
"Aku tidak mengira kamu akan berbuat sejauh ini," kata Eddy dengan nada kesal sambil melempar sebuah majalah ke lantai.
"Aku tidak melakukannya, Ed. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, aku tidak sedang membohongimu, Ed," sahut Gerald. Dia menatap kakaknya dengan penuh memohon.
"Lalu mengapa berita tentang kamu yang dikaitkan dengan sebuah penculikan dan pembunuhan, serta kejahatan lainnya ada dimana-mana? Sudah aku bilang, kamu harus tetap di rumah sakit jiwa kalau belum benar-benar sembuh. Lihat sekarang, kamu membuat masalah dimana-mana. Bahkan kamu jadi orang nomor satu yang dicari di negeri ini," Eddy sangat marah pada adiknya.
"Buronan nomor satu negeri ini yang paling jahat ada disini. Kamu bisa membahayakan kami semua," ujar Beth hampir berteriak, istri kakaknya.
“Tenanglah, Beth! Pelankan suaramu. Anak-anak bisa ketakutan bila mendengar kau bicara seperti itu,” sahut Eddy memperingatkan sambil mengintip keluar jendela dan ujung atas tangga menuju kamar anaknya di lantai atas. Dia memastikan bahwa tidak ada orang yang mendengar suara Beth.
"Maafkan aku, Beth. Aku tidak bermaksud membahayakan kalian. Besok pagi aku akan pergi. Aku janji," sahut Gerald berusaha meyakinkan Beth. Tekanan suaranya kini terdengar lebih dalam.
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi! Kamu harus menyerahkan diri," kata Eddy. Dia tidak setuju kalau adiknya terus menerus menjadi buronan.
"Tapi aku tidak melakukannya. Percayalah, Ed! Aku memang datang ke rumah itu dan berniat akan menculik gadis kecil itu. Tetapi sesampainya disana, mereka semua tidak ada. Aku melihat ada beberapa bercak merah di dinding mereka, aku tidak tahu apa itu. Tapi aku tidak berbohong padamu, Ed," sahut Gerald memohon.
“Aku hanya takut bila nanti akan banyak orang yang akan mengincar kematianmu, Gerald. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian menyerahkan dirimu, aku akan menemanimu,” bujuk Eddy.
“Tapi…” Gerald berusaha membela dirinya lagi.
"Siapa yang akan percaya dengan penjahat pesakitan seperti kamu, dasar gila!" hujat Beth.
"BETH!" tegur Eddy. Meskipun dia mengakui adiknya adalah orang yang tidak waras, namun Eddy tidak suka ada orang yang menghina dan menyebutnya adiknya 'gila' meskipun itu adalah istrinya sendiri.
"Tenanglah! Jangan histeris seperti itu. Bagaimana kalau tetangga dengar nanti?" Eddy masih menegur istrinya. Dia berusaha memeluk istrinya untuk menenangkan, namun Beth malah menolaknya dengan kasar.
Beth merasa kesal karena Eddy terus membela adiknya dibandingkan dirinya. Beth merasa ketakutan dan putus asa dengan keberadaan Gerald di rumahnya.
Beth menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua lengannya.
"Baiklah, aku tidak akan ikut campur," sahut Beth sambil memutar kedua bola matanya.
"Aku melihatmu, Beth! Aku melihat ekspresi itu. Apa yang akan kau rencanakan?" tegur Eddy.
"Aku tidak merencanakan apapun, Ed. Itu urusan kalian. Aku akan pergi beristirahat melindungi kedua putriku di kamarnya," sahut Beth sambil melangkah menjauhi suaminya dan Gerald.
"Jadi, kamu akan tidur di kamar anak-anak?" tanya Eddy cemas.
"Ya, aku ingin menjaga anakku dari penjahat, dan kamu tidur saja sendiri. Kau juga bisa minta ditemani Gerald kesayanganmu!" ujar Beth dengan nada sinis.
Eddy menghela nafas dengan kasar. Dia juga menatap wajah Gerald dengan tajam.
'Gara - gara kamu…. huh,' pikir Eddy.
Gerald menyadari tatapan kedua mata kakaknya itu dan dia menjadi merasa bersalah.
"Maafkan aku. Aku tidak berniat seperti itu," kata Gerald.
"Kamu selalu mengatakan tidak berniat, tapi akibatnya selalu membahayakan orang lain. Sudahlah, dengarkan aku saja, Gerald. Kamu harus menyerahkan diri, aku punya surat-surat yang kamu butuhkan. Aku masih menyimpan surat sewaktu kamu masih di rehabilitasi di salah satu rumah sakit kota Area-Y lima belas tahun tahun yang lalu, Itu pasti akan meringankan hukumanmu," Eddy mendesak Gerald.
Gerald tampak berpikir sejenak.
"Beri aku waktu malam ini untuk memutuskannya," sahut Gerald.
"Baiklah, tapi kamu jangan kabur ya. Di luar sana terlalu bahaya untukmu. Kamu tidur satu kamar dengan ku saja agar aku bisa memantau kamu," Eddy memperingatkan adiknya. Gerald mengangguk.
"Tidak, aku tidak mau sekamar denganmu. Aku merasa rikuh dengan Beth. Biar aku tidur di sofa ini saja," Gerald menolak perintah kakaknya untuk tidur satu kamar dengan kakaknya.
