
Ini malam yang melelahkan. Sebuah MPV dan bus sarat penumpang bertabrakan tidak jauh dari rumah sakit tempatku bertugas. Kedua belas korban kecelakaan diangkut ke IGD. Suara tangis dan rintihan segera memenuhi ruangan. Pasien yang luka parah dibaringkan di beberapa tempat tidur yang berjajar di dalam ruang tindakan. Pasien luka ringan dan lecet berbaring di kursi panjang yang ada di ruang tunggu. Sebagian lagi menempati kursi jaga perawat, sisanya melantai.
Menjahit dan menyatukan kulit pasien yang koyak dari jam sepuluh malam sampai jam tiga dini hari bukan kegiatan favoritku. Namun, aku tidak bisa memilih. Untunglah empat orang perawat yang jaga bersamaku sangat terampil, sehingga aku hanya perlu melayani pasien yang terluka parah. Sisanya, mereka yang mengerjakan.
Seharusnya malam ini aku tidak jaga sendirian, karena Hadi dijadwalkan pada sif yang sama. Namun, dia tumbang karena diare, jadi dia beristirahat di rumah.
Aku menggoyang\-goyangkan kepala mengusir kaku di tengkuk setelah lama menunduk menjahit luka. Sarung tangan karet penuh noda darah kulepas dan kuserahkan kepada perawat yang mengumpulkan sampah medis. Akhirnya, semua pasien selesai ditangani.
Aku kemudian berjalan meninggalkan ruang IGD yang masih menyisakan anyir darah, menuju kursi ruang tunggu yang kini sepi. Pasien dengan luka ringan sudah pulang setelah mendapat perawatan.
Seorang perawat datang membawa kopi yang tadi kupesan tidak lama setelah aku duduk. Kopi instan kemasan, tentu saja. Aku tidak punya pilihan lain. Aku bertugas di rumah sakit kabupaten, di daerah yang tanda\-tanda kehidupan mulai meredup setelah azan Isya terdengar. Tidak ada tempat hiburan yang bisa dituju untuk bisa menikmati aroma kopi asli yang baru digiling dan diracik oleh barista. Satu\-satunya barista amatir yang kukenal kini sedang berurusan dengan bakteri E. \*\*\*\*. Hadi.
Aku menggenggam cangkir kopiku erat\-erat, berusaha memindahkan panas dari sana ke telapak tangan. Dingin mulai menusuk, tetapi aku tidak ingin masuk. Entah mengapa, aku tidak mengantuk walaupun tubuhku letih. Mungkin karena jam biologisku kebingungan menentukan waktu seharusnya untuk tidur. Waktu istirahatku biasanya menyesuaikan dengan jadwal jaga. Aku tidur di malam hari saat jaga siang, dan sebaliknya, tidur siang ketika jaga malam hari.
Aku menyesap kopiku yang manis. Bukan seleraku. Aku lebih menyukai kopi yang sedikit pahit. Namun, sekali lagi, aku tidak punya pilihan. Rasa hangat segera menjalari kerongkongan. Meninggalkan jejak nyaman di sana.
Aku menengadah. Langit tampak indah. Sekarang tanggal tua dalam penanggalan hijriah, jadi tidak ada rembulan yang menghias langit. Cahayanya digantikan pendar berjuta bintang. Tak sadar aku mengulas senyum. Cangkirku berpindah tempat ke kursi, di sisiku. Sebelah tangan lalu kuulurkan ke atas. Jariku bergerak menghubungkan titik\-titik bintang. Sebuah layang\-layang.
“Kamu terlihat seperti zombi, kalau mau tahu.” Suara itu membuatku menoleh. Rei, teman sejawat PTT\-ku sudah berdiri di ujung kursi. Aku menggeser tubuh, memberi ruang untuk duduk.
“Seburuk itu?” Aku meringis masam.
Rei menatapku lebih dalam, keningnya berkerut menilai. “Tidak.”
“Tidak?” aku mengulang kata yang diucapkannya.
“Zombi masih terlihat lebih hidup daripada kamu.” Tawanya berderai, seolah kalimat itu lucu.
“Sialan!” Aku tahu, percuma saja marah pada kepadanya. Rei tipe orang yang akan membuatmu sakit hati sendiri kalau menanggapi serius apa yang dikatakannya. “Oh ya, kenapa kamu berkeliaran jam–” Aku mengeluarkan jam tangan dari saku jas. Belum sempat kupakai kembali tadi, “setengah empat subuh? Ini terlalu awal untuk bangun. Kamu jaga pagi, kan?” Sifnya baru akan dimulai pukul delapan pagi.
