
Dio sedang duduk di karpet depan televisi saat aku masuk. Ada Mama dan Lisa di dekatnya. Mereka menghadapi sepiring besar kacang rebus dan beberapa kaleng minuman bersoda.
“Angga mana?” tanya Mama. Dia memang yang dipamiti Angga saat mengajakku keluar tadi.
“Langsung pulang, Ma. Dia belum sempat istirahat. Tadi langsung ke sini sepulang jaga.” Aku mengambil satu kaleng soda dingin dan melanjutkan langkah. “Aku ke kamar dulu.”
“Kita harus bicara.” Suara Dio mengikutiku saat aku sudah menapak tangga menuju kamarku. Aku menoleh. Bukan hanya suaranya, karena Dio sekarang berada persis di belakangku.
“Soal apa lagi?” Aku membuka kamar tanpa menghiraukannya. Membiarkannya bersandar di kusen pintu. Agak aneh melihatnya seperti itu. Biasanya dia tidak perlu izin untuk masuk di kamarku. Sejak kecil dia sering berada di dalam sini. Aku bahkan tidak bisa menghitung sudah berapa kali dia numpang istirahat atau tertidur setelah capek bermain game. Dia hafal laci tempatku meletakkan barang\-barang. Aku bahkan hanya perlu berteriak dari kamar mandi saat melupakan pembalut ketika dia berada di sini. Dio, sama seperti Maya yang tahu dan mengenalku luar dalam. Aku seperti buku terbuka bagi mereka.
“Kamu tidak bisa melepasku untuk orang itu.” Dio menyugar, tampak resah. Bukan kebiasaannya. Dio yang kukenal adalah seorang yang periang, jail, dan banyak bicara. Kebalikan dari sifatku. Mungkin karena itu kami cocok. Namun, Dio memang terlihat berubah setelah aku kembali ke Makassar.
“Kita sudah membicarakannya.” Aku melempar tasku di atas meja. Membuka kaleng soda dan mulai meneguknya. “Lebih dari sekali malah. Kamu tahu aku, Yo. Aku tidak suka basa\-basi. Aku benci mengulang membicarakan hal yang sama.”
Dio melangkah masuk. Pintu kamarku lalu ditutupnya. Dia bersandar di sana. “Kamu mungkin sudah merasa cukup membicarakannya, tapi aku belum….”
“Kita sudah sepakat,” potongku. Aku masih ingat persis apa yang kami bicarakan di rumah sakit tempo hari, juga percakapan di teras rumahku.
“Aku sepakat saat kita bicara di rumah sakit karena itu kali pertama kamu akhirnya mau bicara denganku. Aku tidak punya hak membantahmu. Kupikir kamu butuh waktu untuk terbiasa dan menerimaku kembali.”
Aku meletakkan kaleng sodaku di atas meja. Sebelah tanganku lantas bertumpu di pinggang. “Aku sudah terbiasa tanpa kamu, Yo. Aku melatih kebiasaan itu tiga tahun lebih. Bukan waktu yang singkat.”
“Dan kamu berhasil menggantiku dengan orang itu?” pandangan Dio terlihat frustrasi. Ada penolakan yang jelas di sana. “Berapa lama kamu mengenalnya?”
Kemarahanku perlahan muncul. Dio tidak berhak menghakimiku. Bukan aku yang membuat kami harus berbagi punggung dan berjalan ke arah berbeda. Dia yang berutang air mata padaku. “Dan berapa lama aku mengenalmu, Yo?” Aku tertawa getir. “Berapa lama kita saling mengenal? Kalau patokan waktu yang dipakai untuk menghitung, kamu seharusnya sudah menghafalku di luar kepala,” suaraku meninggi. Dio mungkin menutup pintu untuk mengantisipasi ini. Dia tahu aku akan berteriak. Dia tidak ingin ada orang rumah yang tahu kami ribut. “Kamu seharusnya tahu aku tidak bisa dikhianati. Kamu orang yang paling paham sejarahku dengan Mama. Kamu tahu persis bagaimana buruknya perasaanku karena pernah merasa tidak diinginkan. Dan kamu melakukan itu. Kamu membuatku merasa tidak diinginkan. Teganya kamu!”
Dio maju selangkah, menipiskan jarak di antara kami. “Aku menginginkamu, Ra. Hanya kamu yang kuinginkan dalam hidup.”
Tawaku makin pahit, sinis. “Kamu menginginkanku, tapi mencumbu gadis lain di kamarmu? Kamar yang kukira hanya aku yang bebas keluar masuk di sana? Kamu pasti mengira aku sangat bodoh kalau sampai percaya.”
“Itu kesalahan, Ra,” suara Dio bernada membujuk. “Orang bisa khilaf dalam hidup.”
Bayangan Dio dan gadis itu yang telihat sangat nyaman pada satu sama lain muncul kembali di kepalaku meskipun tidak kuinginkan. “Khilaf yang sangat kamu nikmati, kan? Kukira hanya aku yang bisa seenaknya merusak sepraimu.”