"Kamu kan dengar sendiri tadi Beth tidak ingin tidur denganku," sahut Eddy
"Benar, tapi tetap saja itu adalah ranjang Beth. Aku tidak berani," sahut Gerald.
"Kamu tidak tidur di ranjangnya. Kamu tidur di sofa kamar kami saja," ujar Eddy
"Kalau begitu, baiklah," sahut Gerald sambil mengikuti kakaknya masuk ke dalam kamar.
Beth mengintip dari balik dinding depan kamar anak-anaknya. Dia melihat Gerald dan Eddy sudah memasuki kamar.
“Baguslah, bahaya itu harus aku singkirkan,” pikir Beth. Lalu dia masuk ke dalam kamar anak-anaknya lagi.
# Di tempat kediaman Thomas
Thomas menerima panggilan dari Charlie.
Thomas : "Saya harap ada kabar baik untuk saya saat kamu menelpon saya dini hari begini,"
Thomas : "Apakah kalian sudah menemukannya?"
Charlie : "Kami sudah memverifikasi kebenarannya,"
Thomas : "Baiklah, kirim alamatnya sekarang,"
Charlie : "Baik, Tuan,"
Thomas segera memutuskan panggilan itu dan berpaling ke arah Donny.
"Kamu sudah dengar kan?" tanya Thomas pada Donny yang sedang berdiri di belakangnya.
"Iya, Tom," sahut Donny.
"Saya akan berpakaian. Kamu urus sisanya," perintah Thomas.
"Pakaiannya sudah saya siapkan di ruang ganti, Tom," sahut Donny sebelum keluar dari ruang kerja Thomas.
"Kita tidak perlu menunggu Charlie dan pasukannya. Kita serang saja Gerald seperti rencana kita. Jangan sampai pihak Pasukan Khusus mengetahui tentang rencana kita. Jangan sampai Gerald mati. Kita butuh dia dalam keadaan hidup," perintah Thomas pada Donny.
**# 3 jam kemudian. **
BRAG!
[suara pintu terjatuh karena dibuka paksa]
Satu kelompok Pasukan Khusus masuk ke dalam rumah Eddy dan Beth. Namun, mereka menemukan Eddy yang terluka, serta Beth dan anak-anaknya yang menangis ketakutan.
"Komandan, ada yang terluka. Kami butuh bantuan medis disini," kata Petugas 1, bicara melalui radio panggil.
"Saya akan memanggil petugas medis, laporkan terus perkembangan situasi disana," sahut komandan.
"Apa yang terjadi disini?" Seorang petugas membuka pelindung kepalanya, dan ternyata itu adalah Charlie. Mike ikut membuka pelindung kepalanya.
"Sangat kacau sekali keadaan disini," ujar Mike yang melihat ke sekelilingnya.
Charlie dan Mike langsung saling bertukar pandang. Mereka saling mengerti dan sudah menduga apa yang sedang terjadi, namun mereka harus tetap diam agar tidak diketahui Pasukan Khusus yang lain.
"Di mana, Gerald?!" tanya Petugas 1 pada Beth.
"Dia sudah dibawa oleh kalian yang datang sebelum ini," sahut Beth sambil terbata-bata.
"Pasukan kami? Haha… itu sangat tidak mungkin. Kami tidak mungkin punya pasukan yang berbeda dan menangkap satu orang yang sama. Kalian pasti menyembunyikannya! Ayo, yang lain geledah rumah ini," perintah Petugas 1 itu dengan marah.
Para Pasukan Khusus itu pun menyerbu ke dalam rumah Eddy. Mereka memeriksa di setiap sudut rumah. Bahkan ada yang terpaksa harus membongkar langit atap rumah untuk mencari keberadaan Gerald.
Beberapa orang bertugas untuk mencari di halaman belakang rumah mereka. Sedangkan Eddy dibawa oleh para petugas medis untuk di obati. Mereka tidak menemukan Gerald di mana pun.
"Apakah mereka punya kamera pengawas?" tanya pimpinan regu pada Charlie.
Charlie terkejut, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa ketakutan karena jika memang kamera pengawas itu ada, artinya Thomas dan pasukannya bisa tersandung masalah hukum.
"Tidak, saya sudah periksa. Mereka tidak punya kamera pengawas," sahut Mike berbohong, dia berusaha menyelamatkan rekannya. Mike juga mempunyai dugaan yang sama dengan Charlie siapa pasukan yang sebelumnya berhasil menangkap Gerald.
"Mereka melanggar janji dengan kita," bisik Mike pada Charlie.
"Aku tahu, tapi aku tidak yakin mereka akan menjebak kita. Aku percaya mereka pasti punya tujuan khusus," sahut Charlie panik.
Charlie langsung mengirim pesan singkat kepada Donny. Dia menanyakan keberadaan Gerald. Namun, tidak ada jawaban dari Donny.
Begitu pula dengan Mike, yang diam-diam juga mencoba menghubungi Donny melalui telepon selulernya.
"Ketemu! Aku berhasil menemukannya!" seru Petugas 2.
"Kamu menemukan apa?" tanya Petugas 1 sambil menghampiri.
Petugas 2 hanya membuka telapak tangannya.
"Apa ini?" tanya Petugas 1.
"Itu terlihat seperti kamera mata-mata," kata Petugas 3.
"Kamera mata-mata? Milik siapa?" tanya Petugas 1.