Aku tidak ingin melanjutkan percakapan tentang pekerjaan. “Hadi bagaimana?” Mereka tinggal di rumah dinas yang sama.
Rei meringis. “Dia benar\-benar harus mulai belajar membedakan antara mulutnya dengan tempat sampah. Pasti dia diare karena susu basi atau roti berjamur yang dimakannya saat sarapan. Kuliah mikrobiologi tidak berpengaruh pada kebiasaan buruknya.”
Aku tertawa. Hadi memang keajaiban dunia. Lambungnya seperti kantong ajaib yang tidak pernah penuh. Dia makan apa saja yang ada di depan matanya tanpa peduli apakah makanan itu masih layak konsumsi atau sudah harus direlakan pada makhluk mikroskopik yang mengerubutinya.
Aku kembali menengadah. “Itu sangat indah, kan?”
Rei mengikuti mataku. “Bintang? Di mana letak keindahannya? Itu hanya kumpulan benda kecil yang bercahaya, kan?”
Aku memang sudah putus asa bila mengharapkan Rei tertarik bicara soal bintang. Namun, aku sedang tidak ingin peduli. Aku hanya ingin bicara. “Lihat ke sana.” Aku menunjuk. “Hubungkan titik\-titiknya, dan kamu akan melihatnya membentuk sesuatu.”
“Sesuatu, misalnya apa?” Rei terdengar bosan.
“Layang\-layang, kalajengking….”
“Kamu tahu, Ra,” Rei memotong kalimatku. “Astronomi terlalu absurd untukku. Karena itu aku memilih menjadi dokter. Untuk membaktikan diri pada sesuatu yang nyata. Manusia.”
Aku menatapnya sebal. “Kita berdua tahu kamu melakukannya untuk uang.”
Rei kembali memamerkan gigi. “Uang hanya bonus yang menyusul pengabdianku.”
Aku memutar bola mata. “Ya, tentu saja.”
Gelak Rei semakin menjadi. “Sebaiknya kamu pulang sekarang. Tidurlah sebelum omonganmu makin ngawur.”
“Aku akan menggantikanmu. Kamu terlihat seperti panda.”
Kurasa lingkaran hitam di mataku benar\-benar memprihatinkan, karena Rei jarang\-jarang menawarkan jasa untuk menggantikan jaga. “Serius?”
“Cepatlah menyingkir sebelum aku berubah pikiran,” katanya setengah mengusir.
“Terima kasih.” Aku segera bangkit. “Lain kali aku akan menggantikanmu juga. Aku memang butuh tidur.”
Rumah dinasku berada dalam kompleks rumah sakit, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Setelah mengganti pakaian, menggosok gigi, dan membersihkan wajah, aku lalu bergelung dalam selimut. Memejamkan mata dan mulai menghitung mundur jumlah anak domba yang akan mengantarku ke alam mimpi.
Aku sudah memasukkan semua anak domba ke dalam kandang, tetapi pikiranku masih awas. Aku tidak bisa tertidur. Aku lalu membuka mata. Mengarahkan pandangan pada kisi\-kisi jendela, kembali memandang langit.
“Kamu tahu, Ra, para nelayan dan kapten kapal menggunakan bintang timur sebagai penunjuk jalan saat kompas mereka rusak. Bintang timur akan memandu mereka menemukan jalan pulang. Bintang timur tidak pernah menyesatkan orang\-orang yang memercayainya.”
“Dan aku akan menemukanmu mengikuti petunjuk bintang timur seandainya kamu memutuskan menghilang?”
“Tapi aku tidak akan pernah pergi dari sisimu, Ra. Di situlah tempat seharusnya aku berada. Tidak ada yang bisa membuatku meninggalkanmu, kamu tahu itu.”
Aku mengembuskan napas panjang berusaha menenangkan diri, mencegah mataku yang memanas menumpahkan tangis. Akan tetapi, aku gagal. Untuk kesekian ribu kalinya, bantalku kembali basah.
Itu salahku. Orang yang berjanji tidak pernah salah. Yang bodoh adalah orang yang memercayai janji tersebut. Bukankah janji diikrarkan untuk dilanggar? Dan kepercayaan biasanya berakhir pada pengkhianatan? Seharusnya aku belajar. Semua orang yang menjanjikan sesuatu kepadaku berakhir mengingkarinya.
“Kalau kamu ulang tahun, Papa akan mengajakmu ke Planetarium,” kata Papa saat kami sedang mengintip langit yang terang dari dalam tenda yang ritsletingnya dibiarkan terbuka. Sebulan sekali, jika cuaca cerah, kami selalu mendirikan tenda di halaman belakang setiap malam minggu. Saat itu, usiaku menjelang sepuluh tahun. “Di planetarium, kita akan melihat bintang menggunakan teleskop canggih. Tempatnya di Jakarta.”
