk urusan seperti itu.”



Sial. Sekarang aku menyesal membiarkannya menggantikanku jaga. Aku toh tetap tidak bisa tidur juga malam itu.



“Dan kamu menyebut dirimu dokter?” geramku.



Rei hanya menyeringai saat meletakkan sarung tangan karet yang seharusnya dia pakai. “Ganti dengan M. Ini ukuranku.” Kemudian, dia pun berlalu begitu saja.



Aku terpaksa masuk ke ruang tindakan setelah mengenakan sarung tangan dan masker. Rei tidak salah tentang bau khas pasien gangren. Masker sama sekali tidak membantu menghalau bau itu. Apalagi, luka pasien ini sudah dihuni belatung. Aku menghabiskan hampir satu jam mencabut ulat\-ulat gendut berwarna putih itu sebelum menggunting bagian kulit yang sudah mati di sekitar luka dan memulai perawatan lukanya.



Bila boleh memilih, sebenarnya aku lebih suka menjahit luka yang besar daripada harus merawat pasien gangren. Sayangnya, dokter tidak bisa memilih jenis penyakit pasien yang  ditanganinya.



“Sudah selesai, Ra?”  Hadi muncul di ruang tindakan sambil mengunyah. Di tangannya masih ada sepotong roti. Ya ampun, dia tidak terlihat tobat setelah sembuh dari diare. Tanpa peduli, dia makan di tempat kuman bebas beterbangan, merdeka sambil tertawa.



“Sudah, kamu terlambat.” Aku melepas sarung tangan dan masker, lalu mencuci tangan dengan sabun di wastafel.



Hadi tertawa. “Jangan ge\-er dulu, Ra. Aku ke sini bukan mau membantumu. Aku menjemputmu dan menyusul Rei ke rumah makan. Jam jagamu sudah selesai, kan?”



“Jam jaga Rei,” ralatku sebal.



“Dia akan menebusnya. Dia yang traktir.”



“Ulang tahunnya sudah lewat, kan?” Hampir tiga tahun mengenal Rei, aku tahu dia sangat menghargai jumlah rupiah yang dihasilkan tetesan keringatnya. Sederhananya, dia pelit. Jadi, aku agak curiga saat Hadi memberi tahu kalau Rei akan mentraktir kami makan.



“Siapa yang peduli? Kau tak perlu alasan untuk ditraktir.”



Perjalanan dari rumah sakit ke rumah makan tidak sampai sepuluh menit ditempuh dengan mobil dinas. Tempatnya sederhana, tetapi sup kepala kakapnya luar biasa.



Aku bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Ibu kota kabupatennya tidak besar meskipun wilayahnya cukup luas. Kebanyakan merupakan daerah pesisir, sehingga sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil laut.



Pasarwajo, ibu kota kabupaten yang kami tempati ini belum terlalu berkembang. Sulit mencari tempat makan yang sesuai selera. Jadi, untuk makan sehari\-hari biasanya kami \(aku dan Hadi\) memasak untuk dimakan bertiga. Kalau sedang sibuk atau malas, kami akan menggantungkan diri pada rumah makan untuk mengisi perut. Biasanya di rumah makan dengan menu sup kepala ikan yang kami datangi sekarang.



Rei sudah ada di dalam ketika kami masuk. Keningku berkerut saat melihatnya tidak sendiri. Aku belum pernah melihat lelaki yang duduk di depannya itu. Aku, Rei, dan Hadi seperti tiga serangkai yang hampir selalu bersama  karena tidak punya teman lain yang cukup dekat di perantauan ini. Semua teman kami adalah staf di rumah sakit, dan laki\-laki itu bukan salah seorang di antaranya.



“Siapa?” bisikku pada Hadi. Kami berjalan mendekati meja Rei.



“Residen Bedah.” Hadi ikut merendahkan suara. Kami mirip dua perempuan yang sedang bergosip. “Baru tiba tadi malam.”



