
"Brengsek!!"
Seorang pria paruh baya mengumpat seraya melempar Ipadnya hingga membentur meja dan menimbulkan retakan pada layarnya.
Pria itu lantas membuka lebar-lebar pintu balkon yang terhubung dari kamarnya. Dia menarik napas panjang guna menormalkan denyut jantungnya. Jangan sampai penyakit jantungnya kumat di saat seperti ini.
Setelah merasa lebih baik, pria itu berbalik dan menghampiri sang asisten yang masih berdiri menunggunya.
Asistennya terlihat menundukkan kepala, merasa malu karena gagal melaksanakan tugasnya. Padahal dia sudah melakukannya sesuai instruksi sang majikan.
"Angkat kepalamu. Pekerjaan kita masih banyak!" tegur Benjamin.
Sang asisten mengangkat wajahnya dan melihat seringai tipis Benjamin.
"Kamu masih simpan foto-foto mereka?" sang asisten mengangguk. Seringai Benjamin pun semakin lebar.
"Sebarkan!!"
Netra sang asisten membulat sempurna. Menyebarkan foto-foto itu berarti….
"Tapi nanti Tuan muda Farrel bisa ter —"
"Saya tidak peduli!" potong Benjamin. "Toh, dia sudah dianggap mati."
Sang asisten menggeleng keras. Menghalau ketakutannya, dia pun memberanikan diri menyatakan pendapatnya. Sebab salah satu pekerjaannya adalah memberikan masukan dan saran untuk keberlangsungan perusahaan meski harus bersilang pendapat dengan Benjamin.
"Tapi Pak. Kalau sampai identitas Tuan muda terendus media, bukankah perusahaan kita bisa terkena imbasnya? Kita baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan Mr. Leon. Menurut saya ini terlampau beresiko. Jika saham perusahaan anjlok dan Mr. Leon sampai memutus kerjasama, kita harus membayar penalti sebesar 1 Miliar dollar," asisten tersebut menelisik sesaat raut wajah Benjamin. Tampak kegeraman di wajah Benjamin yang membuat sang asisten meneguk salivanya.
Namun asisten tersebut berusaha tak gentar.
"Maafkan kelancangan saya. Tetapi Walter Group baru saja bangkit kembali dan mendapatkan kepercayaan investor. Tolong pikirkan lagi dengan kepala dingin, Pak." Sang asisten berucap lirih di akhir kalimatnya. Sebisa mungkin ia mengatur kata-katanya tanpa menyinggung perasaan Benjamin.
Benjamin berdecak. Masa-masa kelam perusahaannya yang sempat nyaris bangkrut terbayang lagi di pelupuk matanya.
Dia jadi merinding jika membayangkan masa kelam itu akan dialaminya kembali.
Namun dia sudah kepalang tanggung. Dia sudah berhasil ada di sini.
Di Indonesia.
Sayang sekali jika ia harus pulang dengan tangan kosong.
Eh tunggu.
Kalau masalah ini muncul ke permukaan, seharusnya bukan hanya perusahaannya saja yang kena, tetapi juga perusahaan Brama.
Yah tak ada salahnya mencoba. Begitu pikir Benjamin.
"Kita bisa buramkan wajah Farrel," ujar Benjamin ngotot.
Namun sang asisten tetap menggeleng. Benjamin pun murka. Namun usul dari sang asisten, seketika meredakan emosinya.
"Kita bisa pakai wanita itu. Menurut saya, dibandingkan Ganeeta, bukankah kehidupan kekasih dari pewaris tunggal Singaraja Group lebih menarik untuk dikuliti?"
Seketika tawa Benjamin membahana kencang. Dia menepuk-nepuk pundak asisten kesayangannya dengan perasaan membuncah.
"Astaga! Aku tidak pernah berpikir sampai kesitu. Benar katamu, ketimbang persoalan cucu haram, romansa percintaan lebih cepat mendapat perhatian!!"
"Buat berita yang bagus. Berikan yang penonton mau. Pastikan semua orang tahu siapa wanita itu. Asal usulnya dan terutama kehidupan pernikahannya!" perintah Benjamin.
Sang asisten mengangguk patuh dan bergegas melaksanakan tugasnya. Meninggalkan Benjamin yang masih tersenyum lebar membayangkan detik-detik kehancuran Brama.
Sudah lama ia menantikan momen ini. Momen dimana Brama akan meratap malu dan kehilangan taringnya. Lelaki tua bangka itu harus merasakan apa yang Benjamin alami.
"Rasakan kamu, Brama! Tanpa perlu bersusah payah, Tuhan membantuku membalasmu. Kita lihat, sampai mana kejayaanmu akan bertahan," monolog Benjamin.
Ya, pengusaha asal Singapura itu sangat membenci semua hal yang berhubungan dengan Brama. Kebenciannya sudah mengakar kuat semenjak kepergian Marilyn – istri pertama Brama.
Brama asli Jakarta, Indonesia. Benjamin keturunan Indonesia Tionghoa. Sementara Marilyn – blasteran Melayu Britania.