Aku ingat, saat itu aku langsung berlari ke dalam rumah untuk mencari peta. Mengamati dengan takjub betapa jauh jarak antara Makassar, tempat tinggal kami, dengan Jakarta. Ada laut luas yang memisahkan Pulau Sulawesi dan Pulau Jawa.
Namun, Papa tidak pernah punya kesempatan membawaku ke planetarium. Dua minggu setelah janji itu, Papa masuk rumah sakit. Berbagai pemeriksaan membawanya pada diagnosis kanker otak stadium empat. Laki\-laki kebanggaanku itu kemudian mulai dengan serangkaian pengobatan yang membuatnya semakin kurus, ringkih, dan perlahan kehilangan fungsi organ tubuhnya. Menua dalam hitungan bulan. Planetarium itu terlupakan. Seperti ulang tahunku yang tidak diingat siapa pun, karena Papa yang paling bersemangat merayakannya sedang tidak sadarkan diri di ICU, dengan berbagai selang di sekujur tubuh.
“Papa akan sembuh,” kataku pada Papa sambil menyuapinya di ranjang rumah sakit, suatu ketika, saat kesadarannya sedang pulih dan tidak memerlukan makanan melalui sonde. “Kelak Rara akan menjadi dokter. Kalau dokter\-dokter di sini tidak bisa menyembuhkan Papa, Rara yang akan melakukannya.”
Papa mengusap kepalaku sambil tersenyum lemah. “Tentu, Sayang. Papa akan menunggu Rara menjanji dokter dan menyembuhkan Papa.”
“Janji, Pa?” aku mengulurkan kelingking.
“Janji, Sayang.” Papa menautkan jemarinya untuk menyepakati janji itu, seperti sekian banyak janji\-janji rahasia yang pernah kami buat.
Akan tetapi, itu juga janji yang tidak ditepati Papa, karena dia kemudian meninggalkanku untuk selamanya dua bulan kemudian. Meninggalkanku terpuruk sendiri dan ketakutan di dunia yang mendadak terasa asing setelah kepergiannya.
Sendirian mungkin bukan kata yang tepat. Aku punya Mama dan dua adik perempuan. Namun, Mama dan aku seperti minyak dan air. Kami tidak bisa bersatu meskipun diaduk dengan kuat. Aku tidak tahu mengapa, tetapi Mama tidak pernah menyukaiku.
Tidak, Mama tidak kasar padaku. Dia hanya mendadak canggung ketika aku mendekat kepadanya. Sikap yang tidak ditunjukkannya kepada kedua adikku. Mama menyayangi mereka. Mungkin karena itu aku kemudian menjadikan Papa sebagai poros duniaku. Dan dia mencintaiku lebih dari apa pun. Tanpa sadar, aku melepas Mama untuk adik\-adikku, dan memiliki Papa untuk diriku sendiri.
Kepergian Papa tidak mengubah hubunganku dengan Mama. Kami telanjur mendirikan tembok tinggi dan kokoh dari masing\-masing pihak. Usaha adik\-adikku untuk menyatukan tidak membuahkan hasil. Aku tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan, dan menghilangkan rasa itu tidak mudah.
Setamat SMU aku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Aku lalu memilih tinggal di asrama kampus. Aku tidak butuh alasan kuat, karena Mama segera mengangguk begitu aku mengatakannya. Dia hanya membekaliku sebuah kartu ATM yang aku tahu jumlahnya besar sekali.
Aku tidak terlalu sering pulang ke rumah meskipun jarak rumah dan asramaku tidak sampai dua puluh kilometer. Adik\-adikkulah yang lebih sering mengunjungiku. Aku menyayangi mereka, sebagaimana mereka mencintaiku. Namun, berada jauh dari Mama lebih terasa nyaman, jadi aku mengabaikan permintaan mereka yang memintaku pulang.
Aku memutuskan memilih daerah di luar Sulawesi Selatan untuk menjalani program magang dan PTT setelah menyelesaikan pendidikan dokter. Tak kuhiraukan protes adik\-adikku. Aku butuh udara lain untuk bernapas. Mencoba memberi ruang kepada diri sendiri untuk melepaskan banyak hal. Melupakan kecanggungan Mama padaku, dan melupakan… dia.
Namun, ternyata hidup tak selalu berjalan seperti yang kuharapkan. Hampir tiga tahun aku meninggalkan Makassar, tetapi kenangan itu tetap setia membuntuti.