Second Chance

Second Chance
Lima Belas : Perhatian



Aku memerlukan waktu mengumpulkan kesadaran saat terjaga. Aku lantas teringat kalau aku tidur di ruang jaga dokter karena dokter Angga membawaku ke sini. Aku bangkit dan duduk di ranjang kecil yang akrab saat aku masih co\-assdulu.



“Sudah bangun?” Dokter Angga menyapa. Dia duduk di kursi yang ada di ruangan itu. “Kamu pulas sekali.”



Aku melirik pergelangan tangan dan terkejut. Aku tertidur cukup lama. Sekarang sudah malam. Maya pasti sudah datang mencariku. Aku berdiri dan menyisir rambut dengan jari, sekadar merapikan. Saat seperti ini, terasa sekali untungnya memiliki rambut lurus.



 “Terima kasih, Dok,” sambutku kikuk.



“Makan dulu. Ini ada ayam goreng.” Dokter Angga menarik pergelangan tanganku dan mendudukkan aku di depan meja. Dia lalu membuka kotak berisi ayam dan nasi. Ada puding juga. “Sebentar.” Dia  meraih tanganku dan mengusapnya dengan tisu basah. “Kamu bisa makan sekarang,” katanya setelah selesai.



Aku merasa wajahku merona. Merasa canggung dengan perlakuannya yang terlalu baik setelah adegan perpisahan kami yang tidak bisa dibilang menyenangkan. Aku mencoba tidak memikirkannya lebih lanjut. Aku meraih potongan ayam dan mulai mengigitnya. Mengunyah pelan\-pelan. “Dokter tidak ikut makan?” tanyaku berbasa\-basi untuk mengusir jengah.



“Aku sudah makan tadi.”



Aku mengangkat kepala sejenak untuk melihatnya. Dokter Angga sudah berganti pakaian. Berarti jam jaganya sudah selesai. Dan berarti juga kalau dia masih berada di sini karena aku. Perasaan tidak enak semakin menyelimutiku. “Terima kasih, Dok,” kataku lagi. Dia sudah membawaku beristirahat di sini, menunggui, dan membelikan makan.



“Kamu tidak pernah mengangkat telepon dan menjawab pesanku.” Dia tidak menanggapi. Dia memang berkali\-kali menghubungiku lewat telepon setelah kepergiannya meskipun tidak pernah kuangkat. Aku masih terlalu jengkel dengan sikap sok bijaknya malam itu. “Tadi Hadi menghubungiku dan bilang kamu sudah ke Makassar karena adikmu kecelakaan. Tapi dia tidak bilang kalau adikmu dirawat di sini. Aku lalu mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif.”



Aku memang tidak memberi tahu Hadi dan Rei tempat adik\-adikku dirawat.



“Ponsel saya hilang, Dok.” Aku berharap dia tidak lanjut membahas mengapa aku tidak menjawab telepon dan pesan\-pesannya.



“Oohh….” Dia mengangguk\-angguk. “Kondisi adikmu bagaimana?”



“Satu sudah di ruang perawatan dan satunya lagi masih di ICU, Dok.”



“Mereka berdua?”



“Iya, mobil mereka terbalik setelah menabrak pembatas jalan. Saya juga belum tahu kronologi peristiwanya.”



“Oh, aku kemarin sempat ikut mengoperasi pasien kecelakaan. Seorang gadis. Tulang rusuknya patah dan melukai jantung. Kuharap dia bukan adikmu.”



Aku menghentikan gerakanku menyuap. “Itu memang dia, Dok. Prognosisnya bagaimana?” tanyaku takut\-takut.



“Prof. Harun yang memimpin operasinya kemarin. Adikmu akan baik\-baik saja, meskipun proses penyembuhannya makan waktu.”



Tidak masalah, yang penting Yana bisa pulih seperti sediakala. “Tapi dia belum sadar, Dok.”



“Tidak lama lagi dia pasti sadar. Hanya masalah waktu. Aku lebih mengkhawatirkan kamu.”



“Saya?” Aku kembali merasa wajahku hangat. Dokter Angga benar, aku dalam kondisi tidak normal. Jiwaku labil sekarang.



“Iya, kamu. Ada masalah lain, selain adikmu?”



Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Aku kemudian mencabut tisu basah dari bungkusnya untuk membersihkan tanganku dari sisa nasi dan minyak ayam. “Saya harus kembali ke ruang perawatan adik saya sekarang, Dok. Mereka pasti mencari saya.”



“Aku akan mengantarmu ke sana.”



“Tidak perlu, Dok,” tolakku, merasa tidak enak menerima kebaikan beruntun ddari dokter Angga. “Saya bisa sendiri. Saya baik\-baik saja. Sungguh.”



“Ayo!” Laki\-laki itu seperti tidak mendengar penolakanku. Dia malah sudah menarik tanganku setelah memakai ranselnya.



