Second Chance

Second Chance
Delapan : Dio



Selain Mama, Dio adalah alasanku meninggalkan Makassar dan enggan mengambil cuti pulang. Dio itu… entahlah, aku sulit menemukan kata atau kalimat untuk mendeskripsikan pentingnya dia bagiku. Yang aku tahu, setelah Papa, dialah laki\-laki dalam hidupku. Orang yang aku yakin akan berdiri paling depan untuk memastikan aku nyaman menjalani hidup. Dan dia memang selalu melakukannya, sebelum berkhianat.



Kami sebaya. Bertetangga sejak lahir. Aku pikir sudah mengenalnya dengan baik, karena kami tumbuh bersama. Aku berpegang dan bergantung kepada Dio setelah kepergian Papa. Dia yang kutumpahi air mata ketika sedih saat melihat Mama begitu gampang mencurahkan kasih sayang kepada adik\-adikku, tetapi canggung kepadaku. Dia menemaniku menghitung bintang dalam diam ketika sedang merindukan Papa. Membuatkan cokelat panas saat periode menstruasi membuat perutku kram. Aku hanya perlu berteriak pada Dio saat melupakan pembalut padahal sudah berada dalam kamar mandi, kalau dia sedang berada di kamarku. Aku terbiasa dengannya. Terbiasa dengan kehadirannya. Dan dia juga selalu ada untukku.



Ketika akhirnya hubungan kami berubah dari sahabat menjadi kekasih, kupikir itu hal yang wajar. Jujur, aku tidak bisa membayangkan bersama laki\-laki selain Dio. Dia memahamiku dengan baik. Dia tahu kapan bisa bergurau habis\-habisan, atau kapan dia  harus membiarkan aku diam. Aku tidak selalu menyenangkan, karena aku cenderung tertutup. Aku bukan orang yang ekspresif dalam mengungkapkan perasaan. Aku tidak gampang dekat dengan orang lain.



Dio itu kebalikan dari aku. Dia supel dan periang. Kalau diibaratkan, aku malam, dia siang. Aku pesimis, dia optimis. Dia melihat segala sesuatu secara positif, sementara aku selalu menemukan celah untuk melihat sisi negatif semua hal. Perbedaan yang entah mengapa membuat kami cocok. Karakternya mirip Maya, yang mulai berteman denganku sejak SMP.



Aku tidak pernah menduga Dio bisa mengkhianatiku, karena kalau ada orang yang mau menerima peluru muntah untukku, aku yakin Diolah oranglah. Jadi, ketika aku tahu Dio berbagi hati, itu menghancurkanku, karena aku bukan saja kehilangan kekasih. Namun, aku juga kehilangan sahabatku sejak bayi. Bagaimana aku bisa mengatasi kehilangan yang demikian besar di saat yang sama? Dan yang paling penting, bagaimana aku bisa memercayai orang lain lagi, setelah Dio yang kukenal seumur hidup membuktikan bahwa kepercayaan itu ternyata mudah dilanggar? Jujur, kurasa aku tidak akan pernah percaya kepada laki\-laki yang mengulurkan tangan dan menawarkan aku berjalan bersamanya atas nama cinta. Tidak lagi.


**


Maya akan kembali ke Makassar besok. Aku membantunya mengepak koper besar berisi pakaian dan oleh\-oleh. Kami membeli cukup banyak camilan khas Buton untuk dia bawa pulang.  Aku sudah memisahkan oleh\-oleh untuk Mama dan adik\-adikku. Mereka tidak meminta apa pun, tetapi mengirim sesuatu dari sini saat Maya kembali ke Makassar menunjukkan perhatianku. Aku selalu merindukan mereka, tetapi belum menemukan cukup keberanian untuk berada di antara mereka setiap saat. Kecanggungan Mama, keberadaan Dio di sebelah rumahku menjadi alasan keenggananku kembali.



Setelah selesai dengan koper dan makan malam, aku dan Maya duduk di teras mungil rumahku dengan cangkir kopi yang masih mengepul.



“Aku tahu kamu enggan membicarakan ini, tapi rasanya harus,” mulai Maya seraya memainkan cangkir di tangannya. “Dio menanyakanmu. Kami kadang bertemu saat aku ke rumahmu. Katanya kamu tidak pernah menjawab telepon dan pesan\-pesannya.”



Aku mengarahkan pandangan ke langit. Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat saat mendung seperti sekarang. Aku tahu Maya pasti akan membahas Dio sebelum pulang. Dia cukup sabar menunggu sampai malam terakhir dia berada di sini untuk melakukannya.



“Dia kenal aku, May. Dia tahu aku tidak akan melayaninya. Apa pun yang dia katakan tidak akan mengubah kenyataan bahwa dia berkhianat, kan? Aku sudah mendengarkannya membela diri dulu. Itu cukup.”



“Katanya itu kesalahan,” ujar Maya pelan. Nadanya hati\-hati. Dia tahu ini percakapan yang sensitif. “Dia khilaf.”



Aku tertawa miris. “Aku tidak bodoh, May. Aku tahu perbedaan antara khilaf dan sengaja. Aku melihat gestur mereka. Perempuan itu jelas terbiasa berada di rumah Dio. Pasti Dio yang mengajaknya karena tahu aku tinggal di asrama dan tidak suka pulang ke rumah.” 



Tanpa kuinginkan, aku teringat. Saat itu hujan deras. Aku memaksakan datang ke rumah Dio karena dia ulang tahun. Aku bukan orang spontan dan suka kejutan, tapi aku ingin memberi perayaan yang menyenangkan untuk Dio. Selama ini, dia yang selalu membuatku senang, jadi sesekali aku ingin melakukan hal yang sama untuknya.



