
Aku melepas buku TOEFL yang sedang kubaca untuk persiapan ujian saat mendengar ketukan di pintu. Mama dan adik\-adikku tidak pernah mengetuk pintu lebih dulu saat akan masuk kamarku. Biasanya Dio yang melakukannya sambil berteriak memanggil namaku. Dulu. Kebiasaan beradabnya yang dimulai karena pernah mendapatiku hanya mengenakan handuk saat keluar dari kamar mandi ketika dia menyerbu masuk. Lemparan bantal dan beberapa pukulan di lengan membuatnya lebih menghargai privasiku. Meskipun peristiwa itu kerap dijadikannya sebagai olok\-olok. Katanya, hanya mengenakan handuk membuatku terlihat seksi, dan itulah saat pertama kali dia akhirnya melihatku sebagai perempuan, dan bukan sekadar sahabat yang tumbuh bersama sejak kecil.
Aku belum bertemu Dio sejak pembicaraan kami dua hari lalu. Percakapan yang tidak berakhir terlalu baik. Dia berkeras meminta kesempatan yang tidak mungkin kuberikan. Aku baru mengiyakan permintaan Angga menjadi kekasihnya, dan tidak mungkin membatalkannya dalam waktu sesingkat itu. Aku bukan orang seperti itu. Mengikat diri dalam satu komitmen adalah langkah besar untukku. Dan ketika aku melakukannya, aku pasti sudah yakin atas keputusan itu.
Dio benar kalau aku belum mengenal Angga sebaik aku mengenal dirinya. Namun, Angga membuatku nyaman. Untuk kali pertama setelah sekian lama, aku kembali merasakan detak jantungku meningkat saat berbagi tatap dengannya. Aku juga lebih sering memperhatikan dering telepon, berharap Angga menghubungiku di sela\-sela kesibukannya. Meskipun percakapan dengannya tidak pernah panjang. Dia memang bukan orang yang suka berbasa\-basi di telepon.
“Masuk!” teriakku setelah ketukan di pintuku terdengar lagi.
Kepala Angga segera menyembul dari balik pintu. “Hei,” ujarnya sambil masuk. Dia membiarkan pintu tetap terbuka. “Hanya ada Yana di bawah. Dia menyuruhku naik. Ponselmu tidak aktif? Teleponku tidak bisa masuk.”
Aku melepas buku TOEFL yang kupegang. Bangkit menuju ranjang tempat aku tadi meletakkan ponsel.
“Oh, baterainya habis.” Aku menunjuk kursi yang baru kutinggalkan. “Kak Angga duduk dulu.” Aku mengambil chargeruntuk mengisi baterai ponselku.
Angga tampak mengamati kamarku yang luas. Papa dulu sengaja membuatkan kamar yang luas untukku, karena kegiatanku memang terpusat di dalam kamar. Tenda yang biasanya kami pasang di halaman saat akhir pekan, terkadang kami buka juga di kamar ini ketika cuaca di luar tidak bersahabat. Kamarku jadi terlihat semakin lapang karena tidak terlalu banyak perabot di dalamnya. Hanya ada ranjang berukuran sedang, lemari pakaian, laci\-laci tempat aku menyimpan pakaian dalam dan perintilan perempuan yang lain, serta meja belajar. Dulu aku juga punya televisi di kamar. Televisi yang sering dipakai Dio bermain game sambil duduk di atas karpet tebal yang kugelar di depannya. Namun, televisi itu sudah kukeluarkan sebelum pergi PTT. Melihatnya hanya mengingatkanku pada Dio.
Setelah kembali dari Buton aku memang belum mengadakan make overdi dalam kamar. Jadi, kamar ini masih sama persis seperti saat aku meninggalkannya setamat SMU.
“Kamarmu luas sekali.” Mata Angga masih terus mengitari kamar. “Kita bisa main futsal di sini. Kamarku bahkan tidak sampai setengahnya.” Dia berlebihan. Kamarku memang luas tapi tidak bisa menampung dua tim futsal yang akan bertanding.
“Kak Angga mau minum apa?” tawarku tanpa menanggapi gurauannya.
Angga mengembalikan tatapannya padaku. Dia menggeleng. “Tidak usah. Aku menjemputmu supaya kita bisa makan di luar.”
Angga terlihat rapi. Dia pasti berangkat dari rumahnya, bukan sekadar mampir menemuiku sepulang jaga. Aku segera melihat kausku yang kebesaran. “Aku belum mandi,” ucapku sedikit tersipu. Aroma parfum menguar samar dari tubuhnya, sedangkan aku belum bertemu sabun sejak terakhir mandi kemarin sore. Menjadi pengangguran membuatku malas melakukan apa pun. Termasuk mandi. Kebiasaan buruk memang. Aku hanya menghabiskan waktu belajar untuk persiapan ujian masuk pendidikan spesialis.
