Second Chance

Second Chance
S.C Bayang Mimpi



Dewa menatap sesaat cairan hitam pekat di atas mejanya. Kepulan asap dari cangkir berwarna gading itu, menandakan bahwa minuman tersebut baru saja dibuat. Namun hal itu tak menyurutkan Dewa untuk menyesap minuman yang sudah ia konsumsi sejak masih kuliah.


Nada dering dari ponselnya mengalihkan atensi Dewa sejenak.


Ganeeta.


Dewa hanya melirik malas dan kembali fokus menikmati kopi.


Akan tetapi benda pipih itu tak kunjung berhenti berdering sehingga pria itu kesal dan lantas menggeser ikon merah di layar ponselnya.


Merasa tak puas, Dewa lalu menekan tombol power dan memasukkan benda pipih itu ke dalam laci meja kerjanya.


******


Beberapa pegawai menyapa Dewa saat berpapasan dengannya ketika pria itu berjalan keluar menuju parkiran. 


Di dalam mobil, Dewa melepas dua kancing atas kemejanya sembari memanaskan mobilnya sebelum mengemudikannya keluar dari parking area.


Dia mengklakson satu kali, ketika mobilnya melintas di depan pos penjagaan yang langsung dibalas sapaan hormat dari security yang berjaga disana.


Membelah jalanan ibukota yang ramai, Dewa melajukan mobilnya menuju sebuah kompleks apartemen di bilangan Jakarta Barat. 


*****


Pintu unitnya terbuka setelah Dewa menekan beberapa digit nomor sandi. Aroma pengharum ruangan menyambut indera penciuman Dewa. Lelaki itu menarik napas panjang, merasakan sejenak wangi aromatik vanilla bercampur kayu oud.


Setelah membasahi kerongkongannya dengan segelas air dingin, Dewa beranjak dari pantry lalu membaringkan tubuhnya di sofa depan layar TV. Suasana hening dari apartemennya, membuat otak Dewa berkelana kemana-mana.


Dan ketika mimpi itu terlintas kembali, Dewa segera bangkit dan bergegas ke kamar mandi.


Di bawah kucuran shower, Dewa menggertakan gigi dan menggosok keras seluruh badannya. Tak dihiraukannya rasa perih akibat gesekan shower puff yang baru ia gunakan hari ini.


Selepas mandi dan berganti baju, Dewa berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya.


Nasi goreng dengan potongan cabai dan telur orak-arik menjadi pilihan Dewa malam ini.


Sederhana, tapi entah mengapa santapan itu terasa nikmat di mulutnya. Dia bahkan sampai mengeruk wajan bekas memasaknya -- memastikan tidak ada sebutir nasi yang tertinggal disana.


Sudah 2 malam, Dewa tidur di apartemennya. Pria itu sudah tak ingin lagi berada di satu kamar dengan Ganeeta. Bahkan ia berencana untuk segera pindah dari rumahnya dan menetap disini.


Mengingat Ganeeta, terbayang lagi mimpi buruknya yang membuat pria itu bergidik jijik hingga memutuskan keluar dari rumah.


Entah bagaimana, suatu pagi Dewa bangun dengan perasaan aneh. Dia bermimpi berhubungan badan dengan Ganeeta.


Dan sialnya, mimpi itu terasa begitu nyata. Bahkan saat bangun pun, dia seakan bisa merasakan hangat tubuh Ganeeta dan erangan dari mulutnya kala dirinya mencapai pelepasan bersama di atas tubuh Ganeeta.


Awalnya, ia ingin mengkonfrontasi perihal mimpi itu kepada Ganeeta. Karena Dewa ingat betul, malam itu ia sedang berada di ruang kerjanya. Tapi ketika bangun, ia justru ada di kamar tidur mereka.


Namun pada akhirnya Dewa urung menanyakannya. Dia malu jika ternyata itu hanya khayalannya semata. 


Bukan tanpa alasan, pasalnya selama 5 tahun pernikahan mereka, tak pernah sekalipun mereka melakukan hubungan selayaknya suami-istri. Bahkan untuk sekedar memeluk, hanya ia lakukan di depan umum.


Tak munafik, Dewa memang kadang tergoda dengan kemolekan tubuh Ganeeta. Namun setiap kali hasratnya menggebu, batinnya menolak keras. 


Dia merasa bersalah jika sampai menggauli Ganeeta, karena pernikahan ini semata hanya untuk memberikan status pada Brandon. Lagi pula Dewa masih memegang teguh prinsipnya.


"Tubuhku cuma milik Bianca. Aku udah menyakiti hatinya, jangan sampai aku melakukannya dua kali!"


Makanya Dewa lebih memilih bermain solo ketimbang menyentuh istri halalnya. Dan selama ini Ganeeta tak pernah mempermasalahkan atau meminta haknya.


Sebaliknya, Dewa pun merasa bersyukur dan karena itulah pernikahan mereka bisa awet meski tanpa cinta dan sentuhan fisik. 


"Sialan!!" maki Dewa seraya membanting sendoknya.


