Second Chance

Second Chance
Dua Puluh Dua :



Angga datang lagi memeriksa Yana beberapa hari kemudian. Dia lalu mengajakku keluar makan malam bersama. Aku tidak enak menolaknya. Apalagi dia sudah minta izin pada Mama yang kelihatan senang melihatku dekat dengan seseorang.



“Kamu mau makan apa?” tanya Angga ketika kami sudah meninggalkan rumah. Menerobos lalu lintas yang ramai di malam minggu. Lalu lintas di Makassar tidak terlihat nyaman setelah terbiasa dengan kelengangan jalan di sekitar rumah sakit tempatku tugas di Buton selama tiga tahun.



“Sebenarnya aku tidak terlalu lapar,” jawabku. Aku mulai membiasakan menggunakan sebutan aku, menyesuaikan diri dengan Angga. “Aku ikut Kak Angga saja. Kak Angga belum makan, kan?”



Angga tersenyum. “Aku kangen makan seafoodyang seperti yang kita makan setiap hari di Buton dulu. Kita makan di Jalan Sulawesi saja. Di sana ada beberapa rumah makan khusus seafood.”



Aku mengamati profil Angga dari samping. Tulang rahang yang membingkai wajahnya tampak kokoh. Hidungnya terlihat lebih mancung dilihat dari satu sisi seperti ini. Tidak heran dia membutuhkan sebentuk cincin untuk menghindari gadis\-gadis, meskipun tetap saja itu berlebihan. Aku melepas pandangan sebelum Angga sadar aku sedang menilainya. 



“Tema seafood\-nya mungkin sama tapi kesegarannya pasti beda.”



Angga menoleh, menyipit menatapku sejenak sebelum kembali melihat ke lalu lintas di depannya. “Kamu mau merusak semangatku, ya? Terlambat, Ra. Aku telanjur lapar.”



Aku meringis. Merasa beruntung dia tidak menoleh tadi dan menangkap basah aku menatapnya lama. “Ya, setidaknya aku berusaha.”



“Berusaha apa? Menjadi penghancur kebahagian orang lain?”



“Ya ampun, aku tidak seburuk itu!” bantahku ikut tersenyum. Senyum Angga seperti menular.



“Aku tahu. Aku hanya bercanda. Oh ya, Dio tidak melarang kamu keluar denganku? Malam minggu lagi.”



Aku tidak mau bicara tentang Dio. Angga pasti merasa wajar menanyakannya karena dia tadi melihat Dio menyeberang di pagar saat kami sudah naik mobil. “Hubungan kami sekarang tidak memungkinkan dia untuk melarang aku melakukan sesuatu.” Aku menjawab juga meskipun enggan.



 “Benarkah?” Angga terdengar tidak yakin. “Mungkin kalian hanya perlu waktu. Pasti sulit saling melepaskan dengan begitu banyak kenangan yang terlibat di dalamnya.”




“Kamu mendendam?”



Aku marah kepada Dio untuk waktu yang lama. Aku tidak yakin itu dendam, tetapi rasa dikhianati memang tidak gampang pupus. Namun, aku sudah melewati tahap itu. “Aku sudah memaafkan Dio. Aku memaafkannya bukan karena dia yang memintanya, tapi lebih untuk diriku sendiri. Aku mencoba merelakan dan melepaskan. Hanya saja, memaafkan itu satu hal. Dan melupakan adalah hal yang lain.” Aku seperti mengulang kalimat yang disumpalkan Maya di kepalaku beberapa bulan lalu. Dia tidak salah. Aku merasa lebih baik sekarang, saat tidak merasa perlu untuk menghindari Dio lagi.



“Intinya, kamu sudah kehilangan kepercayaan pada Dio?” Angga seperti menikmati percakapan dengan topik sensitif itu.



“Intinya, aku sudah kehilangan kemampuan untuk percaya kepada siapa pun.” Itu benar.  Percaya kepada seseorang bukan hal mudah sekarang.



“Kamu tidak boleh memakai Dio sebagai standar untuk menilai semua orang.”



Aku kembali mengawasi Angga. Percakapan ini sudah saatnya diputus. “Bisa kita berhenti membicarakannya? Aku sudah cukup membahasnya dengan Maya.”



“Aku hanya ingin kamu tahu bahwa tiap orang itu pribadi yang berbeda. Jangan hanya karena Dio, kamu memilih untuk menutup dirimu dari semua laki\-laki. Tidak adil.”



Itu kalimat sakti yang terus Maya ulang untuk meyakinkanku. Sekarang mereka terasa seperti sedang berkomplot. Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat dan terdengar tidak peduli. Yang pasti, aku tidak ingin kembali dalam perdebatan itu. “Tentu saja tidak. Tapi untuk memulai kembali hubungan yang baru, aku belum siap.”



“Kamu tahu sesuatu tentang cinta, Ra? Cinta itu datang begitu saja tanpa menanyakan kesiapanmu. Dia bisa menyerangmu saat lengah dan tidak punya pilihan lain kecuali menyerah.”



“Kak Angga bicara soal cinta atau pemburu?” Aku berusaha terdengar riang. “Lucu juga mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut seseorang yang menggunakan cincin untuk  menciptakan status palsu.”



Angga tertawa. “Aku tidak akan mengalahkanmu kalau berdebat kan, Ra?”



Aku ikut tertawa. Kenapa berbagi tawa seperti ini rasanya nyaman, ya?