
Teman\-temanku itu sudah duduk manis dalam gerai Pizza Hut ketika kami masuk. Rei langsung cengengesan saat melihat Maya. Dasar buaya darat. Naluri berburunya tidak pernah padam.
“Apa yang kita rayakan?” tanyaku begitu duduk.
“Mau makan pizza tidak harus menunggu untuk merayakan sesuatu, kan?” Hadi balas bertanya. “Kamu mau makan apa?”
“Hadi sudah memesan,” jelas Rei. “Dia memesan hampir semua varian rasa. Kurasa kita akan kesulitan mengangkat bokong kalau sampai menghabiskan semua makanan yang dipesannya.”
“Aku lapar, Ra.” Hadi menatapku sambil meringis. “Tapi aku belum memesan minum. Kalian bisa memilihnya sendiri.”
Aku menunjuk gambar minuman yang kuinginkan dan Maya menyebutkannya pada pelayan yang mencatat.
“Kak Angga tidak jaga?” tanyaku pada Angga yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum saja melihat kami ribut.
“Dari rumah sakit langsung ke sini.” Dia menunjuk ransel yang dibawanya.
“Tidak capek?” tanya Maya. Tumben Maya sok perhatian.
“Sedikit. Tapi sudah telanjur mengiyakan ajakan Hadi. Kebetulan rumahku juga searah tempat ini.”
“Mau ketemu Hadi atau Rara?” tanya Maya lagi.
Kalimat itu membuatku tersedak minumanku. Aku sudah curiga jika Maya memang akan mengatakan sesuatu saat tadi mengalihkan perhatian pada Angga. Aku hanya tidak menduga dia begitu frontal. Aku segera menendang kakinya di bawah meja. Dan dia hanya memandangku dengan tatapanmemangnya\-aku\-salah\-apa?
“Iya, memang mau ketemu Rara juga, sih.” Di luar dugaanku, Angga malah menjawab pertanyaan iseng Maya.
Aku kembali terbatuk\-batuk. Ya ampun, aku tidak mungkin menendangnya juga seperti Maya tadi, kan? Kurasa wajahku yang memanas sudah berganti\-ganti warna ketika melihat Hadi dan Rei tidak merasa perlu menyembunyikan senyum.
Aneh, aku merasa jantungku berdetak lebih cepat. Kalimat Angga tadi bukan pernyataan cinta, dan aku tidak seharusnya bertingkah konyol seperti ini, tetapi aku tetap saja salah tingkah. Tadinya kupikir aku tidak akan merasakan getar\-getar aneh lagi setelah periode Dio. Kupikir aku sudah mati rasa.
Apa ini berarti…. Oh tidak, aku menggeleng. Aku tidak menyukai Angga lebih daripada sekadar teman. Tidak akan. Pasti. Aku tidak sebodoh itu. Dio saja bisa mengkhianatiku. Aku tidak akan meletakkan hatiku kembali di meja taruhan untuk sesuatu bernama cinta yang bahkan tidak punya wujud.
Astaga, apa sih yang ada dalam pikiranku? Mengapa aku jadi ge\-er sendiri seperti ini. Sial, Maya sudah membuatku kelihatan bodoh. Semoga Angga tidak menganggap kata\-kata Maya adalah umpan yang sengaja kulempar untuknya melalui kail Maya. Memalukan.
“Aku akhirnya mengerti kenapa kamu konsisten menolakku, Ra,” ujar Rei menyebalkan. “Sulit memang kalau saingannya sekelas dokter Angga.”
“Padahal aku sudah mulai memikirkan lamaranmu kepadaku lho, Ra,” sambut Hadi. “Tapi ya… kurasa kamu memang tidak berjodoh dengan mamaku.”
“Kamu menjodohkan mamamu dengan Rara, Di?” Maya cekikikan.
Aku segera mengambil kesempatan itu untuk berdiri. “Aku mau ke toilet dulu.” Tidak mesti kulakukan sekarang. Ini bukan panggilan alam dengan nada S.O.S, tetapi aku akan kesulitan membalas serangan tidak berimbang itu di depan Angga. Anak\-anak sialan. Aku jadi menyesal ikut pertemuan yang ternyata hanya berujung pada perundungan untukku.
“Dia menyukaimu, Ra. Dia bahkan tidak membantahnya tadi,” kata Maya ketika kami sudah dalam perjalanan pulang.
