Second Chance

Second Chance
S.C Brama Sadar



Lantunan sayup-sayup lafadz dzikir terdengar dari kamar rawat inap suite room. 


Di atas sajadah, Cassandra memejamkan mata sembari menggulirkan butiran biji tasbih. Setelah selesai, ia menengadahkan kedua tangan, memanjatkan doa untuk kesembuhan suaminya. Sekaligus menumpahkan segala kegundahan dan kegelisahannya.


Cassandra menangis dalam diam. Di dalam doanya, dia juga memohon ampun kepada Sang Pencipta. Karena telah gagal mendidik putrinya. 


Ya, diam-diam Cassandra menyewa jasa detektif untuk mengusut kehidupan Ganeeta dulu selama berkuliah di Surabaya. Sangat terlambat, tapi itu lebih baik ketimbang terus menerus dihantui rasa penasaran.


Cukup lama waktu yang dibutuhkan bagi si detektif untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan baru kemarin, dia dapat mengirim hasilnya.


Cassandra terhenyak begitu membuka email dari si detektif. Foto-foto lama semasa Ganeeta kuliah — yang entah dia dapat dari mana, memenuhi layar ponsel Cassandra.


Semakin ke bawah, Cassandra menemukan foto-foto Ganeeta bersama seorang pria. Tidak hanya satu, tapi ada sekitar 7 foto dengan lelaki yang sama.


Cassandra tak bisa menutupi keterkejutannya saat mengamati foto tersebut. Wajah lelaki itu sangat mirip dengan Brandon. Mata sipit, alis tebal dan lesung pipitnya. 


Jantung Cassandra berdebar kencang. Tanpa harus bertanya, Cassandra tahu kalau lelaki itulah ayah kandung Brandon yang sebenarnya.


Di foto terakhir, ada foto dua orang pasangan berlatar gunung Bromo. Karena angle foto diambil dari jauh, Cassandra agak kesulitan melihatnya. Namun begitu di-zoom, mata Cassandra seketika membelalak lebar.


Kenapa ada foto Dewa dan Bianca disini? Dan kenapa justru Bianca yang dipeluk Dewa? 


Ya Tuhan, ada apa ini sebenarnya?


******


Selepas beribadah, Cassandra merapikan mukena dan membasuh mukanya di wastafel. Terpaku sejenak menatap pantulannya di cermin wastafel. 


Dia meringis. Matanya terlihat sembab dengan lingkaran mata hitam seperti panda. Semenjak suaminya dirawat, Cassandra memang tak pernah lagi memikirkan perawatan kulitnya. Boro-boro memakai pelembab, bahkan untuk sekedar mencuci muka, ia hanya mengandalkan air keran saja.


"Pi….kapan Papi bangun? Apa Papi nggak sayang Mama lagi? Mama kangen suara Papi. Ayo, Pi bangun…" 


Cassandra duduk di samping ranjang Brama. Menggenggam tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya. Air matanya menetes seiring kecupan yang ia sertai doa di dalam hatinya.


"Pi….. Mama tahu semuanya. Soal Ganeeta…soal Dewa….dan juga Bianca.." Cassandra berbisik lirih seraya mengusap rambut putih suaminya.


"Papi juga tahu soal mereka kan? Ayo bangun Pi …. Kita bantu anak-anak kita…. Mereka butuh kita sebagai orang tua… Mama nggak bisa ngatasin ini sendirian….. Mama butuh Papi…." rancaunya.


Tiba-tiba Cassandra berjengit. Brama mendengarnya!


Jemari lelaki itu baru saja bergerak pelan merespon kalimatnya. 


Cassandra semakin bersemangat. Dia pun meraih ponsel dan memutar video Brandon yang tengah berlatih menari dan menyanyi.


 


"Mama dikirim video ini sama Neta. Lihat Pi, cucu kita lagi nyanyi. Kata Neta, bentar lagi sekolah Brandon mau ngadain pentas seni. Cucu kita satu-satunya mau tampil di panggung lho, Pi. Apa Papi nggak mau lihat?" 


Cassandra mendekatkan ponselnya di telinga Brama.


Ajaib, jari Brama bergerak lemah mengikuti suara nyanyian Brandon. 


Cassandra gegas menyingkir, memberi mereka ruang untuk mengecek kondisi suaminya.


"Ya Tuhan, tolong beri kesembuhan untuk suamiku..."


******


Derap sepatu Berluti Alessandro cokelat Mahesa menggema di koridor RS Pondok Indah. Tergesa-tergesa, lelaki itu menuju kamar inap tempat Ayahnya dirawat.


Papi udah sadar, Sa.


Chat singkat yang dikirim Cassandra plus foto Brama yang sedang tersenyum menatap kamera, membuat Mahesa memutar balik arah laju mobilnya.


Sambil menyetir, dia menghubungi sekretarisnya. Memintanya membatalkan semua meeting dan pekerjaan lainnya.


"Papi!!"


Pemandangan pertama yang ia lihat ketika membuka pintu kamar suite room adalah Brama sedang duduk bersandar sambil mengunyah potongan kecil buah pear.


Mahesa segera menghambur memeluk Brama. Bak bocah kecil, Mahesa mengeratkan pelukannya untuk meluapkan rasa rindu yang dipendamnya selama seminggu. Dia tak ingin jadi cengeng, tapi air matanya keburu menetes tanpa sempat ditahannya.


Lelaki tua itu balas menepuk-nepuk pelan punggung Mahesa sebelum mengurai pelukan mereka.


"Maafin Papi, udah bikin kalian semua khawatir," ujar Brama seraya mengulas senyum tipis.


Mahesa hanya mengangguk sambil menyeka air matanya.


******


Di tempat lain, yang berjarak beratus-ratus kilometer dari Jakarta.


Seorang pria berusia 30-an tampak duduk di kursi kebesaran sambil menelpon seseorang di seberang sana.


"Jadi, mereka ada di hotel Westin?"


Daniel memutar-mutar pulpen di tangannya.


"........"


"Oke. Awasi terus anak itu. Tunggu saya disana. Dan pastikan, tidak ada siapa pun yang mendekatinya!" 


Daniel langsung memutuskan sambungan teleponnya setelah mengucapkan perintah tersebut. Lelaki itu lantas berdiri kemudian memandangi langit biru di negara berlambang patung merlion itu.


Pandangan lelaki itu lalu mengarah pada ponsel yang masih ada digenggamnya. Dia mengusap layar ponsel dan mencari ikon 'picture'. Dia berhenti menggulirkan jarinya ketika tampilan ponselnya menunjukkan foto seorang gadis muda.


"Ganeeta.. Kenapa kita harus begini?" lirihnya.