Second Chance

Second Chance
Empat : Rumah



Aku menarik troli paling besar sebelum masuk Hypermart. Hadi kusuruh mendorongnya mengikutiku berkeliling mengambil barang sesuai catatan. Seperti biasa, dia selalu menambahkan berbagai camilan tidak penting, dan segera memasang ringisan polos saat melihatku mendelik.



Aku berhenti agak lama di bagian sayuran. Sibuk memilih sayuran yang bisa bertahan cukup lama di kulkas, seperti wortel dan kentang.Buton sebagian besar merupakan daerah pesisir pantai, sehingga hampir tidak ada petani sayuran yang menanam sayuran umbi.  Jenis sayuran tersebut biasanya tumbuh di dataran tinggi dengan udara dingin. Hampir tidak ada tempat seperti itu di Buton. Kebanyakan sayur yang ada di pasar tradisional di Pasarwajo adalah sayuran daun. Jadi kami mengandalkan supermarket untuk menyetok wortel dan kentang. Sayuran itu biasanya didatangkan dari Makassar. Kami bisa saja belanja di pasar tradisional di Baubau yang jauh lebih lengkap dan murah, tetapi Rei jelas\-jelas akan menolak masuk pasar tradisional. 



“Timbang dulu supaya label harganya sekalian dipasang, Di.” Aku mengulurkan kantong sayuran tanpa menoleh kepada Hadi yang setia mengikutiku. Dia menerima kantong itu tanpa menjawab, dan kembali tidak lama kemudian. Dapat kuketahui dari gemeresik kantong yang diletakkannya dalam troli.



“Besok kita masak apa?” tanyaku tanpa menoleh. “Pasta? Ya ampun, kenapa aku nanya kamu, ya? Kamu kan pemakan segala. Rei juga suka pasta. Menurutmu dokter Angga juga suka? Repot kan kalau harus masak dua kali. Aku….”



“Äku suka pasta, kok. Aku tidak memilih soal makanan.”



Aku menoleh cepat. Itu bukan suara Hadi. Mataku segera beradu dengan dokter Angga. Tidak ada Hadi di situ. Jadi dari tadi dia yang mendorong troli? Dia juga yang kujadikan kacung menimbang sayuran? Aku sempat berpikir untuk minta maaf karena perlakuanku yang tidak sopan, tetapi egoku melarang. Dia ikut makan juga, kan? Memang sudah seharusnya membantu.



Aku mengedarkan pandangan mencari Rei dan Hadi. Aku tidak mau terlibat situasi canggung dengan dokter Angga karena terjebak berdua seperti ini. Aku bukan tipe orang yang bisa berpura\-pura dan menyembunyikan perasaan jika tidak menyukai orang lain. Aku yakin dokter Angga tahu aku tidak menyukainya dari interaksi kami yang minim.



“Biar kudorong.” Dokter Angga mendahuluiku mendorong troli. Tadi aku menariknya mendekat saat mengisinya dengan barang belanjaan.



Dia ternyata bisa sopan juga. Aku melebarkan langkah saat melihat Hadi mematung penuh minat di depan tumpukan lemari es besar berisi es krim. Seharusnya aku sudah menduga.



“Lupakan, Di. Jangan berpikir untuk mengangkutnya pulang. Bisa lumer di mobil. Perjalanan kita jauh, lho.” Kalimatku segera memudarkan binar di mata Hadi. Dia segera menekuk wajah. Sedetik kemudian ganti tersenyum manis dan mengguncang\-guncang lenganku.



“Aku bawa cool boxkok, Ra. Boleh, ya?”



Cool box? Anak ini jelas sudah merencanakan semua. “Tetap akan lumer. Dua jam itu  lama, lho.”



“Iya, agak lumer sih, Ra, tapi kan tetap utuh dalamkotaknya. Setelah masuk freezerdi rumah akan mengeras lagi. Boleh ya, Ra?”



Ya ampun, Hadi membuatku kelihatan seperti ibunya. Dia membujuk seperti seorang anak TK yang meyakinkan ibunya jika dia  akan baik\-baik saja kalau dibiarkan bermain hujan di luar rumah. Kalau melihatnya seperti ini, orang akan sulit percaya jika dia seorang dokter, yang volume otaknya hanya sedikit lebih kecil dari tumpukan lemak di  bawah dagunya. Sayang sekali kuliah gizi yang didapatnya saat kuliah tidak ingin diterapkannya dalam kehidupan nyata. Ilmu itu hanya disimpan di lapisan paling dasar memorinya. Hanya ditengok sesekali saat memberikan konsultasi gizi pada pasien.



Setelah belanja, kami mampir di  The Triple C untuk makan, masih dalam bangunan Lippo, satu\-satunya mal di Baubau. Rei dan Dokter Angga memesan nasi bakar, sedangkan aku dan Hadi memilih piza. 



Aku sedang menyuap potongan piza penuh mozzarella yang lengket ketika ponselku berdering. Aku melepas makananku di atas wajah kayu dan merogoh tas. 



“Sibuk, Kak?” suara riang Yana,  adikku, langsung menyapa setelah aku mengucap salam.



Aku tertawa kecil. “Iya, sibuk makan.” Aku mengambil jeda sebelum melanjutkan, “Kabar rumah bagaimana?”