Lagi-lagi tubuh polos Ganeeta, terbayang liar di kepalanya. Beruntung Dewa sudah menghabiskan makan malamnya. 


Merasa jengkel, Dewa pun beranjak menonton TV untuk menghilangkan bayangan Ganeeta.


Cukup lama ia terhanyut menikmati film action yang ditontonnya, sampai perlahan-lahan matanya mulai terpejam dengan posisi terduduk di sofa.


*****


Pagi harinya, Dewa bangun dengan rasa pegal di sekitar leher dan punggungnya. Namun ia merasa lega. Setidaknya sejak tinggal disini, ia tak lagi bermimpi aneh.


Dengan perasaan ringan, Dewa bergegas mandi dan siap berangkat bekerja.


Di kantor, Dewa memulai rutinitasnya. Memeriksa hasil kerja karyawannya dan menemui beberapa klien.


Tepat di sore hari, saat waktu kerja tinggal beberapa jam lagi, ia dikejutkan dengan keberadaan Ganeeta di ruangannya.


Ganeeta memang sudah dikenal sebagai istrinya sehingga sekretarisnya selalu mempersilahkan Ganeeta masuk meski Dewa sedang tak berada di dalam.


"Ngapain kamu disini?" ketus Dewa tak suka. Dia sempat mengernyit, mendapati jejak air mata di pipi Ganeeta. "Pulang sana, Net."


Dewa mengibaskan tangan seolah Ganeeta semacam hama yang mengganggunya. Setelah itu ia menyalakan komputer dan berpura-pura menyibukkan diri. Dia sengaja melakukannya dengan harapan agar wanita itu segera pergi. 


Tetapi Ganeeta masih disana. Dia hanya duduk diam, mengamati udara kosong. Wanita itu baru menoleh ketika Dewa mengusirnya sekali lagi.


Saat mata mereka bertubrukan, Dewa melihat sorot kesedihan di mata Ganeeta. Manik hitamnya nampak terluka oleh sesuatu.


Dewa merasa tercekik dan entah kenapa sorot mata itu membuatnya nyeri. Dia pun melengos. Membuang muka dan memilih abai.


Terserahlah, tidak masalah Ganeeta ada disini. Yang penting jangan mengajaknya bicara.


Tetapi Dewa akhirnya bangkit ketika Ganeeta memukuli dadanya sendiri. 


"Kamu ngapain sih?!" Dewa menarik tangan Ganeeta. Menahannya agar tak menyakiti dirinya sendiri.


Ganeeta berontak, "Lepasin Wa! Biarin aku ngelakuin ini. Seenggaknya, biarkan perasaanku sedikit lega. " 


Dewa mendengkus lalu menyentak kasar pergelangan tangan Ganeeta.


"Kalau kamu mau jadi gila, jangan di kantorku! Sana, pulang dan lakukan apa yang kamu lakukan tadi di rumah! Jangan sampai karyawanku melihat kegilaanmu!! Bisa hancur reputasiku!"


"Tega kamu, Wa! Bahkan dari tadi aku disini, kamu nggak bertanya apapun dan malah ngusir aku pulang!! Apa kamu nggak peduli sama keadaanku?!"


"Peduli? Buat apa?" Dewa terkekeh geli. Aneh sekali wanita ini, kenapa pula Dewa harus memikirkannya? Memangnya siapa dia?


"Aku ini istri kamu, Dewa!"


"Istri?" Dewa terbahak. "Dari dulu istriku cuma Bianca. Kita berdua ini cuma sebatas partner buat besarin Brandon."


Lagi-lagi Ganeeta dibuat terperangah. "Lima tahun Wa. Apa cuma segitu arti pernikahan kita buat kamu?"


Dewa menyeringai sambil mengangguk.


Nyeri. Ganeeta menahan mati-matian lelehan cairan bening yang sudah mengambang di pelupuk matanya. Cukuplah Dewa melihatnya kesakitan, jangan biarkan Dewa melihat air matanya juga.


"Pernikahan kita ini cuma bisnis. Bisnis yang menguntungkan kita berdua. Brandon mendapatkan ayah. Dan aku mendapat nama besar dari keluargamu. Apalagi yang kurang? Toh dari awal, kamu cuma ingin figur ayah buat anakmu, kan?"


"Tapi aku butuh kamu Wa. Aku butuh kamu sebagai suami…." cicit Ganeeta pelan. Air matanya jatuh tanpa bisa dikompromi. Terserahlah Dewa mau menganggapnya lemah atau cenggeng. Ganeeta butuh melepaskan semua bebannya.


"Makin ngelunjak kamu Net! Jangan buat aku semakin menyesali pernikahan ini. Seharusnya kamu itu berterima kasih. Cukup diam dan terima semuanya. Jangan menuntut macam-macam. Kalau bukan aku, siapa lagi yang mau nikahin dan ngerawat kamu? Eggak ada laki-laki di luaran sana yang rela berkorban sedemikian tololnya seperti aku. Bener nggak?"


"Tolol?"