Aku tidak ingin membiarkan imajinasi Maya melayang jauh. “Jangan berlebihan. Aku tidak mau bicara tentang hal\-hal yang menyangkut cinta, hati, atau harapan sekarang.”
“Kamu yang berlebihan. Sebagian besar orang menghabiskan hidup untuk membicarakan tentang cinta, hati, atau harapan.” Maya malah mengulang kalimatku. “Sudah kubilang, tidak usah pura\-pura. Kamu suka sama Kak Angga\-mu juga itu, kan?”
“Tidak! Berhentilah mengulang pertanyaan bodoh itu,” sentakku sebal.
“Karena ini pertanyaan bodoh, makanya harus diulang, Ra. Ini bukan matematika yang jawabannya sudah pasti. Pertanyaan seperti ini bisa saja menghasilkan jawaban yang berbeda kalau ditanyakan di waktu yang berbeda juga. Perasaan itu bukan ilmu pasti.”
“Maya!” Aku memekik gemas.
“Apa?” Maya balas berteriak.
Maya tergelak senang. “Lihat, wajahmu memerah. Kamu pasti merasakan sesuatu pada Kak Angga\-mu itu. Aku yakin.”
**
Aku baru saja mengantarkan Angga ke depan pintu pagar rumahku, tempat dia memarkir mobil, saat melihat Dio menyeberang dari pintu pagar besi, penghubung rumah kami. Dia mendahuluiku duduk di kursi teras. Aku menyusulnya, sengaja memilih kursi paling jauh darinya.
“Dia sering ke sini?” tanyanya dengan nada yang tidak enak kudengar. Aku tahu siapa yang dimaksud Dio. Pandangannya masih tertuju di pagar depan yang baru kutinggal. Rautnya masam, tidak merasa perlu repot menyembunyikan kekesalan. Dahinya berkerut, mempertegas ketidaksukaannya.
“Dia datang untuk memeriksa Yana,” jawabku pelan. Aku pura\-pura tidak memahami nada kesalnya. Aku menunduk, mengusap kuku yang mulai panjang. Biasanya aku memotong pendek kukuku. Namun, aku sengaja memanjangkannya setelah tiba di Makassar. Secara resmi, aku sekarang pengangguran. Aku akan menikmati memiliki kuku cantik sebelum kembali berurusan dengan pasien.
“Bukan untuk bertemu denganmu?” Suara Dio terdengar lagi. Nadanya lebih kesal daripada tadi. Mungkin karena merasa tidak mendapatkan perhatianku.
Aku menarik napas panjang\-panjang. Mengangkat kepala untuk menemukan mata Dio. Saat menyetujui untuk berbaikan dengannya, aku tidak berpikir akan mengalami situasi seperti ini. Situasi yang membuatku ingin berteriak dan mengatakan padanya untuk berhenti bersikap seolah\-olah kami masih sepasang kekasih. Kami sudah kehilangan jalinan eksklusif itu dulu. Tiga tahun lalu, saat dia memasukkan orang lain di antara kami.
“Dia temanku. Bertemu teman hukumnya tidak haram, kan?” Aku menjaga nadaku tetap datar, tanpa emosi.
Dio terdiam. Dia membuang muka, tampak mengerti isi pesanku dengan baik. Tangannya mengusap tengkuk beberapa kali. Keresahannya kian jelas. Dia tahu aku. Semuanya. Jelek dan baiknya. Manis dan busuknya. “Maaf,” desahnya lirih. Kali ini nadanya kalah.
“Tidak apa\-apa, Yo.” Aku mencoba tersenyum. Aku tidak ingin bertengkar dengannya. Melayaninya ribut hanya akan menegaskan kalau aku masih menganggapnya penting. Bisa membuatnya salah paham dan mengira aku menggunakan Angga untuk memancing kecemburuannya. “Hanya saja….”
“Aku mengerti,” potong Dio. Senyumnya pahit dan dipaksakan. Pandangannya tetap terarah ke depan, meski tak fokus kepada apa pun. Dia melakukannya supaya kami tidak bertatapan. “Hanya saja, agak aneh melihatmu bergaul dengan teman\-teman lelakimu. Bukan hanya Angga yang akrab denganmu, kan? Yang di rumah sakit tempo hari itu juga….”