Aku memberi kesan pada Dio kalau aku sibuk karena harus jaga di rumah sakit sampai malam. Dia tahu masa co\-\*\*\* memang serupa pembantaian, jadi sepakat untuk bertemu malam hari untuk makan bersama.



Pintu rumah Dio tidak terkunci. Aku tahu dia di dalam karena motor dan mobilnya ada di garasi. Suara panggilanku tertelan deras hujan. Berjingkat\-jingkat, aku menuju kamarnya. 



Aku tidak ingat sudah berapa ribu kali aku masuk kamar Dio. Itu seperti kamar keduaku saking seringnya aku berada di sana sejak kecil. Tidak terhitung jumlah barang di kamar Dio yang merupakan pemberianku. Boleh dibilang, akulah yang mengatur kamarnya.



Dan hari itu, untuk kali pertama, aku merasa asing di sana. Untuk kali pertama aku merasa berada di tempat yang salah dan tidak diinginkan. Aku butuh beberapa detik untuk mengartikan pemandangan yang kulihat setelah menguakkan pintu. Dio tidak sendiri di sana. Seorang gadis berambut panjang berbaring berbaring santai di atas bantal hati milikku, di atas ranjang Dio.




Apa yang kulihat membuatku tahu jika Dio sudah lelah menjadikan aku satu\-satunya perempuan dalam hidupnya. Waktu itu aku terlalu kaget untuk mencerna semua lebih lanjut. Aku hanya menjatuhkan kotak kue ulang tahun yang kubawa dan menghambur keluar, tanpa peduli teriakan Dio.



Beberapa waktu setelah kejadian itu baru sakit hati terasa meluluhlantakkan. Saat aku menyadari bahwa selama ini, entah sejak kapan, Dio berbohong kepadaku. Dia menyimpan seseorang di belakangku. Dia tidak lagi mencintaiku. Dia hanya berpura\-pura karena tidak punya keberanian mengatakannya kepadaku. Dia tahu aku bergantung padanya, jadi tidak tega melukaiku. Dia kasihan kepadaku. Dan aku tidak suka dikasihani. Benci dibohongi.



“Dio ingin ikut ke sini,” suara Maya membuyarkan lamunanku. “Tapi aku bilang  kalau itu bukan ide bagus.” Maya mengambil jeda sejenak. “Ra, dia menyesal.”



Dio mengulang\-ulang permintaan maaf dan penyesalannya waktu itu. Namun, aku sudah kehilangan kepercayaan. Aku membencinya karena dia membuatku kehilangan kekasih dan sahabat di saat yang sama. Bukan hal yang mudah kuhadapi, menghapus seseorang yang menjadi bagian dari hari\-hariku secara mendadak.



“Dia menyesal karena ketahuan?” tanyaku sinis.



 “Dia menyesal karena kehilangan kamu.” Maya pura\-pura tidak mengerti sarkasme dalam kalimatku.



Tawa getir lepas dari bibir tanpa bisa kutahan. “Dia seharusnya berpikir sebelum memasukkan orang lain dalam hubungan kami. Dia kenal aku sejak kami memakai popok, May. Dia pasti tahu bagaimana reaksiku terhadap pengkhianatan.”



“Aku tidak membicarakan ini untuk menjadi humas Dio, Ra.” Maya menatapku sungguh\-sungguh. “Aku tidak akan berdiri di tengah kalian dan menjadi juru damai, karena tahu apa yang dilakukan Dio memang salah, terlepas dia benar khilaf atau sengaja. Aku membahasnya karena merasa kamu memperlakukan keluargamu tidak adil. Dio membuatmu begitu mudah memutuskan meninggalkan rumah. Kamu sudah mendepaknya dari hidupmu, Ra. Kamu tidak harus pergi dari keluargamu selama bertahun\-tahun hanya karena Dio. Dia tidak lebih penting daripada mamamu, Lisa, dan Yana, kan?”



Maya tahu kalau Dio bukan satu\-satunya alasan aku menghindar menghirup udara di Makassar untuk bertahan hidup. Dia hanya membawa Dio supaya alasan kepergianku terdengar lebih remeh.



Namun, aku tidak ingin menghabiskan malam terakhir bersama Maya untuk berdebat. Dia tidak datang menemuiku di sini untuk bertengkar. “Aku nanti akan pulang juga, kan?”



“Kapan?” Maya terdengar kesal mengucapkannya.



“PTT\-ku tidak sampai tiga bulan lagi selesai.” Aku memang belum punya rencana pasti karena program PTT sudah dihapus pemerintah pusat. Perpanjangan yang kurencanakan jelas batal. Ada program Nusantara Sehat yang digadang sebagai penggantinya, tetapi aku tidak yakin akan ikut itu. Mau tidak mau, aku harus pulang, kecuali kalau benar\-benar memutuskan menjadi pegawai negeri di tempat ini. Itu keputusan besar yang perlu pemikiran matang karena sifatnya permanen.



“Jadi kamu benar\-benar akan pulang kali ini?” Nada Maya melunak.



Kalau aku memang tidak punya pilihan. “Iya.” Jawaban itu akan menghentikan perdebatanku dengan Maya.



“Syukurlah. Mama dan adik\-adikmu pasti senang mendengarnya.”



Aku yakin adik\-adikku memang akan senang mendengarnya. Aku hanya tidak yakin Mama peduli. Memikirkan itu terasa menyesakkan.