“Mandi sekarang, ya.” Angga berdiri. “Aku tunggu di bawah.”
Saat itu suara Dio dengan langkahnya yang berderap di tangga terdengar, “Ra, pinjam gunting!”
Tidak bisa ya, dia tidak usah berteriak? Aku tidak yakin dia naik ke sini hanya untuk meminjam gunting. Ini pasti karena dia melihat ada mobil Angga di luar. Kekanakan sekali. Aku berkacak pinggang di depan kamar, berusaha menghalaunya. Tapi Dio tidak menghiraukanku. Dia masuk dan melewatiku begitu saja.
“Jangan main bongkar sembarang!” sentakku kesal sambil menyusulnya.
“Aku tahu di mana tempatnya, Ra. Tidak usah berteriak padaku.” Dia langsung menuju meja belajar dan membuka lacinya. Sebuah gunting dikeluarkannya dari situ. Setelah itu, dia melihat ke arah Angga, seolah\-olah baru menyadari kehadirannya. “Oh, hai,” tegurnya ringan. “Kuharap aku tidak mengganggu.”
Aku mengembuskan napas jengkel. “Di rumahmu tidak ada gunting?”
Dio tersenyum tanpa dosa. “Sekalian mau ambil album foto. Maya tidak bilang akan ada reuni SMU? Panitianya butuh foto\-foto kita waktu di SMU dulu. Aku yang punya koleksi foto paling banyak karena dulu masuk klub fotografi.”
“Memangnya fotonya ada di sini?” Aku tidak ingat pernah menyimpan album foto teman\-temanku saat SMU. Aku bukan orang yang terlalu sering berfoto. Temanku juga bisa dihitung dengan jari. Dio yang punya banyak teman.
“Aku menyimpannya di sini.” Dio bergerak masuk ke kamarku lebih jauh. “Kalau tidak salah, di dalam lemari.” Dia membuka lemari pakaianku dan berjongkok di depannya. Dari bagian paling bawah di lemari, dia mengeluarkan satu kotak yang lumayan besar. “Nah, ini dia. Aku ingat karena aku yang menyimpannya dulu, Ra.”
Ini benar\-benar menyebalkan. Bukan hanya Dio yang kenal aku dengan baik. Aku juga kenal dia luar dalam. Dan ini jelas hanya akal\-akalannya untuk menunjukkan kepada Angga kalau hubungan kami sangat dekat. Dia tidak perlu mengambil album foto itu sekarang. Maya memang pernah menyebut tentang reuni SMU. Masih sebulan lagi.
“Masih ada lagi yang kamu butuhkan?” Aku tidak berusaha menyembunyikan kekesalan. “Ambil sekalian supaya kamu tidak bolak\-balik.”
Dio meringis. Alih\-alih menjawabku, dia menoleh lagi pada Angga. “Dia bisa lebih galak daripada ini. Kamu harus membiasakan diri. Tidak semua orang sanggup menghadapinya”
“Jangan khawatir, aku akan baik\-baik saja,” Angga menjawab kalem. “Dia dulu sering mengusirku, tapi akhirnya aku masih di sini, kan? Dan aku tidak berniat pergi.”
Dio terdiam. Aku mengambil kesempatan itu untuk mendorongnya keluar. “Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu cari. Keluar sekarang!”
Dio tidak menolak. “Iya, Ra. Aku keluar. Jangan ngomel.” Dia mengangguk pada Angga sebelum melangkah pergi.
Suasananya mendadak canggung. Angga kembali duduk.
“Aku mandi dulu,” aku membuka kebisuan di antara kami “Kita mau keluar, kan?”
“Tunggu sebentar.” Angga meraih sebelah tanganku. “Mungkin aku akan terdengar posesif, tapi aku tidak suka dia keluar masuk kamarmu seperti itu.”
Aku mengerti perasaannya, tetapi aku juga tidak mungkin mengusir Dio setiap kali datang. “Dia sahabatku sejak kecil.” Itu benar. Sakit hati menggunung yang kubawa pergi saat tahu Dio menduakanku dengan gadis lain sudah menipis dengan cepat setelah kami berinteraksi kembali. Jauh lebih cepat daripada yang kukira. Mungkin karena Dio pintar mengambil hati. Mungkin karena hatiku dalam konteks asmara sudah berpindah pada Angga sehingga menerima Dio kembali sebagai sahabat tidak sesulit yang kukira.
“Tapi dia mantanmu, Ra. Dan aku dapat melihat kalau dia masih mencintaimu. Kedekatan kalian tidak membuatku nyaman.”
“Dan aku yakin itu tidak akan membuatnya berhenti mengejarmu.”