"Ya, tolol. Aku buang Bianca-ku cuma demi kamu dan anak yang bahkan nggak ada secuil pun DNA ku di dalamnya!! Paham kamu?!"


Pias wajah Ganeeta merah padam. Harga dirinya serasa jatuh dan diinjak-injak. Dewa berhasil melucutinya dengan sangat tajam. 


Ganeeta hanya bisa diam karena semua kalimat Dewa benar adanya. Dia yang memaksa Dewa dan dari awal pernikahan ini dibuat hanya untuk Brandon.


Seharusnya Ganeeta tahu diri. 


Tapi…. perasaan ini tidak kuasa ia cegah. Ganeeta terlanjur jatuh cinta. Dia jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.


"Brengsek kamu Wa," Ganeeta mengumpat pelan.


Dewa mendengarnya dan kembali tertawa remeh.


"Kita sama-sama brengsek, Net – kalau kamu lupa."


Ganeeta menarik napas panjang. Percuma meladeni Dewa, pria itu punya sejuta kalimat racun yang ditujukan untuknya. Anehnya, Ganeeta masih keukeuh bertahan meski sadar racun itu perlahan mengikis mentalnya.


Dewa menepuk-nepuk lengan kemejanya yang kusut. Lalu beranjak berdiri.


"Kalau kamu masih mau disini, terserah. Tapi jangan ganggu aku. Dan jangan ngomong apa pun. Bagusnya sih, kamu pulang Net. Brandon pasti nyariin kamu. Aku nggak akan tidur di rumah lagi. Pikirkan sendiri alasannya ke Brandon."


Dewa beranjak berdiri dan berjalan memunggungi Ganeeta.


"Dia masih hidup, Wa." Suara dingin Ganeeta menghentikan langkah Dewa dan membuat pria itu membalikkan badannya.


"Dia siapa?" tanya Dewa bingung.


Ganeeta tertawa hambar. "Siapa lagi? Sahabatmu –" Ganeeta menjeda kalimatnya seraya menghapus air matanya.


"Farrel. Dia masih hidup," ujar Ganeeta lirih.


Mata Dewa sontak melebar kaget. 


"Jangan bohong!!" sergahnya. Dia kembali menghampiri Ganeeta dan duduk di samping wanita itu. Tatapannya menyiratkan kemarahan.


"Ngapain aku bohong sih Wa! Barusan dia datang nemuin aku. Dan kamu tahu, siapa yang datang bersamanya?" 


Dewa menggeleng cepat.


"Bianca. Mereka berdua datang nemuin aku di restoran."


Sekali lagi Dewa tercengang. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Enggak. Nggak mungkin. Bukannya Kakaknya bilang, Farrel masih menghilang sampai polisi menetapkan dia udah meninggal?"


Ganeeta tersenyum miris. "Terus kamu pikir, tadi aku ketemu siapa? Hantu?"


Dewa menatap lekat Ganeeta dan menangkap kejujuran di matanya. Pria itu menjambak rambutnya.


"Astaga. Gimana…. Maksudku – kenapa……kenapa Farrel nggak nemuin kita dari dulu?!"


Sedetik kemudian, kebingungan Dewa berganti kemarahan. Dia menggebrak meja, membuat Ganeeta berjengit kaget.


"Brengsek!!" Mata Dewa menatap nyalang Ganeeta. "Ada dimana si brengsek itu sekarang?!"


Ganeeta meneguk salivanya. Dia ketakutan melihat sorot tajam Dewa. Tinggal bersama selama bertahun-tahun membuat Ganeeta paham kalau saat ini emosi Dewa sedang tak terbendung. Wajah pria itu bahkan memerah dengan mata yang berkilat.


Dewa yang sedang emosi, adalah hal yang paling dihindarinya.


"Jawab, Net!" bentak Dewa karena Ganeeta hanya memandanginya saja.


"Aku….aku...nggak tahu," cicit Ganeeta. Dia memalingkan wajahnya karena ketakutan melihat sorot kebengisan di mata Dewa.


"Jangan bohong kamu!" Dewa menekan lengan Ganeeta membuat wanita itu mengernyit kesakitan.


"Aku serius!" Ganeeta meringis ngilu karena tangan Dewa mencengkram kuat lengannya. "Coba kamu tanya Bianca. Mereka tadi datangnya barengan!" sentaknya sembari melepaskan cengkraman Dewa.


Dewa mendengkus kasar.


"Lho.. Wa, kamu mau kemana?!" Ganeeta kebingungan ketika Dewa bangkit dan berjalan melewatinya.


"Pulanglah Net…" hanya itu jawaban yang diucapkan Dewa sebelum meninggalkan Ganeeta yang masih mematung kebingungan.


Barulah setelah Dewa menghilang dari pandangannya, Ganeeta sadar dan bergegas mengejarnya. Tetapi langkahnya kalah cepat karena lift yang dinaiki Dewa sudah tertutup rapat.


"Ya Tuhan, jangan sampai mereka berdua berantem. Bodoh banget, kenapa aku bisa lupa ngasih tahu kondisi Farrel ke Dewa," runtuknya cemas.