“Oh….” Residen bedah yang terakhir memang sudah pulang ke Makassar setelah masa praktiknya selesai dua minggu lalu. Pantas aku belum pernah melihatnya.



“Kenalkan ini dokter Angga, Ra,” kata Rei saat aku dan Hadi sampai di meja mereka. Hadi tidak ikut diperkenalkan. Berarti, mereka sudah bertemu sebelumnya. “Dok, ini Rara, teman PTT kami yang lain.”



Sebenarnya aku tidak ingin mengulurkan tangan lebih dulu. Memang tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan laki\-laki mengulurkan tangan lebih dulu dalam prosesi perkenalan, tapi kurasa itu sudah seharusnya. Namun, dokter Angga tidak terlihat punya keinginan untuk mengulurkan tangan. Sambil mengembuskan napas, aku menyodorkan tangan lebih dulu. Seandainya profesi dokter tidak menjunjung tinggi nilai senioritas, aku enggan melakukannya.



“Rara,” kataku tanpa semangat.



“Angga.” Laki\-laki itu buru\-buru menarik tangannya yang belum melekat dalam genggamankuseolah tanganku adalah sarang bakteri yang bisa langsung menginfeksi. Dia sama sekali tidak merasa perlu melihatku.



Ya ampun, dia sombong sekali. Baru juga residen. Pasti ada tempat khusus di dasar neraka untuk orang\-orang angkuh sepertinya. Tidak ada orang yang bisa mencium bau surga dengan sifat seperti itu. Aku juga bukan tipe orang yang menebar senyum di sana sini, tetapi selalu berusaha menaruh perhatian kepada orang yang mengajakku bicara. Perhatian, simpati, dan empati adalah senjata utama dokter. Kami menjual jasa. Tidak akan ada pasien yang kembali bila dilayani dengan tampang masam dan ketus. Kurasa nilai etika profesi dr. Angga tidak terlalu baik. Teman sejawat saja dianggap angin lalu.



“Makan apa?” tanya Rei.



“Biasa.” Aku dan Hadi menjawab bersamaan. Sebenarnya selera makanku sudah terjun bebas. Mungkin menggelikan bagi orang lain, tetapi selera makanku berbanding lurus dengan suasana hati.Suasana hatiku sudah telanjur buruk karena sikap yang ditunjukkan Dokter Angga.



Ya ampun, kalau dia mau pasang wibawa, dia seharusnya melakukannya di depan para perawat muda, atau mahasiswa labil yang sedang praktik di rumah sakit. Gadis\-gadis yang selalu menatap Rei dan Hadi dengan sorot memuja.



Aku diam saja, tidak ikut dalam obrolan tiga laki\-laki yang duduk satu meja denganku. Memilih mengurus ayam\-ayam di pertanian virtual di gawaiku, lalu menyuap pelan\-pelan ketika makanan kami datang. Aku bahkan tidak berniat melarang saat sendok Hadi mulai bergerilya di mangkuk sup kepala ikan milikku. Dia kemudian menarik mangkuk itu depannya begitu melihatku meletakkan sendok makan di tengah piring nasi dengan posisi menutup.



“Sakit gigi, Ra?” tanya Rei. “Tumben tidak kalap ketemu kepala kakap.”



Aku memaksakan senyum. “Aku menahan diri, Rei. Aku tahu kamu sangat berat menarik uang dari dompetmu.”



Rei tertawa. “Jangan khawatir, dokter Angga yang bayar, kok. Kamu bisa makan sepuasnya.” Dia melirik dokter Angga seakan meminta persetujuan. “Iya, kan, Dok?”



 “Iya, pesan saja.” Dokter Angga menjawab datar.Dia tetap menekuri piringnya, seolah potongan ikan yang ada di situ akan melompat kalau tidak dipelototi.



