Second Chance

Second Chance
Enam : Percakapan Tengah Malam



Maya menemaniku mengobrol di ruang jaga IGD, tempatku jaga sampai hampir tengah malam. Kantuk membuatnya menyerah dan kemudian pulang ke rumah dinasku untuk tidur. Aku baru saja berbaring di ruang jaga dokter ketika kehebohan terdengar.



Aku bergegas keluar. Seorang pasien sedang dibaringkan di atas tempat tidur. Sekujur tubuhnya penuh luka. Wajahnya bersimbah darah.



“Kecelakaan?”  tanyaku pada perawat yang kini sedang memasang infus.



“Iya, Dok. Kecelakaan tunggal. Untung ada mobil pick upyang menemukan dan membawanya ke sini.”



Aku sudah memakai sarung tangan dan baru mulai memeriksa kondisi pasien itu, saat dokter Angga tiba\-tiba sudah berada di dekatku.



“Lukanya terbukanya parah,”  katanya. “Ada fraktur?”



“Baru mau saya periksa, Dok.” Aku menggeser tubuh untuk memberinya ruang.



Apa yang dilakukannya di sini, di waktu seperti ini? Setahuku dia tidak punya jadwal operasi  mendadak. Operasi yang direncanakan biasanya dilakukan siang hari. Operasi mendadak tak terencana biasanya berasal dari IGD, dan tempat yang kugawangi malam ini masih aman\-aman saja. Namun, aku tidak mau bertanya. Aku kembali mengalihkan perhatian pada pasien di depanku. 



Pasien ini terlihat mengenaskan, tetapi kalau lukanya hanya luka terbuka, aku bisa menanganinya sendiri. Bantuan perawat cukup.



“Biar saya yang periksa.” Dokter Angga sudah selesai mengenakan sarung tangan. Dia menggunting jeanspasien yang sudah koyak di sana\-sini, memeriksa jika ada fraktur atau keretakan di bagian tungkai. “Dia beruntung. Hanya luka luar. Biar saya yang mengerjakan bagian wajah. Kamu bisa menjahit bagian kaki.”



Orang ini beruntung karena luka di kepala dan wajahnya dikerjakan oleh dokter bedah, karena hasilnya akan berbeda jika aku yang menjahitnya. Dia sepertinya tidak memakai helm sehingga luka di bagian kepala dan wajahnya cukup besar. Banyak pasir dan pecahan kerikil kecil\-kecil yang melekat di lukanya. Perawat sedang membersihkannya.



Dokter Angga membuat pekerjaanku jauh lebih ringan. Dia mengerjakan bagian yang sulit. Aku yang selesai lebih dulu lalu berdiri di sisi dokter Angga untuk mengamatinya menjahit luka. Bekerja bersama dokter residen atau dokter spesialis adalah kesempatan untuk belajar. 



 Setelah pasien itu selesai ditangani, aku ke toilet untuk mengosongkan kandung kemih. Aku sudah merasakannya sejak tadi, tapi tidak enak meninggalkan dokter Angga sendirian menangani pasien yang menjadi tanggung jawabku.



Ketika akhirnya kembali ke IGD,  aku tidak melihat dokter Angga lagi. Dia mungkin sudah  pulang ke rumahnya. Kantukku sudah hilang, jadi aku memutuskan duduk di luar ruangan. Mengawasi langit yang tampak terang tanpa awan yang menghalangi. Rasi bintang kesayanganku terlihat jelas.



“Kopi.”  Sebuah cangkir  tiba\-tiba muncul  di depan hidungku. “Kopi instan di IGD. Tidak seenak kopi buatan Hadi, tapi lumayan untuk mengusir dingin.”



Aku mengangkat kepala dan mendapati dokter Angga berdiri dengan cangkir di kedua tangannya. 



“Terima kasih.” Ragu\-ragu aku menerima cangkir itu. Entahlah, menerima kebaikan orang yang kupikir sombong rasanya sedikit aneh.



Dokter Angga duduk di dekatku. Dia tampaknya tidak akan segera pulang.




“Memang beda.” Aku tidak tahu bagaimana harus merespons. Lebih baik menyetujui pendapatnya. Ini memang bukan kota besar seperti Makassar. Di sekeliling rumah sakit adalah perkebunan jambu mete, dan lahan tidur yang menghutan. Gerombolan monyet dan \*\*\*\* hutan yang melintas di depan rumah sakit adalah pemandangan yang biasa di sini.



“Tapi tempatnya indah. Pantainya luar biasa.”



“Panasnya juga luar bisa,” sambungku, lebih karena tidak tahu harus bicara apa.



“Tidak terlalu buruk, kan? Nyatanya kalian betah di sini.” Dia kembali menyesap kopinya.



Memang tidak terlalu buruk. Selain minimnya rumah makan yang memadai dan pasar tradisional yang hanya buka setengah hari, aku tidak punya keluhan lain. Pasien tidak terlalu banyak, sehingga kami tidak sesibuk saat masih co\-assdi rumah sakit di Makassar. Aku masih punya waktu membaca novel yang kubeli melalui internet. Rei masih punya kesempatan tebar pesona di sana\-sini, dan Hadi masih bisa terus mengemil untuk menambah berat badan.



