Second Chance

Second Chance
Dua Puluh Tiga :



Angga memilih salah satu restoran seafood di Jalan Sulawesi. Kami memilih ikan hidup dalam aquarium untuk dibakar dan digoreng oleh koki restoran. Kami lalu mengobrol ringan sambil menunggu makanan kami siap dan diantarkan. Angga bercerita tentang kesibukannya menjadi seorang residen yang terkadang melelahkan.



“Tapi menyenangkan juga, Ra. Mengerjakan apa yang kita sukai itu kemewahan yang tidak bisa diukur dengan materi, kan? Kepuasan batinnya lebih terasa. Hanya saja, waktu untuk hal lain memang lebih sedikit.”



Kesibukan itu dapat kubayangkan. Masa co\-assselama dua tahun dulu lumayan menyiksa. “Kak Angga terlihat menikmatinya.”



Pelayan datang mengantar makanan memutus percakapan kami. Ikan yang kami pilih tadi ternyata lumayan besar. Aku jadi ragu bisa menghabiskannya. Aku mengikuti Angga yang mengisi piring dengan nasi dari bakul yang dibawa pelayan. Menambahkan kangkung tumis yang menebarkan aroma terasi yang menggiurkan. Lalu mulai menyuap.



 “Aku berusaha menikmatinya.” Angga ternyata masih berniat melanjutkan obrolan di sela\-sela suapan. “Kalau dianggap beban malah bikin stres dan sekolahnya tidak kelar\-kelar. Lagi pula, sekarang sudah lebih santai. Sudah mau selesai juga, kan?”



Aku tersenyum. Baru saja hendak membuka suara saat menyadari seseorang sudah berada di dekat meja kami. Seorang gadis cantik, semampai, dengan rambut lurus panjang.



“Kak Angga!” tegurnya.



Angga mengangkat kepala dan lantas tersenyum. “Hai,” balasnya dingkat.



“Aku datang sendiri,” jelas perempuan itu tanpa diminta. “Tadinya mau take away. Tapi karena ketemu di sini, aku makan di sini saja, deh. Tidak keberatan aku gabung, kan?” Gadis itu menatapku dengan pandangan ingin tahu. Kalimat tadi lebih merupakan pernyataan daripada pertanyaan.



Angga melihat padaku. “Ra, ini Yulia. Yulia, ini Rara.”



Aku meringis, mempelihatkan tanganku yang kotor karena kupakai makan. “Maaf.”



Gadis itu tersenyum dan memperlihatkan lesung pipi yang dalam. Terlihat makin cantik. “Aku pesan dulu, ya.” Dia mengundang dirinya duduk di samping Angga, di depanku, melambai pada pelayan dan mulai memesan makanan. Setelah itu dia kembali menatapku. “Kerja di mana?” tanyanya basa\-basi.



“Belum,” jawabku jujur. “Masih ngangur.”



“Oohh….” Tatapannya menyelidik. Jenis tatapan yang membuatku yakin dia bukan keluarga Angga karena aku yakin dia sedang menilai kepantasanku untuk bersama Angga.



Ya ampun, dia membuatku merasa seperti orang ketiga yang tidak diinginkan. Aku tidak suka ditatap seperti itu. Seolah sedang diletakkan di bawah mikroskop elektron untuk mengetahui terbuat dari apa saja susunan selku. Aku pura\-pura tidak melihat. Berusaha terlihat sibuk dengan tulang ikan.



“Kak Angga tidak bilang mau ke sini. Kalau tahu, kita bisa pergi sama\-sama dari rumah sakit, kan?”



Apa dia juga dokter? Tapi aku tidak ingin bertanya. Berusaha terlihat tidak peduli.



“Aku sudah janjian dengan Rara,” jawaban Angga di luar dugaan. Aku sampai melepaskan tanganku dari ikan yang sedang kucubiti. Aku mengangkat kepala menatap Angga. Kami tidak janjian. Kami ke sini karena dia datang ke rumahku untuk melihat Yana.



“Aku juga suka seafood,” kata Yulia tanpa menanggapi kalimat Angga. “Selain tempat ini, aku tahu restoran seafood lain yang juga enak. Kapan\-kapan kita bisa ke sana.” Itu terdengar seperti undangan di telingaku.



“Kamu sudah, Ra?” alih\-alih menjawab pertanyaan itu, Angga malah meraih piring ikan bakarku yang hanya habis separuh. “Aku yang habiskan, ya?”



Aku tidak tahu persis apa yang kurasakan. Sebagian hatiku senang karena Angga tidak terlalu antusias melayani gadis cantik ini, tetapi sebagian hatiku yang lain sebal karena ingat seperti inilah Angga memperlakukan aku saat pertama kali bertemu. Cuek, dingin, dan tidak dianggap cukup berharga untuk diajak ngobrol.



“Pesan yang baru saja lagi, Kak,” cegahku. Tidak enak melihat Angga ganti mencubiti ikan sisaku.