Keluarga Benjamin dan Marilyn sudah menjalin pertemanan sejak lama. Pertemanan mereka pun diwariskan kepada Benjamin dan Marilyn sedari bayi.
Kemudian Marilyn bertemu Brama yang saat itu berstatus sebagai murid pindahan dari Indonesia.
Marilyn lantas mengenalkan Brama kepada Benjamin. Merasa cocok, ketiganya pun memutuskan untuk berteman.
Istilah yang mengatakan bahwa tak ada pertemanan antara pria dan wanita, rupanya benar adanya. Karena itu pula yang dirasakan oleh Marilyn.
Diam-diam gadis itu menyimpan perasaan lebih kepada Brama. Gayung pun bersambut, Marilyn dan Brama berpacaran lalu memutuskan untuk menikah. Dari pernikahan itu kemudian lahirlah Mahesa.
Setali dengan Marilyn, tak lama kemudian Benjamin pun menikahi wanita pilihan keluarganya dan menghasilkan Daniel.
Pertemanan mereka bertiga tetap terjalin sampai Mahesa dan Daniel duduk di bangku sekolah. Meski pada akhirnya, Marilyn pindah ke Indonesia mengikuti Brama, komunikasi antara Benjamin dan Marilyn masih terjalin erat.
Naas, saat usia Mahesa menginjak 9 tahun, Marilyn meninggal karena kecelakaan. Kematian Marilyn membuat Benjamin meradang.
Pasalnya menurut informasi yang diterimanya, Marilyn meninggal karena ingin menyusul Brama yang saat itu tengah berada di Bandung.
Ketika Benjamin mengkonfrontasi kebenaran informasi itu, Brama terkesan menutupinya.
"Kamu sudah berjanji akan menjaganya!! Tapi apa ini, Bram?! Bagaimana bisa kamu membiarkan Marilyn pergi menyusulmu di tengah malam?! Otakmu dimana, hah?!"
Melihat Brama hanya diam, Benjamin pun meradang. Lelaki itu lantas mencari sendiri sopir Brama yang menurutnya sebagai penyebab kecelakaan tersebut.
Tanpa ampun Benjamin pun membunuh sopir tersebut. Tak hanya sopir, Benjamin turut melenyapkan bodyguard wanita yang malam itu menemani Marilyn.
Kematian bawahannya membuat Brama geram. Tindakan Benjamin dirasa sudah kelewat batas. Apalagi Benjamin membuat gempar media Indonesia dengan memutilasi dan membuang mayat bawahannya ke semak-semak.
Tak ingin kasus tersebut bertambah lebar, Brama pun menggunakan kekuasaannya untuk menutupinya.
"Aku melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, Bram!! Marilyn meninggal tapi kamu tak memberikan hukuman apapun terhadap bawahanmu!! Pengecut kamu, Bram!!" bentak Benjamin ketika Brama mendatanginya di kamar hotel.
"Tapi bukan berarti kamu boleh membunuh mereka apalagi sampai dimutilasi! Gila kamu Ben!! Apa perlu aku ingatkan kamu sekarang ada dimana? Ini negaraku!!"
Benjamin tertawa, "itu karena bawahanmu terus-terusan mengelak! Lagi pula bukannya kamu juga terbiasa melenyapkan orang?"
Emosi Brama meledak. Lelaki itu lantas memukul Benjamin. Tak hanya sekali namun berulang kali. Benjamin pun babak belur karena tak sanggup melawan.
Brama pantas marah. Karena ulah seenak jidat Benjamin, nama besarnya jadi tercoreng. Berita kematian Marilyn saja sudah membuat media Indonesia hingga media asing menyorot kepadanya.
Brama semakin tersudut ketika seminggu kemudian, dua bawahannya turut meninggal dengan cara mengenaskan. Berbagai konspirasi pun merebak.
Yang paling parah adalah konspirasi jika Brama sengaja melenyapkan nyawa istrinya, karena terpincut wanita idaman lain.
Semakin bertambah kacau karena bisnis anggota keluarga besarnya pun terkena dampaknya. Mereka pun jadi ikut menyalahkan Brama.
Jengah diberitakan dan disudutkan oleh berbagai pihak, Brama yang emosi lantas meminta pihak imigrasi untuk mendeportasi Benjamin dan melarangnya masuk ke Indonesia untuk selamanya.
Benjamin merasa tersinggung.
Pertemanan mereka pun seketika hancur dan Benjamin berubah kalap sehingga memulai pertarungan bisnis dengan Brama.
Berada di bidang usaha yang hampir sama, Benjamin selalu berusaha merebut apa yang hendak dikerjakan perusahaan Brama.
Hingga di satu titik, Brama berhasil membuat bisnis Benjamin berantakan hingga merugi miliaran dolar.
Kerugian sebesar itu membuat Benjamin berada di ambang kebangkrutan. Namun lelaki itu perlahan-lahan bangkit dan bersumpah akan membalas Brama suatu hari nanti.
Tapi Brama tak bisa dihancurkan dengan mudah. Kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki Brama belum sanggup disaingi Benjamin.
Sadar akan hal itu, Benjamin pun akhirnya melepaskan dendamnya.
Sampai ia mengenal Cassandra.