“Lumayan. Baubau tidak terlalu jauh kalau butuh hiburan dunia modern. Menonton gerombolan celeng berparade di dekat rumah sakit setiap malam memang membosankan juga.”



Dokter Angga tertawa. Aku harus menatapnya sejenak untuk meyakinkan kalau dia memang benar\-benar tertawa. Itu pemandangan baru. Aku beberapa kali pernah melihatnya tersenyum menanggapi lelucon Rei dan Hadi, tetapi baru kali ini mendengarnya tertawa. Yang kuucapkan tadi bukan sesuatu yang benar\-benar lucu, jadi tawanya di luar ekspektasiku.



“Hari minggu lalu saya ikut Rei dan beberapa perawat ke air terjun di desa sebelah.” Dokter Angga membalas tatapanku, sehingga aku buru\-buru mengalihkan pandangan ke tempat lain. Berbagi tatap menimbulkan rasa kikuk. “Tempatnya di tengah hutan dan ada rute yang harus ditempuh berjalan kaki. Setelah terbiasa hanya berputar\-putar di rumah sakit, dan berdiri berjam\-jam di ruang operasi, bertualang seperti itu cukup melelahkan. Namun, perjalanan itu sepadan. Air terjunnya sangat indah. Bukan pemandangan yang bisa ditemukan di tengah Kota Makassar.”



Aku tahu tempat yang dimaksudnya karena sudah pernah ke sana. Memang butuh stamina bagus untuk bisa menikmati keindahan alam itu. Aku suka air terjun itu, tapi bukan tempat favoritku di tempat ini.



Aku punya satu tempat yang tidak akan bosan kukunjungi. Tempatnya lumayan jauh dari rumah sakit, jaraknya sekitar tiga puluh kilometer. Berada di sana seperti meninggalkan bumi. Tempat itu adalah gunung dengan kemiringan sekitar 70 derajat. Permukaan tanahnya hanya dilapisi rumput halus, dan tidak ada satu pun pohon yang tumbuh di sana, persis seperti dalam serial Teletubbies. Berada di puncaknya seperti mendekati langit. Angin menderu kencang tanpa penghalang. Dan rasi bintang kesayanganku tampak cemerlang, sangat dekat, siap kupetik. Kami biasanya ke sana sore hari untuk menunggu matahari tenggelam. Dari atas gunung itu, matahari yang terbenam di antara gelombang air laut terlihat jelas. Indah. Namun, sunsethanyalah bonus, karena pemandangan yang dikejar semua orang yang mendaki gunung itu adalah sunrise\-nya yang menakjubkan. Saat matahari perlahan muncul dari puncak gunung yang lain, menguakkan gumpalan awan, menyingkirkan semburat jingga yang ditinggalkan malam, dan menggantinya dengan warna kuning terang, keperakan, dan akhirnya menjelma utuh menjadi bola putih yang menyinari hari.



Untuk melihat matahari terbit, orang\-orang biasanya mendirikan tenda dan menginap di situ. Kami juga melakukan itu, dan aku langsung jatuh cinta pada langit malamnya. Bintang\-bintang selalu mengingatkanku pada Papa, dan aku merasa kerinduanku menjangkaunya saat menatap jutaan pendar di langit itu.



Rei dan Hadi tidak mau kembali ke tempat itu karena medannya yang terjal. Terutama Hadi. Dia harus merangkak untuk sampai di puncak, sehingga bersumpah tidak akan mengulangi petualangan bodoh itu. Aku kemudian mengajak beberapa orang perawat yang cukup dekat denganku setiap kali ingin ke sana. Itu tempat favoritku.



“Setelah terbiasa dengan ingar\-bingar kota besar, ini memang tempat sempurna untuk persinggahan.”  Suara Dokter Angga terdengar lagi.



Aku  menyesap kopiku. “Persinggahan?” Aku merasa kalimatnya sengaja diputus di sana. Mungkin aku tidak perlu bertanya, tetapi aku tidak bisa menarik kata yang telanjur kuucapkan.



“Iya, persinggahan. Akhirnya kita akan selalu pulang ke rumah, kan?”



Aku tahu dokter Angga tidak mengatakan itu untuk menyindirku, tetapi aku tetap saja merasa tertohok. Benarkah? Apakah yang kulakukan sekian tahun ini, dengan menghindari rumah adalah persinggahan? Akan tetapi, aku tidak ingin pulang, karena hatiku tidak pernah benar\-benar tertinggal di rumah setelah kepergian Papa.



Napasku tiba\-tiba terasa sesak. Aku kehilangan keinginan melanjutkan percakapan. Sisa kopi dalam dalam cangkir segera kuhabiskan sebelum berdiri. “Terima kasih bantuannya, Dok. Saya akan istirahat sejenak, sebelum ada pasien yang datang.” Aku tidak mengantuk. Hanya saja, kasur tipis di ruang jaga menjadi lebih menarik daripada percakapan tentang rumah.