Astaga, seharusnya aku sudah menduga. Rei tidak akan mengeluarkan dompet dengan sukarela untuk membayar makanan kami. Seringnya, aku atau Hadi yang harus membayar bagiannya. Aku lalu mendorong kursiku ke belakang. berjalan menuju lemari es di dekat kasir untuk mengambil satu botol teh lagi. Hanya kamuflase, karena aku langsung membayar apa yang sudah aku makan. Aku tidak akan membiarkan makananku dibayar orang sombong yang belum setengah jam kukenal itu.



Ketiga laki\-laki itu sudah selesai makan ketika aku kembali ke meja dengan teh botol di tangan. Mereka sedang membicarakan seorang profesor yang juga kukenal saat masih co\-\*\*\*. Dia adalah mimpi buruk semua co\-\*\*\* yang harus visit pasien bersamanya. Melakukannya tanpa mempelajari rekam medis pasien lebih dulu untuk mengetahui perjalanan penyakitnya, akan berakhir pada pembantaian. Kelenjar keringat dan adrenalin berproduksi maksimal saat berada dalam satu sif visit dengannya.




“Rara tidak pernah mengulang,” Hadi yang menjawab. “Kami dulu sama\-sama di bagian bedah. Dia kesayangan Prof. Hasan.”



“Rokmu pasti pendek ya, Ra,” ejek Rei.



Aku berdecak kesal. “Aku tidak perlu pamer paha untuk dapat nilai bagus, Rei. Aku yakin kamu juga tidak perlu mengulang kalau menghabiskan waktu lebih banyak membaca textbook ketimbang menggoda mahasiswa praktik.”



Rei mengumpat, tetapi segera menyambung tawa Hadi. Dokter Angga diam saja. Kalimat yang tadi kulempar memang bukan lelucon kelas stand up comedy, tetapi aku yakin bisa mengundang senyum. Buktinya Hadi dan Rei tergelak keras. Ya, beberapa orang memang miskin selera humor, atau sombong. Atau gabungan keduanya.



Sampai kami meninggalkan rumah makan, dokter Angga tidak sekali pun mengajakku bicara, meskipun sekadar basa\-basi. Boro\-boro bicara, menatap pun enggan.  Aku tidak berharap penghargaan dari seseorang yang baru saja berkenalan denganku. Namun, diperlakukan seperti embusan angin yang tak kasatmata juga sedikit menyinggung ego. Aku gampang kehilangan respek pada orang\-orang seperti Dokter Angga.



\*\*



Aku sedang memasukkan roti ke panggangan ketika Rei dan Hadi masuk ke rumahku, langsung ke dapur setelah mengucap salam.



“Airnya mendidih.” Aku menunjuk ketel yang menjerit\-jerit.



Hadi mengurungkan niat duduk di depan meja makan. Dia segera menuju kompor untuk mematikannya, lalu mengambil cangkir dari rak piring dan menjajarnya di meja batu. Kopi instan, gula, dan krimer juga ikut dikeluarkan dari lemari gantung. 



Hadi seperti adik perempuan menyenangkan yang kutemukan di tempat tugas, sedangkan Rei lebih sering bertingkah seperti tamu yang menyebalkan. Namun, secara ajaib cocok dalam kelompok kami.



“Kok empat cangkir, Di?” tanpa sadar aku menghitung jumlah cangkir yang dijajar Hadi. “Kamu butuh ekstra kopi? Kamu tidak jaga pagi, kan?”



“Untuk dokterAngga.”



Tanganku yang hendak mengambil roti berhenti di udara. “Dia mau sarapan dengan kita?”



“Tentu saja dia sarapan dengan kita, Ra,” jawab Rei. “Bukan hanya sarapan, seterusnya dia akan makan dengan kita. Tidak masalah, kan? Dia hanya tinggal dua bulan, kok. Dia bisa saja mengambil makanan dari Instalasi Gizi, tapi kamu tahu sendiri makanan di sana seperti apa.”



Ini menyebalkan. “Kalian sudah memutuskan sebelum bicara denganku? Kuingatkan, ya, yang paling sering memasak itu aku!” Mereka tidak bisa seenaknya memasukkan orang sombong itu ke rumahku tiga kali sehari untuk mengisi perut.



