
Ganeeta menyemprotkan parfum di leher, pergelangan tangan dan di blouse satinnya.
Setelah selesai, dia beranjak keluar kamar. Dia berhenti sejenak di depan kamar kerja Dewa. Matanya memandang sendu pintu yang selalu tertutup rapat itu.
Hampir seminggu Dewa tak pulang ke rumah mereka. Ganeeta tak ingin memaksanya kembali, toh Dewa pergi karena kesalahannya.
Setelah pergumulan panas mereka, tiba-tiba Dewa memutuskan tuk tidur di apartemen.
Ganeeta kira Dewa mengingat kejadian malam itu. Malam dimana Ganeeta secara lancang menjamah tubuhnya dan melakukan percintaan.
Ganeeta sudah ketakutan, takut kalau sampai Dewa ngamuk dan membencinya. Namun nyatanya sampai detik ini, Dewa tak mengatakan apa-apa.
Lelaki itu hanya berkata, ia sedang suntuk dan butuh waktu sendiri.
Nggak mungkin Dewa sadar kan? Dia mabuk. Kalau pun saat itu dia sadar, seharusnya dia menolak, bukannya malah menikmati.
Sambil mengelus perutnya, sudut bibir Ganeeta sedikit terangkat.
Bolehkan aku berharap? Semoga ada nyawa yang Kau titipkan lagi di rahimku ,Tuhan.
Pekikan nyaring Brandon dari lantai 1, seketika menarik kesadarannya. Dia bergegas turun dan menghampiri sang anak.
"Kenapa, Koh?" tanya Ganeeta cemas. Dia menatap pengasuh Brandon yang berdiri di samping anaknya, dan dijawab dengan gendikkan bahu serta tatapan bingung dari pengasuh muda itu.
"Sean curang!!" Brandon cemberut.
"Sean?" kening Ganeeta berkerut, berusaha mengingat siapa Sean yang dimaksud anaknya. "Sean, anaknya Mbak Meta, yang kerja di toko kue Aunty Bianca?" tanyanya ragu.
Brandon mengangguk. Hidungnya kembang kempis dengan wajah merah dan mata berair. "Uncle Mahesa pilih kasih!!" jeritnya sambil menunjukkan layar ipad miliknya. Disana ada foto Sean yang sedang tersenyum sembari memamerkan lego berbentuk tank.
Ganeeta meringis. Oh, rupanya Brandon cemburu.
Yah, Ganeeta bukannya tak sadar kalau Kakak tirinya sekarang ini lebih sering berinteraksi bersama Sean ketimbang Brandon.
Brandon yang selama ini terbiasa menjadi satu-satunya curahan kasih sayang Mahesa, tentu merasa dilupakan.
Padahal kalau boleh dibilang, mainan tuk Sean tak ada apa-apanya jika dibandingkan mainan mewah milik Brandon yang kerap dibelikan Mahesa.
"Yaudah, nanti Mami yang beliin. Kokoh mau lego yang kayak gitu, juga?" tawar Ganeeta.
Bukannya menjawab, Brandon malah menangis. Bocah bermata sipit itu semakin menunduk, tak ingin melihat Ganeeta.
"Duh, cranky deh…" keluh Ganeeta pusing. Dia pun segera menelpon sang Kakak.
Tak lama, ponselnya berpindah ke kuping Brandon. "Nih, Uncle Mahesa mau ngomong."
Awalnya Brandon menolak. Namun setelah dirayu, barulah Brandon mau menerima telepon Mahesa.
Entah apa yang Mahesa janjikan, karena setelah percakapan itu berakhir, tangisan Brandon pun ikut berhenti. Brandon tersenyum saat mengembalikan ponsel Ibunya. Dia bahkan langsung bergegas menghabiskan sarapannya.
Saat itulah Ganeeta tertegun.
Senyuman di bibir kecil itu menghantamnya keras bak palu godam.
Damn it.
Bagaimana ia bisa lupa kalau Farrel sudah kembali? Lelaki sialan itu bahkan berani meminta izin tuk bertemu Brandon.
Big No.
Sampai kiamat pun Ganeeta tak akan sudi mempertemukan mereka berdua. Biarlah Brandon tetap mengenal Dewa sebagai Ayahnya.
Tapi, bagaimana jika Farrel menuntut hak asuh?
Cemas, Ganeeta pun segera menelpon Dewa. Dia harus membicarakan masalah ini.
Berdua.
*************
"Jadi maksud kamu, Farrel itu anaknya Om Benjamin? Om Ben yang aku kenal?"
Dewa mengendikkan bahu. "Soal itu aku nggak tahu. Tapi kalau dia Om Ben yang kamu maksud, berarti bener."
Dewa menyodorkan map berisi klipingan artikel mengenai Daniel dan Benjamin.
