
Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan ini. Bahwa Dio juga bisa hancur karena perpisahan kami. Kupikir, karena dia yang berkhianat, maka dia akan menerima perpisahan kami lebih mudah. Ternyata kekuatan penyesalan lebih besar daripada apa yang kukira. Aku memegang tangannya. Tangan yang entah sudah berapa juta kali kugenggam. Saat senang ataupun saat mencari kekuatan dari sana. Bukan hanya sebagai tangan seorang kekasih, tetapi sebagai tangan sahabat terdekatku. “Aku tidak percaya akan mengatakan ini, Yo, tapi kita mungkin bisa mulai berteman lagi. Tolong jangan berharap lebih.”
“Sungguh, Ra?” Dio balas menggenggam tanganku erat.
Sebenarnya aku sendiri tidak yakin dengan ide itu. Baru tadi siang aku sama sekali tidak ingin mendengar tentang Dio, ataupun hal yang bisa menyangkutkan pikiranku kepadanya. Sekarang dengan mudahnya aku kembali mengulurkan tangan mengajaknya berteman? Rasanya aneh. Hatiku bisa berbalik begitu mudah hanya karena melihat Dio meneteskan air mata. Itu memang air mata pertama Dio yang kulihat dengan mata sendiri.
Saat perpisahan tiga tahun lalu, Dio tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Dia hanya diam dan minta maaf saat aku marah dan mengamuk. Dia berbalik marah saat aku memutuskan hubungan kami. Waktu itu aku berusaha mencabut dan membabat habis apa yang tersisa yang ada di antara kami. Berpisah dengan luka menganga di pihakku. Aku hanya tidak berpikir bahwa Dio akan merasakan hal yang sama.
“Sejujurnya, aku tidak terlalu yakin ini ide bagus, Yo,” desahku akhirnya. “Kita memulainya dengan berteman, bersahabat, sebelum menjadi kekasih. Sahabat saling jatuh cinta itu dialami oleh banyak orang, Yo. Tapi mantan kekasih yang berteman kembali? Jujur saja, persentasenya pasti kecil. Apalagi dengan penyebab perpisahan seperti yang kita alami.”
“Bukan berarti tidak ada kan, Ra?”
Aku menggeleng. “Entahlah, Yo.” Aku memang tidak yakin dengan apa yang kuucapkan saat mengusulkan berteman kembali dengannya tadi.
“Jangan membuatnya sulit, Ra. Kamu tidak perlu melakukan apa\-apa kecuali setuju untuk tidak mengusirku ketika berada di dekatmu.” Dio mengayun tanganku yang ada galam genggamannya. “Ayolah, Ra.”
Aku mengembuskan napas kuat\-kuat. Aku sudah pulang dari petualanganku dan menjejakkan kaki kembali ke rumah. Rumahku dan rumah Dio bahkan punya pagar dengan pintu penghubung di bagian depan dan belakang. Mustahil menghindarinya bila dia ngotot ingin menemuiku. Dan aku tahu persis Dio orang seperti apa.
“Hai, Ra!” suara itu membuatku menoleh. Bukan suara Dio. Dokter Angga sudah berdiri di depan kami.
Aku tadi pulang mandi dan berganti pakaian yang pantas di rumah untuk makan malam dengannya. Kehadiran Dio membuatku melupakan janji itu.
“Saya sudah siap, Dok.” Aku berdoa semoga air mataku yang sempat menetes tadi tidak merusak wajahku secara keseluruhan. Aku kembali menarik napas berat saat melihat Dio menatap dokter Angga dengan pandangan tidak suka. Aku hafal artinya. “Yo, kenalkan ini dokter Angga. Dok, ini Dio.”
Dio tampak enggan melepaskan genggaman di tanganku untuk menjabat tangan dokter Angga. Keduanya saling menyebut nama masing\-masing meski sudah kuperkenalkan.
“Kita jadi pergi atau bagaimana?” tanya dokter Angga.
“Tentu saja jadi, Dok.” Aku menoleh pada Dio. “Yo, aku pergi dulu.”
“Sampai ketemu di rumah, Ra?” Nada Dio seperti mengharap jawabanku. Dia seperti tak mau melepasku.
“Aku masih lebih sering tinggal di rumah sakit sampai Lisa dan Yana keluar, Yo.”
“Kalau begitu aku akan ke sini lagi besok sepulang kantor.”
Aku tahu jika Dio tak butuh jawaban. Aku mengangguk sebelum mengikuti dokter Angga di bawah tatapan Dio.