Aku terpaksa mengikutinya keluar dari kamar jaga. Berjalan bersisian. Tangannya masih berada di pergelanganku, menggenggam erat. Mungkin dia berpikir kalau aku masih butuh penopang. Tangan itu hangat. Terasa nyaman. Karena itu, aku membiarkannya. Aku hanya perlu menunggu dokter Angga sadar jika dia masih memegang tanganku dan melepasnya. Namun, genggaman itu berlangsung lebih lama dari dugaanku. Dia baru lepaskan tangannya setelah langkah kami berhenti di depan kamar Lisa.



Aku mendorong pintu dan mendahului dokter Angga masuk. Dari gesturnya aku merasa dia akan ikut masuk. Lebih baik begitu supaya dia bisa melihat keadaan Lisa. Hanya ada Tante Ratna dan Lisa yang sudah terjaga di dalam kamar.



“Kakak dari mana saja?” tegur Lisa saat aku sudah di sisi tempat tidurnya. “Kak Maya tadi menanyakan Kakak.”



“Kakak tadi ketiduran di ruang jaga dokter,” jawabku. Aku sudah menduga Maya mencariku. “Maya mana?”



“Katanya keluar mencari Kakak. Belum lama.” Lisa mengalihkan perhatian pada dokter Angga lalu kembali padaku dengan pandangan bertanya.



“Aku teman Rara.” Dokter Angga rupanya memahami arti tatapan Lisa. “Angga. Bagaimana keadaanmu?”



Lisa tersenyum. “Mendingan. Kak Angga dokter juga?”



Dokter Angga mengangguk. “Iya. Tampang dokter ketahuan, ya? Menakutkan?”



Lisa tertawa kecil pada guyonan itu. “Soalnya Kak Rara tidak punya teman laki\-laki yang bukan dokter. Kehidupan sosialnya menyedihkan.”



Dokter Angga ikut tersenyum.  “Kedengarannya memang menyedihkan.”



“Aku ada di sini, Lisa,” potongku sebal.



“Wah, orangnya marah.” Lisa mengerling jenaka.




Aku lalu menjauhkan diri dari tempat tidur Lisa dan menyusul Tante Ratna duduk di sofa. Aku harus bicara dengannya. Namun, tentu saja tidak sekarang, dan tidak di ruangan di mana Lisa dapat mendengar apa yang kami bicarakan.



“Aku mau bicara dengan Tante,” bisikku. “Di luar.”



Tante Ratna menatapku dengan kening berkerut. “Tentang apa?”



“Nanti juga Tante tahu.” Aku menoleh pada Lisa. “Lisa, Kakak dan Tante Ratna keluar sebentar, ya. Tidak apa\-apa ditinggal, kan?”



“Tante Mawar akan segera datang,” Tante Ratna yang menjawab.



“Aku akan menemaninya di sini sampai kamu kembali, Ra,” ujar dokter Angga.



“Tidak perlu, Dok. Tanteku akan datang sebentar lagi.” Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk membujuk Tante Ratna supaya mau bicara. Aku tidak akan membiarkan dokter Angga menunggui Lisa selama itu.



“Tidak apa\-apa, Ra,” dokter Angga berkeras.



Aku tidak mau menghabiskan waktu berdebat dengannya. “Terserah dokter saja,” jawabku.  Aku menggandeng tangan Tante Ratna keluar kamar.



Kami keluar dari gedung rumah sakit dan mencari tempat duduk yang ada di dekat tempat parkir.



“Apa yang mau kamu bicarakan, Ra?” tanya Tante Ratna setelah kami duduk bersisian.



“Aku mendengar apa yang Tante Ratna dan Mama bicarakan tadi siang.” Meskipun penerangan hanya berasal dari lampu taman yang tidak bisa dibilang benderang, aku masih dapat melihat raut terkejut Tante Ratna. Wajahnya pias. “Aku hanya mendengar sedikit. Jadi, aku sama sekali tidak mengerti tentang apa yang menyebabkan Mama bersikap seperti ini kepadaku.”



“Rara,” Tante Ratna menggenggam tanganku. “Tante tidak berhak mengatakan apa pun. Mamamulah yang harus bercerita.”



Jadi benar ada sesuatu yang ditutupi dari aku. “Dan Tante pikir Mama mau menceritakannya? Ayolah, Tante,” desakku. Aku tidak akan membiarkan Tante Ratna berkelit.  “Aku meminta ini dari Tante karena tahu tidak akan mendapatkannya dari Mama.”



Tante Ratna terdiam sejenak. Mungkin menimbang\-nimbang. “Baiklah,” putusnya kemudian. “Tapi Tante harus minta izin mamamu dulu sebelum melakukannya.” Dia mengeluarkan ponsel. Bicara dengan Mama selama beberapa menit sebelum menutup telepon itu dan kembali menatapku. “Mamamu bilang dia menunggumu di rumah untuk membicarakannya. Kalian memang harus menyelesaikan  masalah ini berdua, tanpa campur tangan orang lain, termasuk Tante.”



