
Waktu menunjukkan pukul sepuluh ketika Bian memasuki Apartemennya. Dapat ia lihat lampu ruang makan yang masih menyala, dengan langkah pelan ia ayunkan kakinya menuju ruangan tersebut. Seulas senyum terbit ketika mendapati beberapa hidagan disana, Karina pasti menyiapkan makanan tersebut untuk dirinya. Langkah kakinya ia ayunkan meuju kamar dengan pintu berwarna merah muda disana, ia buka pintu tersebut untuk kemudian memasukinya, lagi-lagi seulas senyum terbit ketika mendapati kedua buah hatinya sudah terlelap dalam buaiana mimpi.
Ia berjalan mendekati ranjang kedua anaknya, ia sematkan satu kecupan pada pipi Jasper jagoan kecilnya “Jalja Uri dull” setelahnya ia mendekati ranjang Hana, dan lagi satu kecupan ia berikan pada putri cantiknya itu “Jalja Uri Princes”. Setelahnya dia berjalan keluar kamar kedua buah hatinya itu
Langkahnya ia ayunkan menuju kamarnya dengan Karina, dapat ia liat perempuan yang sangat a cintainya itu meringkuk di atas ranjang dengan selimut tebal yang membungkusnya. Ingatannya berputar pada kejadian siang tadi, ia yakin pasti saat ini Karina sedand salah paham padanya. Menghela nafas lelah Bian berjalan menuju ranjang dimana tubuh Karina berbaring, ia ulurkan tangannya untuk mengusap sayang rambut Karina
“Mianhae Changiya” gumamnya
Gerakan lembut tersebut ternyata mengusik tidur Karina, dengan kantuk yang masih mendera Karina membuka matanya. Kepalanya ia tolehkan untuk melihat siapa yang mengusap kepalanya. Setelah mendapati ternyata Bian, Ibu dua anak itu mencoba mendudukan diri
Bian tersenyum “apa aku mengganggu tidurmu?” Tanya Bian dengan begitu lembut
“Kau sudah pulang?” Tanya Karina dengan suara serak khas bangun tidur
“eemm, aku harus menyelesaikan dokumen yang akan aku prsentasikan besok” jelas Bian
Karina mengangguk “kalau begitu mandilah, aku akan menghangatkan makan malam untukmu” ujar Karina
Bian mnedesah lelah lal mengangguk “kalau begitu aku akan mandi dulu” setelahnya Bian beranjak untuk membersihkan diri
Karina turun dari ranjang, ia menyiapkan pakaian untuk Bian. Setelahnya dia turun untuk menghangatkan makan malam untuk Bian. Setelah lima belas menit, akhirnya Bian turun wajah laki-laki itu terlihat lebih segar. Bian berjalan menghampiri Karina yang sedang menyiapkan makan malam mereka, laki-laki itu kemudian memeluk tubuh Karina dari belakang. Karina sedikit terkejut dengan hal tersebut, namun saat mencium aroma parfum dari Bian, tubuhnya kembali rileks.
“sudah selesai?” Tanya Karina
“eemm” Bian hanya bergumam sebagai jawaban, laki-laki itu masih sibuk mengindu aroma dari ceruk leher Karina
“duduklah aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita” titah Karina
Bian mengernyit “kau belum makan?” tanyanya
Karina menggeleng “aku menunggumu”
Bian melepas pelukannya pada Karina “seharusnya kau makan dulu Changi, tidak perlu menungguku. Kau bisa makan bersama anak-anak”
Karian tersenyum, ia mengerti akan perhatian Bian padanya “aku hanya takt kau belum makan karena terlalu sibuk mengerjakan dokumen-dokumen itu. Dan aku yakin jka aku tidak menemanimu makan kau pasti tidak akan makan malam”
Bian tersenyum, ia layangkan satu kecupan pada pipi istri cantiknya itu “gomawo”
Karina mengangguk “duduklah kau pasti sudah lapar”
Bian mengikuti apa yang Karina perintahkan , selanjutnya hanya ada keheningan yang melanda mereka ibuk dengan makan malamnya. Setelah beberapa saat mereka akhirnya selesai, Karina membereskan meja makan sekaligus mencuci piring kotor bekas mereka malam, sedangkan Bian memilih duduk diruang tengan. Setelah selesai Karina menghampiri Bian, ia bawakn secangkir the camomail untuk suaminya itu
“gomawo” ujar Bian setelah menerima teh tersebut, Karina mengangguk sebagai jawaban
Suasana hening beberapa saat, hanya suara televise yang terdengar
“Karina” panggil Bian memecah keheningan
“Ye?” Jawab Karina
Karina memandang suaminya itu, “sebenarnya apa yang kalian lakukan tadi? Apa kalian sering pergi bersama seperti tadi?” Tanya Karina, kini perempuan itu memutar duduknya untuk menghadap Bian
Bian terdiam, ia menimang haruskah ia juju pada Karina sekarang? Jika ia mengatakannya sekarang, bagaimana reaksi Karina nanti?
