Second Chance

Second Chance
Tujuh : Membuka Luka



Maya kutemui sedang duduk di depan meja makan saat aku pulang jaga. Aku mengambil tempat di depannya dan meraih setangkup roti yang sudah dioles selai.



“Temanmu si Hadi itu tahu bagaimana cara membuat kopi yang enak.” Maya mendorong teko berisi kopi dan cangkir kosong di  depanku.



“Masakannya juga enak.” Aku menuang kopi itu ke dalam cangkir. Rasanya memang jauh lebih nikmat daripada kopi instan buatan dokter Angga semalam.



“Tidak heran badannya sebesar itu. Melihat porsi sarapannya, aku tidak terkejut kalau dia masih akan melebar. Dengan sekolah dokternya, dia seharusnya tahu kalau makanan di umur seperti itu hanya akan meembuatnya tumbuh ke samping, bukan ke atas.”



Aku tertawa. “Dia tidak terlalu peduli soal ukuran.”



“Dan Rei,” Maya memberi jeda pada kalimatnya. Bola matanya terarah ke atas. “Playboy.”



“Dia bangga dengan gelar itu.” Sebutan playboyselalu dianggap pujian oleh Rei.  “Dia menganggap itu pencapaian terbesar dalam hidupnya. Gelar dokter tidak berarti apa\-apa dibanding playboy.” 



Maya meringis. “Hanya si Angga yang terlihat normal. Mereka tadi datang sarapan.”



Aku mengangkat bahu. “Dia harus normal. Dia sudah menikah, kan? Pria beristri yang masih suka tebar pesona di sana\-sini itu tidak normal.”



“Cakep, ya?”



“Rei?” sambutku iseng. Aku siapa yang dimaksud Maya.



Maya melemparku dengan gumpalan tisu. “Jangan pura\-pura bodoh dan buta. Maksudku si Angga itu. Aku  tidak keberatan sarapan dengan  dia setiap hari.”



“Secakep apa pun, suami orang juga.” Aku tidak tertarik membicarakan dokter Angga. Aku bisa menduga ke mana Maya akan membawa percakapan ini.



“Kamu yakin dia sudah menikah?” Maya terlihat bersemangat membicarakan dokter Angga. Keenggananku tidak menyurutkan antusiasmenya.



“Kamu sudah lihat cincinnya, kan?” Aku tidak akan mengikuti arus percakapan yang dibangunnya.



Maya menepuk tangan, menepiskan remah\-remah roti dari telapaknya. “Aku tadi memancing dengan menanyakan jumlah anaknya, dan dia hanya tersenyum. Itu pertanda, kan?”



Aku memutar bola mata. “Bahwa dia tidak mau berbagi informasi pribadinya denganmu?”



“Bahwa dia belum menikah. Tidak ada ayah yang akan menyembunyikan anak\-anaknya kalau dia memang ayah yang baik. Laki\-laki terobsesi dengan anak mereka.”



“Maksudmu dia baru bertunangan? Tidak ada bedanya, kan? Sama\-sama sudah laku.” Aku benar\-benar tidak mau membicarakan dokter Angga.



“Beda dong, Sayang. Akta nikah itu memang ukurannya kecil, tapi punya itu dalam satu hubungan adalah pembeda yang besar. Itu surat izin untuk membuat laki\-laki bisa meringkuk secara legal dalam selimut yang sama denganmu.”



Aku terkekeh. “Kamu tertarik pada dokter Angga? Astaga, kalian baru bertemu kemarin. Ini dunia nyata, May, bukan novel roman. Jadi jangan menyuapiku dengan omong kosong tentang cinta pada pandangan pertama.”



Maya ikut tertawa. “Mencari jodoh untukku itu gampang, Ra. Aku sedang mengusahakannya untukmu.” Persis seperti dugaanku.



Aku menggeser kursiku ke belakang. “Dengan atau tanpa akta nikah, aku tidak tertarik.” Meladeni obrolan ngawur Maya bukan pembuka hari yang menyenangkan. “Aku mau mandi, gerah.”



“Aku bisa menemanimu menua, Ra. Tapi aku jelas tidak bisa meringkuk dalam selimut di tempat tidurmu saat aku akhirnya menikah. Aku harus berbagi selimut dengan orang lain.”