Ganeeta membuka map tersebut dan terhenyak. Untuk sesaat dia kehilangan kata-kata.
Melihat reaksi Ganeeta, Dewa tahu mereka orang yang sama.
Ganeeta membacanya sekilas dan lekas menutupnya. Sambil memejamkan mata, otaknya mulai menggali memori masa kecilnya.
Masa dimana Ibunya masih aktif menjadi aktris terkenal. Saat itu Cassandra pernah membawanya ke Singapura dan mereka berkenalan dengan seorang pengusaha bernama Benjamin.
Hubungan antara Ibunya dan Benjamin sempat berjalan baik, hingga suatu hari, entah karena alasan apa, Cassandra membawanya kembali ke Indonesia.
Dan semenjak itu, Ganeeta tak pernah lagi bertemu dengan Benjamin atau pun Daniel.
Tapi ada satu hal yang membuatnya bingung. Setahu Ganeeta, Om Ben hanya memiliki satu orang anak yaitu, Daniel.
"Dari info yang aku dapat, Farrel itu anak dari selingkuhannya Benjamin. Makanya nggak ada yang tahu." Seolah memahami kebingungan Ganeeta, Dewa langsung menjelaskan.
"Aneh ya. Aku temenan bertahun-tahun sama Farrel, gak pernah kepikiran kalau ternyata dia anak orang kaya," imbuh Dewa tertawa miris.
Ganeeta refleks mengangguk. Jangankan Dewa, dia saja yang sudah tidur bersama tak pernah menduga tentang itu.
Sempat beberapa kali Ganeeta menyinggung perihal keluarganya namun Farrel hanya mengatakan jika keluarganya berada di Pontianak.
"Eh, terus yang di Pontianak itu siapa? Bukannya kamu sempet ketemu Daniel disana?" tanya Ganeeta.
"Ternyata mereka itu pembantu yang mengasuh Farrel dari bayi. Makanya, seandainya waktu itu kamu ikut juga, Net. Kamu pasti bisa ngenalin Daniel. Kita juga bisa tahu gimana caranya nemuin si Farrel. Brengsek Daniel ini, bisa-bisanya dia ngomong supaya adiknya dianggap mati aja."
Ganeeta hanya diam. Saat itu usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan. Mana mungkin dia berani keluyuran kesana kemari dengan perut buncit.
"Wa apa menurut kamu, Farrel bakalan menuntut hak asuhnya Brandon?"
Pertanyaan Ganeeta membuat Dewa terkesiap. Lelaki itu mengeraskan rahang, teringat karena Brandon lah, alasan sahabatnya itu berada di Indonesia.
"Enggak mungkin. Secara hukum, Farrel itu udah mati. Kamu ingat kan Net? Keluarganya bahkan ngadain pemakaman dan bikin surat kematian. Gimana bisa orang yang sudah mati menuntut —"
"Tapi keluarganya bisa kan?!" sela Ganeeta khawatir. "Gimana kalau Om Ben atau Kak Daniel yang mengajukan tuntutan?"
Dewa mengeraskan rahang sebagai jawabannya. Matanya menyorot tajam sementara tangannya mengambil salah satu klipingan artikel koran di dalam map. Foto Benjamin terpampang di koran tersebut.
"Kalau itu sampai terjadi, aku sendiri yang bakalan turun tangan!" Dewa meremas kertas koran itu, "Brandon itu anak kita! Cuma aku dan kamu yang berhak atas Brandon."
Andai Dewa tahu kalimatnya barusan bisa mengartikan banyak hal, lelaki itu pasti akan menyesalinya. Karena setelah mendengar ucapan Dewa, Ganeeta semakin memantapkan hatinya tuk tak melepaskan Dewa begitu saja.
Atensi Dewa dan Ganeeta sama-sama teralihkan ketika ponsel Dewa yang tergeletak di atas meja — berdering.
Dewa mengernyit mendapati nomor asing di layar ponselnya.
Belum sempat diangkat, panggilan itu pun berhenti. Tak berselang lama, ada satu pesan dikirim dari nomor asing itu.
Dewa membukanya dan serta merta dibuat emosi.
Nomor asing itu mengirimkan foto Mahesa dan Bianca yang sedang duduk berduaan. Terlihat di foto, mereka seperti tengah mendiskusikan sesuatu yang serius.
Namun bukan itu yang membuatnya mendidih, melainkan tulisan yang berada tepat di bawahnya.
Mahesa berencana menikahi Bianca secepatnya. Bergerak sekarang atau kamu akan kehilangan dia selamanya.
Dewa menipiskan bibirnya. Jantungnya bergemuruh kencang.
Menikah? Mereka akan menikah? Nggak. Nggak boleh! Pernikahan itu nggak boleh terjadi!! Gue harus melakukan sesuatu!!