Astaga, aku tidak percaya perdebatan pertama kami sudah terjadi beberapa hari setelah kami berkomitmen. Aku menatap Angga sedih. “Kak Angga tidak percaya kepadaku? Menerima Kak Angga bukan hal mudah. Aku seperti berjudi dan perasaanku menjadi taruhannya. Kak Angga bisa menjanjikan apa saja. Termasuk tidak akan meninggalkanku. Tapi apa jaminannya kalau itu tidak akan terjadi? Tidak ada. Waktu yang akan membuktikannya. Dan aku mengambil risiko itu. Membiarkan diriku terseret lebih dalam mengikuti Kak Angga. Berusaha menyingkirkan ketakutanku.” Aku tertawa getir. “Jadi tidak masuk akal Kak Angga mencurigaiku akan kembali pada Dio yang pernah memberiku luka sedalam itu. Dio masih akan dan terus ada dalam hidupku. Sebagai teman. Tidak lebih.”
Angga berdiri dan menarikku dalam pelukannya. “Maafkan aku, Ra. Aku hanya cemburu. Aku tidak suka karena dia sudah mengenalmu seumur hidup dan aku baru akan mulai denganmu. Aku benci karena dia punya banyak kenangan bersamamu, sedangkan aku baru mulai membuatnya bersamamu.”
“Masa lalu bukan hal yang bisa kuubah,” desahku lirih. “Kak Angga tahu persis itu, tapi kita bisa merencanakan masa depan bersama.”
Angga merenggangkan pelukannya. Dia menatapku lekat. Tak ada lagi rasa marah atau cemburu di sana. Tatapannya teduh. “Aku suka itu. Kita akan merencanakan masa depan berdua. Secepatnya.”
Aku mengusap pipinya. “Jadi, lupakan Dio. Jangan bersaing dengannya. Tempat kalian di hatiku berbeda.”
Angga meringis. “Tidak mudah melakukannya, tapi aku akan mencobanya untukmu. Aku tetap tidak menyukainya.”
“Laki\-laki dan persaingan,” gerutuku kesal. “Ini bukan lagi zaman prasejarah, di mana perempuan didapatkan melalui pertarungan menggunakan pedang dan kekuasaan. Sekarang orang menggunakan cinta untuk memutuskan memilih pasangan.”
Senyum Angga segera terbit. “Dan kamu mencintaiku?”
Aku memutar bola mata. Dia pintar sekali mencari peluang. “Aku menerima Kak Angga, kan?”
“Itu bukan jawaban.”
Kekanakan sekali. “Aku cinta Kak Angga. Puas?” Aku melepaskan pelukannya.
“Puaaasss, Ra. Apalagi kalau kamu mengucapkannya tidak sambil cemberut begitu. Seperti terpaksa.” Dia menahan pinggangku. “Eh, mau ke mana?”
Aku menunjuk kamar mandi. Aku harus membersihkan tubuh. “Mandi. Katanya kita mau pergi, kan?”
“Sebentar. Kan peluknya belum lama.”
“Aku belum mandi.” Aku sama sekali tidak percaya diri dengan aroma tubuhku. Kamarku ber\-AC sehingga aku tidak berkeringat, tapi tetap saja aku belum mandi sejak kemarin.
“Memangnya kenapa? Masih harum, kok. Kita bisa pergi meskipun kamu belum mandi.”
Aku berdecak. “Supaya orang\-orang pikir kamu sedang jalan dengan pembantumu, ya?”
Angga tertawa. “Mana ada pembantu secantik kamu. Kalau sampai ada, statusnya pasti segera naik pangkat jadi nyonya rumah.”
“Aku benar\-benar harus mandi, Kak.” Aku kembali melepaskan tangannya dari pinggangku. “Kalau sampai ketangkap Mama pelukan di dalam kamar, kita bisa diseret ke KUA secepatnya.”
“Bagus. Kalau begitu kita pelukan saja sampai mamamu datang.”
“Apa?”
“Kenapa? Kamu belum mau menikah sekarang? Jadi pintunya harus ditutup saat pelukan biar tidak ketahuan?”
“Apa?”
Tawa Angga tak berhenti. Tapi dia segera melepaskan pelukannya setelah mencuri cium di bibirku. “Mandi, deh. Aku tunggu di bawah.”
Aku menahan lengannya. “Jangan cari masalah dengan Dio kalau dia masih di bawah.” Aku harus meyakinkan. Aku tahu mereka dua orang laki\-laki dewasa, tetapi bisa saja bertindak kekanakan.
“Aku tahu, Ra. Statusku masih tamu di rumah ini.”
“Aku harap dia sudah pulang,” gerutuku. Aku tidak suka membayangkan situasi canggung kalau mereka bertemu.
“Aku malah berharap dia masih ada sampai kita pergi.” Nada Angga mengandung tawa.
“Apa?”
“Supaya aku bisa menciummu di depannya.”
Astaga, laki\-laki dan rivalitas mereka!