Aku meninggalkan Maya, menuju kamarku.


**


Maya terlihat sangat siap untuk petualangan kami hari ini. Dia berencana berburu foto untuk mengisi Instagramnya. Rei, Hadi, dan dokter Angga ikut bergabung karena bebas jaga. Kami akan menyisir daerah pesisir. Mengeksplorasi pantai di sepanjang Pasarwajo.



Tidak seperti Maya, aku tidak terlalu aktif di sosial media. Aku menggunakan sosial media untuk berburu resep masakan, bukan mencari teman di dunia maya.



“Kita ke hutan mangrove dulu atau ke pantai?” tanya Rei. Dia sopir kami hari ini. Usahanya untuk menarik perhatian Maya tampak maksimal.



“Hutan mangrove belakangan saja, Rei,” jawabku. “Berlumpur. Kita ke Wabula saja dulu. Mengambil gambar saat laut surut pasti keren.” Aku menyebut salah satu desa yang pantainya bagus. Saat air laut surut, garis pantainya bertambah sekitar satu kilometer. Saat itu digunakan oleh penduduk desa untuk mengumpulkan berbagai biota laut untuk dijadikan lauk, atau dijual. Kerang, gurita, rumput laut, bahkan bulu \*\*\*\*.



Sebenarnya aku ingin mengajak Maya mengunjungi perkampungan Bajo, tetapi tempatnya lumayan jauh. Mengambil foto di sana hasilnya akan luar biasa. Masyarakat suku Bajo tinggal di atas laut. Mendirikan rumah mereka jauh meninggalkan garis pantai. Saat air laut pasang, rumah\-rumah itu tampak terapung. Aku pernah ke sana dan menginap saat mengikuti bakti sosial berupa pengobatan massal. Sunset\-nya luar biasa. Menyaksikan si raja siang kembali ke peraduan, tenggelam di antara alunan ombak, meninggalkan warna merah hitam di horizon sangat menakjubkan. Apalagi, pemandangan semegah itu dilihat dari atas rumah yang seperti terapung dipermainkan ombak. Dan ditingkahi pekikan anak\-anak suku Bajo yang bergantian melompat dari perahu mereka, bermain di halaman mereka yang luas. Laut.



Rei dan dokter Angga duduk di depan. Aku dan Maya di tengah, sedangkan Hadi duduk sendiri dengan kantong camilan dan bekal kami di belakang.



Ada banyak spot bagus untuk mengambil gambar di sepanjang perjalanan, sehingga Maya beberapa kali meminta Rei berhenti. Dia berubah menjadi model dadakan dan berpose di antara perahu\-perahu nelayan yang tertambat di tepi pantai. Perahu yang dicat dengan warna\-warna terang tampak kontras dengan pakaian yang dikenakan Maya. Terlihat sangat bagus di kamera. Maya benar\-benar mempersiapkan diri untuk petualangan ini. Dia bahkan membawa beberapa long coatsupaya terlihat berbeda.



“Lihat foto ini, Ra.” Maya menunjukkan kamera DSLR\-nya padaku saat mobil sudah kembali membelah jalan raya. Itu foto yang diambil Rei tadi. Maya bersama seorang nelayan yang baru pulang melaut. Jaringnya yang berisi ikan yang terlihat jelas. Namun, yang menonjol adalah senyum tulus nelayan tua itu. Kulitnya legam, berkerut di sana\-sini, dengan gigi kecokelatan disiksa nikotin dalam waktu lama. “Keren, ya? Rei pintar mengambil gambar.”



“Aku memang pintar mengambil gambar, May.” Rei terkekeh. “Tapi fotonya bagus karena kamu memang cantik.”



Aku berdecak sambil menggeleng\-geleng. Dasar Rei. Aku kemudian terus melihat foto\-foto yang ada di dalam kamera itu. Terus mundur, sampai akhirnya menemukan foto Mama dan adik\-adikku.



“Ini acara apa, May?” tanyaku penasaran. 




Mama meneruskan biro yang didirikan Papa dulu karena mereka sama\-sama arsitek. Maya sekarang bekerja di sana.



Aku mengusap permukaan kaca kamera itu. Mama dan adik\-adikku terlihat bahagia. Senyum mereka lebar. Hatiku terasa hangat. Antara haru  dan sedih.