“Rumah atau orangnya?” Yana ikut tertawa kecil, tidak menunggu sampai aku menjawab. “Lisa dan Mama baik\-baik saja.”



Aku selalu suka menerima telepon adik\-adikku. Hanya saja, percakapan akan mendadak canggung saat nama Mama disebut. Kata itu seperti mantra yang segera menciptakan jarak. Aku tahu adik\-adikku selalu merasa tidak enak kepadaku yang tidak pernah mendapat perlakuan sama dari Mama. Kami tidak terlalu sering membicarakannya, tetapi sama\-sama mengerti dan tahu.



“Syukurlah.”




Aku belum meputuskan. Program PTT memang tidak ada lagi tahun ini, tetapi ada program lain yang bisa diikuti kalau belum menjadi PNS atau melanjutkan kuliah. Namun, aku tidak ingin mengatakannya pada Yana.



Sebenarnya aku ingin mengikuti ujian untuk pendidikan spesialis, tetapi itu agak mustahil dengan jumlah tabunganku sekarang. Biaya pendidikan spesialis sangat mahal. Aku bisa saja minta kepada Mama, dan aku yakin dia akan memberikan tanpa bertanya lebih lanjut, tetapi aku segan melakukannya. Mama memang tidak menyayangiku seperti dia menyayangi adik\-adikku, tapi kalau soal materi, dia tidak pernah berhitung. Aku tahu kalau Mama memberiku lebih banyakuangdaripada Yana dan Lisa. Mama tetap rutin mengisi ATM\-ku bahkan setelah aku bekerja. Sampai sekarang. Uang yang tidak  pernah kusentuh lagi setelah punya  penghasilan sendiri. Sebenarnya aku hendak memberi tahu Mama supayaberhenti mengirimkan uang karena aku sudah mandiri, tetapi tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa membuatnya tersinggung,dan hubungan kami menjadi lebih buruk.



Uang Mama yang ada padaku cukup untuk melanjutkan pendidikan, tetapi entahlah, aku enggan memakainya. Rasanya seperti menegaskan ketidakmandirianku. Meskipun tidak mau mengakuinya, aku ingin Mama melihatku bisa berdiri tegak di atas kakiku sendiri tanpa bantuannya.



“Belum tahu, Yan. Sedang kupikirkan.”



“Pulanglah, Kak.” Yana terdengar mengembuskan napas panjang. “Sampai kapan Kakak akan terus melarikan diri? Mama juga tidak bertambah muda. Ini sudah saatnyauntukmemperbaiki hubungan.  Tidak ada yang tidak bisa dibicarakan, kan?”



Itu bukan salahku, aku ingin menjawab. Sepanjang ingatanku, Mama yang tidak pernah menginginkanku. Aku merasa seperti duri yang menancap dalam dagingnya. Membuat Mama kesakitan setiap kali melihatku.



“Entahlah.” Aku merasa mataku memanas. Segera kuraih tisu dan menghambur keluar restoran. Berdiri di samping mobil dinas kami dengan ponsel yang masih melekat di telinga.Membicarakan Mama tidak pernah mudah. Selalu menguras emosi.



“Mama sayang Kakak. Aku yakin, Kak.”



Aku tertawa getir. Siapa yang hendak Yana bohongi? Aku bukan lagi anak kecil yang tidak bisa menangkap isyarat jelas yang dikirimkan pandangan Mama padaku. “Ya, tentu saja.”



“Aku tidak bohong, Kak. Akhir\-akhir ini Mama sering berdiri lama\-lama di depan foto Kakak. Dia juga melarang Wati membersihkan kamar Kakak karena lebih suka melakukannya sendiri”



Aku menyeka mata dengan tisu. Itu terdengar manis, tetapi sulit untuk dipercaya. “Aku harus pergi sekarang, Yan.” Aku tidak ingin bicara lebih lama lagi. “Nanti kutelepon lagi, ya.””



“Kak….”



Aku buru\-buru memutuskan hubungan dan menonaktifkan ponsel. Aku tahu Yana tidak akan menyerah, tetapi aku belum siap untuk percakapan yang melibatkan nama Mama. Pengecut, aku tahu. Namun, aku melakukannya untuk melindungi diri sendiri dari sakit yang lebih parah.



“Kamu baik\-baik saja, Ra?” Hadi menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh dan melihat ketiga laki\-laki itu sudah menyusulku. “Siapa yang menelepon?”



Tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan dokter Angga. Aku tidak suka melihat sorot prihatin yang terpancar di sana. Aku tidak suka orang menatap kasihan kepadaku. Aku lebih suka dikenal sebagai Rara yang galak dan blakblakan. Aku tidak suka orang membacaku seperti buku terbuka.



“Adikku.” Aku masuk mobil setelah memutus kontak mata dengan dokter Angga. Aku harap Hadi tidak akan melanjutkan percakapan.



“Ada masalah di rumah?”



Rumah itu  adalah masalahnya. “Tidak.”



“Cuacanya tidak bagus.”



Aku tahu wajahku memang mendung. Ini bukan raut yang sering kutampilkan. Namun, suasana hatiku sedang jelek, dan mengubah ekspresi secara instan bukan perkara mudah. “Aku lebih suka tidak membicarakannya. Aku mau tidur saja.”