Semalam aku berpapasan dengan dokter Angga di koridor rumah sakit. Meskipun terpaksa, aku mengulas senyum basa\-basi. Namun, dia hanya lewat begitu saja tanpa membalas senyumku.  Aku memang tidak memakai jas dokter, tetapi aku yakin dia mengenaliku karena siangnya kami makan bersama. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam di rumah makan itu. Mustahil memorinya tidak merekam sosokku.



“Tentu saja tidak gratis, Ra.” Rei mendekat dengan suara membujuk. “Dia akan membayar iuran bulanan untuk belanja.”



Ini bukan soal uang. Aku sudah telanjur jengkel kepada laki\-laki itu. Kesan pertamaku sama sekali tidak bagus. Aku jarang salah menilai seseorang pada pertemuan pertama.Apalagi setelah ditambah kejadian semalam.



“Kasihan dia, Ra,” Hadi ikut membujuk. “Kita toh tetap masak seperti biasa, kan? Jumlahnya saja yang ditambah.”



“Kamu kenapa sih, Ra?” Rei sudah berdiri di depanku. “Biasanya juga tidak ribut soal remeh begini. Dua orang residen sebelumnya makan dengan kita juga, dan kamu senang\-senang saja.”



Tentu saja aku senang, dua orang residen sebelumnya punya kadar keramahan di atas rata\-rata. Memperlakukan aku seperti manusia yang cukup berharga untuk dilihat dan diajak bicara. Mereka malah ikut membantu di dapur, walaupun kurasa itu karena mereka perempuan dan memang suka memasak.



 “Kamu punya masalah dengan dokter Angga?” Hadi seperti mengerti keenggananku.  “Kemarin kamu membayar makananmu sendiri, kan?”



“Masalah apa?” Aku mengelak. “Baru juga kenal kemarin. Aku hanya tidak nyaman dibayari orang  yang belum aku kenal baik.”



“Ra, kamu tidak harus bersahabat dengan seseorang untuk membiarkannya membayar makananmu.” Rei terkekeh. “Ya Tuhan, Ra, menerima pemberian orang itu bukan dosa.”



Aku mendengkus. “Prinsip kita beda, Rei. Aku bukan kamu.”



“Aku menyukaimu karena punya prinsip hidup seperti itu.”



“Dan aku tidak tahu mengapa aku masih berteman denganmu.”Aku menggeleng\-geleng. Aku sendiri heran karena tidak bisa benar\-benar bisa marah kepada laki\-laki gagal dewasa yang penuh perhitungan ini.



“Mengapa kamu tidak mau dokterAngga bergabung dengan kita?” Hadi ikut mencecarku. “Kamu tidak suka dia?”



Perasaan Hadi memang halus. Dia selalu bisa menangkap jelas apa yang kurasakan. Kebersamaan selama hampir tiga tahun membuatnya mengenalku dengan baik.



“Kenapa aku harus tidak suka?” Aku menghindar dan balik bertanya. “Untuk tidak suka kepada seseorang, kita harus mengenalnya lebih dulu, kan?”



“Jadi dia boleh gabung makan dengan kita?”



Akan terlihat aneh dan menimbulkan pertanyaan lebih banyak lagi kalau aku terus berkeras menolak. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.



“Aku akan memanggilnya sarapan.” Rei berbalik menuju ruang tamu, tempatnya tadi masuk. “Dia tadi ragu\-ragu ikut ke sini. Katanya kamu mungkin tidak suka dia ikut bergabung.”



Baguslah kalau dia punya perasaan. Dia tidak mungkin berharap aku akan merentangkan tangan lebar\-lebar menyambutnya setelah membuatku merasa seperti benalu di pertemuan pertama. Hah, lihat siapa yang menjadi benalu sekarang. Yang jelas, orang yang akan memercayakan kelangsungan hidup dan saluran pencernaannya pada orang lain itu bukan aku!