“Mereka… mereka kelihatannya senang.” Aku mendengar suaraku bergetar. 



“Mereka akan lebih senang kalau kamu pulang.” Nada Maya kesal. Semenjak kedatangannya beberapa hari lalu, dia memang berusaha membuka percakapan tentang rumah dan kenangan yang kutinggalkan di masa lalu, tetapi aku selalu menghindar. Aku tidak suka membahasnya. Hanya akan membuka luka.



“Nanti juga aku pulang, kan?” Aku berusaha terdengar riang. Di dalam mobil dengan tiga pasang telinga lain yang mendengar, aku tidak akan membicarakan rumah. Topik itu membuatku lemah. Cengeng.



“Kapan, Ra? Bukannya selama ini kamu sibuk membuat jarakmu semakin jauh dari rumah? Masalah itu dihadapi dan diselesaikan, bukan ditinggal lari.” Maya makin memojokkan.



“Aku tidak lari,” bantahku cepat.



“Menghindar?” Nada Maya makin tidak enak didengar. “Sama saja. Ayolah, Ra, Ini sudah tiga tahun. Sudah saatnya kamu pulang. Kamu tidak bisa lari selamanya.”



“Aku tidak menghindar. Aku kerja. Aku baik\-baik saja di sini.”



Maya tertawa sinis. “Kamu tidak baik\-baik saja. Kalau kamu baik\-baik saja, kamu akan punya waktu untuk sesekali pulang.”



Aku mengembalikan kamera Maya dengan kasar ke pangkuannya. “Hentikan, May. Aku tidak mau membicarakannya.” Terutama tidak di sini, di dalam mobil dengan teman\-teman yang tidak pernah tahu masalahku.



“Itu masalahmu yang paling besar. Tidak mau membicarakan apa pun. Kamu suka menelan semuanya sendiri, dalam hati.” Suara Maya meningkat. “Berhenti melakukannya, Ra. Kamu akan  kelelahan. Menyimpan luka itu berat.”



“Siapa yang terluka?” Aku ikut menaikkan suara. Maya mulai keterlaluan. Dia tidak lagi bicara soal Mama. Dia sudah menyinggung orang lain yang tidak ingin kuingat lagi. “Aku sudah melupakannya.” 



“Jangan menipu diri sendiri. Kamu belum melupakan dan melepasnya. Kalau sudah, kita tidak akan saling berteriak seperti ini.”



Mataku yang sudah panas dari tadi perlahan basah. Maya benar\-benar menyebalkan memilih waktu sekarang  untuk membicarakan ini. “Itu bukan urusanmu!”



“Sahabatku membuang diri sejauh dan selama ini. Tentu saja itu urusanku! Kamu memilih  pergi daripada bergantung dan mengandalkan aku untuk membantumu, Ra. Tentu saja itu menjadi urusanku juga.”



Kami benar\-benar saling berteriak. Rei bahkan sudah mematikan musik di mobil. Ketegangan kami segera menular.



Aku mengusap pipiku kasar. “Maya, kamu itu ya… sial!” Tangisku benar\-benar akan pecah. “Rei, hentikan mobilnya!” hardikku.



Rei seperti sedang menunggu perintah itu, karena dia spontan mengerem. Aku tidak menunggu sampai mobil benar\-benar berhenti untuk menghambur keluar.  Kami masih berada di tepi pantai, jadi aku meninggalkan jalan raya dan melompati tembok pembatas jalan yang tidak terlalu tinggi dan segera menjejak pasir. Asin dan amis yang aroma laut kirimkan segera terhidu.



Aku berjongkok tanpa menghiraukan ujung ombak yang menjilati ujung sepatuku. Aku masih tidak percaya Maya melakukan ini kepadaku. Bisa\-bisanya dia mempermalukan aku di depan teman\-temanku seperti tadi. Aku lebih suka dikenal sebagai Rara yang galak dan suasana hatinya tidak stabil, daripada Rara rapuh yang tak berdaya dipermainkan masa lalu.



“Hei!” bahuku diusap dari belakang. Aku tahu itu Maya. Aku tidak ingin menoleh. Aku masih emosi. “Aku tahu kamu marah. Iya, aku salah karena membicarakannya di depan orang lain. Aku tidak bermaksud begitu. Itu tadi spontan.”