“Dan dia tidak bisa menunggu di ruang tamu, ruang tengah, teras, atau di mana pun yang bukan kamarmu? Ayolah, Yo, kita bukan anak kecil. Kamu membiarkannya ikut ke kamarmu karena menginginkannya juga. Dia membuatmu nyaman. Kamu punya perasaan lebih kepadanya. Jangan bilang kalian tidak pernah berciuman.”
Dio terdiam. “Dia yang menciumku lebih dulu, Ra. Aku hanya terbawa suasana.” Dia tahu kebohongan tidak akan menyelamatkannya.
Aku memutar bola mata. “Aku lebih percaya mataku, Yo. Butuh dua orang yang sama\-sama menginginkan untuk menghasilkan adegan seperti yang kulihat.”
Dio mengembuskan napas berat. “Aku tidak akan membela diri lagi, Ra. Aku memang salah, tapi ikatan yang kita miliki kuat. Aku berhak meminta kesempatan kedua darimu. Kamu tidak bisa membuangku karena satu kesalahan itu.”
Aku menatapnya sedih. Dio harus bisa menerima kalau perpisahan kami sudah final. “Aku tidak pernah membuangmu, Yo. Kamu yang memilih pergi.”
“Aku tidak pernah ke mana\-mana, Ra. Kamu rumahku. Aku tersesat sekali, tapi aku akan selalu menemukan jalanku pulang. Kepadamu. Kamu tahu itu. Kita dilahirkan untuk bersama.”
Aku menggeleng. “Aku tidak bisa, Yo.”
“Dan lebih memilih orang yang baru kamu kenal? Dio maju selangkah lagi. Jarak kami semakin dekat. “Aku menyesali apa yang sudah kulakukan, Ra, tapi aku tidak bisa menghapusnya meskipun ingin. Kehilanganmu mengajarkan aku banyak hal. Terutama bahwa aku mencintaimu lebih daripada yang kukira. Dan aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu kembali padaku.”
Aku bergerak mundur dan duduk di tepi ranjang. Ngotot tidak akan menyelesaikan persoalan. Dio mungkin akan lebih mudah diajak bicara dengan kepala dingin. “Aku juga menyesal kita menjadi seperti ini, tapi seperti katamu, itu peristiwa yang tidak bisa kita hapus meskipun ingin. Aku sudah memaafkanmu, Yo. Sungguh. Tapi aku selamanya tidak akan lupa kamu pernah mengkhianatiku. Peristiwa itu akan terungkit kembali setiap kali kita bertengkar karena aku cemburu. Kamu akan kelelahan menghadapiku, dan aku sakit hati sendiri dengan prasangkaku. Hubungan macam apa itu?”
“Aku tidak akan pernah membuatmu cemburu, Ra. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Aku sudah merasakan pahitnya kehilanganmu selama ini. Aku tidak bodoh mau mengulanginya.” Dio kembali merapatkan jarak kami. Dia akhirnya berlutut di hadapanku. Mengumpulkan tanganku dalam genggamannya. “Beri aku kesempatan untuk membuktikannya.”
Suara Dio terdengar tulus. Tatapannya juga sungguh\-sungguh. Ini laki\-laki yang sudah kukenal dan mengenalku seumur hidup. Selain kesalahannya yang itu, dia tidak pernah mengecewakanku. Dia selalu ada untukku. Setelah Papa berpulang, Dio menggantikannya menjagaku. Dia mengajarkanku mengendarai motor, lalu mengemudi. Dia akan bolos kuliah dan menungguiku di asrama saat aku sakit. Bolak\-balik mencari semua makanan yang ingin kumakan saat ludahku terasa pahit tanpa mengeluh sedikit pun. Kepentingannya selalu menjadi nomor dua dibandingkan dengan kebutuhanku. Dia memang hanya melakukan satu kesalahan. Sayangnya, itu kesalahan yang tidak bisa kuterima.
“Aku benar\-benar tidak bisa, Yo.”
“Karena kamu tidak percaya aku tidak akan mengulangi kesalahanku?” Dio mengeratkan genggamannya. “Tidak apa\-apa. Aku tidak keberatan menghabiskan seluruh hidup untuk membuatmu percaya lagi. Kalau itu harga yang harus kubayar untuk bisa memilikimu lagi, aku akan menebusnya.”
Aku sedih melihat Dio seperti ini. Rasanya aku seperti orang tidak berperasaan karena memberi hukuman berat pada kesalahan yang tak habis disesalinya.
“Yo,” ujarku lirih. “Kak Angga memintaku menjadi kekasihnya. Dan aku baru saja menerimanya. Aku ingin memberi diriku sendiri kesempatan.”
“Kamu belum lama mengenalnya, Ra.” Dio meletakkan dagunya di pangkuanku. “Lepaskan dia. Kembalilah kepadaku. Tidak ada yang menyayangimu seperti aku. Kamu tahu itu.”