“tidak selalu, kami pergi hanya jika ada client meminta untuk bertemu di luar. Dan kami tidak pegi berdua, tadi ada beberap orang juga dari divisi lain, hanya saja mereka duduk di meja lain” jelas Bian
“kenapa?” Tanya Karina
“Ye?” Tanya Bian tidak mengerti
“kenapa kalian hanya berdua dan tidak bersama yang lain?” Karina memperjelas pertanyaannya
Detak jantung Bian serasa berhenti berdetak, haruskah ia mengatakannya sekarang? Tidak dia tidak boleh mengatakannya sekarang, ini bukan waktu yang tepat
“Karena mereka harus berdiskusi dhal lain dengan klien” bohong Bian
“apa proyek yang kalian tangani berbeda? Kalau berbeda kenapa kalian pergi bersama? Apa hanya kau dan Yerim yang memegang proyek tersebut?” cerca Karina
Bian kelabakan dengan pertanyaan yang Karina lontarkan “Aniyo, kami satu projek tetapi beda bagian. Dari devisiku hanya aku dan Yerim dalam projek ini” kali ini Bian tidak berubohong
“kau sedang berbohong? Apa menurutmu aku sebodoh itu untuk kau bohongi? Dan aku pikir kau memang beberapa kali pergi berdua dengan Yerim. Aku beberapa kali mendapati kalian pergi berdua, kalian bahkan sering bertukar pesan. Apa aku benar Bian?” keli ini cerca Karina dengan nada yang mulai terdengar emosi
Tubuh Bian membeku, bagaiman bisa Karina melihatnya pergi dengan Yerim. Kenapa tubuhnya menegang seolah-olah ia barusaja tertangkap basah berselingkuh. Tidak, dia tidak berselingkuh. Dia pergi dengan Yerim karena paksaan dari gadis tersebut. Dan soal pesan tersebut, itu jua karena gadis itu mengirimnya pesan terlebih dulu
Mendapati keterdiaman Bian, Karina terkekeh “wae? Apa aku benar CHANGI?” Tanya Karina dengan menkankan kata di akhir kalimatnya
“Aniyo. Sungguh bukan seperti itu Karina. Aku pergi dengannya hanya karena urusan pekerjaan saja. Dan soal pesan itu dia yang memulainya Karina. Aku berusaha mengabaikannya tapi dia terus mengirimku pesan” jelas Bian
“hal itu tidak akan terjadi jika kau dengan tegas menolaknya. Jika kau menolak dan mengabaikan pesannya, kalian pasti tidak akan bertukar pesan secara terus menerus. Api tidak akan menyala jika tidak ada bahan bakar yang disediakan. Hah… sejujurnya aku enggan mengatakan ini padamu Bian, tapi siang tadi kau sudah keterlaluan. Tidak masalah jika hanya aku yang melihat kalian berdua, tapi ini Hana dan Jasper juga melihatmu. kau bahkan menerima suapan dari Yerim di depan kami. Kau bahkan tidak menolak sama sekali saat Yerim menyuapimu. Kau tau Hana bertanya padaku, dia bertanya kenapa Appanya selalu pulang larut, kenapa Appa jarang menjemputnya, kenapa Appa lebih sering berada di ruang kerjanya, dan masih banyak lagi kenapa yang Hana tanyakan padaku. sekali dua kali aku masih bisa membuatnay mengerti kalau kau sibuk, tapi tadi dia melihat sendiri Appanya pergi makan siang berdua dengan seorag gadis yang ia kenal. Dan kau tahu apa yang Hana katakana Eomma, apa karena Imo itu Appa jadi sibuk? Apa sekarang Appa lebih senang bersama Imo itu? Dan Aku… Aku” Karian atidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia merasa dadanya seperti akan meledak karena sesak saat dia mengatak semua itu pada Bian, air matanya tanpa permisi menetes
Bian yang melihat hal tersebut, segera mendekat dan akan meraih tubuh ringkih istrinya itu. Tapi belum sempat dia berhasil memeluk tubuh itu, Karina lebih dulu mundur dan mengistrupsi Bian untuk berhenti
“Karina Aku bisa jelaskan, ini semua tidak seperti yang kau lihat. Aku dan…” penjelasan Bian terhenti saat mendengar tangis dari Jasper
Karina berdiri dari duduknya untuk kemudain beranjak menuju kamar putranya itu. Sebelum pergi dai menghapus air matanya dan mengatur nafasnya senormal mungkin. “lain kali kalau kau ingin pergi berdua dengan Yerim, pastikan dulu kalau kalian berada di tempat aman yang sekiranya aku dan anak-anak tidak dapat melihat kalian” ujar Karina sebelum pergi
Bian tertegun, laki-laki itu mengacak rambutnya frustasi. Mengapa semua jadi serumit ini “sial, sial, sial” umpatnya
.
.
.
TBC
See you next chapture😊