Aku terus menghapus air mata yang belum berhenti mengalir. Aku tidak mau bicara dengannya.



“Aku hanya kesal, Ra.” Maya menyusul berjongkok di sisiku. “Rasanya tidak adil seorang Dio membuatmu harus melarikan diri. Iya, aku tahu bagaimana berartinya dia untukmu. Dia lebih daripada sekadar kekasih, tapi tidak berarti kamu tidak bisa melepaskan kenangannya, kan? Aku tidak bicara soal melupakan, Ra, karena kamu tidak akan pernah bisa melupakan dia. Kalian akan tetap bertemu kembali kalau kamu pulang ke Makassar. Jadi aku mengerti keenggananmu pulang. Tapi kamu bisa memaafkan dan melepasnya.”



Aku menatap Maya sengit. “Kamu pikir dia pantas dimaafkan?”



Maya menggeleng. “Kamu memaafkannya untuk kelegaanmu sendiri. Bukan untuk dia. Akan lebih mudah merelakannya setelah itu.”



Aku mengusap dada. Sebilah pedang tak kasatmata seperti baru menusukku. Perih. “Kenapa hubungan kami dulu harus berubah? Kenapa aku harus jatuh cinta kepadanya?”



Maya mendesah. “Pertanyaan itu terlambat, Ra. Tidak berguna lagi, kan? Kembali mengungkitnya sekarang tidak akan memperbaiki apa pun yang sudah rusak di antara kalian.”



Aku tahu. Tidak perlu Maya untuk mengatakannya. Aku hanya ingin menghibur diri, karena pengandaian dan penyangkalan selalu bisa membuatku merasa lebih baik. Untuk sesaat.



“Aku percaya kepadanya, May. Itu yang paling menyakitkan. Dikhianati orang yang aku yakin akan menjagaku seumur hidup.”



Maya merangkulku. “Aku akan bohong kalau bilang tahu apa yang kamu rasakan, karena aku tidak tahu persis. Bukan aku yang mengalaminya. Tapi aku mengerti, Ra. Tidak ada orang yang pantas dikhianati, tapi itu yang selalu terjadi dalam hidup. Dan akhirnya orang dapat menerima dan mengikhlaskan. Itu yang harus kamu lakukan juga. Kalau kamu sudah siap.”



Aku tidak akan pernah siap memaafkan Dio. Namun, aku tidak ingin mendebat Maya. Ini bukan percakapan yang ingin kulakukan sambil menangis di tepi pantai, dengan ditunggui teman\-temanku di mobil. Mereka pasti dapat menduga apa yang menjadi akar perdebatanku dengan Maya.



“Aku tahu kalau aku tidak akan selamanya membawa\-bawa Dio dalam hidupku, May.” Aku menghela napas panjang\-panjang untuk melegakan perasaan dan memotong aliran air mata. “Tapi seperti yang kamu bilang, aku butuh waktu.”



Maya bangkit dan perlahan menarikku ikut berdiri. “Tentu saja, Ra. Kita akan membicarakannya nanti. Tidak di sini.” Dia tahu  apa yang kupikirkan. “Kita sebaiknya pulang saja. Moodbertualang kita sudah hilang juga, kan? Maafkan aku, ya.”



Aku tahu maksudnya baik. Waktu dan tempat membicarakan ini yang tidak tepat. “Tidak apa\-apa.” Aku menatap ragu ke arah mobil. “Aku hanya malu kembali ke sana dan bertemu mereka.” Tatap kasihan teman\-temanku bukan hal yang ingin kulihat sekarang. Pandangan mereka tentang aku jelas akan berubah setelah ini. Aku bukan lagi Rara yang penuh dedikasi pada pekerjaan sehingga tidak pernah memanfaatkan cuti untuk pulang. Aku menjadi Rara pengecut yang melarikan diri dari masalah dan masa lalu.



“Mereka tidak akan mengatakan apa pun, kalau mereka benar\-benar temanmu.” Maya menuntunku menjauhi garis pantai, kembali ke jalan raya. Seandainya aku  punya pilihan selain kembali masuk ke mobil itu. Sial.