“Kelamaan, Ra. Kamu juga tidak bisa menghabiskan ini, kan? Mubazir.”



“Kakak residen juga?” Aku mengalihkan perhatian pada gadis itu. Merasa perlu menggantikan Angga yang tidak terlihat punya keinginan untuk melayaninya ngobrol. Seolah piring berisi tulang ikan di depannya lebih menarik daripada gadis cantik ini. Aku tahu pasti perasaannya tidak enak. Aku pernah ada di posisinya. Merasa tidak cukup berharga untuk diajak bicara.




Aku tidak suka nadanya yang meremehkan, tetapi berusaha tetap ramah. “Aku baru selesai PTT, Kak.”



Pelayan datang dan mengantarkan pesanan Yulia. Percakapan kami terhenti. Aku dapat melihat jika dia sebenarnya sudah kehilangan selera, tetapi memaksakan diri untuk makan. Kasihan. Aku tahu betul perasaan mendongkol yang memenuhi rongga dadanya. Perasaan dongkol yang pasti jauh lebih besar dari yang kurasakan dulu saat pertama bertemu Angga, karena tidak sulit untuk membaca gesturnya. Dia pasti menyukai Angga.



Aku menyeruput jus jerukku perlahan. Mengulur waktu dan menyesuaikan dengan irama makan Yulia. Tidak enak meninggalkannya sendiri ketika sedang makan. Aku tidak yakin Angga punya pikiran yang sama denganku.



Ketika akhirnya Yulia selesai makan dan kami kemudian terpisah, aku mengeluarkan apa yang ada di kepalaku pada Angga. Aku tidak bisa menahannya. 



“Kak Angga ingat pernah bertanya mengapa aku tidak menyukai Kakak?” Aku mencoba mengingatkan saat keningnya berkerut. “Itu, waktu kita masih di Buton?”



“Iya, ingat.” Angga melirikku sekilas dan kembali sibuk dengan setirnya. “Kamu belum pernah bilang kenapa.”



“Kak Angga benar tidak tahu sebabnya, atau pura\-pura tidak tahu?” pancingku.



“Kamu kan tahu, Ra, aku bukan orang yang pintar berpura\-pura. Sebenarnya kamu mau mengatakannya atau malah mau membuatku makin penasaran, sih?”



Astaga, orang ini. Aku menatapnya sebal. Dia memang bukan tipe orang yang suka berbasa\-basi lama\-lama. “Sikap Kak Angga seperti yang di restoran tadi itu penyebabnya!”



“Yang mana?” Alis Angga nyaris bertemu, berusaha mengingat\-ingat. Dia terlihat serius dengan pose seperti itu. “Aku tadi bersikap bagaimana kepadamu? Aku melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai?”



“Bukan kepadaku, Kak.” Dasar tidak peka. “Tapi pada Yulia.”



“Lalu apa hubungannya Yulia dengan rasa tidak sukamu kepadaku dulu?” Angga terdengar bingung.



Aku  berdecak sebal. Heran, di mana sih otaknya bersembunyi sekarang? Menghafal textbooktidak mungkin lebih gampang daripada membaca sikap seseorang. Payah. Tidak sensitif. “Apa yang Kak Angga lakukan pada Yulia tadi, sama persis dengan yang Kak Angga lakukan kepadaku saat pertama kita bertemu di rumah makan dulu.”



“Memangnya apa yang kulakukan pada Yulia tadi? Aku tidak melakukan apa\-apa.”



Ya ampun, bebal! “Itu dia! Kak Angga menyebalkan karena tidak melakukan apa\-apa. Kak Angga seharusnya mengajaknya ngobrol, bukan menganggapnya tidak ada. Padahal dia sudah mengubah rencana dari sekadar membungkus makanan untuk ikut makan bersama kita.”



Angga menarik napas. “Aku belum mengerti, Ra.”



“Astaga, Kak. Sifat cuek dan dingin Kak Angga itu menyebalkan!”



“Memangnya dulu aku bersikap seperti itu kepadamu?” Angga malah balik bertanya dengan nada tidak percaya. “Tidak mungkin!” Dia menjawab pertanyaannya sendiri.



  “Jangan pura\-pura lupa,” kecamku sebal.



Angga tertawa. “Aku memang begitu sama orang yang belum terlalu aku kenal, Ra. Kalau ditanggapi dengan baik, malah aku yang repot sendiri karena biasanya aku harus melayani hal\-hal yang tidak kuinginkan dari orang\-orang itu.”



Aku mencibir. “Kak Angga yakin nama Kak Angga bukan Narcissus?”



Gelak Angga makin keras. Jenis tawa yang hanya kudengar saat kami hanya berdua. Biasanya dia lebih banyak diam, atau paling banter tersenyum, kalau kami bersama orang lain. “Itu kenyataan. Aku hanya mau berurusan dengan orang\-orang yang aku suka, Ra.”



Dadaku tiba\-tiba berdesir. Eh, itu tadi maksudnya apa, ya?