“Kalian, maksudku, kamu dan pacarmu sedang bertengkar?” tanya dokter Angga ketika mobil yang kemudikannya sudah meninggalkan areal rumah sakit. Dia melanjutkan sebelum aku menjawab pertanyaannya, “Aku merasa bodoh pernah memberimu nasehat untuk move on. Kamu ternyata masih punya kekasih.”
“Apa?” Aku menoleh untuk melihatnya.
“Aku jadi merasa tidak enak hadir di waktu yang tidak tepat.”
Ya ampun, aku bahkan masih harus membahas ini meskipun Dio sudah kutinggal. “Dia bukan pacarku,” jawabku akhirnya. “Bukan lagi.”
Aku kembali menatap dokter Angga yang melihat lurus ke depan. Namun, tidak berhasil menyimpulkan apa pun dari sebelah wajahnya yang bisa kulihat. “Dia bukan hanya mantan kekasih. Dia juga mantan sahabat.” Aku tidak harus menjawabnya, tetapi tetap mengucapkan kalimat itu juga. Entah mengapa. Semoga tidak untuk memberikan kesan bahwa aku sedang lajang dan mencari jodoh. “Rumit.” Aku lantas menyimpulkan. “Kami tidak berpisah baik\-baik.”
“Kebanyakan hubungan asmara memang seperti itu, kan? Hanya sedikit orang yang masih berteman baik setelah putus.”
“Hubungan kami lebih rumit dari itu,” aku menegaskan.
“Semua hubungan punya tantangan sendiri karena melibatkan dua kepala dan dua perasaan yang sewaktu\-waktu dapat berubah. Orang berubah dalam perjalanan hidup.”
Semua hubungan punya masalahnya sendiri? Tentu saja benar. “Tapi, Dok.…”
“Kak Angga,” dokter Angga meralat panggilanku.
“Apa?”
“Kita sudah sepakat soal panggilan, kan?”
Aku memutar bola mata. Memanggilnya tanpa awalan dokter setelah terbiasa rasanya aneh. Namun, kami tidak mungkin terus meributkan hal kecil seperti ini. “Baiklah… Kak Angga.”
“Begitu lebih enak didengar.” Angga, mungkin aku lebih baik menyebutnya begitu, melirik sambil tersenyum. “Jadi apa yang membuat hubungan kalian rumit?”
Aku mengangkat bahu. Biasanya aku tidak membicarakan Dio kepada siapa pun selain Maya. Namun, kali ini aku tidak keberatan menjawab, “Aku dan Dio kenal sejak lahir. Itu yang membuatnya rumit.”
“Sejak lahir? Serius?” Angga menoleh sesaat kepadaku sebelum mengembalikan pandangannya ke depan.
“Kami bertetangga. Rumah kami bersebelahan. Kami mungkin memakai popok dari kotak yang sama waktu bayi. Intinya, kami tumbuh bersama. Kami juga bersekolah di tempat yang sama sampai ketika harus pisah fakultas saat kuliah. Saya hanya punya dua lelaki dalam hidup. Dia dan Papa. Papa meninggal saat aku masih kecil. Jadi tinggal Dio yang tersisa. Sampai tiga tahun lalu saat kami putus.”
“Itu hubungan yang dalam. Mengapa sampai putus?”
Seharusnya aku berhenti di situ, tetapi aku terus melayani percakapan yang dibangun Angga. “Dio berubah dari seorang yang kupercaya seperti aku memercayai diri sendiri menjadi seseorang yang membuatku tidak mungkin bisa percaya lagi pada seorang laki\-laki.”
Angga tidak langsung merespons. Kurasa dia mengerti maksud kalimatku. “Dia kelihatannya menyesal.”
“Penyesalan tidak lantas bisa mengembalikan semuanya menjadi seperti semula, kan?”
“Kamu masih mencintainya?”
Aku tertawa canggung. Ini mulai tidak nyaman. “Ini interogasi, ya?” elakku, mencoba bergurau.
Angga ikut tertawa kecil. “Hanya bertanya. Kalau tidak dijawab juga tidak apa\-apa.”
Apakah aku masih mencintai Dio? Aku sudah lama tidak ingin memikirkan pertanyaan itu. Kalau ada orang di dunia ini yang kupikir tidak akan menyakitiku, dulu aku tidak akan ragu\-ragu untuk menunjuk Dio. Seperti yang kubilang tadi, aku percaya kepadanya sebagaimana aku memercayai diriku sendiri. Jadi, rasa sakit karena pengkhianatannya juga terasa lebih besar daripada yang bisa kubayangkan. Benar kata orang\-orang, bahwa hanya orang yang paling kita cintailah yang bisa memperkenalkan kita pada rasa sakit tak berbatas.
Aku akhirnya tidak menjawab pertanyaan Angga.