“Tante….” Aku mencoba menawar. Aku tidak yakin bisa bicara dengan Mama. Berada dalam satu ruangan saja terasa canggung, apalagi kalau kami harus bicara dari hati ke hati. Aku tidak yakin tembok pembatas tinggi dan tebal yang sudah kami bangun dan rawat kokoh selama bertahun\-tahun dapat runtuh dengan mudah dalam hitungan menit, hanya karena kami bertekad untuk berbaikan.



“Rara,” Tante Ratna mengelus  punggung tanganku yang berada dalam genggamannya. “Tante hanya bisa bilang jika mamamu sangat menyayangimu. Dia mungkin melakukan beberapa kesalahan yang membuat hubungan kalian memburuk, tetapi itu ada alasannya. Dan hanya dia sendiri yang berhak mengatakannya.” Dia berdiri. “Pulanglah. Tante akan kembali ke atas.”



Aku masih duduk di tempatku lama setelah Tante Ratna pergi. Aku berusaha mengumpulkan keberanian menghadapi percakapan sesungguhnya dengan Mama. Meskipun tidak ingin, benakku mulai menyimulasi adegan yang mungkin akan kulakukan dengan Mama. Aku  merasa adrenalinku bahkan sudah meningkat padahal baru membayangkannya.



“Hei!” pundakku ditepuk dari belakang. Membuatku menengadah untuk melihatnya. Dokter Angga. Dia menyusul duduk di dekatku. “Tantemu bilang kamu di sini.”



“Dokter belum pulang?” Aku menyusut air mata yang membasahi pipi dan sudut mata. Aku menangis tanpa sadar.



“Ini bukan tentang adikmu, kan?” tebak dokter Angga.



Aku menggeleng. Mengalihkan tatapan ke langit yang entah mengapa memilih tampak kelam, padahal ini musim kemarau. Seharusnya langit terlihat menakjubkan dengan kilauan bintangnya. Ini adalah sedikit dari sekian banyak momen aku merasa langit tak membantuku mengatasi kesedihan. Dadaku terasa sepenuh lahar gunung berapi, menggelegak dan siap muntah kapan saja.



“Saya rindu Papa.” Aku tahu ini hal paling absurd yang pernah kubicarakan dengan dokter Angga. Namun, aku tak peduli. Aku toh tidak mungkin akan terus\-terusan bertemu dengannya. Aku hanya perlu bicara dan kebetulan hanya dia orang yang ada untuk mendengar keluh kesahku. Benda sialan bernama ponsel itu membuatku tidak bisa berhubungan dengan Maya sekarang. Padahal aku sedang butuh teman. “Langit selalu mengingatkan saya kepada Papa. Tidak ada orang yang lebih menyukai langit daripada Papa. Dan tidak ada orang yang menyayangi saya seperti dia.” Bahkan hanya mengingat Papa seperti ini, senyumku selalu spontan terbit, tanpa diundang, apalagi terpaksa. “Papa selalu mengatakan saya adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan padanya, tapi dia salah. Bukan Papa yang beruntung mendapatkan saya. Sayalah yang beruntung bisa merasakan cintanya.”



“Kalian beruntung saling memiliki.” Dokter Angga menjawab setelah jeda sesaat.



Dia tidak tahu apa yang kubicarakan. Dia hanya berusaha menghibur. Aku menghargai usahanya. Beberapa jam terakhir, dia terjebak bersamaku. Waktu istirahatnya pasti terganggu.



“Dokter belum pulang?” Aku mengalihkan percakapan dengan sengaja.



Dokter Angga tersenyum. “Kamu tidak bisa mengusirku dari sini. Ini bukan rumahmu.”



Itu buka lelucon yang lucu, tetapi aku memaksakan senyum. “Terima kasih, Dok.”



“Untuk apa?”



“Untuk kamar jaga, makanannya, menunggui Lisa. Semuanya.”



“Itu gunanya teman, kan?”



Aku berdiri, tidak mau merepotkannya lebih lama. Dia pasti akan terus duduk kalau aku juga belum beranjak dari sini. “Saya harus kembali ke kamar Lisa, Dok. Mereka pasti sudah menunggu.”



Dokter Angga ikut berdiri. “Aku antar, ya?”



“Tidak usah,” tolakku halus. “Saya baik\-baik saja. Tidak akan pingsan mendadak. Tadi sudah makan di ruang jaga. Gula darahku pasti normal.” Aku mencoba bercanda.



“Oke, kalau begitu, sampai ketemu besok.”



Aku mengernyit. Menilik caranya mengucapkan kalimat itu, dia yakin sekali kami akan bertemu kembali besok. Namun, bukan itu yang perlu kucemaskan saat ini.