“Hadi dan Rei sama\-sama PTT denganku di Sulawesi Tenggara,” ganti aku memotong kalimat Dio. “Kami bersama selama tiga tahun. Malah aneh kalau tidak akrab.” Aku mengerti mengapa Dio merasa tersingkirkan. Selama ini, hanya dia laki\-laki dalam hidupku. Tempat aku berbagi tawa dan tangis. Kalau dia masih berharap kepadaku, memang tidak mudah baginya melihatku menemukan orang lain untuk berbagi.
“Mereka… baik?”
“Iya. Mereka baik, Yo, aku malah yang kadang galak sama mereka. Kamu tahu aku, kan?”
Dio tampak berpikir. Dia terdiam cukup lama. Keheningan menguasai kami. Canggung. Kami seperti dua orang yang belum lama saling mengenal. Ini sedikit menyedihkan. Ke mana hubungan seumur hidup kami? Rasa terikat yang erat menghubungkan kami? Karena duduk begini, dengan jarak yang sengaja dibentang, kami, atau mungkin aku saja, merasa asing.
“Kita benar\-benar tidak bisa memulai kembali dari awal, Ra?” tanya Dio ketika akhirnya menemukan kalimatnya. “Kita bisa mencobanya. Aku janji….”
“Jangan, Yo.” Aku menggeleng, mengulas senyum yang tidak akan dilihat Dio, yang belum menemukan keberanian melihat mataku. “Jangan menjanjikan hal yang mungkin tidak bisa kamu tepati.”
“Kali ini akan berbeda, Ra,” tegas Dio. Dia terlihat yakin saat mengucapkannya. Kedua tangannya terkepal, seperti membulatkan tekad,
“Aku tidak bisa, Yo.” Aku mengembuskan napas, melegakan dada yang mendadak sesak. Aku pernah meletakkan segenap kepercayaan yang kumiliki dalam genggamannya. Semua, sampai tak bersisa. Jadi, ketika dia menghilangkannya, aku tidak punya kepercayaan cadangan lagi. “Belum bisa. Aku bahkan tidak percaya pada apa yang aku sendiri pikirkan sekarang.” Aku melebarkan kedua tangan di udara, mencoba mengusir kekecewaan yang muncul dari apa yang baru kupikirkan soal kepercayaan. “Aku tidak mengatakan ini untuk mengungkit rasa bersalahmu, tapi aku sulit percaya apa pun setelah kamu mengkhianatiku. Untuk membangunnya kembali, butuh waktu yang tidak singkat.”
“Aku bisa menunggu.” Dio berusaha mengepungku dari segala penjuru. Mencoba menutup celah yang memungkinkanku untuk lari.
“Aku tidak mau kamu menunggu.”
“Ra,” Dio kali ini menatapku dengan sorot memohon. Dia meraih tanganku, mengusapnya lembut. “Kenapa kamu tidak mau aku menunggumu? Aku bisa melakukannya untuk menebus kesalahanku.”
Aku tidak mau mengulang. Ini seperti kembali ke awal. “Ayolah, Yo, kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya dan sudah sepakat.”
“Karena Angga?” Dio terus mendesak.
Aku menggeleng. Menatapnya sedih karena dia tidak bisa memahamiku, atau mungkin pura\-pura tidak mengerti. Karena kalau ada yang bisa membacaku dengan baik, itu dia. “Karena kita sudah berada di jalan yang berbeda. Bukan karena Angga atau siapa pun juga. Kalau aku bisa kehilangan kepercayaan kepadamu yang sudah kukenal seumur hidup, bagaimana aku bisa percaya pada orang yang baru kukenal? Ini tentang aku yang sudah tidak punya rasa percaya lagi.”
“Aku minta maaf, Ra.” Dio mengeratkan genggamannya, seolah itu akan membuatku kembali memercayainya secara instan. “Kamu tahu aku menyesal.”
Aku menarik tanganku dari genggaman Dio. “Berhentilah minta maaf, Yo. Juga berhentilah membicarakan hal ini. Kita sudah kehilangan momentum.” Aku berdiri dan meninggalkannya. Masuk ke rumah tanpa menoleh lagi. Dia butuh waktu berpikir dan menerima kenyataan. Mungkin memang aku tidak adil, tetapi ada hal\-hal yang tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua.