Second Chance

Second Chance
Racun yang manis



Setelah lima hari Alesia berada di rumah orang tuanya kemudian ia kembali ke kediamannya bersama Ryoshi. Banyak hal yang terjadi selama di rumah orang tuanya, namun semuanya dalam hal yang baik. Orang tuanya merasa senang karena melihat Alesia lebih ceria dibandingkan saat awal pernikahannya. Kini mereka merasa sedikit lega dari kecemasan mereka selama ini. Apalagi melihat perhatian Ryoshi saat memperlakukan Alesia membuat kedua orang tua Alesia berhenti khawatir berlebih.


Bugh,, Alesia melemparkan dirinya di sofa begitu sampai di kediaman. Sementara itu Ryoshi  pergi ke kantor selepas mengantar Alesia.


" eva , tolong ambilkan air dingin" perintah Alesia kepada salah satu pekerja dirumahnya. Eva pun pergi ke dapur untuk mengambil air sesuai permintaan sang nyonya rumah.


"hah, baiklah kita lihat apa yang ada di sini sekarang " Alesia merebahkan tubuhnya di sofa sambil melihat-lihat isi ponselnya. Selama di rumah orang tuanya ia tidak membuka ponselnya karena menikmati kebersamaan dengan orang tuanya dan juga tidak ingin membuat Ryoshi salah paham jika ia sering membuka ponselnya.


" silahkan nona "Eva meletakan segelas air putih dingin di meja .


"terima kasih ev"ucap Alesia lalu meneguk air tersebut dan habis dalam sekali tegukan.


"oh iya ev, selama aku pergi apa ada yang datang atau menghubungi kemari" tanya Alesia sebelum eva pergi.


"ada nona, Tuan Rance berkunjung kemari karena tuan Ryoshi tidak bisa di hubungi" jawab eva.


" oh ya, kenapa ayah mertuaku kemari ? apa tidak ada orang lain lagi selain ayah ? "Alesia penasaran.


"tidak nona selain tuan tidak ada yang berkunjung ataupun menghubungi kediaman ini, apa ada seseorang yang anda tunggu atau anda harapkan untuk berkunjung kesini ? " tanya Eva penuh selidik.


"baik lah nona " kemudian Eva pergi meninggalkan Alesia yang melanjutkan kembali aktivitasnya dengan ponsel yang tadi sempat terhenti bahkan sampai Alesia tertidur di sofa. Tak seorang pun mencoba  membangunkan Alesia bahkan sampai Ryoshi pulang.


Saat Ryoshi sampai di rumah dan melihat Alesia tidur di sofa ia mengira Alesia sengaja menunggu dirinya sampai ketiduran. Ada percikan di hatinya melihat tinadakan Alesia saat ini yang meruppakan hal yang tak pernah ia sangka akan terjadi pada hubungannya dengan Alesia. Ryoshi melangkah mendekat pada Alesia dan memangkatnya perlahan agar tidak terbangun agar bisa memindahkan nya ke kamar.


Dan ketika Ryoshi merebahkannya ke kasur Alesia pun terbangun. "mm.. sudah pulang ?" tanya nya setengah sadar.


*"hmm, tidur lagi" ucapnya sambil mencium kening Alesia dan otomatis mata Alesia pun ikut terpejam lalu melanjutkan tidurnya kembali.


Ryoshi duduk di sofa kamarnya sambil memperhatikan Alesia yang tertidur. Pikirannya terus berputar dan menjadikan Alesia sebagai pusatnya. Bagamana ia bisa begitu terpengaruh oleh sosok kecil dan rapuh seperti itu. Bagaimana dirinya bisa begitu terobsesi dan hancur oleh gadis sepertinya. Tidak ada hal yang normal jika itu menyangkut tentang Alesia. Ryoshi berpikir hidupnya akan hancur tanpa Alesia. Sebelum Alesia berubah ia berancana untuk membuat Alesia di sisinya dengan cara apapun walaupun itu akan menyakiti Alesia. Tapi kini setelah melihat perubahan Alesia ia tidak bisa memikirkan cara tersebut walaupun Alesia lari meninggalkannya ia takan mampu mengurung dan memaksanya untuk tetap bersamanya.


"hahh , racun yang manis" ucap Ryoshi sambil tersenyum getir .