
Yana akhirnya diizinkan keluar dari rumah sakit setelah menjalani perawatan selama tiga minggu. Masih perlu bedrest, tetapi sudah bisa dilakukan di rumah. Hanya perlu kontrol sekali seminggu. Lisa sudah lebih dulu pulang.
Aku sekarang sibuk dengan persiapan ujian untuk program pendidikan spesialis. Hadi sudah membawakan berkas\-berkas yang kuperlukan untuk mendapat bantuan dana dari Departemen Kesehatan, meskipun aku belum memutuskan akan mengambil bantuan itu. Kalau aku mengambil bantuan Departemen Kesehatan, aku harus menandatangani persetujuan untuk kembali pada daerah yang memberikan rekomendasi. Mama yang kumintai pendapat mengusulkan untuk melepas beasiswa itu, karena aku harus kembali ke Buton selama beberapa tahun setelah selesai pendidikan, sesuai kesepakatan awal dengan pemerintah daerah. Mama tidak mau aku pergi lagi.
Rei dan Hadi pernah datang dua kali di rumah sakit saat Yana masih dirawat. Angga waktu itu ikut bergabung. Membuat kami bernostalgia tentang Buton. Dio kemudian datang juga. Dia tidak bicara banyak setelah berkenalan dengan teman\-temanku. Lebih sering menjadi pendengar saat aku, Rei, dan Hadi saling mengejek. Dio hampir sama diamnya dengan Angga yang hanya sesekali tersenyum. Angga tidak mengherankanku. Di depan orang banyak dia memang tidak pernah banyak bicara. Hanya ketika sedang ngobrol berdua saja dia menjadi lebih aktif. Mungkin karena dia tahu tidak bisa mengandalkan aku untuk selalu memulai percakapan.
Namun, Dio berbeda. Dia orang paling supel yang kukenal. Hampir sama dengan Rei, bedanya dia tidak tebar pesona di sana\-sini. Setidaknya, di depanku dia tidak pernah melakukan hal konyol seperti itu. Dia sangat mudah berbaur dengan orang yang baru dikenalnya sekalipun. Jadi, ketika melihatnya cenderung diam, terasa sedikit aneh. Namun, aku tidak harus memikirkan kenyamanan Dio saat bertemu teman\-temanku yang lain. Hubungan kami sudah berbeda.
Dio hampir setiap hari datang di rumah sakit sebelum adik\-adikku pulang, sehingga hubungan kami perlahan mulai membaik. Kami tidak terlalu canggung lagi, meskipun dia masih sangat memilih kata\-kata yang dikeluarkannya. Mungkin karena takut aku tersinggung. Melihat Dio sangat berusaha seperti itu, menerbitkan rasa iba.
“Memang sudah saatnya kamu memaafkan Dio,” kata Maya ketika tahu aku dan Dio sudah bicara. “Kalian harus berbaikan. Kalau hubungan asmara kalian memang sudah benar\-benar selesai, setidaknya kalian masih bisa berteman.”
“Aku mungkin bisa memaafkannya, May, tapi aku tidak akan bisa melupakan apa yang telah dia lakukan kepadaku.”
“Semua orang pernah melakukan kesalahan, Ra,” Maya mengingatkan.
“Bukan jenis kesalahan seperti itu.” Aku menggeleng tidak setuju.
“Kamu tidak mencintainya lagi?” tanya Maya.
Itu pertanyaan sama dengan yang Angga kemukakan beberapa waktu lalu. Dan sama seperti saat itu, aku hanya tertegun tanpa mampu menjawab.
Sore ini aku janjian bertemu teman\-temanku di Pizza Hut Mall Panakukang. Hadi yang punya inisiatif mengumpulkan kami, jadi dia yang menentukan tempatnya. Kurasa Hadi memang punya obsesi terhadap semua makanan cepat saji tinggi kalori yang komposisi bahan makanannya hanya terdiri dari karbohidrat dan lemak jenuh. Namun, aku tidak mau repot\-repot protes. Godaan fast foodterkadang memang sulit ditepis.
Hari ini Sabtu, jadi aku mengajak Maya ikut. Bengong sendirian di dalam mobil tidak menyenangkan.
“Siapa saja yang ikut?” tanya Maya ketika kami sudah menuju Mall Panakukang. “Dokter semua? Aku bisa mati kebosanan nanti.”
Aku berdecak sebal. Hiperbola. “Kamu tidak akan mati kebosanan. Hanya Rei, Hadi, dan Kak Angga.”
“Kak Angga, heh?”
Aku memutuskan untuk mengabaikan sindiran itu. “Hadi yang traktir.”
“Kamu mau bilang kalau kamu datang karena butuh gratisan, dan bukan hanya mau bertemu Kak Angga\-mu itu? Kita bukan anak Donald Trump atau Bill Gates tapi juga tidak butuh piza gratis untuk makan. Kita tidak sereceh itu.”
Dasar Maya. Akhir\-akhir ini dia senang menggodaku setiap mendengar nama Angga disebut. “Jangan mulai lagi.”
“Mulai apa?” Dia menatapku dengan pandangan yang sengaja dibuat sepolos mungkin. Akting gagal.
Kalau tidak sedang mengemudi, aku pasti sudah menjitaknya. Keselamatanku jauh lebih penting daripada menyiksa anak ini. “Jangan membuatku menyesal karena mengajakmu.”
“Biar kuingatkan, aku tidak ikut dengan sukarela, Ra. Kamu tadi harus memohon supaya aku mau menemanimu bertemu Kak Angga\-mu.”
“Tidak usah pura\-pura malu, akui saja kalau kamu juga tertarik kepadanya, Ra. Memangnya apa yang salah dengan Kak Angga\-mu itu? Tampan, mapan, dan karena sudah melepas cincinnya, single. Itu kombinasi yang bisa bikin banyak perempuan bertekuk lutut.”
“Ini bukan lagi zaman kerajaan, May. Orang\-orang tidak perlu menekuk lututnya di depan orang lain.”
Maya mencibir. “Lelucon garing.”
Ya, aku tahu itu garing. Namun, candaan Maya juga tidak lebih bagus. “Mengapa kamu berpikir kalau setiap orang yang dekat denganku pasti suka padaku? Aku tidak secantik Selena Gomez, yang bisa membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Laki\-laki sejati tidak jatuh cinta pada gadis paling cantik di dunia, Ra. Mereka jatuh cinta pada gadis yang membuat dunia mereka terlihat cantik dan indah. Aku pernah membaca quoteitu saat muncul di beranda facebook\-ku. Dan kurasa itu tidak salah. Garis bawahi bagian laki\-laki sejatinya, ya. Kita tidak bicara tentang sembarang laki\-laki di sini.”
“Ya ampun, maksudmu aku sejelek itu sampai butuh laki\-laki sejati untuk jatuh cinta kepadaku?” Aku mentertawakan Maya yang mendadak serius.
Maya memukul lenganku kesal. “Sikapmu yang jelek!”
“Dan sikap jelekku akan membuat dunia laki\-laki sejati itu indah? Laki\-laki dungu itu jatuh cinta karena aku konsisten memarahi, memaki, mengasari, dan mencemberutinya setiap hari?” Aku mengerutkan bibir sambil mengangguk\-angguk. “Harus kuakui itu teori menakjubkan, tapi aku tidak yakin Kak Angga masuk dalam kategori idiot itu.”
“Kamu benar\-benar… menyebalkan, Ra. MENYEBALKAN dengan huruf kapital yang ditebalkan, digarisbawahi, dan dieja dengan tanda hubung.”
Aku tertawa keras. “Makanya jangan suka memungut teori yang dilempar oleh sembarang orang di beranda sosial mediamu.”
“Bagaimana kalau seandainya dia sungguh menyukaimu?” Maya benar\-benar niat membicarakan Angga. Dia tidak menyerah setelah teori kucerca habis.
“Kamu sungguh berniat melakukan ini? Berandai\-andai?” Aku menghentikan tawa dan kembali menggeleng. “Apa gunanya?”
“Tidak ada ruginya juga, kan? Ayolah, Ra, berandai\-andai itu menyenangkan.”
“Kamu benar\-benar sinting, May. Membuat pengandaian itu sama saja dengan membicarakan sesuatu yang tidak pasti, di awang\-awang, dan biasanya dilakukan oleh orang yang tingkat rasionalitasnya setipis jembatan sirratal mustakin. Maaf mengecewakanmu, tapi aku tidak melakukan hal\-hal seperti itu. Kamu harus mencari cenayang untuk memuaskan keinginanmu yang itu. Hanya cenayang yang mendapatkan uang dengan membuat pengandaian.”
“Aku berani bertaruh dengan tas Gucci\-ku. Kak Angga\-mu itu menyukaimu, tidak, dia tidak sekedar menyukai. Dia jatuh cinta kepadamu.” Tas Gucci itu adalah barang kesayangan Maya. Dia menabung cukup lama untuk mendapatkannya.
“Aku tidak perlu tas semahal itu untuk ke sekolah kalau nanti lulus, May. Kurasa aku malah butuh ransel. Lagi pula, aku tidak punya barang berharga untuk dilempar dalam bursa taruhanmu.”
Maya berdecak. “Kamu membosankan, Ra.”
“Kamu berteman dengan orang menyebalkan dan membosankan ini sudah lebih dari satu dekade,” ejekku
“Dan aku tidak tahu mengapa aku bisa tahan denganmu,” Maya balas mengolok.
Aku dan Maya selalu saling mengejek tapi tidak pernah benar\-benar memasukkannya ke hati.